
Ruang teater UCLA Los Angeles
You're the one that I want (you are the one I want)
Ooh-ooh-ooh, honey
The one that I want (you are the one I want)
Ooh-ooh-ooh, honey
The one that I want (you are the one I want)
Ooh-ooh-ooh, the one I need (one I need)
Oh, yes indeed (yes indeed)
"Raveena! Nadamu kurang naik satu oktaf dan kamu harusnya di nada C bukan A!" tegur sutradara teater tempat Raveena Blair Dewanata berlatih teater. Putri Pandu Dewanata dan Reana Blair O'Grady itu sedang berlatih untuk memainkan lakon Sandy Olsson dalam drama Grease.
"Peter yang nadanya ngaco jadi aku harus mengimbanginya!" bantah Raveena ke lawan mainnya sembari menatap dengan judes.
"Tapi kamu kan yang membuat nadanya menjadi aneh!" balas Peter.
"Karena kamu main naikin nada, cumiiii!"
"Hah?" Peter menatap judes ke Raveena yang dibalas sama oleh gadis itu.
"Sudah, ayo kita latihan lagi! Pertunjukan akan dilakukan lusa dan kalian ribut terus! Tidak ada chemistry! I WANT CHEMISTRY! Paham!" Sang sutradara tampak sudah habis kesabarannya.
Raveena melirik ke arah lawan mainnya. Biasanya gadis itu dan Peter Falk kompak tapi sejak Peter mempunyai pacar yang cemburunya tingkat papan Hollywood, pria itu seperti memberikan jarak membuat akting keduanya agak kacau.
"Your girlfriend is a psycho! ( pacarmu psycho ). Aku tidak tertarik padamu, Pete. Kamu bukan tipe aku!" bisik Raveena.
"Itu yang aku bilang ke dia! Aku bilang kamu les*bian... Addduuuhhh!" Peter mengusap kepalanya yang terkena keplak Raveena.
"Mulutmu minta aku jahit pakai benang wol! Aku masih hetero kampret!" umpat Raveena kesal.
"Biar dia tidak cemburu, Veena."
"Tapi nggak bikin rumor kampret begitu!"
Peter pun hanya manyun dan dirinya tidak berani melawan Raveena karena pernah merasakan dibanting dan dibogem hanya karena aktingnya Dimata gadis itu membosankan saat awal masuk klub teater dan mereka berdua masih freshman ( mahasiswa baru ).
***
__ADS_1
Apartemen Raveena.
Raveena menjatuhkan tubuhnya Diatas sofa setelah menyelesaikan latihan teater tadi dan membuat sang sutradara puas.
Gadis itu lalu mengambil MacBook nya dan mulai membuka file tugasnya. Tadi dia memang ada dua kuliah dari tiga jadwal kuliah tapi yang kuliah terakhir, dosen hanya memberikan tugas. Meskipun sudah ujian semester ganjil dan hendak liburan natal, tetap saja para dosen masih pemadatan hingga Minggu ini.
Raveena memutuskan untuk mandi dan makan malam via order online karena dirinya malas memasak meskipun termasuk bisa masak.
Setelah semuanya dirasa sudah oke, Raveena langsung membuat tugasnya sambil memakan pizza dan lasagna, dua makanan favorit nya yang sudah datang ditambah salad buatan sendiri.
Ketika sedang asyik membuat tugas, ada panggilan video masuk dari kakaknya, Luke Bianchi.
"Iya babang Lukie?" sahut Raveena sambil membuat tugas.
"Veena, kamu sibuk tidak?" tanya Luke Bianchi.
"Masih buat tugas bang. Gimana?"
"Kamu libur kapan?"
Raveena menoleh ke arah layar. "Aku libur Minggu depan tapi Jumat, Sabtu dan Minggu ini aku ada pertunjukan teater."
"Apa temanya?"
"Grease. Aku jadi Sandy Olsson."
Raveena Blair Dewanata ( Raveena menolak memakai nama O'Grady karena ingin menghormati opa buyutnya )
"Minta tolong apa? Kalau Veena bisa bantu, ya hayuk tapi jangan membuat Shinichi normal. Itu sulit bang" gelak Raveena durjana.
"Tidak usah kamu atau Abang, bokap dan nyokapnya saja tidak mampu" sungut Luke sambil manyun membuat Raveena semakin tertawa.
