Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Weekend With Savrinadeya


__ADS_3

Mansion Bianchi Turin Italia


Antonio tampak serius belajar bahasa isyarat sedangkan Leia yang sedang ngemil lasagna hanya menggelengkan kepalanya melihat sepupunya tampak sungguh - sungguh untuk menarik perhatian adiknya, Savrinadeya.


"Eh tomat! Apa kata Oom Rama kalau tahu ada Oom-oom ngejar anaknya?" kekeh Leia sambil memasukkan sepotong lasagna.


"Ya paling mukanya langsung judes" jawab Antonio cuek.


"Ngomong-ngomong itu bahasa isyaratnya pakai American Sign language atau British atau Italian?" tanya Leia.


"American sign language. Kata Nadira, paling gampang berkomunikasi dengan Deya."


Leia melongo. "Shut up! Kamu juga tanya sama Nadira?"


"Kan yang bisa bahasa isyarat di keluarga kamu Nadira, jadinya aku bertanya padanya lah. Apakah salah?" Antonio menatap Leia polos.


Leia hanya bisa terbahak. "Duh yang lagi jatuh cinta."


"Kamu jangan laporan ke Oom Luca dan Luke!" ancam Antonio.


"Aku tidak, tapi entah Alexis kalau ditanya Daddy. Tahu sendiri Alexis tidak bisa bohong kalau sama Daddy dan Oom Joey." Leia tersenyum jahil.


"Aaarrrgggghhhh! Aku lupa asisten ku itu!" Antonio menepuk jidatnya.


"Salah sendiri ngejar anak kecil!" gelak Leia sambil berjalan menuju dapur.


"Deya bukan anak kecil!" teriak Antonio sebal.


"Dia masih ABG, Tomat!" balas Leia juga berteriak membuat bibi Luisa hanya menggelengkan kepalanya mendengar keributan dua orang itu.


***


Sabtu, Turin


Antonio menunggu Savrinadeya membalas panggilan videonya di layar MacBook nya dan entah kenapa jantungnya berdegup kencang.


Tenang Tomat! Tenang! Macam anak remaja saja kamu! Antonio melakukan inhale exhale sebelum akhirnya wajah ayu Savrinadeya muncul di layar.


"Halo Bang" senyum Savrinadeya yang membuat hati Antonio berdesir.


Halo Deya.


Savrinadeya terkejut dengan cara Antonio membalas sapaannya. Bang Antonio sudah bisa bahasa isyarat?


"Jangan cepat-cepat Deya, masih belajar ini!" sungut Antonio sambil manyun.


Savrinadeya cekikikan melihat wajah manyun pria dewasa di hadapannya. Gadis itu lalu mengetik di layar. Kalau belum terbiasa, ngetik saja bang.


"Bang Antonio mau belajar malah disuruh ngetik!" Antonio semakin manyun.


Iya bang Antonio.


"Kamu nggak jalan-jalan? Mumpung weekend?"


Katanya bang Antonio mau video call, jadi aku di kamar saja.


Antonio menepuk jidatnya. "Abang lupa."

__ADS_1


Berarti Abang memang sudah tua.


Antonio mendelik. "Enak saja bilang Abang sudah tua! Tua itu Oom Rama!"


Daddy lebih awet muda dibandingkan Bang Antonio.


"Deya, kamu kok lama-lama gemesin sih? Pengen aku masukkan ke karung, bawa ke Turin!"


Bang Antonio anggap aku kentang?


"Kok kentang?" Antonio menatap bingung ke gadis remaja itu. Gini amat ya naksir cewek masih remaja.


Savrinadeya tersenyum. Kentang biasanya dimasukkan kemana?


"Karung... Astagaaa! Deya nakal!"


Savrinadeya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sepupu Leia itu.


"Hai Deya!" sapa Leia dari belakang Antonio. "Kamu, mbak Leia kasih tahu ya, jangan terpesona dengan Oom-oom macam Tomat ini! Kamu yang rugi, dia yang untung dapat cewek kinyis-kinyis!"


Savrinadeya tersenyum. "Halo mbak Leia."


Leia memberikan bahasa isyarat ke Savrinadeya yang membuat Antonio melongo. Kedua gadis itu lalu cekikikan dan Antonio semakin kesal dengan wajah usil keduanya.


"Lele! Apa yang kalian bicarakan? Kalian berdua itu ya... Tunggu! Leia, sejak kapan kamu bisa bahasa isyarat?" pendelik Antonio ke sepupunya.


