
Malam yang dingin kian menusuk, hampir semua orang telah terlelap dalam indahnya mimpi. Namun, di sebuah tempat terpencil, dua insan tengah berada dalam ketegangan. Bahaya yang mengancam sedang berada di depan mata mereka saat ini. Entah mereka bisa keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup atau mati.
Nizam berbalik menatap Bulan sekilas yang berada di belakangnya. "Apa pun yang terjadi, tetaplah di belakangku," ucapnya lalu kembali menatap ke depan di mana Marcel dan anak buahnya sudah kembali memasuki ruangan itu.
Nizam melebarkan tangannya untuk melindungi Bulan saat melihat para anak buah Marcel mulai bersiap menyerang.
"Kau benar-benar tidak tahu malu! Bulan itu istriku, harusnya kau kembalikan dia padaku, bukan malah membawanya pergi!" gertak Marcel penuh emosi.
"Aku hanya berusaha melindungi orang yang perlu dilindungi. Dalam hal ini, kau sebagai suami telah dzolim pada istrimu, bukannya menjadi pelindung, tapi malah menjadi sumber bahaya untuknya," balas Nizam tak getir sedikit pun.
Marcel mengepalkan kedua tangannya, mengeratkan giginya hingga rahangnya tampak semakin jelas. "Revan, kau tahu apa yang harus kau lakukan!" Marcel bergeser dan memberikan jalan bagi Revan dan anak buahnya untuk maju.
Di detik berikutnya, mereka pun mulai menyerang. Namun, Nizam dengan begitu lincah menangkis semua serangan dari beberapa pria itu satu per satu tanpa bergeser dari posisi awalnya. Sengaja ia lakukan agar Bulan tetap berada di pojok, dengan begitu dia bisa lebih muda melindunginya.
Pertarungan yang begitu sengit terus saja terjadi, tak jarang Nizam memberikan pukulan dan tendangannya kepada mereka yang hendak menyerang. Namun, di tengah perkelahian itu, Revan mengambil kesempatan untuk menarik Bulan.
Beruntung, Nizam cepat menyadarinya dan langsung memelintir tangan Revan, lalu dilanjutkan dengan memutar tubuhnya dan membanting pria itu ke depan.
"Jangan coba-coba menyakitinya!" desis Nizam.
Bugh
"Aaaak," teriak Bulan saat menyaksikan seorang pria menghantam kepala Nizam dengan balok kayu dari arah belakang, hal itu membuat darah segar mengalir dari kepala pria itu.
Melihat Nizam yang mulai kesakitan, Revan langsung kembali menyerangnya hingga ia tersungkur di lantai. Para anak buah Marcel pun langsung memegang kedua lengan pria itu dan memaksanya berdiri.
"Tidak, jangan lakukan itu, Mas!" teriak Bulan ketakutan saat melihat Marcel mengeluarkan senjata tajam dari dalam saku dan mengarahkannya pada leher Nizam.
"Say good bye, Langit!" Marcel mengangkat tangannya lalu hendak mengayunkan senjata tajam itu tepat pada leher Nizam. Namun, sebuah mobil jeep tiba-tiba datang menabrak dinding tripleks ruangan itu hingga rusak.
Para anak buah Marcel yang memegangi kedua lengan Nizam refleks melepaskan pegangannya demi menghindari tabrakan dari mobil itu.
"Nizam, masuk!" titah pria dari dalam mobil itu.
"Ayah?" lirih Nizam cukup terkejut melihat keberadaan sang ayah. Nizam langsung menarik tangan Bulan yang terbungkus kain baju agar ikut naik. Di detik berikutnya, mobil langsung melaju meninggalkan ruangan yang kini telah rusak kedua sisi dindingnya.
"Bos! Kenapa kau membiarkan mereka pergi? Kami menanti perintahmu," tegur Revan saat melihat Marcel justru diam tertegun menatap kepergian mobil itu.
"Boy," ucap Marcel dengan suara lirih.
__ADS_1
☘☘☘
Sementara itu di dalam mobil, Boy mengomel dengan laju yang tidak kalah cepat dengan laju mobilnya. Dia bahkan memukuli Nizam yang duduk di sampingnya berkali-kali dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih memegang setir mobil.
"Auw, sakit, Ayah!"
"Dasar bodoh! Apa yang kau andalkan dengan pergi terburu-buru seperti itu ke sarang singa seorang diri? Hah!"
"Ampun, Ayah. Nizam hanya merasa mampu melawan mereka dengan kemampuan bela diri Nizam," jawab Nizam jujur dan langsung mendapat jitakan di kepalanya.
"Auw, sakit, Ayah. Kepalaku terluka, loh," ucap Nizam memelas.
"Masuk ke sarang singa karena yakin dengan kemampuan bela diri saja itu namanya sombong. Harus ada taktik agar kamu tidak berakhir menjadi makan malam singa-singa itu, ya paling tidak ada polisi yang kamu bawa."
"Ya mau gimana lagi, namanya juga terdesak," cicit Nizam.
Boy membuang napas kasar lalu menatap Bulan dari pantulan kaca spion yang berada di di depannya.. "Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa mereka melukaimu?" tanya pria itu.
"Baik, Om. Alhamdulillah mereka tidak sempat melukai saya, terima kasih Mas Nizam, terima kasih, Om," ucap Bulan pelan dengan tangan yang saling bertautan, meredam getaran di tangannya yang masih enggan pergi.
"Ayah, bagaimana Ayah bisa tahu lokasi kami? Dan ini mobil siapa?" tanya Nizam penasaran.
Nizam tidak terlalu terkejut mendengar cerita sang ayah karena dia sudah pernah mendengarnya. Namun, siapa pelaku yang menyebabkan kebakaran, baik Boy atau pun Khaira enggan mengatakannya.
