Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Rencana Savrinadeya


__ADS_3

Mansion Bianchi, Turin Italia


Alexis Accardi hanya menggelengkan kepalanya melihat banyaknya pesan yang masuk ke akun WhatsApp 'Antonio Bianchi'. Alexis bersama dengan salah satu asistennya Gemma Bernardi sengaja membuat akun palsu agar memiliki banyak bukti sesuai dengan rencana Savrinadeya.


"Signora, apakah Signora yakin menggunakan taktik ini?" tanya Alexis saat gadis itu menghubungi asisten Antonio Bianchi.


Yakin Bang. Aku tahu dia bakalan menjelekkan aku di belakang jadi aku butuh bukti lagi. Kalau hanya sekedar minta pindah, gampang tapi aku juga gemas ingin memberikan pelajaran ucap Savrinadeya dengan ketikan di layar chat nya.


"Baik. Biar nanti Gemma yang mengurusnya."


Dan kini Alexis membaca sendiri bagaimana roomate sepupu Leia Bianchi itu. Kata-kata kasar muncul saat Gemma merespon dengan mengatakan Deya anak baik.


📩 Yunita : Anak baik apanya? Dia memang pelit! Tidak mau berbagi apapun denganku.


📩 Antonio Bianchi : Kan aku tahu Deya karena dia sepupuku.


📩 Yunita : Bang Antonio, kapan ke Washington lagi? Aku ingin banyak tahu tentang Abang termasuk kebun anggurnya.


📩 Antonio Bianchi : Anak kecil belum boleh minum anggur


📩 Yunita : Aku mau 18 tahun jadi tidak ada masalah kan?! Aku ingin tahu rasanya.


📩 Antonio Bianchi : Tetap saja di Amerika hukumnya boleh minum di usia 21 tahun.


📩 Yunita : aku ikut hukum Italia saja, usia 18 tahun boleh minum.


📩 Antonio Bianchi : kamu kuliah di Amerika jadi harus mengikuti hukum disana.


Gemma menatap Alexis. "Anak ini ya ampun, Signor Accardi. Sangat menyebalkan!" umpat gadis manis itu.


"Kamu harus tabah ya Gemma. Berperan sebagai boss dalam tanda kutip sampai Signora McCloud mendapatkan bukti otentik."


"Bukankah sebenarnya dengan rekaman kamera tersembunyi sudah mencakup semuanya?" tanya Gemma.


"Bisa saja mengelak kan?" senyum tangan kanan Antonio Bianchi itu.


"Tapi, ampun Signor Accardi. Ini membuat saya menjadi kurus!" sungut Gemma yang badannya memang termasuk gempal.


"Bukankah kamu ingin langsing Gemma" kekeh Antonio.


"Tapi tidak karena emosi begini juga!"


***


Asrama Gallaudet University Washington DC

__ADS_1


Savrinadeya menatap Yunita yang senyum-senyum sendiri karena tahu bahwa temannya itu pasti sedang berchatting ria dengan Antonio.


Gadis itu hanya mengedikkan bahunya membiarkan temannya menikmati waktunya bersama Antonio. Dirinya sendiri lebih memilih untuk tidur karena besok dia akan ke perpustakaan nasional setelah kuliah pagi.


***


Perpustakaan Nasional Washington DC


Savrinadeya dan Linda tampak asyik berdiskusi tentang tugas mata kuliah psikologi perkembangan apalagi teori dan hipotesis yang disampaikan oleh banyak tokoh psikologi macam Carl Jung, Sigmund Freud, Wilhelm Wundt makin berkembang dengan penelitian para psikolog modern di jaman mereka sekarang ini. Keduanya sekarang berada di perpustakaan nasional Washington DC dimana semua koleksi buku disana sangatlah lengkap dibandingkan di kampus.


Basicnya dari mereka, Deya. Apalagi Wilhelm Wundt adalah pendiri laboratorium psikologi pertama. Linda mengobrol dengan Savrinadeya sambil memperlihatkan buku tebal The History of Psychology.


Iya memang. Tapi yang namanya watak, otak manusia itu mengalami evolusi bahkan setiap generasi memiliki julukannya sendiri. Generasi, X, Y, Z, Alpha, Strawberry bahkan kita sendiri ada julukan juga. Savrinadeya menatap teman seangkatannya.


Dan otak kriminal pun juga berkembang.


