Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Bachelor Party


__ADS_3

Inter Continental Barclays Hotel Manhattan New York city


Raveena meninggalkan Kalila yang masih saja ribut dengan pengawal nya dan memilih menuju restauran untuk mengisi perutnya. Disana sudah ada sepupunya Mamoru dan Giordano sedang asyik makan.


"Lho? Kalian cuma berdua? Mana Yvonne?" tanya Raveena yang tahu sepupu kandung Mamoru sudah datang dari San Francisco.


"Lagi ke kamar mandi. Katanya kebelet pipis" jawab Mamoru. Yvonne Rogers adalah putri pengusaha dan politikus Patrick Rogers dan Faranisa Al Jordan. Sejak sepuluh tahun lalu, Patrick memindahkan pusat bisnisnya di San Francisco usai dirinya merasa New York terlalu sesak.


"Oom Patrick katanya mau ikut maju jadi walikota San Francisco" ucap Mamoru.


"Nggak jadi!" sebuah suara membuat ketiganya menoleh. "Daddy sudah malas ikut politik macam Grandpa." Seorang gadis cantik dengan mata hijau dan berambut coklat tampak menghampiri ketiganya dan duduk manis diantara Mamoru dan Giordano.



Introducing Yvonne Al Jordan Rogers


"Daddy mu sudah capek masuk politik?" tanya Raveena.


"Hu um. Kata Daddy cukuplah jadi senator di New York dan sekarang lebih fokus di perusahaan game dan make up milik mommy" jawab Yvonne, gadis yang sebaya dengan Raveena itu.


"Iyalah, mending fokus yang sudah ada apalagi game terakhir buatan perusahaan Oom Patrick kan booming" sahut Giordano. "Aku suka mainnya. Banyak misteri dan puzzle."


"Iya, kemarin Daddy kan mendapatkan dukungan dari para game creator yang bekerja untuk membuat remake game RPG dan MMORPG yang klasik. Dan ternyata booming. Baik player lama atau player baru, antusias memainkannya" jawab Yvonne.


"Kamu tuh lucu, Von. Daddy mu punya perusahaan game, mommymu punya perusahaan make up tapi kamu malah memilih menjadi guru bahasa Inggris di sekolah dasar" kekeh Raveena.


"Aku suka kok jadi guru, kan sesuai dengan pendidikan aku" cengir Yvonne yang lulusan University of San Francisco jurusan English linguistik and Education.


"Benar-benar deh... Moru, serius kamu mau ikut macam mbak Mintang? Gio gimana?" Raveena menggelengkan kepalanya karena sepupunya memiliki pekerjaan tidak melulu soal bisnis.


"Aku masih galau antara ingin macam mbak Mintang atau ikut opa buyut" gumam Mamoru Bradford, putra Chris Bradford dan Alea Hamilton. "Kan soal bisnis keluarga Hamilton, aku punya banyak sepupu yang lebih cakap dari aku soal bisnis meskipun opa inginnya aku atau bang Phoenix."


"Tapi Phoenix memilih jadi pengacara macam Oom Steven gara-gara dia tahu Nadya jadi pengacara" kekeh Raveena.


"Bang Phoenix naksir mbak Nadya? Bukannya mbak Nadya sama bang Omar ya?" tanya Mamoru. "Aku, mommy dan Daddy sempat ketemu mereka makan malam bersama di resto beberapa waktu lalu."

__ADS_1


"Memangnya mbak Nadya sudah resmi pacaran sama Bang Omar?" tanya Giordano yang sudah SD.


"Mana aku tahu" jawab Mamoru sambil mengedikkan bahunya. "Soalnya mereka berdua itu Membagongkan."


"Moru, keluarga kita kalau tidak Membagongkan atau mendapatkan pasangan yang sama - sama Membagongkan, itu nggak afdol!" gelak Yvonne.


"Kamu sendiri gimana Von? Sudah ada pasangan?" tanya Raveena.


"Belum. Belum dapat pria yang melihat aku Yvonne Melissa bukan Yvonne pewaris Rogers dan Al Jordan." Yvonne menatap saudara - saudaranya getir.


"Memang susah di jaman sekarang mencari pasangan yang memang tulus mencintai dan menyayangi kita karena personality kita bukan kita punya duit dari keluarga mana" gumam Raveena.


"Tenang mbak Yvonne. Yakin masih ada pria yang tulus ke mbak dan bakalan jadi jodohmu" senyum Giordano, putra Benjiro Smith dan Jang Geun Moon itu.


