Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
No Hug!


__ADS_3

Asrama Gallaudet University Washington DC


Savrinadeya terkejut ketika melihat siapa yang datang menjemput dirinya. Kakaknya yang body besar, bermata biru dan selalu membuat darting Oom Abiyasa.


"Mas Bayu?"


Bayu yang berdiri dekat kamar asramanya hanya tersenyum simpul. "Yuk."


Savrinadeya lalu mengambil tas selempangnya dan say goodbye ke Yunita yang juga hendak pergi keluar. Teman sekamar Savrinadeya itu melihat seorang pria berbadan besar tampak menggandeng Deya dengan sayang.


Rupanya Deya sudah punya pacar jadi bukan salahku kan kalau aku ngincar Antonio Bianchi? Lajang, pengusaha anggur pula. Yunita tersenyum smirk.


***


Mas Bayu kok kesini? Savrinadeya menatap kakaknya.


"Ngawal kamu dari mafia karatan bin kampret penuh dengan modus!" jawab Bayu sambil manyun. ( setting Deya ini setahun sebelum gegeran Turin Yaaa )


Savrinadeya terbahak. Bang Antonio nggak modus kok...


"Nggak usah belain lah Deya. Mas Bayu kan juga cowok. Mana ada cowok rela terbang beda negara, beda negara lho, bukan negara bagian, kalau nggak ada timun di balik sandwich!"


Savrinadeya semakin tertawa geli mendengar analogi kakaknya yang sama saja sebenarnya dengan Luke Bianchi ataupun trio kampret yang hobi membuat isitilah aneh-aneh. Keduanya kini sudah berada di area parkir asrama yang dekat dengan gerbang keluar. Savrinadeya melihat sang kakak membawa mobil Aston Martinnya.


"Memangnya dia nggak ingat umur apa? Oom-oom pedofil benar deh ..."


"Siapa yang pedofil, O'Grady?"


Bayu yang sedang menggandeng Savrinadeya menuju mobilnya hanya nyengir. "Tentu saja kamu, Bianchi!"


"Brengseeekkk kau!" balas Antonio sambil memukul bahu Bayu. "Apa kabar Bay!"


"Kabar baik Tomat" balas Bayu sambil memeluk sepupu iparnya lalu menoleh ke arah Vespa Antonio. "Really? Kalau elu kagak modus, nggak mungkin pakai Vespa."


"Sial@n! Namaku Antonio bukan Tomat!"


"Leia bilang begitu. Kembali ke Vespa. Bilang saja elu modus minta dipeluk adik gue!"


Antonio manyun. "Deya juga suka naik Vespa. Ya kan Deya?" Antonio menatap gadis ayu itu yang hanya mengulum senyum melihat dua pria tampan di hadapannya.


Deya juga suka naik motor kok mas Bayu.


"Nah, Deya saja tidak keberatan! Kenapa elu yang ribut?"


"Antonio Bianchi, memang kamu tidak sadar kalau kemodusanmu sangatlah haqiqi" gelak Bayu. "Sudah, kalian mau kemana tadinya?"


"Deya ingin ke perpustakaan nasional tapi sekarang terserah mau kemana" jawab Antonio sambil menatap Savrinadeya.


Mas Bayu mau kemana?

__ADS_1


"Makan yuk! Aku lapar!" ajak Bayu.


"Mau makan apa?" tanya Antonio.


"Yang ada sandwich atau eggs Benedict enak."


Aku tahu mas. Di Founding Farmers 14th street. Savrinadeya menatap kedua kakaknya.


"Ya sudah kesana saja. Ayo, masuk Tomat!" ajak Bayu mengajak Antonio masuk ke dalam mobil Aston Martinnya.


***


Founding Farmers DC


Ketiganya kini tiba di sebuah restauran yang memang buka dari jam tujuh pagi saat breakfast hingga jam sebelas malam. Bayu dan Antonio masing-masing memesan eggs Benedict dan chicken hot pot sedangkan Savrinadeya southern fried chicken and waffle.



Eggs Benedict



Chicken Hot Pot



Southern Fried Chicken with Waffles


"Kamu dalam rangka apa kemari Bay?" tanya Antonio sambil memotong ayamnya.


"Besok ada konferensi insinyur mesin dan aku mewakili Giandra Otomotif Co. Harusnya sih bokap cuma bokap dan Tante GM harus datang ke pertemuan FBI, CIA dan M16 buat mempromosikan alat spinoase yang baru."


"So, senjata apa yang lagi dikembangkan oleh Tante GM?" tanya Antonio yang tahu Jang Geun-moon, istri Benjiro Smith, adalah CEO Jang Corp yang bergerak di bidang peralatan spinoase dan keamanan law enforcement.


