
...Terkadang takdir terasa begitu kejam di awal, luka dan air mata pun tak luput menemani. Berbagai hal terasa begitu menyesakkan dada dan membuat hati begitu rapuh. Namun, jangan pernah lupa, semua yang terjadi di dunia ini selalu diikuti hikmah. Baik atau buruk, semua tergantung bagaimana caramu mensyukuri. Indah atau tidak, semua tergantung caramu menerima....
...___________________________________________...
Sebelumnya,
Malam itu, Nizam keluar dari rumah kontrakan dengan perasaan marah bercampur kecewa. Ia tidak menyangka Aura akan membohonginya sampai sejauh ini. Pria itu berencana kembali ke kota B, tetapi ia sadar tak memiliki uang. Hanya ponsel lowbatt yang kini berada di genggamannya.
Nizam merutuki kebod0hannya karena tak mengisi daya ponsel tersebut lebih dulu sebelum memutuskan pergi. Beruntung, ia tak sengaja melihat Diki yang baru saja keluar dari rumah sakit bersama rekannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Nizam segera berlari menghampiri temannya itu.
"Diki, kebetulan kita bertemu di sini," ucap Nizam dengan napas yang tersengal-sengal karena lelah berlari.
"Nizam? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Diki heran. Nizam pun menceritakan kejadian yang ia alami kepada Diki dengan sedikit menutupi kenyataan yang dilakukan Aura. Meski marah, Ia tetap berusaha menjaga nama baik teman kecilnya itu.
"Kenapa kau juga ada di sini? Bukankah kantormu jauh dari sini?" Kini giliran Nizam yang bertanya.
"Aku naik pangkat, Zam. Setelah menangkap Marcel beserta komplotannya, kepala polisi pusat memberiku penghargaan dengan menaikkan pangkatku dan memindahkanku ke kantor pusat," jawab Diki.
Mendengar nama Marcel, Nizam seketika teringat akan sesuatu. "Selamat untukmu, Diki. Oh, iya, bagaimana dengan Marcel? Apa kalian benar-benar melepaskannya waktu itu?"
"Ya, kami memang melepaskannya waktu itu, tapi kami mengikuti kemana dia pergi. Setelah memastikan Marcel memberi kabar akan kebebasannya kepada Robert, kami langsung kembali menangkapnya," kata Diki menjelaskan.
"Syukurlah, kupikir kalian benar-benar termakan jebakan mereka. Oh iya, aku ingin meminta tolong padamu," ujar Nizam.
"Apa itu?"
"Bantu aku kembali ke kota B."
☘️☘️☘️
Pagi itu, matahari yang semakin meninggi dan udara yang semakin menghangat menjadi saksi akan sebuah pertemuan sepasang kekasih halal yang terpisah selama beberapa bulan. Untuk sesaat waktu terasa berhenti, hanya terdengar suara detak jantung yang kian bertalu bagai alunan gendang berirama.
Kedua pasang netra yang basah oleh air mata saling mengunci, seolah tak ingin berpaling walau hanya sedetik. Rasa takut akan perpisahan yang tak pernah diduga benar-benar tertanam dalam hati keduanya.
__ADS_1
Entah siapa yang memulai, kini tubuh mereka saling mendekap satu sama lain. Meluapkan rasa rindu yang tertahan selama beberapa bulan terakhir. Suara isakan tangis pun mulai terdengar dari mulut Bulan, makin lama makin terdengar jelas. Tak peduli orang-orang yang menaruh perhatian pada mereka saat ini.
Air mata semakin gencar keluar membasahi pipi. Tak hanya Bulan, Nizam pun demikian. Pria itu bahkan kini mendekap erat tubuh sang istri dibalik kostum tebalnya. Ia pun bisa merasakan wanita itu membalas dekapannya tak kalah erat.
"Jangan pergi lagi, kumohon." Suara serak Bulan terdengar lirih di sela isakan, membuat Nizam mengangguk pelan sambil mengusap kepala sang istri dengan begitu lembut.
"Tidak akan lagi, Sayang. Insya Allah," balasnya lalu mengecup dahi Bulan dengan sayang.
...
Nizam dan Bulan berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuju rumahnya. Maskot boneka panda yang tadinya membungkus tubuh pria itu telah ia tanggalkan. Kini ia bisa berjalan lebih leluasa dan merasakan hangatnya tangan sang istri secara langsung.
Tak ada pembicaraan di antara mereka. Bulan hanya diam menatap lurus ke depan sambil terus berjalan. Sesekali ia menoleh ke arah sang suami seolah belum begitu percaya jika kini Nizam telah kembali ke sisinya. Tak hanya itu, deretan pertanyaan pun telah yang berkumpul dipikirannya hingga membuat wanita itu bingung harus menanyakan perihal apa lebih dulu.
