Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Lee Minho


__ADS_3

Los Angeles Airport ( LAX )


"Signora Dewanata, anda mau kemana?" tanya Alexis yang penasaran dengan gadis cantik yang tampak cuek menggandeng lengannya dengan alasan takut terpeleset.


"Turin."


"Anda akan menemui siapa disana?"


"Dua sepupu aku. Lagian minta tolong kok sukanya mendadak!" gerutu Raveena.


"Apakah saya boleh tahu siapa sepupu anda Signora?"


"Luke dan Leia Bianchi" senyum Raveena. "Kamu kenal?"


Tentu saja kenal! Kami tinggal serumah!


( Cerita Raveena di Turin bisa dibaca di The Bianchis chapter Raveena Tiba di Turin, Misi Raveena dan Aku Adalah Seorang Penyihir. )


***


Mansion Bianchi, Ruang Kerja Antonio Bianchi


"Siapa agen FBI yang akan mengurus kasus ini?" tanya Raveena ke Oomnya, Luca Bianchi.


"Omar Zidane."


Raveena tersenyum smirk. "Baguslah!"


"Kenapa Veena?"


"Soalnya dia agen FBI yang lurus dan taat peraturan."


Luca menatap keponakannya yang cantik. "Kami kenal dia?"


"Bisa dikatakan begitu Oom."


***


After Harland Rochester dibawa pergi para kartel, kamar hotel Harland.


Raveena masih membersihkan bibirnya dengan anti racun yang diberikan Jang Geun-moon untuk menghilangkan serum pingsan ala black mamba.


"Beneran deh Tante bulan sabit satu itu! Perasaan Opa Jang nggak separah itu otak mafia nya, eh si Tante bisa-bisanya bikin senjata macam-macam. Mana mas Bayu juga 11-12 ikutan mafia otaknya. Eh tapi kalau mas Bayu kan ya gak salah sih. Sudah cicitnya Opa Edward Blair, cicitnya Opa Duncan, cucunya Oma Kaia yang bikin gosong orang, ketambahan anak nya pak Abiyasa dan Bu Gandari yang sama-sama panasan... Paket lengkap!" Raveena ngedumel ( ngomel ) di kamar mandi tanpa sadar ada sepasang mata biru yang sedari tadi menatapnya dengan perasaan geli.


"Tapi yang benar saja, bikin senjata diluar nalar mana semua law enforcement juga pada pakai alat spionase buatan Tante Bulan lagi..." Raveena membalikkan badannya dan terkejut melihat Alexis duduk di pinggir tempat tidur yang langsung menghadap kamar mandi.


"Lha, sejak kapan kamu disitu? Aku kira kamu sudah keluar" ucap Raveena sambil mengambil handuk bersih yang berada di lemari.


"Tentu saja saya tidak akan meninggalkan nona sendirian disini. Sudah siap?" tanya Alexis ke Raveena yang masih menggoyangkan tubuhnya seolah ingin menghilangkan jejak Harland Rochester di badannya.


"Tunggu." Raveena mengangkat gaunnya sebatas paha dan Alexis melongo melihat gun belt di paha gadis itu dan sebuah PPK disana. "Yuk keluar!" ajak Raveena sambil membuka pengaman pistolnya dan membawanya dengan santai.

__ADS_1


"Astagaaa!" Alexis menggelengkan kepalanya, tidak menyangka gadis urakan dan seenaknya sendiri itu benar-benar pemberani. Signora Raveena memang keturunan Blair.


***


"Lhoooo... Kok sepi? Mana baku hantam, tembak-tembakan dan acara gelutnya?" keluh Raveena yang tiba di halaman hotel.


"Nggak ada Veena. Kamu tuh sama saja sama Bayu, sukanya gegeran!" omel Luca yang heran dengan keluarga Blair yang jauh lebih panasan dari keluarga Bianchi.


"Yaaaa PPK aku istirohat dong!" ucap Raveena manyun sambil memasang pengaman pistol nya lagi dan memasukkan ke gun belt di paha nya.


"Anggap saja kamu hemat peluru" cengir Luke.


"Aaaaaahhhh ga asyiiik!" Raveena tampak kesal.


"Veena" panggil Omar Zidane membuat Raveena menoleh dan langsung menghambur ke pria berdarah Mesir.


"Rugi aku OZ, sudah siap ini" adu Raveen manja ke Omar Zidane yang membuat orang disana melongo.


"Kamu kenal Omar?" tanya Leia bingung.


"Kenal lah! OZ adalah kakak sepupu teman sekelas aku waktu SMA dan aku sering ke rumah Feme dulu..."