"Aku hanya bisa bahasa isyarat sederhana. Iya kan Deya?" kerling Leia.


Iya bang Antonio, mbak Leia hanya bisa yang gampang-gampang kok.


Antonio menyipitkan matanya. "Kalian berdua bohong! Ayo katakan padaku! Kalian bilang apa tadi?"


Antonio melongo. "LELEEEE!"


Savrinadeya tertawa melihat wajah Antonio yang merah menahan marah.


***


Asrama Gallaudet University Washington DC


Yunita baru saja kembali dari perpustakaan untuk meminjam beberapa buku dan dirinya terkejut melihat Antonio di layar MacBook Savrinadeya sedang menggunakan bahasa isyarat.


"Deya, benar tidak ini jariku?" tanya Antonio.


Savrinadeya mengetik sesuatu sembari memperlihatkan jarinya yang benar.


"Duh untung aku tanya Nadira. Kamu pakai sign language mana, America atau Inggris."


Yunita terpaku melihat wajah tampan Antonio yang tampak santai hanya mengenakan kaos hitam sambil belajar bahasa isyarat.


Bang Antonio tanya sama mbak Dira?


"Iya, tanya si Lele juga percuma. Kamu lihat sendiri kan kelakuan bocah satu itu!"


Savrinadeya tertawa.


"Eh? Ada Yunita ternyata. Halo?" sapa Antonio sambil memberikan salam dengan bahasa isyarat yang dibalas oleh Yunita kikuk.

__ADS_1


Kamu sudah dapat buku-bukunya? Savrinadeya bertanya pada teman sekamarnya.


Sudah Deya. Aku buat tugas dulu ya. Yunita menoleh ke arah layar MacBook. Mari bang Antonio.


"Oh ya Yunita. Selamat belajar" balas Antonio.


Kamar asrama kedua gadis itu memang posisi meja belajarnya saling membelakangi satu sama lain. Yunita pun duduk di kursinya lalu membuka Laptop Alienware nya. Berbeda dengan Savrinadeya yang mengambil kuliah di psikologi, Yunita memilih kuliah di animasi dan grafis.


Diam-diam Yunita melirik bagaimana Savrinadeya tampak seru mengobrol dengan Antonio yang disebut oleh teman sekamar nya itu adalah sepupunya. Tapi rasanya mereka lebih mirip kakak adik.


Diam-diam Yunita sudah menyukai Antonio sejak pertama kali melihat saat mereka memeriksa kamar asrama. Bagi Yunita, wajah Antonio yang tampak dewasa, sangat menggoda iman.


Kalau Savrinadeya bilang Antonio itu sepupunya, boleh dong aku mendekati pria Italia itu?


***


Bang Antonio kenapa sih hobi manggil mbak Leia, lele? Mbak Bee juga sama. Manggil mas Samuel itu bebek. Ampun deh!


"Lha paling gampang kan? Leia itu Lele. Lagian ya Deya, kakakmu itu manggil aku juga seenaknya. Kalau nggak tomat ya mie keriting!"


Kok bisa tomat?


"Gara-garanya adalah aku itu karena darah Italianya kental sekali, aku maniak tomat. Sama Leia dan Luke akhirnya dipanggil tomat saking aku sukanya" senyum Antonio.


Terus ... Mie keriting?


"Kata Leia, rambut aku keriting macam mie. Padahal nggak keriting ini kan Deya?" Antonio menunjukkan rambutnya yang memang agak keriting.


Keriting ah bang.


"Deya, aku kasih tahu ya. Rambut bang Antonio itu nggak keriting!"


Terus apaan?


"Ikal!" jawab Antonio yakin membuat Savrinadeya melongo.


Sama saja itu Bang!


"Beda lah! Keriting itu macam orang kulit hitam, kan rambut Abang nggak segitunya jadi bisa dimasukkan dalam kategori ikal dong!" balas Antonio.


Savrinadeya memegang pangkal hidungnya. Bang Antonio kenapa mirip dengan bang Luke sih kalau sudah ngeyel ?


"Deya sayang, apa kamu lupa aku dan Luke adalah sepupu kandung? Jadi wajar lah kalau gen perngeyelan kami itu kuat sekali." Antonio tersenyum ke Savrinadeya yang membuat wajah ayu itu memerah.


Tapi mbak Leia benar kok manggil bang Antonio mie keriting. Cocok dengan rambutnya.


Antonio mendelik. "Deyyaaaa!"


Savrinadeya tertawa geli.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2