Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Savrinadeya Waspada


__ADS_3

Asrama Gallaudet University Washington


Savrinadeya mengambil buku-bukunya dan mulai mengerjakan tugas sambil menelpon Zinnia Hadiyanto, kakak sepupunya.


"Assalamualaikum cantik. Ada apa?" sapa Zinnia yang sedang memakai krim malam.


Wa'alaikum salam. Mbak Zee sudah mau bobok?


Zinnia menggeleng. "Belum sayang. Sebentar lagi paling. Gimana?"


Savrinadeya memberikan file kepada Zinnia dan keduanya melakukan diskusi tentang tugas gadis yang mengambil jurusan psikologi anak.


Yunita menoleh ke belakangnya dan melihat Savrinadeya sedang mengobrol dengan wanita cantik. Meskipun tanpa make up, wajah Zinnia tampak menarik dan cantik sekali.


Siapa lagi wanita itu. Heran, Deya punya kenalan dengan wajah-wajah paripurna.


"Sudah paham Deya?" tanya Zinnia.


Sudah mbak.


"Kalau ada yang kamu tidak paham, kamu bisa tanya mbak Zee. Okay?" senyum Zinnia.


Thanks mbak Zee. Selamat beristirahat.


Zinnia memberikan kiss bye ke adiknya lalu mematikan panggilannya.


Savrinadeya menyusun buku-bukunya lalu duduk di tempat tidurnya dan membalas chat para sepupunya dari ponselnya.


Deya. Yunita menepuk kaki Savrinadeya yang membuat gadis itu mendongak.


Ada apa Yunita?


Yunita duduk di tempat tidur yang berhadapan dengan tempat tidur Savrinadeya. *Tadi siapa?


Yang mana*? Deya tampak bingung.


Wanita cantik berambut hitam.


Savrinadeya tersenyum. Itu kakak sepupu aku dan dia juga psikolog anak. Tadi aku berdiskusi soal tugas aku.


Yunita mengangguk. Keluarga kamu memang banyak cantik dan tampan.


Savrinadeya tersenyum. Kebetulan saja kami memiliki gen yang bagus. Tapi kami hanya casingnya yang bagus, aslinya berantakan.


Yunita tersenyum. Bang Antonio tampan juga ya?


Savrinadeya menatap Yunita. Kenapa kah?


Dia sudah menikah belum? Kayaknya seru ya orangnya. Tapi kenapa belum menikah ya? Memang kriteria cewek dia seperti apa sih?


Mata coklat Savrinadeya melihat dengan tatapan bingung. Kamu naksir bang Antonio?


Why not? Dia single kan?


Savrinadeya mengangguk. Tapi entah kenapa kok dirinya tidak nyaman mendengar ucapan Yunita.


Bisa minta nomor kontaknya bang Antonio, nggak Deya?


Savrinadeya menggelengkan kepalanya. Maaf Yunita tapi aku tidak bisa memberikan nomor seseorang tanpa seijin pemiliknya.


Yunita mencebik. *Harusnya kan nggak papa. Kan bang Antonio juga kenal aku!

__ADS_1


Maaf Yunita. Aku tetap tidak bisa*.


Yunita menatap kesal ke Savrinadeya. Memang kamu pelit! Mentang-mentang saudaranya bang Antonio!


Savrinadeya hanya tersenyum tipis. Maaf, tapi apa kamu juga mau memberikan nomor kakakmu jika aku memintanya, misalnya. Aku rasa juga tidak karena kamu tidak berhak memberikan tanpa ijinnya.


Yunita melengos. Susah ngomong sama kamu! Dasar pelit! Gadis itu berdiri dan keluar dari kamar asrama.


Savrinadeya hanya mengelus dadanya. Aku harus mengganti semua password MacBook, iPad, ponsel dan tablet aku. Buku telepon aku juga jangan sampai Yunita tahu.


Savrinadeya membaca pesan dari ponselnya dan tersenyum. Thank you Daddy.


📩 Daddy : Deya, jangan sampai teman sekamar kamu tahu semua password kamu. Daddy tahu kamu pasti berjaga-jaga tapi ada baiknya kamu waspada. Bukan karena Daddy parno, tapi biasanya feeling Daddy tidak salah dan Daddy tidak mempercayai teman sekamar kamu.


Dan tadi aku melihat aslinya. Tampaknya aku harus berjaga-jaga lebih waspada lagi.


***


Turin Italia, Turin University


Antonio baru saja menyelesaikan kelasnya ketika suara notifikasi ponselnya bergetar. Selama dirinya mengajar, Antonio memang membuat mode getar.


Wajah Antonio tersenyum saat mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.


📩 Bella Savrinadeya : Selamat mengajar bang.


