Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 09


__ADS_3

Bugh


"Bod0h! Apa hanya mencari wanita lemah itu kau tidak bisa? Hah?" Marcel memukul salah satu anak buahnya yang ia tugaskan mencari Bulan, tapi hingga tiga hari berlalu, wanita itu belum juga di temukan.


"Maaf, Bos, aku benar-benar tidak bisa mendapatkan jejaknya sama sekali, bahkan ponsel yang kau berikan padanya tidak pernah aktif dan tak ada jejak perjalanan apapun," ujar Revan.


"Apa mungkin dia sudah mati di makan hewan hutan, Bos?" ujar Simon menerka.


Marcel terdiam sejenak dengan alis yang hampir saling bertautan. "Apa kau yakin? Bagaimana jika dia justru berkeliaran diluar sana dan membahayakanku?"


Ruangan itu kembali hening, tak ada yang menjawab pertanyaan Marcel kali ini hingga beberapa menit berlalu.


"Revan, kau harus menemukan petunjuk keberadaan istriku, hidup atau mati. Aku beri waktu dua minggu, jika tidak juga kau temukan, kau tahu, 'kan apa yang bisa kulakukan padamu?"


Revan menelan salivanya dengan begitu susah payah, rasa sakit akibat pukulan sang bos tidak terlalu ia pikirkan saat ini, ia justru memikirkan keluarganya yang bisa saja menjadi korban dari Marcel. "Ba-baik, Bos," ucapnya kemudian sedikit tergagap.


☘☘☘


Revan duduk seorang diri dibelakang markas saat malam sudah masuk dini hari. Sudah cukup lama dia berada di sana, bahkan saat para anggota geng lainnya sudah pulang pun, dia tetap berada di sana seorang diri bersama beberapa puntung rokoknya.


"Apa kau tidak pulang?"


Revan menoleh ke belakang saat mendengar suara bariton rekannya. "Langit? Kenapa kau masih di sini?" tanyanya.


"Justru aku yang harusnya bertanya, apa yang kau lakukan di sini seorang diri? Apa kau sedang kesepian? Makanya carilah istri agar ada yang menuggumu di rumah." Langit ikut duduk di samping Revan.


"S!alan kau!" gumam Revan mencebik.


Keduanya duduk bersama di belakang gudang yang tamaram. Revan mengambil sebungkus rokok yang masih tersisa beberapa lagi lalu menawarkannya pada Langit, tapi langsung ditolak oleh pria itu.


"Maaf, aku tidak merokok," ujar Langit santai.


Revan tertegun sambil memandangi Langit dengan alis yang mengernyit.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" selidik Langit merasa risih.


"Aku hanya tidak percaya, seorang anggota geng motor dengan tubuh tinggi dan kekar sepertimu malah tidak merokok."

__ADS_1


"Memangnya ada yang salah?"


"Tidak, hanya saja, kau tahu, 'kan, pria seperti kita ini akan terlihat semakin maco saat rokok berada di antara dua jari kita." Revan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Itu hanya menurut pribadimu saja. Buktinya banyak yang mengatakan aku maco padahal menyentuh rokok pun aku tidak pernah."


"Ck, itu juga hanya anggapan mereka dan belum tentu semua." Revan berdecak lalu menatap langit malam. Keduanya terdiam sejenak.


"Kesehatan itu lebih penting daripada bagaimana pandangan orang tentangmu, apa artinya terlihat maco, tampan, atau apalah jika pada akhirnya apa yang kau upayakan justru membuat kesehatanmu terganggu."


"Cih, jangan menasehatiku, nasehati saja dirimu, jika kau orang yang peduli dengan kesehatan, tidak seharusnya kau bergabung bersama kami yang suka mabuk-mabukan dan main perempuan."


Langit hanya tertawa pelan mendengar perkataan Revan. Bergabung dengan geng motor tentu bukanlah keinginannya, hanya saja keadaan memaksanya untuk itu.


"Langit, aku benar-benar pusing. Bos menyuruhku mencari istrinya yang entah kemana perginya, jika aku tidak menemukannya dalam jangka waktu dua minggu, kemungkinan dia akan mengahabisi keluargaku." Setelah sejak tadi Revan berusaha menyimpan kegalauannya seorang diri, akhirnya ia buka suara.


