Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 40


__ADS_3

Matahari pagi kembali menyambut hari baru yang cerah. Embusan angin dingin berpadu hangatnya sinar sang surya bagai energi yang mengisi semangat dalam jiwa dan raga.


Hari ini, Nizam telah diizinkan untuk pulang oleh dokter. Sebagai istri, Bulan membantu sang suami mengurus segala sesuatu, termasuk mengemas pakaian mereka ke dalam tas.


Dalam beberapa menit lagi, Khaira dan Boy, serta Nizwa dan Arfan akan datang menjemput mereka di rumah sakit. Sementara menunggu, Bulan menyuapi sang suami sarapan terlebih dulu agar nantinya obat bisa masuk ke dalam perut tanpa menimbulkan masalah baru. Posisi mereka saat ini cukup dekat seperti biasa, Nizam duduk bersandar dengan bantuan bantal di tempat tidur, sementara Bulan juga duduk di samping tempat tidurnya.


"Aku ingin menyentuh wajahmu, boleh, yah?" pinta Nizam yang sejak tadi memperhatikan wajah sang istri ketika sedang menyuapinya makan.


"Untuk apa?" tanya Bulan polos.


"Apa aku harus memiliki alasan untuk menyentuh wajah istriku sendiri?" Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Nizam malah melontrakan pertanyaan yang selalu saja berhasil membuat Bulan salah tingkah.


Bulan terdiam sesaat, terlihat jelas ada keraguan dalam sorot matanya. Namun, kepala wanita itu mengangguk perlahan seraya memejamkan mata, seolah apa yang akan dilakukan Nizam adalah hal yang menakutkan.


Tangan kiri Nizam mulai terangkat perlahan, ia akan melakukannya dengan hati-hati dan selembut mungkin agar Bulan bisa tetap tenang. Akan tetapi, baru saja tangannya berhasil menyetuh pipi kiri Bulan, tubuh wanita itu sedikit terperanjat.


"Tenanglah, Sayang. Ini tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja," ucap Nizam mencoba memberikan sugesti agar Bulan tetap tenang. Meskipun saat ini alis wanita itu sudah berkerut dengan mata yang terpajam kuat. Tak hanya itu, kedua tangannya pun kini mengepal kuat di atas tempat tidur sang suami.


Nizam tersenyum senang melihat reaksi Bulan yang semakin menunjukkan kemajuan signifikan. Ada rasa haru yang menyelimuti hati pria itu. Setelah melewati waktu yang tidak sebentar, sang istri kini bisa ia sentuh atas persetujuannya.


"Jangan takut, aku suamimu, dan aku akan menjagamu," ucap Nizam lalu menjauhkan tangannya perlahan dari wajah sang istri.


"Sudah semakin membaik, Sayang. Aku akan terus membuatmu merasa terbiasa untuk ini. Kamu mau, 'kan?" lanjut Nizam bertanya dengan lembut.


Bulan membuka mata lalu menatap manik mata sang suami yang begitu tulus dan menenangkan. Bulir-bulir bening mulai memburamkan pandangannya. Wanita itu mengangguk perlahan dengan ujung bibir yang tertarik membetuk senyuman.


"Iya, Mas. Bantu aku untuk sembuh," ucap Bulan dengan suara bergetar.


Keduanya masih saling mengunci tatapan dan senyuman hingga beberapa detik berlalu, merasakan getaran indah dalam hati yang hadir bahkan tanpa melalui sentuhan.


"Allah benar-benar luar biasa, selalu menghadirkan hikmah di balik musibah," ucap Nizam tanpa mengalihkan tatapannya.


"Dulu aku mengira musibah ini telah mencelakaiku. Memang benar, tapi kini aku menyadari, hadiah yang Allah hadirkan dari musibah ini sungguh luar biasa. Bahkan cedera ini sama sekali tidak seberapa dengan hadiah itu. Kamu tahu apa itu?" lanjutnya bertanya kepada sang istri.

__ADS_1


"Apa?" tanya Bulan.


"Kesembuhanmu," jawab Nizam, lalu meraih tangan Bulan perlahan yang lagi-lagi membuat wanita itu terperanjat, kemudian mengecupnya dengan begitu lembut.


Bulan hanya bisa memejamkan mata, menekan rasa cemas sekaligus gugup yang datang bersamaan. Ia berusaha keras agar bisa mengendalikan reaksi tubuhnya tiap kali Nizam nemberikan sentuhan. Awalnya terasa sulit, tapi ia yakin semua akan membaik seiring berjalannya waktu.


Tok tok tok


"Assalamu 'alaikum."


Sepasang suami istri itu terkesiap ketika seseorang mengucapkan salam dari luar dan membuka pintu, hingga membuat Bulan langsung berdiri dan melepaskan tangannya dari genggaman Nizam.


Aura kini berdiri di ambang pintu, memandangi Nizam dan Bulan secara bergantian. "Apa aku mengganggu kalian?" tanya wanita itu.


"Tidak, Kak. Masuklah!" ucap Bulan seraya maju beberapa langkah mempersilahkan Aura masuk. Sementara Nizam hanya diam di tempat tidurnya.


