
Braak
"Mama! Papa!"
Tangisan seorang anak terdengar di sebuah mobil yang saat itu dalam keadaan terbalik di jalan raya. Suasana malam cukup gelap dan sunyi saat mobil yang ditumpangi oleh tiga orang itu menabrak pembatas jalan.
Rasa takut semakin menyeruak dan menghantui anak itu saat menyadari kedua orang tuanya yang duduk di jok depan tak lagi memberikan respon apapun.
Saat sebuah bayangan seseorang datang menghampiri, anak itu hendak berteriak meminta tolong. Berharap kedua orang tuanya dapat diselamatkan dengan cepat.
"Dia belum mati," ujarnya pada seseorang melalui sambungan telepon.
"Baik, akan kuselesaikan!"
Tubuh anak itu bergetar ketakutan, napasnya pun ikut tertahan saat melihat kedua orang tuanya dihabisi tepat di depan matanya. Terlebih saat pria itu hendak menunduk untuk melihat ke arahnya yang duduk di jok belakang ....
"Mama ...!"
"Papaa ...!"
..
"Bulan?"
Perhatian Nizawa pada ponsel seketika teralihkan saat menyadari pergerakan Bulan. Mulai dari tangannya yang bergerak perlahan, raut wajahnya yang tampak ketakutan, hingga dahi yang berkerut diikuti keringat yang membasahi pelipisnya.
"Bunda!" Nizwa keluar dari kamar tamu tempat di mana Bulan di rawat selama beberapa hari untuk memanggil sang ibu.
"Ada apa, Sayang?"
"Bulan, sepertinya dia akan sadar, Bunda."
Khaira mengangguk lalu berjalan lebih dulu ke kamar Bulan untuk melihat kondisi wanita itu disusul Nizwa di belakang.
"Mama, Papa, Kak Bintang ..."
Khaira mengerutkan dahinya saat mendengar suara lirih dari Bulan. Wanita itu mulai memeriksa keadaan Bulan lalu kembali memperhatikan wajahnya yang masih saja seperti orang ketakutan dengan napas yang tidak beraturan.
"Nizwa, apa dia masih memiliki keluarga?" tanya Khaira.
"Nizwa tidak tahu, Bunda. Tapi waktu ketemu di Bandara Incheon, dia pernah bilang sedang bersama seseorang."
"Bandara Incheon? Kalian bertemu di sana ternyata? Bunda sempat bingung gimana cara kalian bertemu dengan wanita dari kota A ini, sementara kalian dari Korea."
Nizwa terdiam, seketika ingatannya saat bertemu Bulan pagi itu kembali berputar.
..
Pagi itu, Nizwa dan Nizam hendak menuju ke bandara bersama. Namun, karena mereka khawatir terlambat, mengingat tinggal beberapa menit lagi pesawat akan lepas landas, akhirnya mereka memutuskan untuk melewati jalan pintas, walau sedikit berbatu.
__ADS_1
Sayangnya, tepat di pertigaan, jalanan yang hendak mereka lalui malah dipalang karena sementara dalam perbaikan. Alhasil, mereka terpaksa memilih jalan pintas lain. Jalan itu terkesan sepi karena berada di tengah hutan. Hanya beberapa kendaraan besar saja yang melewatinya, itu pun pada malam hari saat membawa proyek.
Saat mereka telah memasuki kawasan hutan, Nizwa tiba-tiba meminta sang kakak untuk berhenti karena melihat seorang wanita berhijab tampak sedang duduk sendiri sambil menyembunyikan wajahnya dikedua lengan yang bertumpu pada lutut.
Wanita itu terdengar menangis tersedu-sedu sehingga membuat Nizwa tidak tega dan hendak menghampirinya. Awalnya Nizam tidak mengizinkan karena khawatir itu hanya jebakan, tapi Nizwa membujuknya hingga pria itu luluh.
