Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 33


__ADS_3

...Ada seseorang yang bukan lagi milikku, tetapi masih saja kuanggap milikku. Ah iya, dia memang belum pernah resmi menjadi milikku, dan lucunya, kini dia ditakdirkan dengan wanita lain....


...Aku hanya wanita biasa yang memiliki cinta tulus. Tak mudah bagiku untuk melepaskan begitu saja setelah perjuanganku selama ini, bahkan di antara hidup dan mati....


...Aura...


...________________________________________...


Di kota A,


Seorang wanita berjalan gontai memasuki rumahnya pada malam hari sambil menyeret koper. Raut wajahnya begitu sendu, binar matanya meredup dan dipenuhi bulir air mata.


Belum lama ini ia merasa bersemangat untuk kembali menggapai harapan dan impiannya yang sempat tertunda. Namun, semuanya kini terpatahkan oleh fakta yang berhasil membuat dunianya runtuh seketika.


..


Sore itu di kota B,


"Zam, aku ingin kamu menikahiku secepatnya, kalau perlu besok saja. Aku takut jika menundanya, masalah baru akan muncul seperti waktu itu," pinta Aura sambil tersenyum penuh harap ke arah Nizam.


Nizam menatap Aura dengan tatapan sendu lalu membuang napas lesu. "Maaf, Aura. Aku ...."


"Kamu kenapa, Zam? Kamu masih mencintaiku, 'kan? Kamu masih memiliki impian membangun mahligai cinta bersamaku, 'kan?" cecar Aura dengan tatapan menuntut jawaban.


"Aku memang pernah memiliki impian itu, tapi itu dulu. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Aku ..., aku sudah menikah."


Degh


"Apa? Kamu jangan bercanda, Zam!"


"Aku tidak bercanda. Bulan, dia istriku. Kami baru menikah kurang lebih satu bulan yang lalu," ujar Nizam jujur dengan wajah yang tertunduk.


Aura melangkah mundur, matanya mulai berembun, dan bibirnya pun tampak bergetar, hingga tanpa ia sadari tubuhnya telah luruh le tanah karena kakinya yang seketika terasa lemah.


"Aura, maafkan aku." Nizam menekuk lututnya di hadapan Aura. Melihat air mata wanita itu hatinya semakin sakit.


Bukan tanpa alasan. Selama ini, tak pernah sekali pun ia menyakiti Aura apalagi sampai membuatnya menangis. Hari ini, tatapan sendu, tatapan luka terlihat di mata Aura, dan itu semua karena dirinya.


"Tega kamu, Zam. Selama lebih satu tahun aku berjuang untuk segera sembuh dan bisa kembali mewujudkan impian kita, tapi ternyata impian itu hanya milikku saja. Kamu bahkan sudah menikah dalam waktu singkat itu. Aku curiga kamu memang tidak mencintaiku." Air mata Aura mulai menganak sungai membasahi pipinya.


"Tidak Aura, tidak! Aku dulu sangat mencintaimu. Mendapat kabar kematianmu bahkan membuatku sempat terpuruk. Tapi kemudian aku dipertemukan dengan Bulan, dialah yang kembali membangkitkan rasa semangat dalam diriku. Maafkan aku."


"Tapi aku masih hidup, Zam! Aku masih hidup!" teriak Aura tepat di depan wajah Nizam dengan air mata yang semakin mengalir deras. Hatinya benar-benar sakit menerima fakta menyakitkan itu.


Sementara Nizam hanya bisa mengatakan maaf berkali-kali, entah sudah berapa kali kata maaf yang ia keluarkan. Air mata pria itu pun kini menetes tanpa sadar membasahi pipinya.


Semua adegan penuh haru itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Aura memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan rumah itu menuju bandara.

__ADS_1


..


"Kamu sudah pulang, Nak?" sapa Silvi saat Aura tiba di ruang tengah.


Aura menghentikan langkahnya lalu diam menatap ibu dan ayahnya secara bergantian dengan mata yang semakin berembun.


"Jadi, ini alasan ibu dan ayah menyuruhku melupakan Nizam?"