Aura berjalan ke samping tempat tidur Nizam melewati Bulan begitu saja. "Bagaimana keadaanmu, Zam?" tanyanya.


"Aku mendengar pagi ini kamu sudah boleh pulang. Apa aku boleh ikut mengantarmu pulang?" tanya Aura lagi.


Nizam tak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Bulan dan meminta pendapatnya melalui sorot mata. Namun, wanita itu hanya menunduk diam tak memberi respon, dan ia menangkap sikap sang istri itu sebagai bentuk penolakan.


"Maaf, Ra. Sepertinya ...." Nizam hendak mengucapkan penolakannya, tapi terputus karena kehadiran keluarganya dari balik pintu.


"Eh, Kak Aura. Kebetulan sekali, setelah ini kami akan mengadakan acara makan-makan sederhana di rumah ayah dan bunda. Apa Kakak mau bergabung?" taya Nizwa ramah.


"Benarkah? Baiklah aku ingin ikut," balas Aura penuh antusias.


Nizam hanya bisa membuang napas lesu sembari menatap Bulan yang hanya memberikan senyiman pasrah.


Mereka pun pulang bersama saat menjelang siang ke rumah Khaira dan Boy dengan menggunakan dua mobil. Nizam dan Bulan mengikuti mobil kedua orang tuanya, sementara Aura ikut di mobil Nizwa atas permintaan wanita hamil itu.


Tak menunggu lama, mobil mereka telah sampai di halaman rumah. Bulan membantu Nizam untuk keluar dan kembali mendorong pria itu dengan kursi roda. Sementara Aura berjalan di belakang dengan raut wajah kesal seorang diri.

__ADS_1


Sementara itu, tidak jauh dari halaman rumah tersebut tiga pria dengan jaket khas ojek online sedang memantau dari jauh.


"Lapor, tiga target kita terpantau sedang berada dalam satu tempat!"


(...)


"Baik, kami akan memperketat pantauan sampai hari H."


☘☘☘


Di kota A, Diki sebagai anggota polisi yang memiliki andil besar dalam penangkapan beberapa komplotan ter0ris dua tahun silam diundang untuk melakukan rapat bersama para pimpinan lembaga keamanan yang menangani kasus ter0risme di Indonesia.


Dalam ruangan konferensi yang luas itu, suasana terasa hening padahal ada beberapa orang yang berada di sana. Di antaranya para pemimpin dan perwalilan dari Densus 88, BNPT, TNI, dan BIN duduk di sekitar meja bundar yang terbuat dari kayu mahoni. Sebuah papan di mana beberapa foto tertempel berdiri di bagian depan ruangan.


"Ini adalah foto orang yang menjadi target Marcel, anggota ter0ris yang telah ditangkap. Namanya Aura. Mengingat masih ada komplotannya yang belum tertangkap, kami khawatir mereka akan kembali menargetkannya" ujar Diki seraya menunjuk foto Aura yang berada di papan itu.


"Bukankah dia sudah meninggal?" tanya salah satu anggota rapat.


"Tidak, kecelakaan waktu itu rupanya merenggut nyawa seorang wanita bernama Bintang, adanya campur tangan anak buah Marcel sehingga orang mengira bahwa Auralah yang meninggal," jawab Diki.


Kepala Densus 88, Komisaris Besar Abu Bakar, memimpin rapat dengan suaranya yang tegas, "Baiklah kalau seperti itu, berarti dia juga harus kita pantau. Oh iya, kami baru saja mendapatkan informasi terbaru tentang kelompok ter0ris itu. Ternyata mereka sedang merencanakan serangan di kota B. Mengenai hal ini, kita harus bekerja sama untuk menghentikan mereka."


Mayor Jenderal Umar, perwakilan dari TNI, mengangguk setuju, "Kami siap menyediakan dukungan militer jika diperlukan. Kami akan berkoordinasi dengan Densus 88 dalam mengamankan area tersebut."


Sementara itu, Kepala BNPT, Dr. Usman, menambahkan, "Kita juga perlu fokus pada pendekatan pencegahan. Kami perlu memastikan kerja sama dengan komunitas lokal yang berada di sana."


Ketegangan di ruangan itu semakin terasa ketika Kepala BIN, Bapak Ali, memaparkan hasil analisis intelijen mereka. "Kami memiliki nama-nama dan jejak kelompok ter0ris itu Salah satunya adalah kepala polisi di kantor pusat kota A. Kami mengetahui bahwa selama ini kegiatan para ter0ris itu di kota A berlangsung tanpa terendus karena campur tangannya. Kami sudah mengamati pergerakannya selama satu tahun terakhir. Kami akan memberikan data ini kepada Densus 88 untuk tindakan lebih lanjut."


-Bersambung-


Note :


Nama pimpinan dan perwakilan dari lembaga keamanan di atas hanyalah nama fiksi. Jika ada kesalahan, mohon dikoreksi. Kegiatan konferensi hanya berdasarkan imajinasi dan bukan menggambarkan kegiatan asli. Terima kasih. 🙏

__ADS_1


__ADS_2