
"Bulan, kau ...."
Marcel menunjuk wajah wanita di hadapannya yang kini telah kehilangan tompel akibat tamparan keras yang baru saja ia berikan.
"Iya, aku Bulan," jawab wanita itu sambil tersenyum menantang.
Marcel masih diam mencerna apa yang terjadi. Rasanya ia masih sedikit bingung dengan apa yang ia lihat saat ini, tapi di sisi lain, amarahnya membuncah karena merasa telah dibodohi oleh wanita di hadapannya.
"Kau mengetahui semuanya, Bulan?" Kini Marcel bertanya dengan suara yang penuh penekanan dengan tatapan tajam.
"Iya, aku mengetahui semuanya. Itu sebabnya aku selalu terlihat ketakutan jika bersamamu, tapi bukan karena aku takut sepenuhnya, melainkan aku trauma dengan kejahatanmu. Bayanganmu saat membunuh kedua orang tuaku tepat di depan mata selalu melintas dalam ingatan bahkan dalam mimpi."
Tatapan Marcel mendelik dengan rahang yang semakin terlihat jelas. Kobaran api amarah rupanya semakin menguasai pria itu.
"Ah, iya. Aku lupa mengatakannya, tujuh tahun yang lalu itu, bukan Kak Bintang yang ada di jok kedua mobil, tapi aku. Aku yang menyaksikan dengan jelas bagaimana kamu datang di mobil kami yang mengalami kecelakaan, aku lihat jelas bagaimana kamu membun*h kedua orang tuaku. Padahal setelah kecelakaan, kedua orang tuaku masih hidup, tapi kamu ... kamu malah membun*hnya!" Bulan menunjuk Marcel dengan tatapan benci dan air mata yang mulai berkumpul dipelupuk matanya.
"Yang melihatmu berencana melenyapkan Aura, juga bukan Kak Bintang, tapi aku. Waktu itu, kak Bintang sengaja memintaku bertukar kalung, awalnya aku tidak tahu kenapa, tapi setelah melihat kejadian itu, aku sadar. Sepertinya kak Bintang memiliki firasat buruk tentang ini." Bulan kini memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin Bintang yang ia gunakan sebagai gelang di tangannya.
"Kini aku juga tahu bahwa kamu adalah *******."
Plak
Tanpa ragu-ragu lagi, Marcel kembali menampar Bulan dengan begitu keras. "Dasar wanita bodoh! Harusnya kau diam saja, dengan begitu kau aman. Sepertinya kau memang ingin aku melenyapkanmu sebagaimana aku melenyapkan Bintang."
"Kamu tak akan bisa melenyapkanku karena aku akan bersaksi di hadapan hakim tentang semua ini!" tegas Bulan tanpa rasa takut sedikit pun yang ia perlihatkan.
"Kalau begitu, lebih baik kau pergi saja dari dunia ini!"
Marcel semakin terbakar emosi, ia langsung begerak mengambil pistol yang ada di dalam laci meja. Namun, baru saja ia hendak mengarahkannya kepada Bulan, sebuah tendangan mengenai tangan pria itu hingga pistol yang ia pegang terlepas dan jatuh ke lantai.
"Hey! Kenapa ...." Marcel yang ingin protes tiba-tiba menghentikan perkataannya saat menyadari Nizam kini telah berada di belakangnya.
"Nizam ... Simon! Sejak kapan dia ada di_." Lagi-lagi perkataan Marcel terhenti saat melihat Simon kini telah berada di bawah kuncian Boy.
"Boy?"
..
Tiga hari yang lalu,
"Izinkan aku ikut membantu?"
Nizam, Boy, dan Anton yang saat itu sedang berunding kini menoleh ke arah yang sama di mana Bulan sedang berdiri.
"Bulan? Apa maksudmu?" tanya Nizam seraya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Aku tahu semua kejahatan Marcel. Dari dulu aku ingin bersuara untuk membongkar kejahatannya, tapi aku sendirian dan selalu mendapat ancaman. Psikisku benar-benar terguncang dengan keberadaannya, dan aku ingin dia mendekam dipenjara. Jika kalian ingin aku bersaksi dalam sidang kecelakaan Aura, aku juga siap."
"Tapi bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Nizam lagi, ada sedikit kekhawatiran dalam benak pria itu.
"Aku akan berusaha mengatasinya, Mas."
Nizam kini menatap ke arah Boy dan Anton, meminta persetujuan kepada dua pria itu melalui sirat mata.
"Memangnya kejahatan apa yang dilakukan Marcel hingga mampu kembuat psikismu terguncang, Nak?" tanya Anton penasaran.
"Itu ... Kalian akan tahu nanti."
..
"Ayah, apa aku harus memakai daster ini?" protes Nizam saat melihat dirinya di pantulan cermin sedang memakai daster, dengan rambut gondrongnya yang cepol seperti seorang wanita.
"Tentu saja, Nak. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, kamu harus mendalami peranmu," ujar Boy yang saat ini sedang memakai sarung.
"Tapi bagaimana jika ada pria yang melihatku seperti ini dan malah tertarik padaku? Tapi ... setelah kulihat-lihat, mau jadi wanita pun, aku tetap terlihat sempurna ... Auw." Nizam meringis saat tiba-tiba mendapat jitakan di kepalanya oleh Boy.
"Mulutmu ituloh, Zam! Jangan pernah membayangkan dirimu menjadi wanita, atau pun dilirik olek sejenismu, Allah sungguh sangat membencinya. Lagi pula mau cantik bagaimana pun, akan lebih baik jika kamu menjadi diri sendiri. Ingat! kita seperti ini karena sebuah misi."
