
Central Park, Manhattan New York
Alexis dan Raveena memutuskan untuk berjalan-jalan ke Central Park untuk menikmati hari karena besok pria itu bersama Antonio akan kembali ke Turin. Masa pingitan pun dimulai membuat Alexis merasa untuk benar-benar menikmati hari ini bersama tunangannya. Menurut rencana, acara pernikahan mereka akan diadakan pertengahan Juni dan dua pria Italia itu akan datang dua hari sebelum acara.
"Kamu kenapa sih?" tanya Alexis yang melihat Raveena terus memandangi cincin tunangannya.
"Tidak menyangka bahagia rasanya dilamar" kekeh gadis itu sambil memeluk lengan Alexis posesif.
"Astagaaa Veena. Macam apa saja sih?" senyum Alexis sambil mencium pucuk kepala Raveena.
"Lho kamu tidak tahu kalau tidak mudah menghadapi aku dan pak Pandu" ucap Raveena. "Cuma kamu yang tahan banting dan tabah menghadapi Daddy dan Radeva dengan Glock diatas meja. Apaan coba?"
Alexis terkekeh. "Veena, aku sudah lama menjadi asisten Antonio jadi soal intimidasi sudah biasa. Meskipun rasanya menghadap Pak Pandu itu jauh lebih menyeramkan karena ini kasus dapat ijin menikahi kamu atau tidak!"
Keduanya lalu duduk di sebuah kursi taman yang kosong. Raveena membuka tas besarnya dan mengambil dua botol air mineral lalu memberikan satu pada Alexis. Setelahnya gadis itu mengambil dua bungkus burger untuk acara piknik di taman.
"Untung tadi kita beli burger dulu untuk ganjal perut" senyum Raveena sambil menggigit burgernya.
"Veena... Kita nanti tinggal di rumah ku ya kalau sudah menikah..." ucap Alexis.
"Ya iyalah, tinggal di rumah kamu! Masa tinggal di apartemen aku?" balas Raveena cuek.
"Kamu punya apartemen di New York?"
"Aku punya banyak properti, Al. Aku sejak kecil kan mendapatkan uang jajan dari Opa dan Oma banyak, uang jajan dari ortu juga tapi aku tidak mau lah hambur-hamburkan. Sejak junior high school, aku belajar dari Mommy dan Tante Alea soal properti jadi aku mulai beli apartemen biasa dari uang jajanku. Kenapa aku memilih apartemen biasa, karena yang cepat tersewa. Setelahnya aku dapat untung dan High school aku mulai punya gedung apartemen di daerah Bronx dan Brooklyn."
Alexis melongo. "Jiwa bisnis keluarga kamu menurun ya?"
Raveena mengangguk. "Aku tidak bawa PRC Group lho, itu murni milik aku sendiri meskipun untuk legalitas dibantu pengacara dari biro hukum Oom Travis karena aku masih dibawah umur."
"Lalu?"
__ADS_1
"Lalu aku mulai punya apartemen di Queens, dekat Broadway dan terakhir di Manhattan. Jujur kalau di Los Angeles, aku hanya membeli rumah karena prospek rumah disana lebih bagus dari New York. Apartemen yang dulu kamu nginap, itu sengaja aku sewa saja karena Daddy yang mau membayarnya. Uang dari hasil sewa apartemen di New York, aku belikan beberapa rumah di Los Angeles yang kemudian aku sewakan atau jual setelah direnovasi." Raveena mengambil iPadnya dan menunjukkan properti miliknya.
"Woah Raveena, aku tidak tahu kalau kamu kaya dari uang kamu sendiri..." Alexis tiba-tiba merasa insecure karena pendapatan Raveena jauh lebih banyak dari dirinya.
"Aku hanya suka memutar uang agar aku tidak membuang percuma. Sebenarnya bukan dari uang aku sendiri melainkan uang jajan yang aku putar jadi kalau dirunut yaaa uang dari keluarga ku yang sudah jadi hak milikku." Raveena menatap Alexis yang wajahnya agak mendung. "Apakah kamu merasa tidak nyaman, Al?"