Betapa terkejutnya Nizwa saat mengetahui bahwa wanita itu adalah Bulan, teman barunya yang kini terlihat menyedihkan dengan luka di kepala dan mata yanh berair. Bulan menangis dan meminta pertolongan Nizwa tanpa mengatakan apa yang terjadi. Karena lelah menangis, ditambah psikisnya yang terguncang, wanita itu akhirnya pingsan.
Nizam yang melihatnya pun akhirnya ikut turun dan membantu mengangkat Bulan masuk ke dalam mobil. Sejenak kakak dan adik itu berdiskusi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Bulan ikut bersama mereka ke kota B melalui jalur darat.
..
Nizwa masih bergeming dalam lamunan, tiba-tiba kesadarannya kembali saat Khaira menyebut namanya, hingga ia refleks mengiyakan perkataan sang ibu tentang pertemuannya di Incheon.
"Apa Nizam masih lembur?" kini Khaira menatap anak bungsunya itu.
"Mungkin, Bunda. Kak Nizam belum ada kabar dari kemarin.
Khaira membuang napas sambil berdecak. "Memangnya ada urusan apa sih di kantornya sampai lembur terus? Aneh banget kakakmu itu. Mungkin sebaiknya aku nikahkan dia agar dia tidak menghabiskan hidupnya hanya untuk bekerja.
Khaira berjalan keluar sambil mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Nizam.
"Halo, assalamu 'alaikum, kamu di mana, Nak?" ucap Khaira memulai pembicaraannya melalui sambungan telepon.
(...)
"Pulanglah dulu untuk beristirahat, ka-" Ucapan Khaira terputus saat mendengar suara Nizwa memanggilnya.
"Kamu dengar itu, Zam? Pulanglah sekarang juga, kita perlu bicara mengenai Bulan."
☘☘☘
Nizam meletakkan ponselnya di atas meja usai mengakhiri panggilannya dengan sang ibu. Ada rasa lega dan tenang saat mengetahui bahwa Bulan telah sadar. Entah kenapa juga, ia tiba-tiba ingin segera kembali ke kota B untuk melihat keadaan wanita itu secara langsung.
Meski begitu, misinya hari ini untuk mencari tahu informasi mengenai Simon harus tuntas terlebih dulu. Seperti saat ini, Nizam sedang berada di kantor polisi di mana Diki bekerja. Ia tengah duduk di sebuah ruangan khusus bersama pria yang pernah ditangkap Diki yang tidak lain adalah mantan anggota geng motor Black Shadow.
"Jadi, apa yang kau ketahui tentang Simon?"
"Bagaimana kabar adikku?"
Nizam memejamkan mata sejenak untuk menenangkan dirinya. Sungguh ia tidak suka jika pertanyaan yang ia lontarkan malah dibalas dengan pertanyaan lain.
"Adikmu baik-baik saja, dua hari lalu dia baru saja melalui operasi pengangkatan tumor. Saat ini keadaanya sudah semakin membaik," jawab Nizam.
Terlihat pria dihadapannya membuang napas lega. "Terima kasih sudah menolong dan menjaga adikku," ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan senyuman tipis
Ruangan kembali hening sesaat, sebelum pria itu mulai kembali bersuara. "Simon adalah tangan kanan Marcel. Hampir semua yang berhubungan dengan Marcel selalu melibatkan campur tangannya." Pria itu menghentikan sejenak perkataannya.
"Target terakhirku pun adalah keponakan dari Simon dan kekasihmu. Maafkan aku." Pria itu tertunduk dengan rasa bersalah.
__ADS_1
Nizam terdiam sejenak mencerna apa yang baru saja ia dengar, mencoba merangkai puing-puing informasi itu tanpa melibatkan perasaan. Tentu saja ia harus bersikap bijak saat ini, jika tidak, mungkin pria di hadapannya ini sudah masuk ke rumah sakit akibat serangannya karena luapan emosi yang berusaha ia tahan sejak tadi.
