
Kampus Psikologi Gallaudet University Washington DC
Savrinadeya menikmati makan siangnya yang dia beli dari kantin halal yang tersedia disana. Semakin banyak mahasiswa yang membutuhkan makanan halal, akhirnya kampus membuka kantin khusus yang chef nya berasal dari Kelantan Malaysia, dengan spesialisasi nasi lemak dan teh tarik disamping banyak masakan Melayu lainnya.
Gadis itu menikmati nasi lemak, teh tarik dan roti cannai yang diberikan saus kari. Savrinadeya sangat menyukai masakan Indonesia dan Melayu jadi saat tahu ada kantin masakan Melayu, gadis itu sangat senang.
Roti canai dengan kuah kari
Nasi lemak Malaysia
Dan seperti kebiasaan orang Melayu dan Indonesia pada umumnya, Savrinadeya pun makan dengan tangan. Makan roti cannai mana ada pakai pisau dan garpu.
Wajah cantik Savrinadeya tapi makan dengan tangan, membuat beberapa orang disana mengerenyitkan alisnya. Menurut mereka, gadis berambut hitam itu tidak bermanner.
Deya!
Savrinadeya mendongak dan menatap wajah kepo Linda. Makan yuk Linda.
Linda duduk di hadapan Savrinadeya. Apa enaknya makan pakai tangan?!
Savrinadeya tersenyum. Coba saja.
Linda melihat bagaimana temannya makan dengan nikmat, akhirnya jadi kepengen juga. *Kamu pesan apa?
Roti cannai dengan saus kari dan nasi lemak. Minumnya teh tarik*.
Linda mengangguk dan berdiri menuju kantin yang dimaksud. Tak lama dia datang membawa pesanannya lalu menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Gadis berambut pirang dengan badan sedikit gemuk itu mencoba roti cannainya seperti cara Savrinadeya makan.
Ini enak Deya! seru Linda sambil terus memakan roti cannainya. Nasi lemaknya juga. Sambalnya juara.
Savrinadeya tersenyum. Kamu harus mencoba menu lainnya dan pasti suka.
Linda mengangguk. Tapi ini sudah masuk dalam daftar makanan favorit aku.
Savrinadeya tertawa.
***
Sabtu, Washington DC
Antonio mendatangi kampus Savrinadeya dan menunggu gadis itu keluar dari asrama. Semalam Antonio mengabari bahwa dirinya akan datang ke Washington DC untuk mengajak gadis itu jalan-jalan. Savrinadeya memang tidak pulang ke New York karena Rama meminta putrinya sebulan sekali saja meninggalkan Washington.
Kesempatan ini pun digunakan oleh Antonio untuk berkunjung menemui gadis belia yang sangat digilainya. Antonio merasa dirinya seperti ABG jaman SMA padahal masa-masa itu sudah lewat lama.
__ADS_1
Tak lama Savrinadeya keluar dengan mengenakan jaket dan celana jeans dipadu dengan kaos putih. Karena Antonio mengatakan acaranya santai makan di restoran pizza, maka Deya pun tidak memilih baju yang semi formal.
Tapi betapa terkejutnya gadis itu melihat sepupu Leia dan Luke Bianchi mengenakan pakaian agak formal membuat Savrinadeya cemberut. Dan naik Vespa!
Mie Keriting kata Leia.
"Hai Deya" sapa Antonio cerah tapi sejurus kemudian wajah pria berubah cemas karena melihat Savrinadeya cemberut. "Kenapa Deya?"
Bang Antonio bohong! ucap Deya sedikit celad.
"Hah? Kok bang Antonio bohong?"
Katanya bajunya santai... Itu bukan baju santai!
Antonio menunduk melihat bajunya. "Ini Abang main ambil baju dari koper dan ternyata agak formal ya?"
Savrinadeya mengangguk.
"Santai saja Deya. Kan kita santai pakai Vespa. Kamu mau kan boncengan?"
Savrinadeya mengangguk sambil tersenyum tipis. Sejujurnya Savrinadeya sangat menyukai sepeda motor terutama Vespa tapi karena keterbatasannya, Rama melarang putrinya naik motor karena takut tidak mendengar apapun jika memakai helm yang menghalangi hearing aid nya.
