
Kegelapan kini membentangi langit malam. Beruntung bulan dan bintang masih ikut menyertai, sehingga kelam tak begitu terasa seram. Hanya saja, kesedihan dan kerinduan masih setia mendominasi hati pria yang duduk di gazebo belakang rumahnya.
Sudah beberapa bulan berlalu setelah kepergian Aura, tapi rasa sedihnya masih sama saat pertama kali mendapat kabar buruk malam itu. Pandangannya sesekali mengarah ke belakang gazebo di mana mereka pernah menanam barang istimewa di sana.
Rasa penasaran akan surat Aura waktu itu membuat Nizam beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah belakang gazebo. Pria itu menekuk lututnya dan memandangi gundukan tanah di mana ada sebuah papan kecil yang bertuliskan 'Rahasia Aura dan Nizam' di hadapannya.
"Bolehkah aku membaca suratmu sekarang Aura? Jangan menungguku menikah dengan wanita lain, sebab nyatanya di hatiku masih ada kamu," gumamnya pelan.
Tangannya mengusap papan kecil itu. Baru saja ia hendak mencabutnya dari tanah, suara bariton sang ayah kini terdengar dari arah samping.
"Apa yang kamu lakukan di situ, Nizam?"
Nizam menoleh ke samping menatap sang ayah yang kini berjalan ke arahnya. Ia langsung berdiri dan menghampiri Boy sambil tersenyum.
"Ayah."
Pria yang usianya hampir menginjak kepala lima itu kini menghentikan langkah sambil menelisik ke arah belakang gazebo, pandangannya beralih menatap Nizam yang kini berada di hadapannya.
"Duduklah, Nak." Boy mengajak Nizam untuk duduk di gazebo bersama.
"Apa sampai sekarang kamu masih belum bisa mengikhlaskan Aura?" tanya Boy.
Nizam bergeming untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia berbicara, "Insya Allah Nizam ikhlas, Ayah."
Jawaban Nizam yang terdengar tidak meyakinkan itu membuat Boy membuang napas berat. "Jika hatimu masih terasa berat dengan kepergiannya, pun kamu masih belum yakin mengikhlaskannya, pergilah dulu menenangkan diri ke tempat yang kamu suka, hati yang terluka akan pulih seiring berjalannya waktu jika memang ada usaha untuk menyembuhkannya." Boy menghentikan perkataannya sejenak.
"Hidupmu masih berlanjut, Nak. Kamu tidak bisa terus-menerus seperti ini. Bersedih boleh, tapi terpuruk dalam jangka waktu lama itu tidak benar. Bahagiakan dirimu, dan semua itu tergantung dengan niat dan usahamu. Ayah yakin, Aura juga pasti akan senang jika kamu hidup bahagia dan tidak terpuruk seperti ini," sambung Boy menasehati putra sulungnya.
Nizam kembali bergeming. Sejujurnya ia membenarkan apa yang dikatakan sang ayah. Namun, entah kenapa rasanya begitu berat ingin melupakan Aura. Ia masih ingin menjadikan wanita itu satu-satunya wanita istimewa di hatinya setelah sang ibu. Walau berkali-kali fakta menamparnya dengan kepahitan bahwa dia yang ada di hati kini tak akan mampu ia gapai, kecuali dalam doa. Akal sehatnya pun sadar akan hal itu, tapi hati kecilnya selalu saja menginginkan dia, dia, dan dia.
"Apa kamu mau mengikuti saran ayah?"
Nizam terhenyak dari lamunan mendengar pertanyaan sang ayah hingga ia refleks mengiyakan saran itu.
"Bagus, pergilah besok. Mengenai perusahaan, serahkan saja pada Arfan dan Dion, mereka sangat bisa di andalkan." Boy menepuk pelan pundak Nizam lalu segera beranjak memasuki rumah.
Nizam menatap rembulan purnama yang memantulkan cahaya putih indah malam itu. "Apa aku bisa?" lirih pria itu lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan perlahan.
☘☘☘
Keesokan harinya, Nizam benar-benar bersiap untuk pergi menenangkan diri. Entah bisikan dari mana, tiba-tiba saja ia ingin pergi ke Korea Selatan. Pria itu berjalan menuruni tangga sambil menyeret sebuah koper berukuran kecil, walau ia tidak tahu berapa lama waktu yang akan ia habiskan di sana.
Usai berpamitan kepada kedua orang tuanya, Nizam berjalan menuju mobil di mana supir pribadi keluarganya sudah menunggu. Baru saja ia duduk di samping sang supir, suara cempreng yang berasal dari jok belakang berhasil membuat pria itu terperanjat kaget.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Nizwa, ngagetin aja kamu!
"Hehe maaf, canda kak. Aku anterin Kakak, yah?"
"Emang kamu nggak telat kuliah kalau anterin aku dulu?"
"Ya enggaklah, aman."
"Ya sudah, ayo Pak Mamat," ujar pria itu kepada supir pribadi keluarganya.
"Asiap!"
Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah dengan diiringi doa dan lambaian tangan dari Khaira dan Boy. Jarak antara rumah dan bandara hanya berkisar 8 kilometer, sehingga tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai di tempat itu.
"Aku pergi dulu yah, assalamu 'alaikum," pamit Nizam kepada Nizwa.
"Assalamu 'alaikum Pak Mamat." Alih-alih mendengar jawaban salam dari Nizwa, ia justru mendengar sang adik ikut mengucapkan salam kepada supir mereka seolah ikut pamit.