"Iya, Ayah. Nizam hanya bercanda tadi," cicit Nizam sambil mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit.
"Sssst, diamlah! Sepertinya mereka sudah datang."
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka perlahan oleh seseorang.
"Bro, sepertinya mereka sedang tidur, apa tetap dibius?" tanya seorang pria berpakaian serba hitam kepada temannya yang juga mengenakan pakaian dengan warna sama.
"Kita bius saja mereka agar tak terganggu jika nanti ada suara teriakan di kamar sebelah," jawab teman pria itu.
"Siap."
Kedua pria itu berjalan mendekati tempat tidur di mana terlihat suami istri sedang tertidur membelakangi mereka, yang satu berdaster, dan yang satu menggunakan kaos dan sarung. Namun, saat posisi mereka semakin dekat, keanehan mulai mereka sadari.
"Bro, ini kenapa dua-duanya punya janggut, yah?"
"Iya, yang istri mana, yang suami mana?"
Masih dengan kebingungan mereka, tiba-tiba dua orang yang tadinya tidur itu langsung bangun dan memberikan pukulan yang sangat keras tepat di hidung dan di antara pundak dan leher mereka, hingga keduanya terjatuh dan tidak sadarkan diri dengan hidung yang berdarah.
"Ya jelaslah, kau tak akan menemukan ibu-ibu di sini, karena kami berdua laki-laki," ujar Nizam seraya melepas dasternya, begitu pun Boy yang melepas sarungnya, lalu bertukar pakaian dengan kedua pria tadi.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, Boy dan Anton telah berhasil mengganti pakaiannya, lalu mengikat kedua pria tadi. Tak lupa mereka memakai masker dan topi agar tak ada yang mengenali mereka, lalu segera menunggu di luar, hingga Simon yang menggendong Bulan pun akhirnya tiba.
..
Marcel terkejut bukan main menyadari jika saat ini ia telah dijebak oleh Bulan dan Nizam, serta Boy. Ada rasa takut yang perlahan menjalar di tubuhnya, membuat pria itu akhirnya melangkah keluar ruangan itu dengan cepat. Ia bermaksud menyuruh anak buahnya untuk melawan. Namun, lagi-lagi kejutan menyambut pria itu di luar ruangan.
"Halo, Ifan. Lama tidak berjumpa." Ujar Anton yang kini berdiri di antara para anak buah Marcel yang tergeletak tak berdaya di lantai.
"Anton, ka-kau ... sudah bebas dari penjara?" tanya Marcel sedikit tergagap.
"Tentu saja, makanya sekarang aku ke sini untuk membawamu masuk penjara," balas Anton tersenyum.
Tak ingin tinggal diam dan menjadi tahanan, Marcel segera berlari ke pintu belakang. Ia sadar akan kemampuan bela dirinya yang tidak sebanding dengan Nizam, Boy, maupun Anton.
Kejutan rupanya belum berhenti sampai di situ. Saat membuka pintu gudang bagian belakang, Marcel tak bisa lagi berkutik saat Diki dan teman polisinya dari kantor pusat sudah menanti kedatangannya.
"Halo, Tuan Ifano Marcellius, kau di tahan atas tuduhan pembunuhan berencana, penculikan, KDRT, dan kelompok *******," tegas Diki seraya memborgol tangan Marcel.
"A-apa? Tidak, itu tidak benar ...."
"Kau bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi, Tuan."
...
Pada waktu yang sama,
"Angkat tangan! Kami sudah mengepung tempat ini!" Seorang polisi bersama beberapa anggota timmya langsung mendobrak pintu rumah yang diduga sebagai tempat pembuatan bahan peledak. Benar saja, ketika penggerebekan itu, proses pembuatan bahan peledak di dalam laboratorium yang berada di rumah itu sedang berlangsung. Bahkan, ada beberapa bahan yang sudah dikemas dan siap untuk dikirim ke kelompok lainnya hari itu.
Polisi kali ini terbagi menjadi beberapa tim. Tim 1 yang di pimpin oleh Diki bekerja sama dengan Nizam untuk menangkap Marcel dan para anggota geng motornya. Tim 2 menggerebek laboratorium pembuatan bahan peledak. Tim 3 menyamar sebagai kelompok yang akan melakukan transaksi pengiriman bahan peledak kepada kelompok lain tersebut di perbatasan kota lalu menangkap mereka semua.
Dalam upaya yang tidak mudah itu, polisi sampai melakukan pengejaran dan mengeluarkan tembakan peringatan untuk memastikan tidak ada yang lolos melarikan diri.
...
Nizam segera menghampiri Bulan yang kini mulai mengeluarkan air matanya. Pria itu membuka ikatan di tangan dan kaki Bulan secara bergantian.
"Bulan, kamu tidak apa-apa? Kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu hebat," puji pria itu. Namun, ia hanya mendapat balasan senyuman tipis dari bibir pucat Bulan. Di detik berikutnya wanita itu pingsan tidak sadarkan diri.
☘☘☘
"Apa? Mereka semua tertangkap dan laboratorium ditutup?"
Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar berseragam tampak sangat murka mendengar kabar itu. Saking marahnya, semua barang yang berada di atas meja kerjanya di sisir rata hingga terjatuh ke lantai.
"Awas kau! Siapa pun yang menghalangi bisnisku akan menerima akibatnya!" desisnya dengan gigi yang saling mengerat.
__ADS_1
-Bersambung-