Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 17


__ADS_3

"Apa? Bagaimana bisa kalian sampai kecolongan? Bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk selalu waspada dan siaga?"


Suara Nizam di dalam ruang kerjanya kian meninggi tatkala mendapat kabar penculikan Bulan sore itu. Padahal ia sudah memerintahkan dua orang bodyguard untuk menjaganya dari kejauhan, tapi mereka justru terlambat menyelamatkan wanita itu.


"Maaf, Bos. Kami kalah cepat dengan mereka yang tiba-tiba muncul dan membawa Bulan begitu saja. Alex sementara mengejarnya saat ini, dan kabar terakhir darinya, mereka membawa Nona Bulan ke bandara."


Nizam mengepalkan kedua tangannya, ia berdiri begitu gusar sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Amarah sekaligus rasa khawatir tengah merundungnya saat ini.


"Mereka pasti membawanya kembali ke kota A," gumam Nizam. "Arfan, pesankan aku tiket ke kota A sekarang!" lanjutnya menahan amarah.


"Tapi, Bos, itu tidak aman ...." Arfan tak melanjutkan perkataannya ketika melihat Nizam sama sekali tidak menghiraukan sanggahannya dan langsung berjalan keluar dengan langkah cepat.


☘☘☘


Bulan membuka matanya saat mendengar sayup-sayup suara beberapa pria sedang berbicara. Wanita itu sedikit meringis saat merasakan kepalanya sakit dan berdenyut. Beberapa kali ia mengerjapkan mata guna menormalkan penglihatannya yang buram. Ia menyadari posisinya saat ini sedang duduk di kursi dengan tangan yang diikat ke belakang.


"Bos, dia sudah bangun!" seru salah seorang pria memanggil bosnya.


Suara derap langkah sepatu yang terdengar semakin mendekat membuat jantung Bulan berpacu semakin cepat. Ia jelas tahu siapa yang dimaksud bos oleh pria tadi.


"Kerja bagus, Revan," ucap sang bos lalu berdiri tepat di depan Bulan dengan memperlihatkan seringaian iblisnya.


"Halo, Istriku. Setelah sekian lama mencarimu, akhirnya aku menemukanmu."


"Lepaskan aku! aku bukan lagi istrimu, aku sudah mengajukan gugatan cerai!" Bulan menatap tajam Marcel, berusaha meredam rasa takutnya dan menekan kegugupan yang menjalar di tubuhnya.


"Aku tidak ingin menceraikanmu, Sayang. Kenapa kau kejam sekali?" ungkap Marcel dengan senyuman yang dibuat sendu.


"Untuk apa? Untuk apa kamu mempertahankan aku sebagai istrimu jika hanya untuk menyakitiku? Pernikahan yang dilakukan hanya untuk menyakiti pasangan itu haram hukumnya!" tegas Bulan, matanya tampak memerah dengan cairan bening yang mulai berkumpul di pelupuk matanya.


"Ssstt." Marcel meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Bulan. "Hanya itu cara yang bisa aku lakukan agar kamu tak jauh dariku, Sayang. Aku mencintaimu_."


"BOHONG! Tidak ada cinta yang menyakiti, kamu sengaja mengikatku agar aku tidak pergi dan membocorkan rahasiamu, bukan? Rahasia bahwa kamu dan Paman Simon adalah orang yang mencelakai Kak Bintang dan Kak Aura karena kamu pikir dia adalah saksi kejahatanmu, iya, 'kan?" Bulan menghentikan perkataannya sambil menatap Marcel yang hanya tersenyum santai.


"Kamu pintar, untung saja bukan kamu yang melihatnya waktu itu. Jika saja kamu melihatnya, mungkin kamu sudah bernasib sama seperti saudara kembarmu dan temannya itu." Marcel tertawa lalu diikuti dengan tawa anak buahnya yang berdiri di belakang.


Sementara Bulan berusaha mengatur napasnya agar bisa tetap tenang, meski hanya terlihat dari luar. "Dasar manusia laknat!" umpat Bulan sedikit berteriak.

__ADS_1


Marcel berbalik lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Bulan yang tertutupi kerudung sambil mencengkram kedua pipi Bulan dengan kuat, lalu berbisik, "Sebenarnya aku membawamu ke sini dengan dua tujuan, mengamankanmu dan ...."


"Bos, kami telah menemukannya di bandara!" ujar dua orang pria yang datang membawa seorang pria dengan kepala yang tertutup kain hitam dan tangan yang terikat.


Marcel tersenyum lalu kembali berbisik di telinga Bulan, "Dan menghabisi dia." Pria berjambang itu menunjuk pria yang baru saja tiba itu, lalu melepas cengkeramannya dengan kasar.


Marcel berjalan menghampiri pria itu lalu melepas kain hitam penutup kepalanya. Kedua mata Bulan membola saat melihat pria yang sangat ia kenali kini berada di hadapannya.


"Mas Nizam?" lirih wanita itu.


"Welcome to my home, Langit!" Marcel menatap Nizam dengan senyuman miring penuh kebencian.


Nizam hanya diam, dia sudah menduga semua pasti akan terjadi. Ia bahkan sadar sedang dijebak saat kedatangannya di bandara langsung di sambut dengan penangkapan yang sangat tidak terduga. Sedikit ia sesali karena pergi tanpa rencana apa pun.


