
Acara pernikahan antara Nizam dan Bulan telah berakhir ketika langit semakin gelap. Tak seperti pernikahan pada umumnya, sesi salaman antara pengantin diskip oleh Nizam dengan alasan Bulan masih malu-malu. Ia tak ingin orang lain tahu mengenai keadaan sang istri yang sesungguhnya. Bukan karena malu, melainkan ia ingin menjaga perasaannya.
Kedua pengantin itu kini tiba di kediaman Boy sekitar pukul 8 malam. Nizam mengajak Bulan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Ketika berada di dalam kamar, rasa canggung dan gugup seketika menyelimuti pasangan suami istri baru itu.
"Ma-mas Nizam mau mandi? Biar aku siapin air hangatnya dulu, yah," ucap Bulan tergagap tanpa berani menatap mata sang suami.
"Ah, i-iya," balas Nizam singkat seraya menatap kepergian Bulan memasuki kamar mandi. Jangan tanyakan bagaimana keadaan jantungnya saat ini, sudah pasti bagai gendang yang ditabu dengan begitu cepat dan kuat.
Nizam mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur seraya memeriksa beberapa fotonya bersama Bulan yang dikirim oleh Nizwa. Tanpa sadar ia menarik kedua ujung bibirnya menatap satu per satu foto itu.
"Kamu cantik sekali," lirih pria itu memandangi foto sang istri yang sengaja diperbesar. "Tapi, kenapa semakin lama aku melihat wajahmu, aku merasa wajahmu sangat familiar. Apakah kita pernah bertemu jauh sebelum pertemuan kita tahun lalu?" lanjutnya bermonolog.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Nizam refleks meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu menoleh ke arah Bulan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Silahkan mandi, Mas Nizam," ucap wanita itu.
"Iya, terima kasih, yah," balas Nizam lalu segera mengambil baju dan handuknya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Kurang lebih 20 menit Nizam membersihkan dirinya di kamar mandi, kini ia keluar dengan memakai piyama sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Wajah pria itu semakin terlihat tampan dan segar, ditambah aroma tubuhnya yang wangi membuat Bulan semakin salah tingkah dengan menunduk dan memainkan jari-jemarinya.
"Kalau kamu mau mandi, aku sudah mempersiapkan air hangat juga untukmu,"
Nizam hendak menghampiri Bulan. Namun, wanita itu malah melangkah mundur selangkah, lalu berkata, "I-iya, terima kasih, Mas." Dengan langkah cepat, wanita itu berjalan mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Nizam tak tersinggung, ia memaklumi sikap Bulan yang seperti itu. Ia tahu wanita itu masih malu-malu dan canggung dengan keadaan mereka saat ini. Apalagi pernikahan dadakan yang Nizam putuskan tentu membuat siapa pun butuh waktu agar bisa terbiasa, termasuk dirinya sendiri.
Tiga puluh menit berlalu usai aktivitas bersih-bersih. Nizam yang sejak tadi duduk di sofa kini memperhatikan Bulan yang juga duduk di pinggir tempat tidur tanpa melakukan apa pun. Rasanya agak aneh melihat tingkah wanita itu.Tinggal sekamar bersama pria yang ia panggil suami bukan pertama kali baginya, tapi dari gestur tubuhnya seolah apa yang ia alami saat ini seolah adalah hal yang baru pertama kali ia rasakan.
Nizam bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Bulan. Pria itu mengambil posisi duduk tepat di samping sang istri. Diliriknya wanita itu dengan perasaan yang begitu gugup, walau semua kegugupan itu dapat ia sembunyikan dengan sangat baik.
"Apa kamu lapar?"
"Tidak, Mas."
Hening sejenak.
"Apa kamu baik-baik saja jika aku duduk sedekat ini denganmu?"
Bulan tak menjawab. Ia hanya diam mer3mas jemari tangannya yang berada di atas pangkuannya.
"Bulan, sekarang aku suami kamu. Aku akan memperlakukanmu layaknya istri yang sesungguhnya. Aku akan menjagamu dan membuatmu selalu merasa aman. Jadi, kamu tidak perlu takut." Nizam berbicara dengan begitu lembut seraya mengubah posisinya menghadap Bulan.
"Sekarang, tolong kamu jujur. Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa kamu takut berada di dekatku?"
