Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 16


__ADS_3

Malam semakin larut, suhu udara pun terasa semakin dingin. Angin berembus menerpa wajah bagai tamparan yang menusuk hingga ke tulang. Tak ada yang bisa menyangkal bahwa saat itu adalah moment yang tepat untuk memanjakan diri di pulau kapuk berselimut lembut nan hangat.


Akan tetapi, berbeda dengan Nizam yang justru masih betah berdiri di balkon kamarnya. Suhu yang dingin tak terlalu diindahkan oleh pria itu. Pikirannya begitu kalut dan resah hingga pukul tiga dini hari pun matanya masih saja enggan terpejam.


Pikiran Nizam dipenuhi oleh bayangan Aura dan kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama sejak kecil. Tatapan pria itu kini berubah sendu, lalu beralih menatap ke arah paviliun yang berada tidak jauh dari halaman belakang rumahnya.


"Maafkan aku Aura, sepertinya hatiku telah berhasil terbuka kembali untuk seseorang." Nizam tersenyum kecut lalu menatap langit. "Padahal belum cukup setahun setelah kepergianmu, hatiku malah terpaut pada wanita lain. Apa aku terlalu gampangan?"


"Ya, anggaplah begitu, aku juga tidak tahu kenapa bisa secepat ini hatiku terbuka untuknya, seolah aku sudah lama mengenalnya sebagaimana aku mengenalmu sejak kecil," lanjut pria itu menjawab pertanyaan yang ia buat sendiri.


Pria itu tertawa nanar, lalu segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini tidak benar. Apa yang aku rasakan ini salah, itu hanya simpati dan bukan cinta," ucapnya pelan. "Tapi kenapa hatiku sakit saat tahu dia telah menikah?" sambungnya sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Sepertinya kau sudah gila Nizam," tukas pria itu lagi, lalu berjalan memasuki kamarnya dan duduk di pinggir tempat tidur.


Tatapannya kini tertuju pada ponselnya yang sejak tadi berdering dengan nama Revan tertera di sana. Tak ada sama sekali niatnya untuk mengangkat telepon dari pria itu. Nizam sadar, Revan tentu akan sangat marah begitu terbangun, dan setelah ini sudah pasti dirinya akan menjadi buronan kelompok geng motor itu.


Nizam mematikan ponselnya lalu segera mencabut nomor palsu yang sengaja ia gunakan ketika berubah menjadi Langit. Ya, Nizam memilih untuk menuruti permintaan sang ayah untuk keluar dari geng motor itu agar Bulan yang ia yakini menjadi kunci dari misinya bisa tetap aman berada di dalam pengawasannya. Toh, kini Diki dan timnya yang akan mengambil alih penyelidikan.


Apalagi yang dikatakan Bulan tadi mengenai tujuan lain hingga Marcel menikahinya semakin membuat pria itu penasaran. Ia yakin bahwa rahasia itu ada hubungannya dengan kecelakaan Aura.


☘☘☘


Tak terasa sudah dua minggu berlalu semenjak Bulan tinggal di paviliun kediaman Boy dan Khaira. Saat ini wanita itu kembali bersiap untuk pergi bekerja setelah sarapan di kamarnya sendiri. Tak lupa ia meraih ponsel jadulnya yang akhir-akhir ini selalu saja berbunyi. Padahal ia sudah mengganti nomornya sejak pertama kali tinggal di paviliun atas permintaan Nizam.


Pria itu bahkan melarang Bulan untuk mengangkat panggilan dari siapa pun kecuali dari dia, Nizwa, dan pengacara yang menangani kasus perceraiannya sejak dua minggu lalu.


Bulan kini berjalan meninggalkan paviliun. Kakinya terus melangkah hingga ia tiba di halaman depan rumah. Namun, langkah wanita itu tiba-tiba terhenti saat ia tak sengaja bertemu Nizam yang sudah berpakaian rapi tepat di depan gerbang rumahnya.


"Boleh kita bicara?" tanya pria itu lalu berjalan menuju sebuah taman depan rumah yang terbuka, membuat Bulan mau tidak mau harus mengikutinya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Nizam.


Bulan mengangguk perlahan sambil menunduk. "Mas mau menanyakan apa?"


Nizam tampak sedikit ragu awalnya. Namun, pada akhirnya sebuah pertanyaan mulai kembali ia lontarkan, "Kalau boleh tahu, apa yang menjadi tujuan Marcel menikahimu?"

__ADS_1


Bulan seketika tampak terkejut saat mendengar Nizam menyebutkan nama suaminya. "Ka-kamu kenal dia?"


Nizam mengangguk pelan. "Sebenarnya beberapa bulan lalu aku bergabung dengan geng motor Black Shadow, kamu pasti tahu itu."


Bulan refleks mundur beberapa langkah dengan wajah pucat mengetahui fakta itu.


"Kamu tenang dulu, aku bergabung bukan untuk menjadi bawahan Marcel, tapi karena aku sedang mencari tahu siapa dalang yang telah membuat Aura mengalami kecelakaan."


"Aura?" ulangnya dengan dahi yang berkerut. Ia mengenal nama yang serupa dengan nama itu, dan dia adalah teman kakaknya, Bintang.


"Iya, dia adalah calon istriku, tapi kami gagal menikah karena dia meninggal dalam kecelakaan mobil saat malam hari sebelum jadwal kami menikah besoknya.


