Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Ada Apa Dengan Kalian Berdua?


__ADS_3

Alun - alun Kota Turin


Alexis mencium bibir Raveena dan tangan pria itu memegang wajah gadis itu lembut. Setelahnya keduanya berpandangan dan wajah Raveena tampak memerah, sesuatu yang tidak pernah terjadi meskipun dia berciuman dengan lawan mainnya sekalipun.


"Maaf Signora... tapi saya..."


"Shut up Alexis!" Raveena pun bangun dari tempat duduknya lalu berpindah ke pangkuan Alexis. "Shut up and kiss me again!"


Alexis pun menyambut bibir Raveena yang beraroma kopi itu.


***


Mansion Bianchi Turin Italia


Antonio masih berada di ruang kerjanya bersama dengan Luca, Luke dan Leia untuk membahas kebun anggur milik keluarga Bianchi. Keempatnya tampak puas dengan hasil penjualan wine brand mereka meskipun harus bersaing dengan brand milik Mancini maupun de Luca.


"De Luca kan kebun anggurnya di Palermo jadi tidak setiap hari ketemu, beda dengan si Inferno yang lebih sering ketemunya apalagi dia ngejar Lele" gerutu Antonio.


"Terus kamu setelah kami semua pulang ke negara masing-masing, kamu ke Washington DC?" tanya Luca.


"Ya jelas Oom. Deya kan butuh aku disisinya..."


"Deya belum mati Tomat!" Luke menatap tajam ke Antonio.


"Disampingnya, disampingnya! Ampun deh, aku salah ngomong terus dari kemarin! Kenapa sih?"


"Orang kalau sedang jatuh cinta, semuanya yang ada di otak amburadul! Contoh kamu, Dante, Oom dulu, sampai tidak mikir, semua ditabrak, hajar bleh yang penting bisa mendapatkan wanita pujaan" kekeh Luca yang teringat dulu kepalanya tidak selamat dari pukulan pedang Kendo Takeshi Takara. ,


"Kenapa bisa begitu ya?" gumam Antonio sambil memegang dagunya.


"Kamu kan dosen, pikir saja sendiri!" Luke pun berdiri lalu keluar dari kamar kerja Antonio dengan perasaan kesal melihat sepupunya menjadi jauh berbeda semenjak bertemu dengan Deya.


Deya, Deya... kamu itu cantiknya kebangetan! Bikin si Tomat makin bloon! - batin Luke.


***


Alun-alun kota Turin.


Dahi Alexis dan Raveena saling menempel usai mereka melakukan ciuman panas di dalam sebuah cafe di alun-alun Turin. Tidak ada yang mengganggu karena warga sana terbiasa dengan kebebasan berekspresi termasuk menyatakan perasaannya dengan ciuman dengan pasangannya.

__ADS_1


"Signora ..." bisik Alexis sedikit terengah akibat adrenalin nya terpacu berciuman dengan gadis secantik Raveena. Gadis yang mencuri hatinya sejak pertama bertemu di bandara.


"Wow, Alexis... Ciuman kamu maut juga" balas Raveena. "You're really a good kisser..." Raveena memegang wajah tampan Alexis sedangkan pria itu memegang paha dan pinggang ramping gadis itu.


"Ini... bibir kamu juga enak..." senyum Alexis.


"Berapa lama kamu jomblo?" tanya Raveena sambil menatap mata biru Alexis.


"Enam tahun..."


"Tidak pernah berhubungan dengan cewek?"


"Tidak sempat karena pekerjaan banyak. Aku lebih suka tidur..."


"Tidak pernah solo karir?" kerling Raveena membuat mata biru itu terbelalak.


"Signora..."


"Dengar Alexis, aku tinggal di New York dan di Los Angeles yang mana semua serba vulgar. So, tidak usah sok imut! Kita sudah sama-sama dewasa meskipun aku masih menjaga milikku dan yang sudah tidak virgin adalah wajahku, tapi soal begituan, aku mungkin sudah paham dan fasih. Apalagi rata-rata perempuan di Amerika sudah tidak perawan dari usia 14 tahun bahkan hamil di usia itu juga banyak!"


"Aku lupa kalau kamu kuliah di psikologi..."