Savrinadeya mengangguk. Kakak sepupu aku kuliah di UCLA mengambil psikoanalisis dan otaknya dia jadi ikutan kriminal.


Linda melongo. Kok bisa?


Savrinadeya tersenyum. Dipakai buat akting di teater jadi kakakku, namanya Raveena, adalah seorang aktris panggung teater dan konyolnya dia paling suka menjadi pemeran antagonis.


Linda tampak heran. Dimana mana yang namanya aktris kan suka menjadi pemeran protagonis?


Linda mengangguk. Apakah kakak mu akan masuk Hollywood?


Savrinadeya menggelengkan kepalanya.


Kenapa?


"Karena di Hollywood, penuh dengan kekacauan" jawab Savrinadeya sambil berbisik. Gadis itu sebenarnya pernah bertanya dengan Raveena apakah akan mengikuti jejak buyut mereka, Adriana Pratomo Reeves yang menjadi artis dan penyanyi di Hollywood pada jamannya.


Raveena menolak karena meskipun di teater tempatnya manggung, obat terlarang dan narkoba juga beredar banyak tapi dia bisa menahan diri untuk tidak ikutan terjerumus.


***


Flashback Lebaran Beberapa Waktu Lalu di mansion Blair Staten Island New York


"Kalau di Hollywood beda, Deya. Kamu tidak ikutan, kamu tidak mengikuti cara mereka, ya sudah karier mu mandeg! Tidak ada orang yang mau pakai kamu meskipun akting kamu bagusnya seperti apa tapi karena kamu tidak bisa blend it disana, kamu tidak dapat tempat" jawab Raveena ketika Deya bertemu dengan sepupu cantiknya itu di acara lebaran.


Apa kamu akan terus di teater?


"Nggak lah! Aku ingin berkarir di bidang psikoanalisis dan siapa tahu bisa masuk Quantico dan tergabung dengan BAU ( Behavioral Analysis Unit ) yang mempelajari para psikopat, sosiopat dan Pat pat lainnya..."


Savrinadeya tertawa mendengar ucapan Raveena yang sama rusuhnya dengan Sakura Park kalau berbicara. Gadis itu salut dengan dua gadis yang ramai, receh dan tidak ada takut-takutnya dengan apapun.

__ADS_1


Motto Raveena dan Sakura sama. Takut itu hanya kepada Allah dan mommy. Selain itu, hajar bleh kalau memang salah!


Flashback End


***


Menurut mu apakah kita bisa mendapatkan subyek yang diteliti untuk melihat perkembangan jiwa dan pola pikirnya? Sebab aku tidak bisa menemukan testee yang cocok. Linda mencari-cari di ipadnya daftar kontak teman-temannya yang bisa dijadikan subyek penelitian untuk tugas.


Savrinadeya tersenyum. Ada. tapi kamu harus membayar nya mahal.


Linda mendelik. Deya! Kamu kan tahu aku bukan dari keluarga kaya seperti kamu! Aku masuk sini saja dari beasiswa!


Sulung Rama McCloud itu hanya tersenyum. Soal itu serahkan padaku. Yang penting kamu bisa approach dan meneliti dia diam-diam.


Linda menatap horor ke Savrinadeya. Jangan bilang itu roomate kamu?


Savrinadeya mengangguk.


Astagaaa! Deya! Apakah dia berbuat ulah lagi? Sudahlah, kamu pindah kamar saja denganku apalagi aku sendirian di kamar untuk dua orang! Bukan apa-apa, kita tidak tahu apa yang bisa dia lakukan padamu! Pekik Linda melalui bahasa isyarat yang jika orang lain lihat mirip Naruto melakukan Jutsu segel tangan.


No Linda, kamu harus melihat isi otaknya, apakah sama dengan pengamatan aku selama ini.


Linda menghela nafas panjang. Apa yang akan kamu lakukan? Membuat Roomate kamu mau aku wawancara dan amati?


Savrinadeya tersenyum manis.


***


Asrama Gallaudet University Washington DC


Savrinadeya masuk ke dalam kamarnya dan tampak wajah sumringah Yunita di depan ponselnya membuat gadis itu tahu jika roomatenya sedang chat dengan Antonio.


Sambil membuka jaketnya, Savrinadeya melihat notifikasi ponselnya dan tersenyum manis.


📩 Bang Antonio : Kamu nakal Deya!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2