Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
You Know The Drill


__ADS_3

Ruang Kerja Antonio Bianchi


"Alexis, aku tidak melarang kamu mendekati Raveena tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui. Raveena adalah seorang aktris dan dia sangat totalitas dalam berakting apalagi jika ada adegan mesra dengan lawan mainnya. Apa kamu sudah bisa menerima itu?" Luke menatap asisten sepupunya itu dengan serius.


"Saya tahu itu Signor Bianchi dan Raveena sudah banyak bercerita dengan saya. Kami memang belum memutuskan untuk pacaran tapi kami ingin saling menjajaki satu sama lain..." Mata blue greyish Alexis membalas mata coklat Luke juga dengan serius. "Saya mungkin sama dengan Signor Antonio, sama-sama terpesona dengan gadis-gadis keluarga Pratomo."


"Well, saudara perempuan aku memang spesial semua tanpa telur, sebab kalau pakai telur dadar atau mata sapi itu namanya nasi goreng!" balas Luke yang mendapatkan tatapan bingung dari dua pria Italia disana. "Ah, kalian mana mengerti joke lama macam ini."


"Anyway" Antonio kembali menatap asistennya. "Aku tahu kamu mau mengantarkan Raveena ke Los Angeles dan aku ijinkan apalagi kita butuh refreshing..."


"Modus!" ucap Luke sambil terbatuk yang langsung mendapatkan lirikan tajam Antonio.


"Kamu mendapatkan libur lima hari Alexis. Jangan macam-macam!"


"Sepertinya itu juga berlaku di kamu, Tomat! Jangan macam-macam ke Deya apalagi mencoba menciumnya! Bisa habis kau oleh Oom Rama!" seringai Luke.


Sialan! Dasar Lukie! Tahu saja! - batin Antonio sambil manyun.


***


Keesokan harinya, semua orang berangkat ke Turin International Airport, bahkan Dante Mancini ikut serta mengantarkan Luca dan Luke yang bertolak ke Tokyo. Para agen FBI pun pulang ke New York berlawanan arah dengan Raveena dan Alexis yang menuju Los Angeles.


Menurut rencana seminggu lagi, Dante dan Leia akan ke Tokyo untuk mengurus semua persiapan pernikahan disana usai menyelesaikan semua administrasi di Turin karena mereka hendak menikah di bulan Februari. Para agen FBI itu pun mendapatkan undangan tidak resmi sebelum Leia dan Dante mengirimkan undangan ke mereka.


Dan kini Alexis dan Raveena sudah di dalam Business Class pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Los Angeles, sedangkan Antonio menurut rencana besok akan bertolak ke Washington DC untuk menemui Savrinadeya.


"Kamu nanti nginap saja di apartemen aku" ucap Raveena dengan nada cuek. "Ada tiga kamar disana, satu kamarku, satu ruang kerja dan satu kamar tamu."


"Signora tinggal sendirian?" tanya Alexis dengan sedikit ketar ketir. Tinggal bersama dengan Raveena ? Berdua saja? Masih bagus kalau saudara kembarnya tidak datang.


"Sendirian lah! Ada kamu kan lumayan ada yang aku suruh cuci piring dan bersih-bersih rumah" kerling Raveena jahil.


"Astagaaa Signora." Alexis menatap memelas ke Raveena. "Jadi saya mengantar Signora jadi tukang cuci piring dadakan?"


"Apa gunanya ada kamu, Al?" Raveena memegang pipi Alexis. "Terima kasih sudah menemani aku pulang. Sejujurnya aku rada malas pulang sendirian, tidak ada teman mengobrol apalagi perjalanan lama. Cengok aku!"


"Signora..."


"Raveena. Tidak usah formal, Al."


"Veena..."


"Much better."


Alexis tersenyum. "Kamu tahu, aku kena sidang Signor Antonio dan Signor Luke."


"Lalu?"


"Ya, Signor Luke bilang agar aku bisa tabah menghadapi kamu apalagi kamu seorang aktris..."


Raveena mendekati Alexis dan memegang wajah pria blasteran Italia - Inggris itu. "Dengar, Accardi, aku hanya menjadi orang lain di panggung, begitu turun panggung, aku kembali menjadi Raveena Blair Dewanata. So, kamu nanti akan tahu mana Raveena yang asli dan mana Raveena yang sebagai pelakon di atas panggung teater."


Mata biru greyish itu mengerjap-ngerjap menatap mata hijau Raveena yang tampak serius. "Raveena..."