"Hamil diluar nikah banyak meskipun adanya S3x education tapi it's useless. Role model mereka dan faktor lingkungan mempengaruhi semua. Mungkin orang yang berpikiran kuno seperti keluarga aku bisa dibilang segelintir..."


Raveena tersenyum. "Karena aku bukan mereka! Aku maunya menjadi seseorang yang limited edition dan hanya suamiku yang berhak mendapatkan milikku. Lagipula jika kamu sudah melakukannya, ada keinginan untuk melakukan terus dan apakah worth it? Tidak ada yang bisa kamu banggakan, kamu bisa kena penyakit kelamin atau nggak hamil. Jadi perempuan itu lebih berat akibatnya! Itulah mengapa keluarga aku selalu mewanti-wanti yang perempuan untuk menjaga diri karena kita itu seperti cawan, menampung semuanya baik yang bagus-bagus maupun yang jelek-jelek."


Alexis menatap mesra gadis itu. "Kenapa baru sekarang aku bertemu denganmu?"


"Karena kalau kamu bertemu aku enam tahun sebelumnya, aku masih anak ayam! Dan kamu bisa dituduh pedofil macam bang Tomat ke Deya!"


Alexis terbahak.


***


Usai acara makan plus plus di cafe, Alexis dan Raveena pun berjalan-jalan sambil memeluk satu sama lain, karena udara mulai dingin dan salju mulai turun.


Raveena tampak menengadahkan wajah dan tangannya menikmati turunnya salju. Alexis hanya tersenyum melihat pipi gadis itu memerah karena udara dingin.


"Aku sudah lama tidak merasakan salju. Di Los Angeles tidak ada karena California terkena terkena garis median jadi kota itu memiliki iklim sub tropis seperti Bandung atau Salatiga lah!"

__ADS_1


"Bandung? Salatiga?" tanya Alexis bingung.


"Ish kamu kurang piknik, Al! Kapan-kapan kamu aku ajak ke Indonesia. Cari suasana baru" cebik Raveena.


"Signora, kita pulang sekarang? Sudah waktunya masuk jam makan malam. Nanti bibi Lusia bisa heboh kita tidak ada" ajak Alexis.


Raveena tersenyum lalu memeluk lengan Alexis dan keduanya berjalan menuju mobil milik pria itu.


***


Mansion Bianchi Turin


Antonio menatap ke arah asistennya dan Raveena dengan wajah penuh pertanyaan. Ada apa dengan mereka berdua? Pulang dari jalan-jalan tapi kok tidak belanja apapun?!


Luke dan Leia pun merasakan hal yang sama melihat perubahan sikap antara Raveena dan Alexis yang agak canggung alias awkward.


"Kalian tadi katanya mau shopping. Kok aku tidak lihat kantong belanjaan? Biasanya kamu maniak shopping" goda Luke.


"Lha brand nya di LA lebih lengkap dan koleksi terbaru jadi aku malas beli lah!" jawab Raveena cuek.


"Jadi kalian berdua cuman window shopping?" tanya Leia yang juga tidak percaya sebab semalas-malasnya Raveena belanja paling tidak ada satu kantong brand di tangannya. Ini aneh, tidak ada satu pun kantong branded di bawaannya tadi.


"Memang ada masalah kalau aku cuma window shopping?" balas Raveena sambil manyun.


"Ya nggak salah sih cuma seperti bukan kamu saja, Veena" senyum Leia.


Raveena hanya diam saja sedangkan Alexis seperti biasa memasang wajah datar. Keempat agen FBI yang ikut makan malam memilih diam saja karena tahu bukan ranah mereka.


Omar Zidane melirik ke arah Raveena yang menikmati makan malamnya dan pria berdarah Mesir itu juga merasa aneh. Selama gadis itu kumpul dengan Feme, sepupunya, selalu belanja sesuatu entah makanan, buku atau apapun. Raveena tidak pernah pulang dengan tangan kosong.


Ini ada yang salah! Omar melirik ke arah Alexis yang diam-diam mencuri pandang ke Raveena.


Tunggu! Apakah terjadi sesuatu diantara Keduanya? No way... Omar hanya bisa mengusap dagunya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2