Bulan dengan cepat menggeleng. "Tidak, Mas. Sebenarnya ..., sebenarnya aku merasa aman saat bersamamu, Mas," ucap wanita itu pelan.
Nizam mengulum senyumnya. "Alhamdulillah, lalu bagaimana jika aku menyentuhmu? Aku lihat tanganmu bergetar tadi saat kita bertukar cincin."
Bulan menoleh ke arah Nizam lalu kembali tertunduk. "Tadi saat kamu menyentuh jariku, jantungku seketika berdegup kencang. Rasa takut, cemas, dan gelisah menghampiriku di waktu yang sama. Aku tidak tahu, apakah itu karena refleks traumaku, atau karena gugup."
__ADS_1
Nizam mengangguk pelan merespon perkataan Bulan. "Bagaimana jika aku memeriksanya?"
"Memeriksa?" Wajah Bulan langsung terangkat, hingga tak sengaja kedua manik matanya saling bersirobok dengan manik mata Nizam.
Nizam mengangguk sambil tersenyum. "Seperti ini." Pria itu langsung menggenggam kedua tangan Bulan dengan hati-hati.
Awalnya, semua terasa baik-baik saja, tapi setelah beberapa detik berlalu, tangan Bulan mulai bergetar. Tak hanya itu, wajah yang kini tak ada lagi polesan make up tampak semakin memucat. Air mata wanita itu juga mulai menetes membasahi pipinya, hingga tanpa sadar Bulan menarik tangannya dengan cepat.
"Maaf," ucap Bulan lalu segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.
Nizam yang melihat semuanya hanya bisa membuang napas lesu tak bersemangat. "Sepertinya ini tidak semudah yang aku pikirkan."
..
Malam semakin larut, Nizam masih saja terjaga sambil memandangi Bulan yang tidur di sampingnya walau sedikit berjarak. Setelah saling berdiskusi mengenai kenyamanan sang istri, mereka sepakat untuk tidur di kasur yang sama asal tak ada sentuhan fisik seperti saat ini. Namun, baru saja ia hendak tidur, perhatian pria itu malah teralihkan pada wajah sang istri yang mengerutkan dahi dan keringat yang mulai membasahi pelipisnya.
"Mama ..., papa ...," ucapnya lirih, tapi masih bisa terdengar oleh Nizam.
Nizam bangkit dari tidurnya dan mendekat ke arah Bulan saat wanita itu mulai bergerak gelisah dalam tidurnya.
"Mama ..., papa ..., jangan pergi, Bulan takut."
"Mama ..., papa ..., jangan tinggalkan Bulan sendiri." Suara Bulan semakin terdengar ketakutan.
"Sssst, Bulan, tenanglah, kamu aman sekarang," ucap Nizam sedikit berbisik di dekat sang istri.
"Hiks, hiks."
Nizam semakin dibuat kebingungan ketika melihat Bulan menangis dan sulit dibangunkan. Bagaimana tidak, baru kali ini ia dihadapkan dengan orang yang memiliki gangguan PTSD seperti istrinya.
Tak ingin salah langkah, Nizam akhirnya menghubungi Khaira untuk meminta arahan, walaupun ia masih berada dalam satu rumah dengan sang ibu. Tak ada pilihan lain, ia tak berani meninggalkan Bulan sendiri dalam keadaan seperti itu.
"Jangan panik, Nak. Tetaplah tenang, lalu bangunkan Bulan dengan lembut. Gunakan suara yang tenang dan penuh perhatian. Oh iya, jangan menyentuhanya tiba-tiba karena hal itu dapat memicu respons yang sangat kuat pada Bulan nantinya. Namun, jika memang keadaan mengharuskanmu menyentuhnya, maka lakukan dengan lembut dan perlahan."
"Baik, Bunda. Terima kasih. Maaf sudah mengganggu tidur, Bunda."
"Tidak apa-apa, Nak. Apa Bunda perlu ke kamarmu?"
"Tidak perlu, Bunda. Insya Allah Nizam bisa mengatasinya."
Panggilan berakhir, Nizam yang tadinya sedikit menjauh untuk berbicara dengan sang ibu kini kembali mendekat, lalu berbicara dengan begitu lembut di dekat telinga sang istri.
