
Turin Italia
Antonio dan Alexis bekerja seperti biasa demi menghilangkan rasa resah dan tegang menghadapi bulan Juni. Semakin mendekati hari, semakin membuat kedua pria yang semakin kocak itu semakin diterjang rasa kecemasan berlebihan terutama Antonio yang takut salah ucap saat ijab qobul.
"Al... "
"Sì Signor?" balas Alexis disaat berada di ruang kerja Antonio. Hari ini dirinya tidak ke kampus untuk mengajar jadi bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum terbang ke New York.
"Kalau aku salah baca ijab qobul... Gimana?" Antonio menatap asistennya yang akan menjadi ipar dengan wajah panik.
"Yaaaaaa paling disuruh mundur lagi nikahnya..." jawab Alexis santai.
Mata Antonio tampak menyipit sebal. "Kamu itu asisten bakal jadi ipar dan sekarang kenapa kamu jadi lebih durjana sih Al?"
"Saya hanya mengatakan realistisnya, Signor. Tuan Rama pasti bahagia jika anda gagal ijab karena pasti diundur lagi..."
BUK!
Wajah Alexis tertutup bantal yang berada di dekat kursi Antonio. "Brengseeekkk kau, Al! Bikin aku tambah senewen saja!"
Alexis mengambil bantal sofa yang jatuh lalu berdiri dan berjalan untuk meletakkan lagi ke sofa.
"Signor, kalau anda tambah senewen, bakalan berantakan nanti ijab qobul nya" senyum Alexis.
"Iya ya. Oh ya Al, apa kamu akan tinggal di Mansion Bianchi nanti setelah menikah?"
Alexis menggelengkan kepalanya. "No, Signor, saya dan Veena akan tinggal di rumah saya. Kami lebih suka menikmati kehidupan pernikahan berdua."
"Kalian akan tinggal di rumah kamu yang imut itu?" komentar Antonio karena rumah milik Alexis itu memang imut jika dibandingkan mansion Bianchi. Karena masih melajang, Alexis jarang tinggal di rumahnya dan memilih tinggal bersama di mansion Bianchi agar mempermudah bekerja.
Rumah pribadi milik Alexis memang lokasinya tidak terlalu jauh dari Mansion Bianchi. Rumah tiga kamar tidur dan dua kamar mandi itu tetap dirawat oleh Alexis.
"Iya Signor. Veena sudah oke untuk tinggal di sana."
Antonio manyun karena akan merasa kehilangan asistennya yang biasanya ready steady go 24 jam karena tinggal dalam satu rumah.
"Signor, kita kan sudah hendak berumah tangga, dan hemat saya alangkah baiknya jika kita menikmati kehidupan bersama istri masing-masing di rumah sendiri. Benar kan?" Alexis menatap Antonio serius.
"Kamu benar Al. Apalagi kita sudah menunggu hampir lima tahun untuk bisa meminang gadis pujaan kita. Tapi kamu tetap bekerja disini kan Al?"
__ADS_1
Alexis tersenyum. "Kalau saya tidak bekerja disini, nanti Veena saya kasih makan apa?"
"Bukannya Veena kaya raya?"
"Saya adalah suaminya, Signor. Uang milik Veena, biarkan menjadi pegangan Veena tapi untuk kehidupan sehari-hari, sayalah yang bertanggung jawab. Jadi saya tetaplah bekerja disini. Lagipula saya tidak mau dicap menantu yang tergantung dengan istrinya mentang-mentang istrinya kaya raya" jawab Alexis tegas.
"Good. Aku suka gayamu Al. Jangan bikin malu keluarga Bianchi karena bisa berimbas padaku..."
Alexis hanya menggelengkan kepalanya karena tidak menyangka bossnya semakin kacau semenjak berhubungan dengan Savrinadeya.
Apa virus bobrok gesrek rusuh di keluarga Veena menular ya? - batin Alexis.
***
New York
Raveena memeriksa pembukuan pendapatan dari properti miliknya bersama dengan akuntan nya yang merupakan anak buah daddynya. Semenjak dirinya sibuk di FBI, semua memang dipegang oleh Martin James, asisten kepercayaan Pandu Dewanata yang ditugaskan untuk mengurus pembukuan putrinya.
