Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 41


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu sejak kepulangan Nizam ke rumah. Pria itu masih beristirahat di rumah dengan ditemani Bulan yang selalu setia mengurusnya dengan segala keterbatasan wanita itu yang belum pulih total.


Meskipun keadaan Nizam semakin hari semakin membaik. Bahkan tangan dan kakinya sudah bisa ia gerakkan, tapi ketika di hadapan Bulan, ia akan kembali tidak berdaya. Ya, anggaplah ini adalah cara pria berkacamata itu untuk menghabiskan waktu bersama sang istri guna membuatnya terbiasa.


Seperti saat ini, Nizam yang tadinya sedang menyelesaikan pekerjaan kantornya melalui tab langsung menyimpan semuanya di bawah bantal ketika Bulan menghampirinya di dalam kamar.


"Mas, mau makan apa siang nanti?" tanya Bulan seraya duduk di sampingnya yang juga sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Terserah kamu aja, Sayang. Aku suka semua masakan kamu," jawab Nizam tersenyum tulus.


Bulan pun tak mampu menyembunyikan senyuman dari wajahnya, tapi tak juga berani menatap manik mata sang suami. Nizam mengulurkan tangan kiri untuk mengangkat dagunya perlahan, lalu menggerakkan jari seperti membuat sebuah garis dari dahi sang istri hingga ke dagunya.


Ya, ini adalah kebiasaan baru Nizam semenjak keluar dari rumah sakit . Tiap kali berdekatan dengan Bulan, dia akan melakukan hal yang sama. Awalnya hanya bentuk candaan, tapi makin ke sini ia semakin menyukai ekspresi wanita itu yang refleks memejamkan mata.


"Aku suka melihat respon wajahmu yang seperti ini. Kamu sangat menggemaskan," kata Nizam membuat wajah Bulan kembali menunduk dengan wajah merah merona.


Keduanya masih asik dalam candaan yang sederhana tapi terasa begitu manis tiap momentmya. Nizam begitu menikmati tiap detik bersama sang istri. Meskipun Bulan masih saja merasa sedikit cemas ketika disentuhnya, tapi semua kemajuan itu sudah membuat pria itu sangat bersyukur.


Suara ponsel Nizam tiba-tiba berdering di atas nakas membuat atensi keduanya teralihkan. Nizam segera meraih ponselnya dengan tangan kiri. Pria itu mengerutkan dahi kala nama "Tante Silvi" terpampang di layar benda pipih itu.


"Assalamu 'alaikum, Tante," ucap Nizam mengawali pembicaraan.


"Wa'alaikum salam, Zam. Apa Aura ada di rumah kamu, Nak? Dua hari lalu dia pamit ada kegiatan di kota B, tante hubungi nomornya, tapi nggak aktif, tante hubungi temannya, tapi kata mereka Aura nggak datang dan nggak ada kabar. Tadi juga tante hubungi bundamu, tapi juga tidak ada. Apa dia ada di situ?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada khawatir.


"Tidak, Tante. Aura tidak ada di sini," jawab Nizam jujur.


"Astaghfirullah, kemana dia, Ya Allah," suara tangisan kini terdengar dari seberang telepon, membuat pria itu ikut merasa khawatir.


"Tante, tenang dulu, saya akan coba bantu mencari Aura. Mungkin dia memang ada di kota ini."


Usai berbicara singkat itu, Nizam langsung menghubungi Arfan dan Dion untuk membantunya mencari tahu keberadaan Aura.

__ADS_1


"Mas, ada apa? Apa yang terjadi dengan Aura?" tanya Bulan yang bisa melihat kekhawatiran di wajah sang suami.


"Aura, dia hilang, Sayang. Saat ini Arfan dan Dion sementara berusaha mencari dia," jawab Nizam.


"Astaghfirullah, semoga Kak Aura baik-baik saja."


..


Bulan baru saja menyelesaikan kegiatannya di dapur untuk membantu Mak Nira menyiapkan makan siang. Wanita itu berjalan menuju kamar sambil membawa makanan untuk sang suami. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kala melihat sang suami begitu sibuk menelepon seseorang dari tempat tidurnya untuk mencari Aura.


"Mas, makan dulu, yah," ajak wanita itu ketika melihat Nizam berhenti menelepon.


"Sebentar, yah. Sayang," balas pria itu singkat lalu kembali menghubungi seseorang.


