Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Keputusan Raveena


__ADS_3

Tidak terasa hubungan antara keempat orang yang mendapatkan ijin pacaran dari sang ayah para gadis sudah mendekati tahun kedua. Selama itu hubungan Savrinadeya dan Antonio semakin manis bagaikan madu yang diincar Winnie the Pooh sedangkan Raveena dan Alexis... well, jauh dari kata manis.


Ada saja keributan yang terjadi antara keduanya apalagi semenjak Raveena resmi masuk Quantico, membuat Alexis makin uring - uringan. Bagi Alexis, jika hanya menghidupi Raveena bahkan punya anak dua pun, dia masih bisa apalagi tabungannya juga banyak.


Bolehkah aku menjadi pria yang sangat egois Veena?


Alexis menatap foto dirinya dan Raveena saat pernikahan Luke dan Rin yang berada di meja kerjanya. I miss you, baby.


***


Quantico Virginia


Raveena merasa dirinya lelah luar biasa setelah seharian berada di lapangan untuk olahraga fisik. Besok adalah kegiatan yang dia tunggu, menembak. Sama seperti Radeva, Raveena juga jago menembak tapi masih kalah dengan saudara kembarnya itu yang sekarang sedang ikut pertandingan olimpiade membawa bendera Amerika Serikat di olahraga menembak.


Percakapannya dengan Alexis pun berakhir berantakan kemarin apalagi ada kemungkinan jika Raveena lulus pendidikan di Quantico, akan dikirim ke berbagai negara karena kemampuan berbahasa asingnya.


Dan kini, di kamar asramanya, Raveena galau. Apa aku harus mengorbankan kesempatan untuk berkarier di FBI? Sedangkan ada seorang pria yang dengan setia menunggu dirinya.


Raveena membolak-balik kan tubuhnya yang lelah tapi tidak bisa memejamkan matanya. Ya Allah, aku harus gimana...


Gadis itu pun bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Dirinya akan mengadukan kegalauan hatinya agar bisa mendapatkan jawaban dari keresahan pikirannya.


***


Turin Palace Hotel, Turin Italia Dua tahun kemudian


Alexis mengikuti acara promosi anggur milik keluarga Bianchi dengan pikiran tidak fokus. Semalam dirinya berdoa kepada sang Pencipta tentang kegalauan hatinya apalagi terakhir dirinya menghubungi Raveena berakhir dengan pertengkaran sengit.


Leia Bianchi Mancini yang melihat kekasih adiknya tampak tidak konsentrasi dan profesional seperti biasanya, memilih meninggalkan acara ramah tamah.


"Kamu mau kemana Leia?" tanya Dante, suaminya.


"Ngobrol dengan Alexis. Sepertinya dia tidak bisa bekerja kali ini" jawab Leia yang membuat Dante memperhatikan asisten iparnya. Sangat berbeda jauh dengan wajah sumringah Antonio yang sepertinya hubungannya dengan Savrinadeya semakin hangat dan manis.


"Iya. Jangan kamu hajar lho" goda Dante. "Kamu cukup menghajar aku...di tempat tidur" bisiknya seduktif membuat Leia mendelik gemas.


Ibu satu anak itu pun menghampiri Alexis dan langsung memberikan kode kepada pria bermata biru itu untuk mengikuti dirinya.


***


Sebuah coffee longue di hotel

__ADS_1


Leia menatap tajam ke arah Alexis yang hanya menunduk, menghindari mata coklat itu. Semenjak menikah dengan Dante Mancini, aura Mafioso Leia semakin terasa.


"Kamu ribut sama Raveena?" tanya Leia tanpa basa-basi saat keduanya sudah duduk di sebuah kursi yang tempatnya berada di sudut coffee longue.


Alexis hanya mengangguk.


"Veena memilih menjadi agen FBI?"


Alexis mengangguk lagi.


"Alexis! Mana suara kamu!" hardik Leia kesal sambil menendang tulang kering Alexis.


"Astaghfirullah! Sakit Signora!" ucap Alexis sambil mengusap kakinya.


"Makanya kalau ditanya itu jawab!"


"Iya Signora. Raveena masih ingin menjadi agen FBI..."


"Dan kamu merasa keberatan?" tanya Leia.


