Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Setelah Bertemu Camer


__ADS_3

Acara Resepsi Leia Bianchi dan Dante Mancini, Tokyo Jepang


Savrinadeya dan Raveena saling berpandangan dengan cemas memikirkan pasangan masing-masing yang 11-12 nekadnya.


"Deya, kira-kira ayah kita kasih restu nggak ya? Mbak deg-degan nih! Tahu sendiri kan pak Pandu itu diam-diam menghanyutkan sadisnya" ucap Raveena. "Tambah si Deva ikutan lagi di dalam. Mana tuh anak kan kemana-mana bawa Glock nya. Ampun deh!"


Deya juga takut mbak. Daddy kan juga over protective. Savrinadeya menatap Raveena khawatir.


"Tapi Devan kan ga kayak Radeva tho, Deya. Devan belum boleh bawa pistol meskipun sudah bisa menembak. Lha kembaran aku apa kabar?" ucap Raveena.


Dari semua generasi ke enam, Radeva adalah orang paling persisi dalam menembak bahkan dia masuk tim menembak nasional Amerika Serikat dan berencana jadi anggota tim olimpiade jika lolos seleksi.


Mas Deva nggak bakalan nodong bang Alexis, mbak.


"Iya, tapi aku kan tetap kepikiran..."


Keduanya menoleh saat melihat pintu ruang kerja itu terbuka. Tampak Rama dan Pandu keluar dengan wajah dingin sedangkan Radeva dan Devan di belakang ayah masing-masing. Setelahnya adalah Antonio dan Alexis keluar dengan wajah datar membuat dua gadis mereka ketar ketir.


Kedua pria itu pun menghampiri Raveena dan Savrinadeya dengan kompak saling tersenyum ke pasangan masing-masing.


"Al...?" Raveena menatap cemas ke Alexis.


"Bisa kita bicara berdua?" ajak Alexis. Raveena mengangguk lalu Alexis menggandeng tangan Raveena menuju sebuah kursi taman.


Para sepupu lainnya hanya saling menatap melihat Alexis pergi bersama Raveena.


"Mereka berdua kemana itu?" tanya Arabella ke Kalila.


"Biasa, urusan cinta-cintaan" sahut Raine.


"Kayaknya bang Alexis nggak boleh pacaran sama Oom Pandu" ujar Kalila.


"Duh bisa mewek si Veena" celetuk Gemini.


***


Raveena menatap pria bermata biru itu dengan wajah cemas. Apa Daddy tidak memberi surat tanda boleh pacaran dengan Alexis? Yang benar saja Dad! Bocah satu ini super baik lho! Kurang apa coba?


"Veena..." panggil Alexis serius.


"Iya Al? Pak Pandu nggak kasih ijin ya? Gak setuju ya? Kita disuruh putus? Terus sekarang kamu bilang hubungan kita sampai disini saja kah? Aku bakalan bilang ke Pak Pandu!" Raveena hendak berdiri tapi tangan Alexis menggenggamnya.


"Dengarkan dulu cantik..." ucap Alexis geli melihat sikap gadisnya yang heboh sendiri. "Duduk dulu, Veena."

__ADS_1


Raveena pun duduk kembali dan menatap Alexis. "Deva menodongkan pistolnya ke kamu?"


"Veena, jika kamu tidak bisa diam, jangan salahkan aku menciummu disini."


Raveena pun terdiam lalu berdehem. "Bagaimana tadi?"


"Intinya Mr Dewanata mengijinkan kita pacaran tapi yang membuat aku sedikit panik adalah jika kamu lebih memilih FBI dan Quantico."


Mata Raveena terbelalak. "Kenapa? Kamu tidak suka aku masuk FBI?"


"Bukan begitu sayang... tapi apa kamu tidak ingin kita menikah, hidup bersama di Turin. Kamu bisa bekerja di rumah sakit sesuai bidang studi kamu atau bisa buka konseling... Kita memang sekarang long distance relationship dan selama kamu masih kuliah, aku agak tenang. Tapi begitu kamu masuk FBI, aku yakin kamu akan terlibat banyak kasus dan itu membuat aku khawatir, Veena" jawab Alexis.


"Aku kan sudah bilang Alexis, aku ingin menikmati masa mudaku sebelum akhirnya kita menikah. Tanteku, Nura, bahkan sampai empat tahun mundur menikah dengan Oom Alaric agar bisa menyumbangkan ilmu bedahnya ke banyak negara karena ikut Doctors without Borders dan Oom Alaric bisa menerima dan setia menunggu Tante Nura."