Beberapa minggu saling mengenal, Revan dengan cepat bisa dekat dengan Langit, dan ia merasa pria itu memiliki karakter humble dan dapat dipercaya untuk menjaga rahasia walau terlihat dingin.


"Apa bos kita seperti itu? Kupikir bos bukanlah orang yang kejam," tanya langit sedikit penasaran.


"Itu karena kau baru bergabung bersama kami. Kau mungkin tidak pernah lihat kekejaman bos secara langsung karena dia bertindak dengan menggerakkan anak buahnya, tapi asal kau tahu, bos kita itu sangat berbahaya, salah sedikit nyawa melayang." Revan sedikit berbisik di dekat telinga Langit agar tak ada yang mendengarnya bercerita.


"Aku tidak yakin siapa saja karena bukan aku yang bertugas dalam bagian eksekusi seperti itu. Yang aku tahu, Simon adalah orang yang tahu semua tentang bos kita. Hampir semua rencana eksekusi mereka bicarakan di rumah Simon."


"Simon?" ulang Langit dengan dahi yang berkerut.


"Iya, dia adalah paman dari istri bos kita sekarang."


Langit semakin mengerutkan dahinya. Kini Simon adalah orang yang akan ia gali informasinya setelah ini.


☘☘☘


Langit yang cerah di kota B, kicauan burung turut menghiasi suasana pagi hari yang indah. Seorang wanita tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. Sudah lebih lima hari ia tidak sadarkan diri. Wajahnya masih saja pucat walau cairan infus sudah masuk ke dalam pembuluh darahnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang pria berkacamata kepada adiknya yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur.


"Kata bunda dia mengalami trauma berat, luka-lukanya sudah diobati, tapi entah kenapa dia belum bangun sampai sekarang," lirih sang adik.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekat dan sedikit menunduk untuk memperhatikan wajah wanita itu yang terdapat perban di dahinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa nasibmu sangat menyedihkan? Siapa orang yang tega melakukannya padamu?" Rentetan pertanyaan itu keluar tanpa sadar dari mulut pria itu.


"Nizam," panggil Khaira yang tiba-tiba datang dari luar kamar.


Pria itu menoleh ke arah sumber suara, "Iya, Bunda?"


"Sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit, Bunda khawatir ada pendarahan di kepalanya hingga dia tidak kunjung sadar sampai sekarang," ujar Khaira mendekat ke tempat tidur.


Nizam terdiam sejenak lalu menatap wanita itu lagi. "Tunggu sebentar lagi, Bunda. Nizam pernah bertemu dengannya saat di kota A dan dia dikejar-kejar oleh preman. Nizam khawatir mereka akan mengetahui keberadaan Bulan jika kita membawanya ke sana."


"Memangnya Bulan ini siapa, Zam? Bagaimana bisa dia berurusan dengan preman?" selidik Khaira.


Semenjak kedatangannya di rumah beberapa hari yang lalu dengan membawa Bulan yang sedang tidak sadarkan diri, Khaira maupun Boy sudah menaruh rasa penasaran kepada wanita itu. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak mereka, termasuk bagaimana bisa wanita yang berasal dari kota A datang bersama Nizam dan Nizwa yang baru kembali dari liburan di Korea.


Apalagi semenjak kepulangannya, Nizam sangat sering meminta izin untuk lembur. Bahkan ia hanya akan berada di rumah tiga hari sekali. Ya, sampai saat ini belum ada yang tahu misi Nizam selain Nizwa, Arfan, dan Diki. Sengaja ia rahasiakan agar misinya tak gagal dan keluarganya tetap aman.


"Nizam tidak tahu secara pasti, Nizam hanya tahu jika dia adalah wanita baik, dan saat ini dia adalah korban kedzoliman pamannya."


Nizam menoleh ke arah Khaira lalu berkata, "Bunda, Nizam minta tolong agar merahasiakan keberadaan Bulan, Nizam yakin dia akan baik-baik saja, insya Allah dia kuat."


☘☘☘


"Halo, Bos."


"Marcel, apa kau belum menemukan keberadaannya sampai saat ini?"


"Maaf, Bos. Dia benar-benar hilang bagai ditelan bumi."


"Aku tidak mau tahu, temukan dia cepat, jika tidak kau akan tahu akibatnya"


"Oh iya, mengenai istrimu, apa kau belum menemukan kabarnya juga?"


"Aku masih berusaha mencarinya, Bos."


"Astaga, mereka benar-benar menyusahkan!"

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2