Nizam menghentikan langkahnya memasuki pintu keberangkatan saat menyadari Nizwa ikut berjalan di sampingnya sambil menyeret koper yang entah sejak kapan ada di sampingnya.
"Eh, mau kemana kamu?"
"Mau ikut kakak, lah."
"Memangnya kamu tahu kakak mau kemana?"
"Kamu tahu dari mana?" Nizam menyelidik dengan tatapan memicing.
"Dari Abang Arfan. Abang Arfan juga yang pesenin tiket aku sama Kakak. Memangnya Kakak nggak lihat E-tiketnya?"
Nizam terdiam, ia baru ingat jika memang sejak subuh tadi ia belum melihat tiket yang dikirim Arfan via email. Ia hanya mendapat info dari Arfan mengenai waktu penerbangannya pagi ini via telepon.
"Udah deh, jangan kebanyakan mikir, nanti pesawatnya keburu terbang." Nizwa menarik tangan Nizam memasuki bandara hingga pria itu tak sempat lagi untuk menolak atau sekadar protes.
☘☘☘
Setelah menempuh perjalanan selama lebih 7 jam, kini Nizam dan Nizwa tiba di Bandar Udara International Incheon. Keduanya berjalan bersama keluar dari pesawat sambil menarik koper mereka masing-masing.
"Kak, tunggu aku di sini, aku mau ke toilet, yah," pinta Nizwa lalu segera meninggalkan kopernya dan berlari mencari toilet dengan tergesa-gesa.
Sembari menunggu kedatangan sang adik, Nizam memutuskan untuk duduk di sebuah kursi sambil mengecek email yang masuk di ponselnya. Atensi pria itu kini tertuju pada sebuah email yang masuk dari Diki. Dalam email itu, ada sebuah video yang ia duga berasal dari kamera depan mobil yang terparkir di begian belakang mobil Aura.
Dalam video itu memperlihatkan seorang pria yang mencurigakan sedang mondar-mandir di dekat mobil Aura yang terparkir di sebuah restoran tepat saat jam makan siang.
__ADS_1
"Pantas saja di CCTV tempat parkir rumah sakit dan rumah Paman Ali tidak ada yang mencurigakan," gumam Nizam dengan dahi yang berkerut.
"Tunggu-tunggu, aku pernah melihat pria ini. Bukankah dia pria berbaju merah itu?
Tak lama setelah melihat video itu, panggilan masuk dengan nama Diki memenuhi layar ponsel Nizam.
"Nizam, apa kamu sudah melihat video yang aku kirim di emailmu?"
"Iya, Diki."
"Aku sudah memeriksa orang di video itu. Aku juga sudah berhasil menangkapnya. Sekarang dia ada di kantorku, tapi dia enggan membuka mulut atas setiap pertanyaanku. Jika kau ingin menemuinya datanglah kemari. Mungkin dia akan bicara jika berhadapan denganmu."
"Baiklah, terima kasih, Diki. Aku akan menemuimu hari ini juga, oh iya kirimkan data diri orang itu padaku."
Nizam mengakhiri teleponnya dan langsung berdiri, ia hendak mencari Nizwa yang masih berada di dalam toilet. Namun, saat ia berbalik, tanpa sengaja seorang wanita menabraknya dari arah berlawanan.
"Sorry," ucap wanita itu.
"Never mind ... Bulan?" Nizam yang tadinya tanpa sengaja menatap ke arah wanita itu langsung mengenali wajahnya, wanita yang pernah ia temui di kota A secara tidak terduga.
Bulan tak langsung bersuara, ia menunduk sejenak sambil mengusap matanya yang sedikit basah lalu kembali menatap Nizam.
"Ya ampun, Pak Nizam! Wah nggak nyangka bisa ketemu di sini lagi, senang bisa bertemu dengan Bapak," ujar Bulan seramah mungkin.
Nizam tersenyum tipis sedikit ragu, entah apa yang terjadi dengan Bulan, tapi semua yang ia katakan sangat bertolak belakang dengan ekspresi yang ia lihat di wajahnya. Perkataan wanita itu terdengar ramah. Namun, raut wajahnya menggambarkan kesedihan dan ketakutan.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa berlama-lama, saya pergi dulu yah. See yoo again, assalamu 'alaikum." Bulan langsung pergi tanpa menoleh lagi, ia bahkan terkesan buru-buru seolah ada yang mengejarnya.
Nizam hanya bisa melihat Bulan dengan penuh tanda tanya hingga wanita itu hilang dari pandangannya.
"Kakak lihat apaan?" Suara cempreng Nizwa lagi-lagi berhasil membuat Nizam terkejut.
"Astaghfirullah, kamu kok hobi banget ngagetin kayak gitu?"
"Aku nggak ngagetin, Kak. Aku cuma bicara seperti biasa. Kakak aja yang hobi melamun," elak Nizwa menahan tawa saat melihat ekspresi sang kakak yang tampak lucu di matanya.
"Dek, ayo kita pulang!"
"Ayo!" Nizwa menggandeng tangan Nizam dan menariknya keluar bandara. Gadis itu hendak menahan taksi, tapi tertahan saat Nizam menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti?"
"Kita harus pulang, Dek!" Nizam mengulangi perkataannya, "pulang ke Indonesia," sambung pria itu memperjelas maksud perkataannya.
__ADS_1
"Hah?"
-Bersambung-