Pandangan Nizam kini beralih menatap Bulan yang saat ini juga sedang menatapnya penuh kesenduan dan wajah yang pucat. Bibir pria itu bergerak berbicara tanpa bersuara.


'Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.'


Nizam mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, walau hanya sekilas, tapi ia berharap hal kecil itu bisa membuat Bulan merasa lebih tenang.


"Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku sangat tidak menyukai pengkhianat, bukan?"


Bugh


Bugh


Pukulan kali ini mengenai wajahnya dengan begitu kuat hingga membuat Nizam terhuyung dan jatuh ke lantai yang sedikit berdebu.


Belum juga sempat bangkit, Revan dan teman-temannya langsung menyerangnya bertubi-tubi hingga tubuh Nizam terkulai tak berdaya. Darah segar pun terlihat keluar di wajah dan mulutnya.


"Tidak ada balasan setimpal atas pengkhianatan selain menghabisimu, Langit ah maksudnya Nizam." Marcel memberikan kode kepada anak buahnya untuk mendudukkan Nizam di samping Bulan, tak lupa mereka juga mengikat kedua kaki mereka.


"Kurung mereka di sini dan jangan beri mereka makan dan minum, aku ingin lihat sampai kapan mereka bisa bertahan." Marcel langsung pergi bersama anak buahnya lalu mengunci pintu.


Kini hanya tinggal Nizam dan Bulan yang berada di ruangan itu. Duduk di kursi masing-masing dengan jarak kurang lebih satu meter saja. Hening, tak ada sama sekali suara yang keluar dari kedua insan itu.


Berada dalam satu ruangan tertutup bersama orang yang bukan mahram membuat keduanya merasa tidak enak dan takut. Hingga 30 menit berlalu masih dalam keheningan.

__ADS_1


"Ekhem, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nizam memecah keheningan di ruangan itu.


"Iya," jawab Bulan pelan.


"Apa mereka menyakitimu?" tanya pria itu lagi tanpa menoleh ke arah Bulan.


Kali ini Bulan menggeleng pelan tanpa ingin menoleh ke arah pria di sampingnya juga. "Tidak."


"Alhamdulillah." Nizam membuang napas lega. "Maaf karena aku gagal melindungimu," lanjutnya lalu menunduk.


"Apa kamu ke sini untuk melindungiku, Mas?" tanya Bulan menoleh sekilas ke arah Nizam yang tidak memberikan respon apa pun.


Bulan beralih menatap langit-langit ruangan yang tampak asing, tatapannya sendu, bibirnya bergetar menahan tangis dengan rasa bersalah. "Maafkan aku, karena bertemu denganku, kamu jadi terlibat masalah ini."


Nizam tersenyum samar sejenak, lalu mulai berbicara, "Sebuah pertemuan itu tidak akan terjadi kecuali atas kehendak Allah. Kita bertemu tidak hanya sekali, itu artinya Allah memiliki rencana di balik pertemuan ini, jadi tak perlu ada yang disesalkan."


Bulan hanya mengangguk samar menanggapi perkataan Nizam. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Saat ini ia hanya ingin fokus menstabilkan jantungnya yang masih saja berdetak kencang akibat rasa takutnya sejak tadi.


Waktu terus berjalan, malam semakin larut, rasa haus dan lapar mulai menghampiri keduanya. Tak jarang, suara aneh dari perut mereka mengisi keheningan di ruangan itu. Berpura-pura tuli adalah cara satu-satunya demi menjaga perasaan satu sama lain.


Nizam menatap ke arah Bulan yang memilih memejamkan matanya, entah karena lelah atau menahan lapar, wajah wanita itu selalu saja terlihat pucat. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa saat ini.


Pria itu kini mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan berdinding tripleks yang dipenuhi barang rongsokan, tapi bukan di markas mereka. Beberapa kayu bekas pakai pun tersusun di pojok ruangan.


Secercah harapan menghampirinya saat melihat paku di kayu-kayu itu. Dengan semangat tinggi untuk bebas, Nizam segera berdiri mendekati kayu-kayu itu sambil melompat walau harus menahan rasa sakit di tubuhnya.


Cukup lama Nizam berusaha memutuskan tali yang mengikat kedua tangan yang berada di belakang tubuhnya. Terasa begitu sulit dan melelahkan tentunya. Tak ingin menyerah, ia terus berusaha menggesekkan tali itu berkali-kali, peluh yang mulai membanjiri pelipis pria itu menjadi saksi usahanya dalam menyelamatkan diri dan juga Bulan.


"Alhamdulillah," ucap Nizam saat tali itu akhirnya terputus.


Gegas ia membuka ikatan tali di kakinya, lalu segera membuka ikatan tali di tangan Bulan. Wanita itu sedikit terperanjat saat menyadari Nizam kini berada di dekatnya.


"Maaf, aku akan membuka tali ini dan kita bisa mencari cara untuk keluar dari sini."


"Terima kasih," ucap Bulan pelan.


Nizam kini memindahkan beberapa tumpukan kayu yang menghalangi sebuah jendela kayu di pojok ruangan. Baru saja ia hendak membuka paksa jendela itu, pintu ruangan langsung terbuka di mana Marcel tengah mentapnya dengan tatapan siap menerkam.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2