Bulan duduk di tepi tempat tidur menunggu snag suami dengan sabar. Ketika Nizam memastikan ponselnya, ajakan makan kembali ia lontarkan. Namun, jawabannya sama hingga beberapa kali berulang.


Merasa sedikit kecewa karena diabaikan sang suami. Bulan akhirnya keluar dari kamar. Ia berusaha menenangkan dirinya bahwa Nizam hanya mengkhawatirkan sahabatnya, tapi tetap saja hatinya cemburu.


Apa ia egois? Apakah cemburunya berlebihan? Apa ia terlalu kekanak-kanakan hingga mencemburui orang yang memanh butuh bantuan? Entahlah, wanita itu merasa serba salah saat ini.


"Biar Mak yang belikan, yah," ujar Mak Nira.


"Nggak usah, Mak. Cuma depan rumah, kok. Dekat," tolak Bulan.


Padahal, memang Mak Niralah yang selalu berbelanja jika ada kebutuhan, termasuk ketika ingin berbelanja di depan rumahnya. Hanya saja, kali ini Bulan ingin pergi sendiri, ia ingin mengenyahkan rasa cemburunya agar tak mengandap dalam hati yang pada akhirnya dapat mengganggu kestabilan perasaannya.


..


Satu jam kemudian, Nizam berjalan pelan menuju dapur karena perutnya yang keroncongan. Awalnya ia ingin tetap terlihat tidak berdaya di hadapan sang istri, tapi karena Bulan tak kunjung datang lagi untuk menyuapinya makanan, ia akhirnya memutuskan untuk mencari wanita itu.


Apalagi ada rasa bersalah dalam hati Nizam karena telah mengabaikan Bulan tadi, sehingga ia ingin menemui langsung wanita itu untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Mak Nira, di mana Bulan?" tanyanya pada wanita paruh baya yang saat ini sedang mencuci piring.


"Loh, apa Ibu Bulan belum datang? Tadi katanya mau ke toko depan rumah untuk beli sesuatu," ujar wanita itu.


"Ke toko depan rumah?" ulang Nizam dan mendapat anggukan dari Mak Nira. "Sejak kapan?" sambungnya bertanya.


"Sekitar satu jam yang lalu. Maaf, Pak. Saya kira Ibu Bulan sudah datang dan menemani Bapak di kamar," ucap Mak Nira merasa bersalah, tapi kali ini Nizam tak menghiraukan. Ia langsung berjalan cepat, melepas perban yang masih melilit tangan dan kakinya karena menghalanginya bergerak.


Nizam mendatangi toko yang dimaksud Mak Nira, tapi Bulan tak ada di sana. Pria itu kembali mencarinya ke tempat lain di sekitar toko itu, tapi tak juga menemukannya. Dengan rasa cemas, Nizam kembali ke rumah bermaksud untuk menelepon nomor sang istri. Namun, ponsel wanita itu ada di kamar.


Rasa khawatir pria itu semakin bertambah usai menghubungi ibu dan adiknya, serta Mbak Syifa, tapi tak mendapat kabar istrinya dari mereka.


"Astaghfirullah, kamu di mana, Sayang," lirih pria itu tidak tenang di kamar.


Suara ponsel Nizam kini kembali berbunyi. Kali ini nomor tak dikenal yang menghiasi layar ponselnya. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengangkatnya.


"Halo, Pak Nizam." Suara pria terdengar dari seberang telepon.


"Siapa ini?" tanya Nizam.


"Apa kau sedang mencari mantan calon istri dan istrimu?"


Alis Nizam langsung berkerut mendengar perkataan pria itu. "Siapa kau? Di mana mereka?"


Bukannya jawaban yang ia dapatkan, melainkan suara tawa yan .ia dengar kali ini.


"Silakan buka pesan masukmu!" seru pria diseberang telepon.


Nizam langsung membuka pesan masuk sebagaimana arahan pria yang tidak ia ketahui identitasnya. Mata pria itu membola kala melihat dua orang wanita sedang diikat di atas kursi dengan kepala yang tertutupi kain hitam.


Nizam tidak bisa melihat wajahnya, tapi Nizam mengenali pakaian salah satu wanita itu. Jelas sekali itu adalah pakaian yang dipakai sang istri hari ini. Sementara wanita yang satu, ia curuga jika itu adalah Aura.

__ADS_1


"Apa maumu! Lepaskan mereka, Bajing*n!"


-Bersambung-


__ADS_2