☘☘☘
Satu jam kini telah berlalu, adzan subuh mulai berkumandang di setiap masjid. Perjalanan dihentikan sejenak untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Boy dan Nizam keluar dari mobil lebih dulu, kemudian disusul Bulan yang berjalan ke tempat wudhu khusus wanita.
Ketiganya pun menunaikan sholat dengan di pimpin imam, lalu dzikir dan berdoa usai salam. Berbeda dengan para jama'ah lain yang duduk tegap dengan tangan yang terangkat, Bulan justru kembali bersujud.
Cukup lama wanita itu berada dalam posisi yang sama. Tubuhnya bergetar menahan rasa sesak di dada. Ia benar-benar lelah dengan masalah yang telah berhasil menyerang psikisnya hingga ia mengalami kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih. Kejadian tadi sudah satu jam berlalu, tapi efeknya masih membuatnya tersiksa hingga saat ini.
"Kamu kuat, Bulan. Kamu bisa keluar dari bayang-bayang itu, insya Allah," lirihnya menguatkan diri sendiri.
Perjalanan kembali dilanjutkan, hingga mereka tiba di sebuah rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu dengan desain klasik. Terlihat begitu nyaman dan asri dengan berbagai jenis tanaman hias yang berjejer rapi di halaman depan. Di tambah udara dingin pagi hari yang membuat suasana terasa sangat segar.
"Ini rumah baru Paman Anton?" tanya Nizam sambil menatap sekeliling halaman.
"Iya, Anton memutuskan untuk tinggal di daerah pedesaan yang tidak jauh dari kota, dia ingin hidup tenang, tapi tetap bisa mengunjungi kedua orang tua dan adiknya di kota," jawab Boy.
__ADS_1
Ketiganya kini keluar dari mobil, dan berjalan menuju tangga utama di mana Anton dan istrinya sudah menunggu kedatangan mereka.
Anton dan sang istri menyambut kedatangan mereka dengan begitu ramah. Boy, Nizam, lebih dulu naik ke atas rumah, sementara Bulan bersama istri Anton berjalan di belakang mereka. Ketiga pria itu kini duduk di ruang tamu, sementara Bulan di ajak istirahat di kamar tamu atas permintaan Boy.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil menangkap mereka?" tanya Anton dan mendapat gelengan kepala dari keduanya.
"Aku hanya menyelamatkan Nizam dan Bulan, aku cukup terkejut saat mengetahui Ifan adalah bos geng motor itu," ujar Boy.
"Ifan? Bukan Ayah, namanya Marcel," sanggah Nizam cepat.
"Marcel?" Boy tertawa mendengar nama itu. "Itu adalah nama kecilnya, nama lengkapnya itu Ifano Marcelius."
"Sepertinya dia mengganti nama panggilannya karena sudah lama menjadi buronan." Anton ikut tertawa sejenak, lalu raut wajahnya berubah serius. "Nizam, apa kau serius ingin mengungkapkan kebenaran di balik kecelakaan Aura?" sambungnya bertanya.
"Benar, Paman. Nizam sudah berbicara dengan anak buah yang menjadi eksekutor. Katanya Aura dan temannya itu adalah saksi kejahatan ...." Nizam menjelaskan sesuai dengan apa yang dia dengar saat di kantor polisi. Ia juga mengatakan bahwa ia baru saja menemukan satu bukti pesan yang menunjukkan bahwa Marcel adalah dalangnya.
"Apa kamu yakin hanya dengan satu bukti itu bisa menjerat Ifan atas tuduhan pembunuhan berencana Aura?" tanya Anton.
"Lalu, bagaimana kita membuktikannya lagi, Paman?" tanya Nizam semakin penasaran.
Anton tidak langsung menjawab, ia justru menoleh ke arah Boy, ia tahu Boy sedikit keberatan jika putranya itu terjun dalam hal yang berbahaya. Apalagi Nizam hanya tahu bela diri tapi tak pernah terlibat dalam perkelahian secara langsung karena karakternya yang tak suka keributan. Pertarungan malam itu adalah pertarungan asli pertama bagi Nizam seumur hidupnya.
"Minta izinlah dulu kepada Ayahmu, setelah itu kita bisa membuat rencana." Anton tersenyum menatap Nizam penuh arti.
Kini giliran Nizam yang menatap Boy dengan tatapan memelas. Pria itu bahkan memperlihatkan puppy eyes kepada sang ayah. Namun, bukannya luluh, Boy justru menjepit leher Nizam dengan lengannya hingga pria itu menjerit.
"Hentikan itu! Ayah benar-benar jijay melihat matamu itu. Malu sama otot!"
"Ampun, Ayah, ampuun ...."
"Sudah, sudah. Jadi bagaimana menurutmu, Boy? Aku rasa kita harus turun tangan, Nizam sudah terlanjur masuk dalam permainan mereka. Bukankah kita juga harus membuat permainan kita sendiri?"
-Bersambung-
NOTE:
Yang belum kenal Anton, mari othor jelaskan. Anton ini kakak dari Silvi, ibu Aura. Anton dan Silvi ini adalah saudara tiri Boy, ayah Nizam. Anton dan Boy sama-sama mantan anak geng motor. Bedanya, Boy berubah setelah masuk pesantren, dan Anton berubah setelah masuk penjara.
Siapa yang menjadi pelaku kebakaran gudang di mana Boy dan Khaira yang menjadi korban? Jawabannya adalah Anton. Nah, kisah mereka ini ada di novel othor sebelumnya HE'S NOT A BAD BOY. 😁
__ADS_1