Bulan terdiam sejenak, lalu mulai bertanya, "Kapan kecelakaannya, Mas?"


"Tanggal 23 bulan Maret lalu."


Tangan Bulan mulai mengepal. Jika memang Aura yang dimaksud oleh pria di hadapannya itu adalah Aura teman Bintang, maka sudah pasti kecelakaan itu ada hubungannya dengan hilangnya Bintang karena waktunya sama.


Membayangkan itu, rasa ketakutan Bulan kembali datang. Pasalnya, tiap kali mengingat sang kakak dan kasusnya, ingatannya akan kembali berputar saat ia mengalami perlakuan buruk dari seorang oknum polisi dan Simon karena berusaha melapor sekaligus mencari tahu keberadaan kakaknya.


Pada akhirnya Bulan akan kembali takut mengungkapkan kebenarannya karena trauma yang ia alami. Kini ia hanya ingin mencari sang kakak tanpa melibatkan siapa pun termasuk polisi.


"Bulan, apa kamu mendengarku?" tanya Nizam membuat Bulan tersadar dari lamunannya.


"Ma-maaf, a-aku aku tidak bisa menjawabnya. Aku harus bekerja." Bulan segera pergi meninggalkan Nizam yang kini menatapnya bingung. Namun, belum jauh melangkah, wanita itu kembali dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Aku belum bisa mengatakan tujuan Marcel menikahiku, tapi mungkin pesan di ponsel ini bisa menjadi petunjuk atas penyelidikanmu." Bulan memberikan ponselnya kepada Nizam lalu kembali pergi meninggalkan Nizam.


Bulan terus saja berjalan menuju sebuah cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh. Walau bayang-bayang masa lalu masih selalu menghantuinya, baik itu di dalam mimpi, atau pun di dunia nyata, ia tak bisa selalu bersembunyi dan mengandalkan kebaikan orang. Hidupnya harus terus berjalan, dan terlihat menyedihkan adalah hal yang ia benci.


☘☘☘


Pagi itu, Nizam duduk di kursi kebesarannya seraya memeriksa ponsel jadul milik Bulan. Sebagaimana perkataan wanita itu, ia kini memeriksa pesan di ponsel tersebut.


Pria itu berdiri tiba-tiba usai membaca pesan itu dan mencocokkan waktu pengirimannya dengan waktu kecelakaan Aura. "Jadi kaulah dalang dibalik kecelakaan Aura, Marcel!"

__ADS_1


Tak ingin mengundur waktu, Nizam segera mengirim pesan itu kepada Diki sebagai salah satu bukti jika Marcel adalah dalang dibalik kecelakaan Aura, setelah itu ia menelepon sahabatnya itu.


"Assalamu 'alaikum, Diki, apa kau sudah melihat pesan yang baru saja kukirim?"


"Wa'alaikum salam, iya Zam. Kebetulan sekali, aku dan timku baru saja mengikuti orang yang pernah melakukan transaksi barang dengan Marcel berdasarkan video yang kau berikan waktu itu."


"Bagus, lalu bagaimana?"


"Dugaanku benar, Marcel terlibat dalam kelompok terorisme lokal.Orang yang kuikuti tadi ternyata pergi ke sebuah rumah yang berada di pelosok kota terpencil. Kami mencurigai rumah itulah laboratorium mereka dalam menciptakan bahan peledak."


"Astaghfirullah, aku benar-benar tidak menyangka ternyata mereka jauh lebih berbahaya dari dugaanku."


☘☘☘


Hampir setengah hari Bulan bekerja di sebuah cafe, dan hampir setengah hari pula ia merasa risih, seolah ada yang mengawasinya dari jauh. Hingga sore hari di saat ia selesai bekerja pun rasanya masih sama.


Bahkan, rasa tidak tenang itu masih saja mengganggunya di sepanjang perjalanan kembali ke rumah. Rupanya insting seseorang memang kerap menjadi pertanda akan sesuatu.


Beberapa detik kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di samping Bulan. Seorang pria bertubuh besar tiba-tiba saja keluar dari sana dan membekap mulut wanita itu, lalu menggendongnya masuk ke dalam mobil, kemudian melaju pergi dengan kecepatan tinggi.


"Lepaskan aku!" Bulan memberontak di dalam mobil berusaja melepaskan diri.


'Hey, dia masih hidup!'


Bulan terdiam seketika saat sebuah bayang-bayang masa lalunya kembali melintas di kepalanya.


'Baik, akan aku selesaikan!'


Tubuh Bulan semakin bergetar ketakutan dengan keringat yang mulai membasahi pelipisnya tatkala bayang-bayang di mana kedua orang tuanya dibunuh tepat di depan matanya kembali melintas, terlebih saat wajah pembunuhnya kini bisa ia lihat dengan jelas.


"Tidak! Jangan lakukan itu! Ayah ... ibu" teriak Bulan dengan kekuatan yang lebih besar hingga membuat dua pria yang sedang duduk di samping kiri kanannya kewalahan.


"Kenapa dia teriak-teriak seperti itu, Revan? Apa dia sudah gila?" tanya salah satu pria di samping Bulan.


"Entahah, mungkin dia memang sudah gila karena ayah dan ibunya sudah tiada," jawab Revan asal.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2