"Aku tahu keluarga kamu Sultan, tapi aku tidak menyangka kalau kamu bisa menghasilkan uang sendiri... Dan itu banyak!" jawab Alexis apa adanya.
"Dengar sayang, aku bercerita ini bukan bermaksud untuk menyombongkan diri tapi jika kita tua nanti, tidak perlu bingung karena kita sudah memiliki tabungan. Kasarannya begini, misal suatu saat kamu tidak memiliki uang, aku bisa membantumu..."
"Veena, uangmu kamu simpan sendiri saja karena itu hartamu sebelum menikah denganku. Tapi disaat kamu sah menjadi istriku, akulah yang bertanggung jawab semuanya tentang dirimu. Aku tahu kamu dan para gadis Pratomo bukanlah wanita yang silau harta karena kalian sudah kaya dari lahir. Hanya saja Veena, ijinkan aku memberikan sesuai kemampuan aku..."
Raveena mencium bibir Alexis. "Dengar pak tua bodoh! Aku sudah mau menikah denganmu itu karena aku mencintai dirimu, bukan uangmu! Jika kita nantinya hidup sederhana, tidak masalah. Kami juga lebih suka hidup simpel meskipun untuk kebobrokan, kegesrekan dan unfaedah melebihi satu toko Hermès!"
"Veena, apa kamu tidak apa-apa rumah kita besok kecil dan sederhana?"
Raveena memukul bahu Alexis keras-keras. "Rumahmu bocor nggak? Ada halaman kan? Ada dapurnya kan? Kamarnya berapa?"
"Lalu? Kenapa? Tidak ada pelayan gitu? Dengar pak tua, aku lebih suka kita hidup berdua. Lagipula kamu lihat sendiri aku tidak memiliki pelayan di Los Angeles! Aku hanya memiliki bodyguard bayangan kiriman pak Pandu! Semua aku urus sendiri karena kami semua dari kecil dididik untuk bisa hidup mandiri dan paham pekerjaan rumah termasuk memasak! Keluarga kami termasuk keluarga kolot dan old fashion tapi itu tradisi turun temurun yang memang jadinya kami-kami ini!"
"Aku tidak menyangka keluarga seperti kalian masih memegang ajaran tradisional..." gumam Alexis.
"Dan jika nanti kita punya anak, maka aku akan mengajarkan hal yang sama baik anak cewek maupun cowok" senyum Raveena yakin.
"Kamu ingin anak berapa?" tanya Alexis.
"Dua sih tapi sedikasihnya..." Raveena menatap Alexis. "Pak tua, apa punya mu sudah karatan?"
Pria bermata blue greyish itu melotot judes ke tunangannya yang sering seenaknya sendiri kalau ngomong. "Enak saja bilang punyaku karatan! Ini sering diasah tahu!"
"Memang pakai apa?"
__ADS_1
"Sabun!"
Raveena terbahak. "Oh pak tua ... Kamu makin menggemaskan dan aku cinta sekali padamu!" Gadis itu mencium bibir Alexis lagi.
***
JFK Airport New York
Pagi ini Raveena dan Savrinadeya mengantarkan tunangan mereka masing-masing yang hendak kembali ke Turin Italia. Kedua gadis itu ditemani oleh Radeva yang bertindak sebagai sopir mereka.
Savrinadeya memilih meminta ijin sehari dari rumah sakit tempat dia bekerja demi bisa mengantarkan Antonio pulang. Raveena sendiri sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya ke Alexis seolah tidak mau berpisah.
"Ya ampun Veena, dua bulan lagi kalian mau jungkir balik, koprol, salto, terserah! Nggak usah lebay deh!" sungut Radeva yang sebal melihat saudara kembarnya mulai berdrama ria.
"Aku kan bukan atlit gymnastic, Deva! Ngapain aku salto sama koprol?" cebik Raveena sebal ke saudara kembarnya.
"Deya, untung Devan tidak seperti Radeva..." bisik Antonio.
Siapa bilang bang? Justru Devan lebih galak dari Radeva.
Antonio melongo. Mampus gue!
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1