"Kalau modelnya seperti Signor Pascal yang stay di Maryland, saya masih bisa terima setidaknya, saya bisa resign dari sini dan mencari pekerjaan disana. Tapi ada kemungkinan Veena akan dikirim keluar negeri karena kemampuan berbahasa asingnya. Saya yang tidak bisa hidup berjauhan seperti itu..." jawab Alexis sambil menyesap kopinya.


"Alexis dengar, Raveena memang ingin menjadi bagian di tim nya Pedro tapi untuk kesana harus meniti karir nya. Jika kamu masih mau bersabar macam Antonio ke Deya, ya jalani tapi jika kamu sudah merasa ini tidak bisa dilanjutkan, ya sudah, jangan dipaksakan..."


"Jika kamu tidak sanggup, kenapa harus dipertahankan?" jawab Leia tenang. "Tidak semua harus berjodoh dan menuju jenjang pernikahan bukan?"


Alexis terdiam. Apakah aku sanggup melepaskan Raveena?


"Al, kamu harus bisa profesional. Tadi aku lihat kamu sangat teralihkan. Aku tahu sangat susah tapi sebaiknya aku yang menegur kamu, karena jika Antonio tahu, bisa habis kamu."


Alexis mengangguk karena merasa sudah tidak profesional hari ini. "Maafkan saya, Signora."


"It's okay, Al. Baru kali ini kan kamu berantakan?"


***


FBI Building Quantico Virginia Tiga Hari Kemudian


Pedro menatap Raveena dengan wajah bingung. Tadi salah satu rekannya mengatakan bahwa adiknya ingin bertemu dan karena hari ini tidak ada kasus penting, ayah satu anak itu pun mengijinkan Raveena bertemu dengannya.


"Kamu mau apa?" tanya Pedro.

__ADS_1


"Mengundurkan diri dari FBI" jawab Raveena tenang.


"Apakah kamu yakin?" tanya Pedro.


"Iya bang. Empat tahun ini aku dan Alexis seperti tidak ada komunikasi yang enak dan membuat kami semakin jauh..."


Pedro tersenyum. "Alexis pria baik Veena."


"Iya bang. Aku sudah 24 sekarang, Alexis masuk 32 tahun dan pola pikir kami berbeda. Alexis ingin berumah tangga tapi aku ingin berkarir... Jika aku seperti bang Pedro, Alexis masih tidak apa karena dia bisa mengalah dengan resign dari perusahaan anggur bang Tonio dan bersama disini denganku... tapi hasil penempatan kemarin, ada kemungkinan aku akan ditempatkan di berbagai negara yang ada kaitannya dengan FBI. Alexis tidak bisa menerima itu bang..." wajah Raveena tampak sendu. "Aku tidak mau kehilangan Alexis."


"Veena, kamu cerdas, kamu lulusan psikoanalisis dengan nilai terbaik, dan kamu adalah mantan anggota FBI jika kamu mengundurkan diri, kamu akan mudah mendapatkan pekerjaan di Turin. Dan jika kalian saling mencintai, janganlah sampai berpisah... Kalian lah yang tahu bagaimana perasaan masing-masing."


Raveena mengangguk. "Iya bang. Aku sudah nyaman dengan Alexis."


"Kamu sendiri yang tahu apa yang terbaik bagimu. Bang Pedro dan Mbak Dira mendukung sepenuhnya keputusan kamu."


Raveena tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan memeluk Pedro. "Terimakasih bang. Aku mengira bang Pedro akan melarang aku mundur."


"Find your own happiness Veena" senyum Pedro.


***


Mansion Bianchi Turin Italia seminggu kemudian ...


Penjaga rumah yang mengenali Raveena, mengijinkan masuk ke halaman mansion mewah itu dan segera gadis itu mencari ruang kerja Alexis begitu masuk rumah.


Antonio yang melihat Raveena setengah berlari menuju ruang kerja asistennya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Alexis sedang mengetik berkas di iMac nya ketika mendengar suara pintu kayu oak yang berat itu dibuka tanpa mengetuk terlebih dahulu. Hampir saja Alexis memaki siapa yang datang tapi setelahnya lidahnya terasa kelu saat tahu orang yang berdiri disana.


"Vee... Veena?" bisiknya dengan wajah tidak percaya. "Apa yang kamu lakukan disini?"


Raveena tidak berkata apa-apa namun langsung menghampiri Alexis dan duduk Diatas pangkuan pria itu lalu melu*mat bibir kekasihnya. "Ayo kita menikah!" ucapnya usai keduanya berciuman panas.


"Haaaaahhh?" pendelik Alexis.


**


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2