"Thanks bontot." Yvonne memeluk bocah imut yang cerdas itu.


***


Malam sebelum acara ijab qobul, para sepupu pria Raveena dan Savrinadeya mengajak Antonio dan Alexis acara Bachelor Party. Bukan ke klub atau kemana tapi mereka Napak tilas seperti orang tua mereka untuk pergi ke Poughkeepsie, tempat para keluarga besar Pratomo berlatih menembak dan senjata lainnya.


Iring-iringan mobil mewah itu berjalan dari Manhattan menuju Poughkeepsie yang membutuhkan waktu 1,5 jam. Damian malah sempat bilang kalau di Dubai, sudah diajak balapan.


"Mas Bayu, bukannya tradisi seperti ini buat gagal unboxing, macam Rombeng dulu?" celetuk Valentino sambil melirik ke Romeo yang masih melakukan chat ke Juliet yang semenjak hamil makin manja.


"Masalahnya, Antonio sudah bilang begitu acara selesai, langsung terbang ke Paris. Dan gangguin Alexis doang nggak seru! Kurang maksimal!" jawab Bayu enteng. "Jadi sebelum itu, kita puas main dulu lah!"


Valentino menggelengkan kepalanya. Dasar keturunan Blair suka seenaknya sendiri!


***


Tempat Latihan McGregor - Blair Poughkeepsie New York


Semua pria paripurna itu tiba di sebuah bangunan besar yang berada dekat hutan dan sungai Hudson. Bangunan dua lantai itu sangat terawat dengan penjagaan super canggih. Penjaga disana membukakan pintu gerbang dan mobil-mobil itu masuk ke halaman luas.


Satu persatu para pria itu pun turun dan Bayu membuka pintu yang menggunakan password serta eye recognition. Pintu bangunan itu terbuka dan para ipar yang belum pernah masuk, tampak takjub dengan luasnya bangunan itu dengan adanya Dojo, tempat gym dan sauna.

__ADS_1


"Ini belum seberapa boys" cengir Bayu dan Luke. "Yang terbaik belum kita perlihatkan."


Rombongan itu pun berjalan menuju ruang yang berada di belakang dan mereka takjub dengan luasnya tempat latihan menembak.


"You've got be kidding me!" ucap Dante dan Michel saat melihat ruangan itu. Bayu dan Radeva membukakan pintu yang mirip pintu brankas.


"Silahkan pilih sendiri mau pakai yang mana?" cengir Radeva membuka pintu itu dan semua pria disana melongo, melihat vault yang berisikan berbagai macam senjata.


"Shut the f*** up!" seru Pedro heboh.


"Sorry Pedro, koleksi FBI kalah dengan punya kami" kekeh Bayu sambil menepuk bahu agen FBI itu.


"Monggo disekecaaken" cengir Shinichi yang langsung mengambil Glock bewarna silver.


"Hah? Kamu ngomong apa Shin?" tanya Antonio bingung.


"Silahkan dinikmati. Tenang, magazine, peluru, busur panah ada banyak" seringai Shinichi.


"Jangan ngomong pakai bahasa kita yang nggak paham dong Shin" kekeh Dante yang mengambil revolver dari vault itu.


"Ruangan ini kedap suara kan?" tanya Sean. "Bangunan ini sudah berapa lama usianya? Seratus tahun ada?"


"Kedap suara dan tenang mayor Poughkeepsie itu teman bokap jadi kita tidak masalah latihan disini. Lagian kan tempat ini sudah berdiri sejak Opa buyut Duncan McGregor masih ada dan bangunan ini dulu bekas pabrik yang dibangun tahun 1900an. Sebenarnya tempat ini dulunya gudang bobrok saat dibeli opa untuk aset saja, terus sama Opa Edward dibongkar menjadi tempat latihan lalu dibuat semakin bagus oleh Opa Duncan Blair terus ke Oma Kaia turun ke bokap dan sekarang ke aku.." jawab Bayu santai.


"Awesome. Yuk kita latihan menembak!" ajak Dante.


Malam itu semua pria generasi keenam menikmati acara Bachelor Party yang tidak seperti biasanya ada wanita atau alkohol. Bagi mereka yang sudah ada pasangan, kesetiaan pada pasangan itu mutlak. Maka saat Bayu mengajak bachelor party dan tahu tidak ada wanita dan alkohol, mereka langsung semangat.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2