Martin sendiri juga anak didik Haris Lexington yang sudah digembleng di PRC Group Surabaya dan Jakarta. Pria berusia 30 tahun itu sudah dua tahun bekerja di PRC Group New York.
"Pendapatan aku selama 24 bulan segini?" tanya Raveena. "Apa ada kenaikan biaya sewa Tin?"
Raveena menatap Martin. "Duh, email kamu yang mana ya Tin?"
Martin menepuk jidatnya. "Nona Raveena, please..."
Raveena membuka iPadnya untuk mencari email milik akuntannya. "Sorry, aku di akademi kan jarang buka email."
"Yang naik hanya area Manhattan kan Tin?"
"Iya nona. Properti anda di area lain masih aman. semua."
Raveena akhirnya menemukan email dari Martin dan setuju dengan keputusan akuntannya untuk menaikkan biaya sewa karena memang untuk menambah pemasukan pembayaran pajak tanah yang semakin mahal.
***
Savrinadeya tampak asyik makan siang dengan Blaze Bianchi di kantin. Tidak terasa kurang dari tiga Minggu, Savrinadeya hendak mengundurkan diri dari rumah sakit tempatnya bekerja. Bagi Blaze, ada rasa kehilangan juga karena adiknya yang biasa dia ajak makan siang bersama baik ada Samuel atau tidak.
"Kamu nanti tinggal di mansion?" tanya Blaze.
__ADS_1
Iya mbak. Bang Antonio sudah bilang aku akan tinggal di mansion.
"Wah, kamu jadi Signora Bianchi, nyonya keluarga Bianchi Turin" kekeh Blaze. "Deya, kalau kamu nanti ada masalah di Turin, bilang sama Leia ya. Keluarga Bianchi lainnya sih tidak sereseh keluargadm de Luca. Kami lebih suka hidup damai tanpa julid anggota keluarga lainnya, macam kita-kita lah di keluarga Pratomo."
Iya mbak. Mbak Leia juga sudah bilang begitu.
"Terus, Veena juga akan tinggal bersama kalian di mansion?" Blaze tidak terbayang jika Antonio ribut dengan Alexis apa kedua adiknya bakalan pening.
Nggak mbak. Veena nanti tinggal di rumah milik bang Alexis.
"Alexis punya rumah? Kok aku tidak tahu" seru Blaze.
"Ya masa Alexis tidak punya tho Bee" ucap Samuel yang datang sambil membawa nampan berisikan makan siangnya.
"Kukira dia punya apartemen saja, Bebek" sahut Blaze.
"Aku rasa itu keputusan yang tepat, Deya. Kalian belajar berumahtangga apalagi selama ini kan kalian semua LDR dan sudah seharusnya saling mengenal lebih dalam lagi" senyum Samuel, suami Blaze Bianchi.
Iya mas. Lagipula aku dan Veena juga tidak nyaman kalau harus satu rumah. Savrinadeya tersenyum manis.
"Iyalah. Apalagi pengantin baru, pasti ingin menikmati saat-saat berdua" kekeh Samuel. "Asal kamu jangan ikutan mbak mu satu ini ya. Lupa kalau sudah menikah, terus main hajar aku pagi-pagi..." ( Baca The Bianchis chapter Blaze Bianchi Di Apartemen ).
Savrinadeya tertawa. Mbak Bee ngawur ah, masa mas Sammy dipukul. Apa lupa Sebelumnya habis ijab?
"Lha, aku kan masih belum menyatu nyawanya. Pas bangun tidur, melihat wajah pria ini tidur di sebelah aku, kan terkejut aku. Ngapain dia tidur sama aku? Ya aku hajar lah..." jawab Blaze cuek membuat Samuel melirik judes.
"Beneran deh Bee. Sekarang kalau Rania dan Rase Bar-bar, itu semua gara-gara kamu."
"Nggak bar-bar, diragukan kalau mereka anakku..." sahut Blaze santai.
Savrinadeya tersenyum dan membayangkan apa besok aku dan bang Tomat juga akan merusuh tralala?
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️