
Paris, Perancis...
Paris, kota cinta, l'amour city... Akhirnya Antonio dan Savrinadeya tiba di apartemen milik pria Bianchi yang terletak hanya tinggal gelinding ke Menara Eiffel. Antonio memang lumayan sering ke Paris untuk urusan bisnis anggur hingga dirinya membeli apartemen di kota itu.
Gadis cantik itu tampak senang melihat pemandangan menara Eiffel yang terpampang disana. Antonio melihat istri kecil nya tampak bahagia, langsung memeluknya dari belakang.
"Suka Paris?" bisik Antonio.
Tidak terlalu tapi kalau ada bang Antonio jadi suka.
Antonio tertawa kecil mendengar ucapan receh Savrinadeya yang entah kenapa malah membuatnya gemas.
"Bocil, kamu pintar ngegombal receh deh..." kekeh Antonio. "Tidur yuk Deya, sudah malam."
Savrinadeya menoleh ke arah suaminya dan wajahnya tampak ada kebingungan.
"Nggak Deyaaa, meskipun aku ingin unboxing sekarang tapi badan aku lelah sekali. Ingin tidur. Unboxing kan bisa besok pagi." Antonio dengan cueknya membuka jas dan kemejanya meninggalkan celana jeans-nya saja. Wajah Savrinadeya tampak memerah melihat tubuh liat suaminya lengkap dengan roti sobek yang ingin dia sentuh.
"Napa Deya? Belum pernah melihat pria nude?"
Savrinadeya tersenyum. Sepupu priaku rata-rata fisiknya juga bagus macam bang Antonio tapi kan ini berbeda. Suami dan saudara itu rasanya berbeda.
"So, kalau sama aku rasanya gimana?" tanya Antonio sambil menghampiri istrinya.
Savrinadeya sampai harus menahan nafas saat suaminya semakin dekat dan memeluk tubuhnya dari depan. Harum parfum maskulin dan sedikit tobaco membuat Savrinadeya sesak nafas karena sensasi yang belum pernah dirasakan.
"Kelamaan long distance relationship, jadi kita agak kaku ya..."
Savrinadeya tampak malu. Yuk tidur bang, aku ngantuk.
Antonio terbahak. "Yuk istirahat."
***
Meanwhile di Pondok milik Raveena New York... ( spoiler 21++ )
Usai tiba di pondok, Raveena dan Alexis tanpa basa basi langsung saling berciuman bahkan mereka tidak perduli jika barang bawaan masih di ruang tamu.
Alexis langsung membopong Raveena macam kola tanpa melepaskan ciumannya.
__ADS_1
"Kamar... kamu ... dimana ..." tanya Alexis di sela-sela cum*buannya.
"Di...sana..." jawab Raveena sedikit terengah.
Alexis membuka pintu kamar itu dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya masih membopong bo*kong Raveena. Setelah masuk kamar, keduanya langsung saling membuka pakaian masing-masing dan menatap bentuk tubuh pasangannya.
"Wow..." ucap mereka berdua secara bersamaan dan Alexis langsung mencium bibir Raveena. Keduanya saling menyentuh tubuh pasangannya bahkan Raveena menjerit kecil ketika Alexis menggigit kecil dua asetnya untuk sumber makanan anaknya kelak.
"Apa... punya kamu... sudah... karatan?" ucap Raveena di sela-sela cum*buan suaminya.
"Bentuk seperti ini ... apa karatan, Veena?" goda Alexis membuat Raveena terpaksa melirik milik suaminya yang sudah bentuk sempurna.
"Oh, nggak...karatan ya?" celetuk nya membuat Alexis gemas.
"Dicoba langsung soalnya kamu juga sudah siap" bisik Alexis sambil menyentuh inti milik Raveena yang sudah basah.
Raveena mende*sis pelan ketika Alexis berusaha menembus miliknya. Setelah beberapakali mencoba, akhirnya milik Raveena pun sudah dibongkar oleh suaminya yang sah.
"Sakit?"
"Dikit... ya ampun sesak punyaku!" gumam Raveena.
"Terus... Al ... Terus..." racau Raveena saat Alexis menggerakkan pinggulnya maju mundur.
"Ya ampun Veena... " bisik Alexis. "Kamu itu... "
"Al, aku mau sampai... lagi" ucap Raveena yang tidak tahu sudah berapa kali dia sampai.
"Aku...juga Veena..." Setelahnya keduanya pun sama-sama melepaskan dan setelahnya saling berpandangan dengan nafas memburu serta terengah-engah.
"Ya ampun Veena... Ternyata kamu... hot."
"Sudah nggak karatan kan? Sudah diasah?" senyum Raveena sambil mencium hidung mancung Alexis.
"Kamu tuh..." kekeh Alexis sambil memberikan tanda di ceruk leher Raveena. "Terima kasih... jujur, aku belum pernah dengan perawan tapi aku tidak tahu Allah kasih aku banyak berkah... padahal aku bukan orang baik sekali..."
"Menurut mu tapi Allah tidak berpikir demikian..."
Alexis bergulir dari atas tubuh Raveena dan tiduran di sebelahnya. "Perih nggak? Aku takut menyakiti mu tadi..."
__ADS_1
"Nggak... nggak terlalu. Makanya aku bingung..." Raveena memiringkan tubuhnya dan menghadap Alexis. "Ternyata pak tua masih belum lupa caranya ya?" cengir gadis eh... mantan gadis itu.
"Raveena, sekali lagi kamu panggil aku pak tua, aku bisa lebih heboh dari yang tadi saat opening..." Mata biru greyish Alexis melirik meshum.
"Memangnya aku takut? Enak kok!"
Alexis terbahak. "Ya ampun Veena. Kamu itu memang urakan deh. Dan aku tidak menyangka kamu benar-benar masih perawan."
"Kan aku sudah bilang, wajahku memang sudah tidak perawan karena aku seorang aktris tapi yang ini" Raveena menunjukkan miliknya. "Ini tetap aku jaga. Bisa dihajar Oma kalau aku hidup bebas tanpa memikirkan harga diri dan martabat keluarga."
"Kamu tuh seksih, Veena... Cerdas, seksih dan hot di ranjang. Aku bersyukur mendapatkan istri paket komplit..." Alexis berbalik ke arah Raveena. "Lagi?"
"Boleh. Aku mau coba gaya lain, boleh?"
"Selama itu masih masuk kama sutra yang tidak bikin cedera... Ayo... Mau gaya apa?" goda Alexis.
Raveena tersenyum lebar. "I thought you never ask ( kukira kamu tidak tanya )." Raveena mendorong tubuh Alexis hingga terlentang lalu dirinya menaiki tubuh suaminya lalu membisikan sesuatu yang membuat pria itu melongo tapi setelahnya tersenyum lebar.
"Yakin?"
Raveena mengangguk semangat.
Alexis pun bangun hingga keduanya duduk berhadapan. "Ayo ke dapur."
"Gendong..." minta Raveena manja sambil menyingkir dari atas tubuh suaminya.
Alexis lalu turun dari tempat tidur dan langsung menggendong Raveena macam koala. Sepanjang jalan mereka saling berciuman dan meja dapur menjadi saksi kehidupan hubungan suami istri yang baru lepas puasa sekian lama.
Suara desa*Han keduanya tidak akan terdengar karena pondok mereka terletak cukup jauh dari peradaban.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1