Tapi bang. Nanti Deya tidak dengar kalau bang Antonio bilang apa. Kan kehalang helm. Ucap Savrinadeya sambil menerima helm dari Antonio.
"Nggak papa. Asal Deya pegangan erat pinggang bang Antonio, aman deh!" seringai Antonio sambil membantu gadis itu memasang helmnya.
Tak lama keduanya pun saling berboncengan dan tangan feminin Savrinadeya memeluk pinggang dan perut Antonio erat membuat pria Italia itu tersenyum senang.
Kapan lagi dipeluk erat begini? Tomat... tomat. Otakmu untuk modus memang tokcer! Antonio tertawa durjana dalam hatinya.
Tanpa sepengetahuan keduanya, Yunita memperhatikan kepergian mereka dari jendela kamar asramanya.
Brengsek! Kenapa juga bang Antonio kemari dan pergi berdua dengan Deya? Dan tidak mau datang ke asrama?! Yunita pun manyun. Gadis itu menuju ke meja belajar Savrinadeya untuk mencari tahu informasi tentang Antonio. Setelah email-nya kemarin tidak ada tanggapan sama sekali, Yunita merasa kesal.
Perlahan Yunita mencari catatan atau buku telepon meskipun untuk jaman sekarang orang sudah malas memakai buku kecil itu. Yunita membuka MacBook milik Savrinadeya yang di password. Sial!
Yunita mengembalikan semuanya seperti biasa lalu dirinya mencoba membuka laci meja yang semuanya dikunci.
Aaarrrgggghhhh!
***
Restaurant Pizza &Pizza Hive Hotel
Savrinadeya tampak sumringah melihat banyaknya macam pizza yang dijual disana. Dan tanpa ragu-ragu gadis itu langsung memesan favorit beef cheese with tomato and spinach.
__ADS_1
Antonio tersenyum melihat bagaimana senangnya Deya saat mengetahui seorang pelayanannya juga seorang tuna rungu yang bekerja disana. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dan setelahnya pelayan itu pergi ke dapur.
"Ngobrol apa Deya?" tanya Antonio.
Restaurant ini sangat mendukung penyandang disabilitas kaum tuna rungu. Katanya ada dua rekannya yang sama bekerja disini karena banyak mahasiswa Gallau suka makan disini.
"Kamu kalau ada yang kurang, ingin tambah, bilang lho ya" senyum Antonio.
Iya bang.
"Oh Deya, apa kamu pernah memberikan alamat email perusahaan anggur Bianchi yang di Turin?" tanya Antonio setelah mereka ngobrol santai dan pesanan mereka tiba.
Nggak bang. Deya tidak tahu malahan alamat email perusahaan anggur Abang yang di Turin. Yang di New York saja Deya hanya tahu alamat email perusahaan keluarga Pratomo saja tapi tidak email perusahaan anggur Bianchi yang di Turin.
Antonio mengangguk paham karena dirinya juga tahu Deya tidak terlalu memperhatikan email perusahaan keluarga lainnya. Berarti si Yunita mencari tahu sendiri.
Savrinadeya menepuk tangan Antonio yang masih tampak tercenung. Bang Antonio kenapa?
"Tidak apa-apa. Eh Deya, Abang mau bicara sedikit complicated tidak apa-apa ya?"
Savrinadeya mengangguk.
"Deya, teman sekamar kamu mengirimkan email ke email perusahaan Abang yang di Turin. Alexis yang menemukan."
Savrinadeya terkejut. Kenapa Yunita mengirim email ke Abang?
"Temanmu itu dengan tanpa malunya bilang kalau kamu pelit tidak mau memberikan nomor ponsel Abang ke dia. Dan dia dengan terang-terangan meminta nomor ponsel Abang via email itu."
astaghfirullah. Kok ya nggak tahu malu sih bang?
Antonio mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan email-email dari Yunita karena setelah email yang pertama tidak ada tanggapan, gadis itu mengirimkan banyak email yang intinya untuk menarik perhatian Antonio.
"Just be careful, Deya." Antonio menatap gadis itu serius. "Aku tidak mau kejadian macam di film-film psycho thriller single white female, the roommate ataupun film lainnya terjadi padamu."
Savrinadeya tersenyum. Bang Antonio tenang saja.
Neng Savrinadeya
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️