"Masih konsep tapi namanya PW-10."


Savrinadeya yang asyik memakan ayamnya tampak menyimak percakapan kedua pria itu.


"Apa itu PW-10?" tanya Antonio.


"Jadi Tante GM, aku dan si Kungkang eh ... Shinichi Park, punya ide sinting. Benarnya dari otak out of the box nya si Shinchan sih. Kami sedang membuat senapan canggih yang pelurunya bisa diatur arahnya."


Antonio dan Savrinadeya melongo. "Apa?"


"Iya ini ide kungkang yang jadi hak paten anak itu. Tapi kami berencana hanya keluarga kami yang memakai senjata ini karena bisa disalahgunakan."


"Si Park kok idenya ada saja..." gumam Antonio.


Pelurunya gimana mas?

__ADS_1


"Di pelurunya sudah tersedia nano chip yang lebih kecil dari micro chip dan itu yang terhubung dengan komputer yang ada di senapan seperti kita main game shooting. Jadi misal nih Tomat di jalan sana tapi kehalang tembok bangunan tapi sudah masuk dalam face recognition. Kita tembak, kan biasa nya peluru tuh lurus jalannya, nah kita arahkan agak melebar dan saat peluru itu sudah melihat kamu langsung kita arahkan untuk berbelok menembus badan kamu."


Astaghfirullah! Tapi keren ya mas.


"Babynya Oma Sabine bisa kesaing" gelak Bayu durjana.


Antonio tampak serius mendengarkan paparan Bayu. "Bay, tapi aku setuju senapan itu hanya untuk kalangan keluarga kamu, karena PW-10 sangatlah berbahaya!"


"Memang, makanya aku dan Tante GM hanya berencana membuat satu prototipe dan satu hasil akhir. Entah kapan dipakai, aku tidak tahu. Tapi aku berharap tidak dipakai sampai kapanpun kecuali untuk latihan di tempat latihan kami."


Savrinadeya mengangguk tanda setuju. Sangat berbahaya mas. Teknologi semakin canggih dan semakin banyak orang yang tidak bertanggungjawab menggunakannya.


"Kamu benar Deya" senyum Bayu yang memang bisa membaca bahasa isyarat tapi tidak sefasih Nadira McCloud maupun Shinichi Park.


Suara buzzer di ponsel Savrinadeya membuat gadis itu menoleh ke arah layar ponsel dengan casing bewarna ungu itu. Wajah gadis itu tampak tersenyum smirk dan Antonio baru kali ini melihat Savrinadeya tampak berbeda. Tidak ada wajah polos dan lembut seperti biasanya tapi lebih mirip sang ayah, Rama McCloud, jika sudah keluar judesnya.


"Ada apa Deya?" tanya Bayu yang tahu adiknya menyimpan sesuatu.


MacBook aku berusaha dibobol.


"Kok tahu?" tanya Antonio.


Savrinadeya memperlihatkan live video Yunita mencoba membuka MacBook miliknya.


Laptop Yunita adalah Alienware, milikku MacBook. Untuk apa dia mencoba membobol MacBook aku kalau ingin mencari tahu sesuatu.


"Ini kamu pakai camera kecil buatan Tante GM?" tanya Bayu yang dijawab anggukkan Savrinadeya.


Daddy yang mengirimkan untukku setelah seminggu aku tinggal di asrama. Awalnya aku merasa Daddy parno tapi ternyata feeling Daddy benar.


"Dia pasti penasaran mencari tahu tentang aku" gumam Antonio.


"Memang kenapa Tomat?"


"Aku rasa teman sekamar Deya itu bukan teman yang baik bahkan dia dengan berani mengirim email ke email perusahaan aku hanya untuk bertanya nomor kontak aku" jawab Antonio membuat Bayu terkejut.


"Astaghfirullah! Berani dan agresif sekali!" celetuk Bayu.


"Karena Deya tidak mau memberikan kepadanya." Antonio menatap Savrinadeya. "Apa yang akan kamu lakukan Deya?"


Tentu saja aku minta pindah karena dia sudah melanggar privacy aku yang termasuk pelanggaran hukum federal. Savrinadeya tersenyum. Lagipula aku sudah memiliki banyak bukti.


Bayu langsung merangkul adiknya yang cantik itu. "That's my sister!" pujinya sambil mencium pelipis Savrinadeya. "Kamu nggak boleh Tomat!" hardik Bayu ke Antonio yang kesal tidak bisa memeluk gadis itu seperti putra Abiyasa O'Grady.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2