Silvi maupun Ali saling menatap sejenak lalu segera menghampiri putri tunggalnya itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Nizam sudah menikah, Nizam sudah melupakan Aura. Padahal Aura hanya hilang selama lebih satu tahun. Secepat itukah dia mengalihkan cintanya?" tanya Aura dengan suara serak.


"Aura ...." Ali memeluk sang putri dengan sayang seraya mengusap lembut kepalanya yang tertutup kerudung.


"Besarkan hatimu menerima takdir Allah, Nak. Kamu tahu, 'kan? Jodoh itu sudah Allah tetapkan di Lauhul Mahfuz. Ayah yakin, jodohmu adalah orang yang lebih baik dari Nizam," ujar Ali berusaha menenangkan Aura.


"Tapi kenapa Allah mendatangkan ujian kepada Aura bertubi-tubi begini, Ayah. Aura tidak kuat? Hiks." Aura semakin menenggelamkan wajahnya dan menumpahkan air matanya di dada sang ayah.


"Sayang." Silvi kini ikut memeluk Aura. "Kamu adalah wanita kuat, Allah mencintaimu. Dia ingin menaikkan derajatmu melalui ujian ini, Nak," sambung Silvi.


"Benar, Nak. Allah tidak akan menimpakan ujian yang melebihi kemampuan hambaNya. Besarkan hatimu, Nak. Dibalik ujian, pasti ada hikmah luar biasa yang sedang Allah siapkan untukmu."


☘☘☘


Pagi itu Nizam membawa Bulan untuk jalan-jalan menikmati akhir pekan di taman hiburan. Sebagaimana saran dokter, ia ingin menambah kenangan indah bersama sang istri agar kenangan buruknya bisa memudar sedikit demi sedikit.


Terlihat jelas kerutan di dahi Nizam yang menandakan jika saat ini ia sedang banyak pikiran. Namun, rupanya tatapan Bulan berhasil tertangkap oleh ekor mata pria itu.


"Apa aku sangat tampan hingga kamu menatapku seperti itu?" Pertanyaan Nizam kali ini berhasil membuat Bulan salah tingkah dan langsung memalingkan wajahnya ke luar jendela tanpa bersuara.


"Jika kamu memiliki pertanyaan terkait yang kemarin, silahkan tanyakan agar hatimu tenang. Memendam sesuatu seorang diri itu tidak enak, loh!"


Bulan kembali menoleh ke arah Nizam yang kini kembali fokus menyetir. Beberapa kali ia membuka mulut untuk mulai berbicara, tapi berkali-kali juga ia menutup kembali mulutnya.


"Itu mulut kenapa mangap-mangap aja? Katakan saja, Sayang."


Panggilan sayang dari Nizam kepada Bulan selalu berhasil membuat hati wanita itu berbunga-bunga, tenang, dan merasa disayangi. Namun, tetap saja, ia bingung harus memulai pertanyaannya dari mana.


"Sayang?" Nizam kembali memanggil Bulan yang masih saja diam termenung, hingga membuat wanita itu sedikit terperanjat.


"Kak Aura, dia ..., dia calon istri yang pernah kamu ceritakan, 'kan, Mas?" tanya Bulan akhirnya.


"Iya, benar."


"Terus, apa ..., apa Mas baik-baik saja setelah tahu jika dia masih hidup?"


"Tentu saja, aku baik-baik saja, tubuhku tidak terluka sedikit pun." Nizam menjawab sambil meraba sekujur tubuhnya memperlihatkan jika dia memang baik-baik saja.

__ADS_1


"Bukan, bukan itu maksudku, Mas. Ini tentang hatimu."


Nizam menoleh sekilas ke arah Bulan hingga ia bisa melihat raut wajah sang istri yang seolah menuntut jawaban jujur darinya.


"Hatiku baik-baik saja, Sayang. Tak ada yang perlu dipermasalahkan. Toh, sekarang aku sudah memiliki istri. Jadi, hatiku sudah pasti dipenuhi oleh bunga-bunga dari istriku." Nizam mengerlingkan matanya ke arah Bulan hingga wajah wanita itu merona merah karena semakin malu dan salah tingkah.