"Bukankah keponakan Simon adalah istri Marcel?" tanya Nizam kembali setelah terlihat tenang.
"Keponakan Simon ada dua, yang satu memang adalah istri Marcel, tapi yang satu adalah target Marcel. Mengenai alasan, maaf, aku tidak tahu."
"Tapi dari kebakaran mobil itu hanya satu korban yang ditemukan, di mana keponakan Simon itu? Kenapa hanya Aura yang ada di sana?"
"Aku tidak tahu, aku hanya menjalankan tugasku saja."
"Apa targetmu itu masih hidup? Aku harus mencarinya," tanya Nizam lagi.
"Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu."
Nizam mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mulai berbicara, "Lalu, siapa yang menyuruhmu? Tidak mungkin Simon tega ingin membu*uh keponakannya sendiri."
"Aku tidak tahu. Bisa saja, Simon itu mata duitan, dia rela melakukan segalanya demi uang. Bahkan, kembaran dari targetku itu pun menikah dengan Marcel karena dipaksa hanya untuk uang dan rahasia yang entah apa."
"Rahasia?" ulang Nizam dengan alis yang berkerut.
"Iya, Marcel memiliki rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Aku curiga, keponakan Simon mengetahui rahasia mereka." Pria itu berhenti sejenak untuk menarik napas. "Ini hanya pradugaku, aku tidak tahu pasti siapa sebenarnya yang menyuruhku, tapi setelah kupikir-pikir, sepertinya mereka bisa menjadi target untuk diperiksa," sambung pria itu.
"Kau bilang kemarin jika perintah itu datang dari pesan teks, bisa berikan aku nomornya?"
"Minta saja pada teman polisimu itu, semua barangku disita olehnya. Asal kau tahu, nomor itu adalah nomor sekali pakai, akan sulit bagimu untuk melacaknya jika hanya menggunakan nomor itu."
Usai menggali informasi mengenain Simon, Nizam dan Diki keluar dari ruangan itu, sementara pria tadi dikembalikan ke dalam sel tahanan.
"Zam, aku sudah selesai memeriksa paket yang kau berikan padaku waktu itu," ujar Diki berbisik kepada Nizam. "Ikuti aku," sambungnya lalu membawa Nizam ke sebuah tempat sepi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Nizam penasaran.
"Itu bukan narkoba, Zam. Itu bahan peledak."
"Apa? tapi bagaimana bisa? Bukankah mereka pernah terlibat dalam kasus transaksi narkoba?"
"Kemungkinan ini adalah kasus yang berbeda. Zam, apa kau tahu? usahamu kini malah membuka fakta baru akan kasus yang lebih rumit. Kita tidak hanya bicara mengenai pembunuhan, atau narkoba, kita berbicara mengenai dugaan adanya kelompok terorisme."
Nizam termangu sejenak, tangannya tanpa sadar menutupi mulutnya sendiri karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Diki.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Jika berbicara tentang kelompok, bukankah itu akan sulit ditaklukan jika hanya aku dan kamu yang bekerja?" tanya Nizam.
"Maka dari itu, aku akan menyampaikan masalah ini kepada kantor pusat agar segera membuat tim khusus untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut."
"Jangan kantor pusat!"
"Kenapa?"
"Aku curiga mereka memiliki kerja sama dengan oknum polisi di sana, mengingat pada kasus Aura saja, mereka berusaha menutupnya. Aku khawatir para kelompok itu akan menyadari rencana kita jika kita bekerja sama dengan mereka. Bagaimana jika kau bicarakan dengan kepala polisi di sini saja?" ujar Nizam mengusulkan. Ia mengingat perkataan Bulan waktu itu yang mengatakan jika mereka berbahaya dan bekerja sama dengan polisi.
__ADS_1
Diki terdiam sesaat sambil berpikir. "Baiklah, aku akan membicarakannya dengan kepala polisi di sini."
-Bersambung-