
...Melihatmu membuat senyumku terukir, benyebut namamu membuat jantungku berdebar, menggapaimu adalah hal terindah yang kuimpikan, dan bersamamu adalah doaku setiap waktu....
...___________________________________________...
"Tunggu dulu, Mas .... Sebelum kamu memutuskan untuk menikahiku, izinkan aku menjelaskan bagaimana keadaanku saat ini. Aku tidak ingin kamu menganggapku nantinya telah membohongimu karena tidak jujur sejak awal," ujar Bulan yang kemudian mengalihkan perhatian semua orang.
"Katakan saja, Bulan," ucap Nizam mempersilahkan.
"Sampai saat ini, aku masih sering bermimpi buruk, tiba-tiba merasa ketakutan saat berada dalam keadaan yang bisa mengingatkanku pada kejadian masa lalu. Aku ..., aku tidak senormal yang terlihat saat ini." Bulan menyeka air matanya perlahan, lalu menatap Nizam. "Apa kamu bisa menerima itu semua?"
Nizam tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Niat ingin menikahimu sudah ada sejak aku belum mengetahui trauma kamu. Bahkan ketika kutahu semuanya, niat itu tidak goyah sama sekali. Insya Allah kamu bisa sembuh. Aku siap menemanimu untuk berobat sampai kamu sembuh."
"Sampai aku sembuh?" Bulan menatap Nizam dalam.
"Tidak, selama Allah masih mengizinkan aku bernapas, insya Allah selama itu pula aku akan bersamamu, tidak peduli bagaimana pun keadaanmu," tegas Nizam.
Bulan terdiam lalu kembali menatap ke bawah berusaha menahan air mata yang hendak kembali keluar.
"Bagaimana, Bulan? Apa kamu masih tetap bersedia menikah denganku?"
Lagi-lagi semua orang menatap wanita berhijab itu guna menanti jawabannya.
"Insya Allah, Mas. Aku bersedia."
Sekali lagi, Nizam tersenyum bahagia mendengar jawaban yang keluar dari mulut wanita di hadapannya. Satu harapannya saat ini, semoga pernikahannya bisa terwujud, sehingga ia bisa menjalankan perannya sebagai suami dengan baik
Usai kesepakatan itu, semua orang langsung bergerak untuk menyiapkan pernikahan Nizam yang akan digelar malam itu.
Boy menghubungi Khaira dan keluarga besarnya, Arfan menghubungi Wedding Organizer yang bersedia bekerja cepat. Sementara Nizam mengurus kelengkapan administrasinya di kantor KUA.
Berhubung Bulan telah terdaftar sebagai penduduk di kota B dan kecamatan yang sama dengan Nizam, maka tidak sulit bagi pria itu untuk mengumpulkan data. Tidak lupa foto berlatar biru miliknya dan Bulan yang langsung diambil usai lamaran pun sudah berada dalam satu map dengan berkas lainnya.
__ADS_1
"Baik, Pak Nizam. Malam nanti saya yang akan langsung menikahkan kalian. Sebuah kehormatan besar bisa menikahkan putra dari direktur pesantren tempat anak saya menimba ilmu," ujar Kepala Kantor Urusan Agama tempat Nizam mendaftarkan pernikahannya dengan Bulan, sekaligus tetangga rumahnya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak." Nizam menyalami pria di hadapannya lalu segera pergi meninggalkan kantor KUA sore itu dengan hati yang lega.
Nizam kini melajukan mobil menuju Salon Permata di mana keluarganya sudah menunggu pria itu di sana untuk di rias dan di tata busana sebelum acara pernikahannya beberapa jam lagi.
"Akhirnya calon pengantin prianya datang juga," kata Khaira menyambut kedatangan Nizam di dalam salon.
"Bagaimana? udah beres pendaftarannya?" tanya Boy yang sedang duduk dengan pakaian rapi.
"Alhamdulillah, aman, Ayah .... Oh iya, Bulan mana?" tanya Nizam sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Bulan dirias di rumahnya. Bunda sengaja meminta seperti itu kepada pihak salon agar kamu tidak bisa melihatnya dulu. Bunda khawatir pertahananmu akan runtuh ketika melihat kecantikannya," jawab Khaira.
"Ih, Bunda. Memangnya Nizam pria apaan? Pertahanan Nizam insya Allah kuat, kok."