Walau singkat dan sederhana, tapi tak bisa dipungkiri bahwa hati Bulan merasa tenang dan bahagia usai mendengar jawaban dari Nizam.


Perjalanan pun terus berlanjut hingga mereka tiba di sebuah taman hiburan yang cukup ramai oleh pengunjung. Berbagai wahana dan permainan kini terlihat sejauh mata memandang.


Nizam dan Bulan berdiri di depan gerbang taman hiburan itu. Tak lupa ia membuka lengannya berharap sang istri mau menggandengnya.


Akan tetapi, melihat ekspresi ragu dan takut dari Bulan, Nizam akhirnya berkata, "Jika kamu takut memegangku, apa bisa kamu memegang kain bajuku saja? Aku ingin memastikan kamu aman selama jalan bersamaku."


"Oh, i-iya, Mas." Bulan akhirnya mengulurkan tangannya dan meraih kain baju yang berada di bagian lengan Nizam. Mereka pun mulai berjalan sebagaimana biasa.


Jika dilihat dari jauh, Nizam seolah sedang digandeng oleh Bulan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Walaupun terkesan ada dinding pembatas di antara mereka, tetapi Nizam berusaha sabar dan tersenyum menerimanya.


Nizam mengajak Bulan menaiki beberapa wahana yang tergolong aman dan lebih menghibur. Usaha pria itu rupanya berhasil, selama menaiki wahana, wanita itu selalu tersenyum hingga tertawa, dan itu cukup membuatnya ikut bahagia.


Kini Bulan menghentikan langkahnya bersama Nizam ketika di depannya ada boneka panda besar sedang menari-menari. Lebih tepatnya seseorang yang sedang memakai maskot boneka panda. Dengan begitu antusias, Bulan langsung menarik kain baju Nizam menghampiri boneka itu.


"Kamu menyukainya?" tanya Nizam dan mendapat anggukan dari Bulan.


"Sejak kecil aku menyukai maskot boneka panda, Mas," jawab Bulan.


"Apa kamu ingin berfoto bersamanya?" Lagi-lagi Bulan mengangguk bersemangat lalu berjalan ke samping maskot itu.


Sementara Nizam meminta seseorang untuk mengambil gambar mereka, lalu berjalan ke samping maskot itu. Ketika Nizam melihat tangan maskot itu hendak merangkul Bulan dan dirinya, Nizam langsung membulatkan mata dan menghindar, kemudian berbicara di dekat maskot itu, "Hey, kau pria atau wanita?"


"Aku wanita, Pak."


"Kalau begitu rangkul saja istriku dan jangan merangkulku."


"Oh, baik. Pak."


Foto bersama pasangan suami istri dengan diperantarai oleh maskot boneka panda itu pun akhirnya berhasil diambil. Nizam tak henti-hentinya memandangi foto itu dengan mata berbinar karena Bulan tersenyum begitu bahagia di sana. Ia bahkan langsung menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponselnya.


☘☘☘


Beberapa hari kemudian, di sebuah rumah sakit yang berada di kota B. Aura tengah menangani seorang pasien yang sudah lama tidak datang untuk kontrol. Walaupun tidak bersemangat, ia tetap berusaha memperlihatkan senyuman tulus kepada pasien. Bagaimana pun ia tak ingin mencampur urusan pribadinya dengan urusan pekerjaan.


Aura kini membuka riwayat pengobatan pasien itu untuk melihat riwayat alergi dan obat apa yang dulu sering diresepkan oleh dokter penanggung jawab sebelumnya. Namun, ketika mencari nama pasien yang berawalan huruf B itu, ia tak sengaja menemukan nama lengkap Bulan di sana. Ia jelas tahu, karena Bintang pernah menjelaskan nama lengkapnya dan Bulan ketika memperkenalkan diri.


Usai memeriksa dan memberikan resep kepada pasien, Aura kembali membuka riwayat pengobatan Bulan. Betapa terkejutnya wanita itu ketika tahu bahwa Bulan memiliki riwayat PTSD. Sebuah senyuman pun terbit di wajah wanita cantik itu, entah apa yang ia pikirkan saat ini.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2