
Dua tahun yang lalu di sebuah rumah makan,
"Bintang? Kamu di sini juga?" sapa Aura begitu ramah saat melihat wanita yang sangat ia kenali duduk di sampingnya.
"Kak Aura? Masya Allah, kita ketemu di sini! Iya aku lagi istirahat makan malam, sekalian mau belikan makanan favorit Bulan," kata Bintang tak kalah ramah.
"Iya, aku juga lagi makan malam, kebetulan tadi seseorang yang pernah menjadi pasienku ingin berkonsultasi kembali, katanya dia agak kesulitan kalau mau ke rumah sakit, makanya aku yang ke sini. Tapi, sampai sekarang nggak kelihatan batang hidungnya."
"Mungkin masih di jalan kali, Kak."
"Tapi aku sudah satu jam, loh, duduk di sini," kata Aura mulai kesal.
Mereka terus bercerita sambil menikmati makan malam mereka. Hingga makanan mereka habis, pasien yang meminta Aura ke rumah makan itu tak kunjung datang, bahkan saat Bintang pamit pergi lebih dulu pun, orang itu belum datang juga.
Aura yang sudah bosan dan lelah akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia berjalan keluar dari rumah makan itu dan langsung memasuki mobilnya. Namun, belum lama masuk, wanita itu kembali keluar ketika melihat Bintang tengah berusaha mendorong motor buntutnya keluar dari tempat parkir.
"Bintang, motor kamu kenapa?" tanya Aura seraya menghampiri Bintang.
"Ban belakangnya tiba-tiba kempes, Kak. Aneh banget, padahal pas parkir tadi bannya baik-baik saja, mana bengkel jauh lagi."
"Ya udah, kamu naik mobilku aja, nanti aku suruh orang untuk membawa motormu ke bengkel," ujar Aura menawarkan.
"Nggak usah, Kak. Takut merepotkan nanti," tolak Bintang dengan sopan.
"He eleh, kayak orang lain aja kamu. Nanti kamu telat pulang, kasihan Bulan kelaparan."
Bintang tampak berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk setuju.
Aura mulai melajukan mobilnya menuju rumah Bintang. Kebetulan ia sudah pernah satu kali ke rumah wanita itu karena ada urusan. Namun, selama perjalanan, ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal, bau asap mulai mengganggu indera penciumannya, hingga ia memutuskan untuk menghentikan mobil dan memeriksa keadaan.
"Bintang, aku periksa mobilku dulu, yah," ujar Aura lalu membuka pintu mobil dan keluar. Akan tetapi, belum juga ia menutup kembali pintu mobilnya, sebuah ledakan dari mobilnya tiba-tiba membuat wanita itu terpental jauh dengan lula bakar yang mengenai sebagian wajah dan tubuhnya.
"Bintang!" teriak Aura sekuat tenaga sambil manahan sakit. Ia benar-benar mengkhawatirkan Bintang yang masih berada di dalam mobil ketika ledakan terjadi. Entah bagaimana keadaannya saat ini, ia sungguh tak tahu. Akibat luka yang ia derita, Aura akhirnya jatuh pingsan.
Tak lama setelah itu, para pengendara lain menemukan mobil Aura yang terbakar dan langsung menghubungi ambulans. Bintang dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan yang mengenaskan sementara Aura tak di temukan. Satu jam kemudian, barulah Aura ditemukan oleh seorang petani yang baru saja menjual hasil panennya di kota. Dengan mobil tuanya, ia membawa Aura kembali ke desa untuk ia rawat dengan cara tradisional karena ia.m tidak tahu letak rumah sakit di kota itu, sementara jalanan sudah semakin sepi.
__ADS_1
...
Dua tahun kemudian,
"A-aura, kamukah itu, Nak?" Silfi yang baru saja membuka pintu tampak begitu terkejut saat menyadari tamu yang tadi mengetuk pintu sangat mirip dengan putrinya.
Air mata lantas menetes membasahi kedua pipi wanita paruh baya itu. Perlahan ia melangkah mendekati wanita muda yang berdiri di hadapannya. Sama seperti dirinya, wanita muda itu juga meneteskan air mata sambil berucap pelan memanggilnya dengan sebutan "Ibu."
Ada rasa tak percaya sekaligus rasa bahagia di antara mereka. Setelah hampir dua tahun berpisah, di mana Aura dinyatakan meninggal, dan keluarga pun telah belajar ikhlas, kini mereka kembali di pertemukan. Tak bisa dielakkan, cerita penuh haru dan air mata pun mewarnai kediaman mereka.
Usai pertemuan itu, Aura memutuskan untuk bertemu dengan direktur utama rumah sakit tempat ia bekerja. Awalnya rumah sakit dibuat gempar dengan kedatangannya, tapi setelah wanita itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya, semua orang akhirnya paham.
Aura kembali bekerja di rumah sakit hampir seminggu lamanya. Selama itu pula, ia selalu menyanyakan keadaan Nizam, tapi kedua orang tuanya memilih tak menjawab. Sebaliknya, mereka meminta Aura untuk melupakan pria itu.
Hal itu tentu membuat Aura semakin penasaran terhadap Nizam. Hingga tiba-tiba ia diminta oleh direktur utama rumah sakit untuk mewakilinya dalam kegiatan para dokter yang diselenggarakan di kota B. Tentu itu adalah hal yang tak ingin disia-siakan oleh Aura. Kini ia memiliki alasan untuk bisa mengunjungi kota B atas izin kedua orang tuanya.
"Assalamu 'alaikum," ucap Aura seraya mengetuk pintu sebuah rumah yang dulu menjadi tempatnya bermain.