"Ya, kita, 'kan nggak pernah tahu bagaimana trik setan dalam menjerat manusia. Berjaga-jaga itu lebih baik."
"Huss, jangan buka kartu. Oh iya, mana suamimu?" tanya Nizam.
"Bang Arfan lagi ke kamar kecil tadi." Nizwa melihat ke arah belakang salon dan kebetulan Arfan baru saja keluar dari sana dengan pakaian rapi. "Nah, itu dia." Nizwa menunjuk sang suami.
"Fan, bagaimana persiapannya?" tanya Nizam yang kini menarik sang adik ipar menuju tempat rias pria.
"Alhamdulillah, semuanya sudah aman, termasuk maharmu. Aku dan Nizwa tadi mencarinya bersama," jawab Arfan.
"Alhamdulillah, terima kasih," ucap Nizam begitu lega.
"Ya sudah, aku akan ke tempat acara bersama Nizwa lebih dulu untuk memantau keadaan, kau di sini dulu untuk di rias. Hanya kau yang belum siap." Arfan kemudian keluar dari ruang rias itu agar Nizam bisa dirias dan ditata busananya dengan cepat.
☘☘☘
__ADS_1
"Saya terima nikahnya, Bulan Aylin Ameer binti almarhum Ameer Abraham dengan mahar tesebut tunai karena Allah." Suara lantang Nizam dalam satu tarikan napas terdengar memenuhi ruangan.
"Sah!" ucap dua saksi bersama beberapa tamu undangan yang turut hadir dalam acara sakral tersebut.
"Alhamdulillah," ucap Nizam lirih diikuti dengan lelehan air mata yang tanpa sadar sudah membasahi pipinya.
Rasa haru akan pernikahan yang kini telah berhasil ia rasakan membuatnya tak dapat menahan air mata. Sebelumnya ia pernah dekat dengan titik ini, tapi Qadarullah, semua rencananya gagal total dalam satu malam.
Hanya ungkapan syukur tidak terkira yang kini diucapkan oleh Nizam atas semua yang telah ia lewati saat ini. Ia sadar, rencana Allah tentulah lebih indah dari rencana dan angan-angan manusia.
Semua pandangan orang-orang kini tertuju pada Bulan yang baru saja keluar dari sebuah ruangan ganti bersama Syifa dan seorang wanita paruh baya yang menggendong Quinzy di samping kiri dan kanannya.
Nizam yang ikut melihatnya sampai lupa bernapas selama beberapa detik. Jantung pria itu semakin berdegup kencang ketika melihat kecantikan Bulan yang semakin bersinar malam itu.
"Fan, apa kau bisa mencubitku? Kenapa aku merasa sedang bermimpi menikahi bidadari, yah? .... Aww, sakit, Fan!" Nizam menatap tajam ke arah Arfan yang berdiri di sampingnya. Tangan pria itu bergerak mengusap lengannya yang sakit akibat cubitan Arfan yang menyerang tanpa aba-aba.
"Aku hanya menjalankan apa yang ditugaskan kepadaku," sahut Arfan yang sejak tadi menahan tawanya.
Tubuh Nizam semakin terasa membeku saat Bulan telah didudukkan di kursi yang berada tepat di sampingnya. Kedua pasangan itu kini sama-sama saling menandatangani berkas yang diberikan pihak KUA.
"Baiklah, Pak Nizam dan Bu Bulan, sekarang kalian bisa saling memasangkan cincin yang menjadi simbol pernikahan kalian," ujar Pak Kepala KUA.
Nizam memutar duduknya menghadap ke Bulan begitu pun dengan Bulan yang melakukan hal serupa. Di awali dengan Nizam yang mengambil sebuah cincin dan perlahan meraih tangan Bulan.
Untuk sesaat tangan Bulan terasa biasa-biasa saja, namun semakin lama dipegang, tangan wanita itu terasa bergetar. Nizam yang merasakan keanehan itu segera menyematkan cincin itu di jari manis sang istri.
Kini giliran Bulan yang akan menyematkan cincin di jari manis Nizam. Wanita itu tampak ragu, getaran di tangannya pun semakin terlihat jelas. Hingga membuat Nizam menyadari akan sesuatu dan mulai membisikkan sesuatu di dekat sang istri.
"Tenanglah, jika menyentuhku membuatmu tidak nyaman, kamu bisa memasangkan cincin itu tanpa memegang tanganku," lirih Nizam.
-Bersambung-
__ADS_1