"Feme adik sepupu aku yang diangkat anak sama ibuku karena kedua orangtuanya jadi korban b*m di Mesir beberapa tahun lalu" jelas Omar.


"Aku dan Feme teman teater dulu. Bedanya Feme kuliah di NYU, aku mental ke UCLA. Dan OZ memang over protective dengan kami berdua jadi kalau aku dan OZ dekat ya macam kakak adik lah!" cengir Raveena yang mendapatkan ciuman di pelipisnya.


"Raveena dari SMA memang pemberani dan honestly, aku tidak tahu putri siapa, keturunan siapa awalnya karena anak satu ini urakan" kekeh Omar.


"Begitu kamu tahu?" tanya Luke.


Luca, Luke dan Leia terbahak mendengarnya. "Kita punya daftar hitam tapi kami melakukannya karena memang terpaksa" elak Luca. "Macam ini lah! Apa FBI juga memasukkan kami masalah Turin ke daftar hitam?"


"Well ..." Billy Boyd hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah yuk, aku dan paman Luca harus menyelesaikan urusan dengan polizia. Kalian yang FBI juga harus ikut!" Antonio mengajak semua yang berkepentingan harus bertemu dengan kapten polizia Turin.


Alexis mengajak Raveena dan Leia untuk pulang ke mansion Bianchi sedangkan Dante, ikut diseret Luke ke polizia agar tidak modus dengan kembarannya.


***


Mansion Bianchi


"Haaaaahhh... capeeeekkkk!" keluh Raveena sambil melemparkan tubuhnya Diatas sofa empuk.


"Kamu sudah mandi Veena?" tanya Leia.


"Belum baru membersihkan wajah dan mulut. Ampun deh! Mending aku cium Pete daripada si Harland."


"Siapa itu Pete?" tanya Alexis dengan nada sedikit kepo.


"Lawan main aku kemarin di pertunjukan Grease. Sayangnya, pacar nya memang cemburuan tingkat grand canyon sampai-sampai Pete bilang aku lesbong! Kan kampret! Aku normal ini, hetero, suka cowok apalagi barangnya..."

__ADS_1


"Raveena!" hardik Leia memelototi adiknya yang seenaknya sendiri kalau bicara sedangkan Alexis sudah memerah wajahnya mendengar ucapan unfiltered Raveena.


"Biasa saja mbak. Sudah pada dewasa kan kita. Lagipula, aku masih virgin kecuali bibir aku lah!" lanjut Raveena cuek.


"Astaghfirullah!"


Alexis memalingkan wajahnya yang semakin memerah tidak menyangka seorang gadis Blair bisa rusuh seperti itu. Aku lupa, Signora Raveena kan cucunya Signora Kaia Blair yang memang pemberani.


***


Halaman belakang Mansion Bianchi


Raveena menikmati kopi hitam dan sepiring lasagna plus satu gelas besar air putih yang berada di meja tamu. Gadis itu memandang langit Turin yang malam ini tampak banyak bintang di musim dingin ini.


Salju masih ada dibeberapa pohon Cemara di halaman belakang, hawa dingin tidak membuat Raveena kedinginan. Entah kenapa cuaca malam ini mengingatkan kota New York yang tidak ada suara klakson atau pun sirine polisi.


"Signora Raveena?" panggil Alexis.


"Oh, Alexis. Kok belum tidur?" Raveena menatap pria yang memiliki mata blue greyish itu.


"Saya masih menunggu Signor Bianchi."


"Ngapain nunggu mereka? Mereka bukan anak kecil, Alexis. Sudah, kamu tidur saja" kekeh Raveena.


"Anda sendiri?"


"Biasanya kalau aku usai berakting, aku membutuhkan waktu untuk menetralisir peranku supaya aku kembali menjadi Raveena Blair Dewanata."


Alexis duduk di sebelah Raveena. " Apakah sulit untuk berakting?"


"Lumayan. Apalagi adegan mesra. Harus menunjukkan bahwa kamu mencintai orang itu, maksud aku lawan mainku, meskipun aku tidak suka. Duh itu yang namanya membangun emosi susah banget!"


"Lalu apa yang Signora lakukan?"


Raveena tersenyum. "Biasanya aku membayangkan aktor favorit aku jadi aku baru bisa memunculkan emosi aku."


Alexis menatap dalam ke gadis yang masih cuek makan lasagna nya. "Siapa aktor favorit anda?"


"Aktor jaman kuno tapi buat aku dia paling tampan sih..."


"Who?"


"Lee Minho."


Siapa lagi itu?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2