Alexis memegang tangan Raveena. "Empat tahun itu lama, Veena. Dan kamu tidak mungkin hanya empat tahun bisa lebih! Karena apa, begitu kamu masuk FBI, harus pelatihan paling tidak dua tahun lalu kamu harus masuk melalui seleksi untuk ditempatkan dimana. Jika kamu ditempatkan di Quantico, aku masih bisa tenang tapi kalau harus pergi kemanapun... Aku yang bingung Veena."


Raveena tampak goyah. "Berikan aku kesempatan untuk masuk ke Quantico dan jika disana aku tidak betah dan tidak mampu, berarti aku memilih kamu."


"Jika kamu mampu?"


Raveena terdiam.


"Pikirkan baik-baik, Veena. Aku semakin tua, apalagi usia kita beda jauh. Aku memang bisa dibilang egois karena ingin segera menikah denganmu, memiliki anak yang lucu, memelihara anjing atau kucing. Kamu tanyakan pada hatimu sendiri jika kamu sudah berada di Quantico." Alexis menatap serius ke Raveena.


***


Abang kenapa?


"Abang? Oh, kena timpuk sama Oom Rama" cebgir Antonio.


Ditimpuk apa? Savrinadeya melihat kepala Antonio. Keduanya sedang duduk berdua di kursi tempat meja mereka makan.


"Buku. Tidak tahu buku apa tadi..." jawab Antonio.


Kasihan. Sini Deya lihat. Tanpa menunggu jawaban Antonio, gadis itu melihat kepala pria yang jauh lebih tua darinya. Tampak kepala Antonio sedikit benjol.


Daddy nimpuk pakai buku apa sih! - batin Savrinadeya gemas dengan ayahnya yang tampan.


"Gimana Deya? Benjol ya?" tanya Antonio.


Savrinadeya mengangguk. Agak benjol jadi harusnya dikompres tuh.


"Ah, tidak apa. Benjol dikit demi ijin pacaran turun..." cengir Antonio.

__ADS_1


Savrinadeya melongo. Serius bang? Daddy kasih ijin Abang sama Deya?


Antonio mengangguk. "Serius Deya. Abang boleh sama Deya dengan syarat tunggu sampai kamu usia 20 tahun, baru Abang lamar ke Oom Rama. Maunya sih sekarang tapi kan kata Leia, Deya masih bayi... Jadi... Aaadduuuuhhhh!" a


Savrinadeya mencubit lengan Antonio sebal.


Deya bukan bayi! Mbak Leia dan Bang Luke suka gitu deh!


"Lho tapi Oom Rama juga bilang gitu ... Deya masih kecil ... tapi kecil apanya ya... " Wajah Antonio tampak menyebalkan membuat Savrinadeya memukul bahu pria itu.


Abang tuh! Protes Savrinadeya dengan wajah memerah.


"Yang penting, Oom Rama sudah kasih ijin. Dan sekarang tinggal Abang membuktikan bahwa Abang memang pantas untuk Deya. Doakan ya setelah sunat, Abang bisa menjadi imam yang baik buat Deya." Antonio menatap lembut ke gadis cantik di hadapannya.


Sunat? Abang sudah sunat? Kapan ?


"Sebulan lalu barengan sama Dante dan Alexis."


Abang kok macam anak SD ikut sunat massal kekeh Savrinadeya membuat Antonio manyun.


"Biar ada temannya tahu! Abang kesal sama Lele, masa Abang pakai sarung sedangkan Alexis pakai kilt. Kan Abang protes!"


Terus kenapa Abang nggak pakai kilt seperti bang Alexis?


"Karena Abang bukan keturunan Skotlandia! Menyebalkan bukan?" sungut Antonio membuat Savrinadeya tertawa


Padahal kan pakai saja tidak apa-apa, bang.


"Hah! Leia dan Alexis sama-sama menyebalkan!" Antonio menatap Savrinadeya. "Kamu mau menikah dimana? New York, Turin atau Bali?"


Savrinadeya memegang tangan Antonio. New York saja kan keluarga Deya disana.


"Tunggu Abang empat tahun lagi ya?" pinta Antonio.


Savrinadeya mengangguk sambil tersenyum manis.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2