Setelah beberapa menit berjalan dalam diam, pasangan halal itu tiba di rumah mereka. Keduanya duduk di ruang tengah masih menggandeng tangan satu sama lain. Bulan masih saja diam dengan rasa canggung, ia juga heran dengan dirinya yang justru mati kutu ketika berada di hadapan sang suami, padahal selama ini ia sangat merindukan pria itu.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Nizam memecah keheningan di antara mereka.
"Kamu tahu? Aku ketakutan selama ini, khawatir, bahkan rasanya aku akan mat! karena merindukanmu ...." Perkataan Bulan terhenti ketika Nizam meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Bulan.
"Sssst, jangan bicara seperti itu!" ucap Nizam lalu menarik Bulan yang kembali menangis ke dalam pelukannya. "Usai ledakan itu, aku koma selama satu bulan. Aura membawaku ke rumah sakitnya di kota A untuk dirawat. Setelah aku sadar, aku justru mengalami amnesia hingga beberapa bulan lamanya. Maafkan aku, Sayang. Sekarang, kamu tidak usah takut dan khawatir lagi. Aku sudah di sini dan akan selalu bersamamu hingga Allah mengatakan 'kembalilah padaKu'."
Nizam menepuk pelan punggung Bulan yang bergetar karena menangis. Namun, di detik berikutnya, ia mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari biasanya. Segera ia melepaskan pelukannya dengan Bulan seraya memegang kedua bahu wanita itu.
Di tatapnya wajah Bulan yang basah oleh air mata dengan seksama, tak ada sama sekali tanda kecemasan yang wanita itu perlihatkan. Hanya ada kesenduan dan kerinduan yang terpancar jelas di sana.
"Kamu tidak merasa cemas karena mendapat sentuhan berulang dariku?" tanya Nizam, membuat Bulan seketika menghentikan tangisnya lalu menatap Nizam.
Dari sorot matanya yang sedikit bingung, terlihat jika Bulan juga baru menyadari hal itu. Perlahan ia mengulurkan tangannya menyentuh tangan Nizam selama beberapa detik, kemudian melepaskannya. Wanita itu kembali mengulangi hal yang sama pada wajah Nizam, lalu beralih ke leher, ke dada dan turun ke perut dengan dahi yang berkerut.
Melihat tingkah dan raut wajah sang istri yang begitu lucu di matanya, Nizam tak sanggup menahan senyuman bahagia. "Kamu sedang memastikan sesuatu atau sedang mengambil kesempatan?" tanya pria itu menatap lekat wajah Bulan.
Mendengar pertanyaan Nizam, Bulan dengan cepat menarik kembali tangannya dengan wajah yang merah merona bak kepiting rebus. "Ma-mas pasti haus dan lapar, 'kan? Aku akan siapkan makanan dulu," ucapnya tergagap lalu segera beranjak dari sofa dan hendak pergi. Namun, tangannya dicekal oleh sang suami.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kamu belum menjawab pertanyaanku." Nizam segera menarik tubuh sang istri hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.
Lagi, Nizam memeriksa raut wajah Bulan dengan seksama. Tak ada kecemasan, tak ada ketakutan, hanya ada malu, canggung, dan salah tingkah yang terpancar dari wajah cantik nan teduh sang istri.
Alhamdulillah
Nizam membatin mengagungkan rasa bahagia dan syukur atas perubahan Bulan yang kini bisa dinyatakan sembuh.
"Ma-maaf, Mas. Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Bulan tanpa berani menatap mata Nizam.
"Aku sedang memastikan sesuatu dan kini aku yakin jika kamu sudah sembuh, Sayang," jawab Nizam tanpa bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
Bulan terdiam, sejujurnya ia pun tidak menyangka akan perubahannya itu, tetapi terlepas dari itu semua, ia juga merasa sangat bahagia. "Alhamdulillah," ucap wanita itu lirih sambil mengulum senyum.
Sontak saja, Nizam langsung berdiri sambil mengangkat tubuhnya ala bridal style. Bulan yang terkejut refleks melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Ma-mas, aku berat, loh!"
"Tenang saja, Sayang. Tubuhku berotot, mengangkatmu adalah hal yang mudah bagiku." Nizam memutar tubuhnya dengan begitu enteng hingga membuat Bulan semakin mengeratkan pelukannya.
Puas mengekspresikan kebahagiaannya, Nizam langsung berjalan meninggalkan ruang tengah tanpa menurunkan Bulan.
"Mas, mau kemana?" tanya Bulan bingung.
"Mau mengajakmu buka puasa, Sayang," jawab Nizam lengkap dengan kerlingan mata yang membuat Bulan semakin tidak mengerti.
"Buka puasa? Kamu puasa, Mas? Sekarang belum waktunya berbuka puasa," tanya Bulan begitu polos hingga membuat Nizam menghentikan langkah kakinya.
Pria itu kemudian membisikkan sesuatu di telinga Bulan yang lagi-lagi berhasil membuat wajah cantiknya merah merona.
"Maaf, Mas. Aku tidak begitu paham istilah yang mengarah kesana karena ini adalah pertama kalinya bagiku."
-Bersambung-
__ADS_1