__ADS_1


Raveena mencium bibir Alexis sekilas. "Apa kamu suka padaku?"


"Yes..."


"Apa yang kamu suka?" Raveena tidak perduli dengan para penumpang lainnya karena mereka duduk di Business Class yang private.



"Semuanya..."


"Apa itu semuanya?"


"Sifat ceplas-ceplos kamu, urakannya, dan pemberani..." Alexis mencium bibir Raveena pelan. "I love everything of you."


"Kamu tahu kan bagaimana kalau memang serius padaku..." bisik Raveena.


"I know the drill ( aku paham prosedur nya )" balas Alexis sambil berbisik juga.


"Aku bukan orang yang gampang jatuh cinta dan aku menolak karena masih ingin sekolah dan berakting..."


"Tapi sekarang..." Mata biru Alexis menatap lembut ke mata hijau Raveena yang tampak sayu.


"Sekarang... What the hell... Siapa suruh panah cupid nyasar di aku dan tertarik dengan mata birumu..." senyum Raveena.


"Kita dating?"


"We're dating."


"Jangan sekarang..."


"Why?"


"Kamu cium aku dulu..."


Alexis tertawa. "Kita sama-sama kecanduan..."


"Candu yang bikin langsing katanya..."


"Raveena, bikin langsing itu kalau ada cardio di dalamnya..." kekeh Alexis ambigu membuat mata hijau itu terbelalak.


"Alexis!" desis Raveena sambil mengeplak bahu pria itu.


"Lho aku mengatakan yang sebenarnya bukan?" ucap Alexis sambil mengusap bahunya.


"Iiissshhh!" Raveena kembali duduk dengan benar di kursinya dan bersedekap. Wajahnya tampak manyun karena ucapan Alexis yang rusuh meskipun benar sih.


"Raveena, kamu tahu..."


"Apa?"


"Signor Antonio merasa kalah denganku."


Raveena menoleh ke arah Alexis dengan penuh minat. "Kalah apanya?"

__ADS_1


"Well, aku dan kamu sudah berciuman sedangkan Signor Antonio belum..."


"Deya masih bocil!" pekik Raveena dengan nada tertahan.


"Signor Luke malah bilang Signora Savrinadeya masih bayi."


"Kalau sampai bang Tomat berani nyosor Deya, dipastikan tidak selamat dia sama Oom Rama dan Devan!"


"Apakah Signor McCloud begitu menakutkan?"


"Kamu belum tahu saja!"


***


Washington DC, dua hari kemudian


Savrinadeya terkejut melihat Antonio sudah menunggu dirinya di Starbucks dekat kampusnya. Gadis itu memang tidak pulang ke New York karena mendengar Leia hendak menikah di bulan Februari, dan dia harus ambil ijin paling tidak seminggu, membuatnya mengambil tugas untuk menggantikan kuliah yang ditinggalkan.


Bang Antonio. Aku kira bang Antonio bercanda bilang sudah ada di Starbucks Gallaudet. Savrinadeya tersenyum ke arah pria tampan itu. Udara dingin Washington di musim winter membuat Savrinadeya harus memakai baju tebal beberapa lapis hingga badan langsing nya tertutup jaket.


Antonio tidak berkata apa-apa tapi langsung memeluk gadis itu erat.


"Maafkan Abang yang tidak ada di sisi kamu saat kamu membutuhkan seseorang untuk menolong kamu..." ucap Antonio di sisi telinga Savrinadeya yang mengenakan hearing aid.


"Tidak apa-apa bang" jawab Savrinadeya sambil tersenyum.


Antonio melerai pelukannya. "Kamu baik-baik saja kan? Cewek itu sudah dipenjara kan?"


Savrinadeya mengangguk. Sudah bang. Keduanya pun duduk berhadapan.


Aku pesan minuman dulu bang. Antonio mengangguk dan memberikan uang ke Savrinadeya yang bingung. Kok Deya dikasih uang?


"Sudah, daripada kamu cari dompetmu."


Savrinadeya membawa uang itu dan menuju kasir untuk memesan minumannya. Setelahnya duduk mengahadap Antonio.


Bagaimana Turin?


"Kamu dulu yang cerita Deya. Ingin tahu lebih lengkap lagi..." Mata coklat Antonio menatap lembut ke gadis itu.


Savrinadeya tersenyum. Jadi bang...


Keduanya tampak asyik mengobrol hingga tidak memperdulikan sekitarnya. Serasa dunia milik berdua.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2