Dan Antonio pun manyun karena pesan itu masuk saat dia sedang mengajar kan jadi telat mood booster nya. Pria itu pun membalas pesan Deya.


📩 Bang Antonio : Grazie Deya cantik.


***


Wajah Savrinadeya memerah saat membaca pesan dari Antonio. Dirinya memang sedang berada di kelas untuk mulai kuliah pagi dan tampak teman-temannya baru datang.


Deya, sudah buat tugas kemarin? tanya salah seorang temannya.


Sudah. Kamu belum memangnya Linda?


Teman Savrinadeya yang bernama Linda memanyunkan bibirnya. Tugasnya berat. Aku sampai harus bongkar buku di perpustakaan karena di kakek google tidak ketemu.


Savrinadeya tertawa kecil. Kakek Google? Really?


Linda mengangguk. *Akhirnya aku dapat Deya di lemari paling pojok dan sangat terbuang.


Berarti buku lama sekali kan Linda*? Savrinadeya tersenyum.


Tapi sangat berguna. Linda menatap Savrinadeya yang sudah siap dengan tugasnya. Kamu buat sama siapa?


Dengan kakakku. Dia juga psikolog anak.


Linda makin manyun. Enak kamu deh, punya kakak yang kebetulan bidangnya sama jadi ada teman diskusi.


Savrinadeya tertawa. How lucky I am kan Linda?


Linda melengos. Lucky you, Sial me.


Kedua gadis itu menghentikan percakapannya ketika dosen datang.


***


Turin Italia, Mansion Bianchi

__ADS_1


Antonio masih sibuk dengan tugas-tugas mahasiswa nya jika hari Kamis seperti ini. Menjadi kepala keluarga Bianchi yang memiliki banyak usaha termasuk anggur ditambah dengan kesibukannya menjadi dosen, membuat Antonio harus bisa membagi waktunya dengan tepat.


Sang asisten Alexis Accardi sudah hapal dengan rutinitas bossnya. Selain Kamis, Sabtu dan Minggu adalah waktunya untuk mengurus bisnis keluarga.


"Signor Bianchi..." suara asistennya sambil mengetuk pintu membuat Antonio mengalihkan pandangannya dari tugas mahasiswanya.


"Ada apa Alexis?"


Pria berdarah Italia - Inggris itu pun masuk dengan membawa Ipad-nya. "Signor, ada email aneh yang masuk ke inbox email perusahaan."


Antonio tersenyum dan kembali konsentrasi dengan tugasnya. "Bukankah kita sering mendapatkan junk mail dari iklan tidak jelas."


"Tapi ini berbeda, Sir." Alexis menyerahkan iPad nya ke Antonio.


Antonio mengambil iPad nya dan mulai membacanya.


*Dear, Bang Antonio.


Ini Yunita, teman sekamar Deya. Bang, boleh tidak kalau Yunita mendapatkan nomor ponsel Abang? Buat kenalan selain emergency contact. Soalnya aku minta dengan Deya, tidak dikasih dengan alasan harus minta ijin sama Abang.


Kalau boleh, email Yunita dibalas ya sambil memberikan nomor kontak Abang.


Salam


Yunita.


PS. Aku terpaksa mengirim email ke perusahaan Abang karena tidak tahu alamat email pribadi Abang*.


Antonio menatap Alexis bingung. "What? Ini apa-apaan, Al?"


"Itulah yang membuat saya bingung dan gusar. Berani sekali teman sekamar Signora McCloud mengirimkan email seperti itu ke email perusahaan anggur. Awalnya saya mengira surat penawaran soal anggur, eh ternyata... Anak ABG naksir anda Signor" kekeh Alexis.


Antonio menatap judes ke asistennya yang sudah bersamanya cukup lama. "Maksudmu aku macam Oom-oom pedofil?"


"Bukan Signor. Lebih mirip ke sugar Daddy..." wajah Alexis langsung terkena lemparan bantal dari sofa Antonio yang ada di sebelahnya.


"Untung kamu asistenku paling setia dan juga sahabat aku jadi aku maafkan ucapanmu, Accardi!" sungut Antonio.


"Antonio, apa kamu yakin kalau kamu mengejar nona Savrinadeya?" tanya Alexis yang tidak bisa membayangkan bagaimana gap mereka yang jauh bisa saling menyambung.


"Tentu saja! Aku jatuh cinta setengah mati dengan Deya."


"Bagaimana dengan teman sekamarnya?"


"Aku rasa Deya bisa menjaga dirinya sendiri dan aku yakin Oom Rama juga tahu bagaimana putrinya. Dan jika si Yunita macam-macam, hadapi aku dulu!" ucap Antonio tegas.


***



Bonus keluarga McCloud


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2