"Sayang, kamu baik-baik saja sekarang, ada aku yang akan menjagamu. Sekarang bangunlah, agar kamu tahu bahwa saat ini kamu tidak sendiri lagi."
Usaha Nizam kali ini berhasil. Kerutan di dahi Bulan perlahan mulai memudar. Tubuhnya yang tadi bergerak gelisah pun mulai tenang. Suara ketakutan Bulan kini berganti dengan suara dengkuran halus.
Nizam mengembuskan napas lega ketika melihat sang istri kembali tenang dalam tidurnya. Tangan pria itu terangkat mendekati wajah wanita berparas cantik nan teduh itu. Ingin sekali ia menyentuh wajah wanita yang sudah halal untuknya, tapi lagi-lagi ia urungkan.
..
__ADS_1
Waktu kini menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Bulan terbangun oleh rasa haus yang membuat tenggorokannya sedikit kering dan gatal. Ia menoleh ke samping tempat tidur di mana Nizam tidur sebelumnya, tapi tak menemukan pria itu.
Bulan berjalan keluar kamar hendak mencari sang suami yang tak ia temukan disetiap sudut kamar, sekaligus mengambil air minum. Suara denting piring yang terdengar dari arah dapur semakin memperkuat dugaan bahwa suaminya tengah berada di sana.
Dugaan Bulan tepat. Saat ini, Nizam tampak sedang makan seorang diri di meja makan.
"Bulan? Kamu haus?" tanya Nizam usai menelan makanannya ketika melihat kedatangan Bulan.
"Iya, Mas. Mas Nizam kenapa makan jam begini?"
"Aku mau puasa, apa kamu ingin ikut puasa bersamaku?"
"Boleh, Mas."
Bulan kini ikut duduk berhadapan dengan Nizam. Keduanya makan sahur bersama untuk menunaikan puasa sunnah di hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri.
☘☘☘
Satu bulan kini telah berlalu. Nizam membawa Bulan untuk tinggal di rumah baru mereka sehari setelah mereka menikah. Selama satu bulan itu, mereka hidup sebagai suami istri, tapi tak ada sentuhan fisik sama sekali.
Kesabaran dan kebaikan Nizam benar-benar membuat Bulan merasa bahagia. Ditambah kebiasaan sang suami yang rutin melakukan puasa Daud, puasa Ayyamul Bidh, dan puasa senin-kamis, semakin membuat Bulan mengagumi suaminya itu. Meskipun sebenarnya kadang ia merasa kasihan kepada sang suami karena hingga saat ini, ia tak bisa menjalankan kewajiban sebagai istri seutuhnya.
"Hey, Bulan! Melamun aja dari tadi, lagi mikirin suami, ya?" goda Nizwa dengan suara cemprengnya.
Ya, setiap hari sabtu, Nizwa sering datang menemani Bulan di rumah agar tak kesepian di saat Nizam terlambat pulang bekerja.
"Eh, maaf Nizwa," ucap Bulan dengan wajah yang merah merona.
"Ciee, kalau dilihat dari wajahmu, sepertinya kamu sudah mulai jatuh cinta dengan kakakku, iya, 'kan?"
"Kagum aja, kok. Soalnya Mas Nizam rajin banget puasanya."
"Cinta juga nggak papa kali, toh kalian udah halal," celoteh Nizwa, tapi seketika terdiam saat menyadari sesuatu. "Tunggu-tunggu, kamu bilang Kak Nizam rajin puasa?" Bulan mengangguk menjawab pertanyaan Nizwa.
"Ajaib, yah. Padahal sebelum nikah, dia jarang puasa, loh. Paling puasa senin-kamis aja, itu pun kalau sempat."
"Jadi, maksud kamu, Mas Nizam baru rajin puasa setelah menikah?"
"Iya."
Wajah Bulan seketika berubah sendu mendapati fakta itu. Fakta yang menyadarkan wanita itu akan kekurangannya.
☘☘☘
Di tempat lain, seorang wanita berhijab, lengkap dengan masker dan kacamata yang menutupi matanya keluar dari sebuah bus. Senyuman wanita itu tak pernah hilang di balik maskernya saat merasakan aroma udara kota tempat di mana orang yang ia cintai tinggal.
"Aku kembali, Nizam."
-Bersambung-
__ADS_1