"Aku harus ngapain?" tanya Raveena.
"Menjadi cewek California yang menggoda untuk minta casting."
"Sama siapa?"
"Harland Rochester."
Raveena bersiul. "Tantangan buat aku bang. Oke, habis acara Grease, aku akan terbang ke Tokyo!"
__ADS_1
"Bukan Tokyo, Veena."
"Lha terus kemana?" tanya Raveena bingung.
"Turin."
***
Tiga hari Raveena menyelesaikan aktingnya sebagai Sandy Olsson dan mendapatkan applaus atas aktingnya. Raveena sangat menyukai berakting di panggung teater karena baginya bisa memperlihatkan bakatnya di depan orang banyak secara langsung, jauh lebih menantang daripada bermain di serial tv atau pun film layar lebar.
Dan pagi ini, Raveena bersiap untuk berangkat ke Turin. Gadis itu mengenakan baju musim dingin termasuk sepatu boot kesayangannya karena di Los Angeles tidak ada salju meskipun musim dingin. Kalau pun ada, mungkin termasuk salah satu keajaiban Hollywood.
Gadis itu memilih naik Uber menuju Los Angeles Airport atau biasa disebut LAX. Wajah Raveena tampak bersinar karena tahu akan mendapatkan pertualangan baru. Diantara para sepupunya yang perempuan, Raveena paling urakan, free spirit dan paling malas urus pekerjaan kantoran macam kedua orangtuanya.
Raveena mengikuti jejak Oma buyut nya yang mengambil kuliah di psikologi tapi beda dengan Dara Giandra yang mengambil psikologi pendidikan, Raveena memilih jurusan yang lebih ekstrim, psikoanalisis. Raveena selalu berkata pada dua sepupunya yang mengambil psikologi, Zinnia dan Savrinadeya, kalau dia adalah seorang Freudian atau penganut paham Sigmund Freud ( Bacanya Sikmun Froid ) di psikologi.
Zinnia dan Savrinadeya yang mengambil psikologi perkembangan anak, hanya melengos kalau Raveena sudah membahas semua tentang paham Freudisme. Cita-cita Raveena bisa bergabung dengan FBI dan masuk ke BAU atau Behavioral Analysis Unit yang seringnya berhubungan dengan kasus-kasus berat seperti pembunuhan berantai, psikopat atau kasus yang diluar nalar manusia normal.
Sepanjang perjalanan, Raveena mempelajari karakteristik Harland Rochester melalui iPadnya. Bagi Raveena, jika kamu ingin tahu siapa lawanmu, pelajari hingga sedetail-detailnya. Raveena seperti halnya sepupunya yang lain yang sudah SMA dan kuliah, diajari oleh Benjiro Smith cara membuka situs haram dan ini yang sedang dilakukan gadis itu.
Tak terasa, perjalanan menuju bandar LAX pun mencapai tujuan. Raveena pun keluar dari mobil Uber nya dan mengambil koper Samsonite dan Rimowa nya. Gadis yang termasuk pendek ukuran bule karena hanya 165 cm tingginya tapi menjadi 170cm karena sepatu boot lima sentinya itu berjalan dengan anggun dan percaya diri.
Sesampainya di antrian boarding dan bagasi, Raveena melihat sekelilingnya seperti kebiasaannya dan setelah petugas maskapai memberikan kode bagasi, gadis itu pun berjalan menuju ruang tunggu. Tapi karena terburu-buru ditambah lantai yang licin, membuat gadis itu menabrak seseorang hingga terpeleset dan harus berpegangan ke bahu kekar seorang pria.
"Aduh maaf..." ucap Raveena dengan wajah memerah menahan malu.
"Saya yang harusnya meminta maaf, nona." Pria bermata biru itu tersenyum maklum melihat Raveena tampak malu.
"Sepertinya aku salah pakai sepatu ini" gerutu Raveena dengan masih berpegangan tangan pria itu guna mengecek kakinya.
"Apakah pergelangan kaki anda baik-baik saja?" tanya pria itu perhatian sambil melihat ke kaki Raveena.
"Looks fine. Tapi malunya itu" senyum Raveena membuat pria itu terpana.
"Bisa terjadi kepada siapa saja. Oh, Alexis Accardi" ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Raveena Dewanata."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️