"Wa'alaikum salam." Terdengar sahutan dari dalam rumah itu. Beberapa detik kemudian, pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita yang lebih muda darinya sedang berdiri mematung, tanpa suara dan raut wajah terkejut sangat terlihat jelas di sana.
"Iya, silahkan,' jawab Nizwa refleks. Otaknya sedang bekerja keras memikirkan apa yang baru saja ia lihat saat ini.
Sempat Nizwa mengira jika Aura adalah halusinasinya di sore hari. Namun, suara wanita itu yang disertai jabatan tangan semakin membuatnya sadar bahwa itu adalah nyata, tetapi bagaimana bisa orang yang sudah dinyatakan meninggal waktu itu tiba-tiba muncul di hadapannya?
Nizwa menggelengkan kepalanya cepat saat ia mulai tersadar dari lamunan. Namun, ia tak lagi menjumpai Aura di hadapannya karena wanita itu telah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Sebagaimana keterkejutan yang diperlihatkan Nizwa, ekspresi yang sama pun tengah ditampakkan oleh Khaira maupun Boy yang sedang beristirahat di ruang keluarga. Tatapan kebingungan mereka akhirnya membuat Aura menceritakan kejadian yang sebenarnya, hingga membuat mereka kemudian percaya dan mengerti.
"Oh iya, Nizam belum pulang, yah?" tanya Aura tiba-tiba.
Boy, Khaira, dan Nizwa kini saling menatap dan berdikusi melalui sirat mata. Mereka tidak tahu harus menjelaskan seperti apa keadaan saat ini kepada Aura. Rasanya lidah mereka seketika kelu, berbicara pun rasanya sulit.
"Kenapa diam, Om, Tante, Nizwa?"
Lagi-lagi ketiga orang itu saling bertatapan tanpa suara sedikit pun.
__ADS_1
"Em, begini, sebentar lagi Kak Nizam akan datang, Kak Aura bisa langsung menyanyakan kabar kepadanya," ujar Nizwa kemudian karena merasa terpojok oleh tatapan kedua orang tuanya yang seolah meminta wanita itu untuk berbicara.
"Oh, baiklah kalau begitu. Sambil menunggu Nizam, Aura izin ke belakang dulu sebentar yah, ada yang ingin Aura lihat."
☘☘☘
Suasana di ruangan itu seketika terasa kaku ketika Nizam telah tiba di ambang pintu. Pasokan udara pun rasanya berkurang dan terasa pengap. Itu dirasakan oleh Boy, Khaira, dan Nizwa. Namun, berbeda dengan Aura yang justru tampak begitu bahagia melihat kedatangan pria yang masih ia anggap sebagai calon suaminya hingga saat ini.
"Nizam, aku sangat bahagia bisa melihatmu lagi, padahal aku sempat berpikir tidak akan bisa melihatmu lagi," ujar Aira tersenyum dengan mata yang berembun lalu menghampiri Nizam.
Sama halnya dengan Aura, kedua netra Nizam pun terasa perih, seolah air mata sedang mendesak ingin keluar, tapi sayangnya itu bukan lagi hal yang tepat untuk saat ini. Perasaan yang ia rasakan pun kini serba salah.
Jujur ia begitu bahagia melihat Aura berada di hadapannya, tapi di sisi lain, ia juga merasa bersalah kepada Bulan jika membiarkan perasaannya berkembang.
"Nizam, bagaimana kabarmu? Aku me_." Perkataan Aura terputus ketika menyadari Bulan berdiri di belakang pria itu.
"Bulan? Kamu Bulan, 'kan?" Aura yang langsung mengenali Bulan karena wajahnya yang hampir sama persis dengan Bintang berjalan menghampiri wanita lalu memeluknya sambil menangis. "Maafkan aku, karena menaiki mobilku, kakakmu meninggal. Aku benar-benar merasa bersalah karena itu."
Tubuh Bulan bergetar mendengar perkataan Aura. Air matanya bahkan kini meleleh membasahi pipi bagai anak sungai yang mengalir deras. Wanita itu tak kuat membalas pelukan karena tubuhnya seketika terasa lemas.
Bulan telah mendengar kabar kematina kakaknya beberapa jam lalu, tapi etap saja rasanya begitu menyakitkan. Bulan saat ini menangis, tapi ia menahan suaranya agar tak terdengar oleh siapa pun di sana.
Semuanya kini berpindah ke ruang keluarga, baik Khaira, Boy, maupun Nizwa, semua memberi dukungan kepada Bulan agar kuat dan tabah menerima fakta mengenai sang kakak usai Aura menceritakan kembali kejadian yang sebenarnya.
Sementara itu, tanpa merasa janggal sedikit pun dengan keberadaan Bulan di rumah itu, Aura kini mengajak Nizam menuju halaman belakang rumahnya di mana barang yang pernah mereka kubur masih utuh di sana.
"Aku tidak menyangka, kamu benar-benar setia menungguku, Zam. Tadinya aku sempat mengira kamu sudah menikah hingga mama dan papa memintaku untuk melupakanmu. Tapi setelah melihat barang kita yang masih utuh, aku semakin yakin jika kamu belum bisa melupakanku." Aura tersenyum sambil menunjuk ke arah bagian belakang gazebo tempat mereka dulu menyimpan barang istimewa.
Perkataan Aura benar-benar telah menohok hati Nizam kali ini. Bagaimana tidak? Jangankan setia hingga saat ini, baru beberapa bulan setelah pengumuman kematian Aura, hati pria itu telah terpaut pada wanita lain.
"Kamu tahu, Zam. Selama aku menjalani pemulihan, aku selalu memikirkanmu. Bahkan hingga saat ini, aku masih menganggap kamu sebagai calon suamiku." Aura menghentikan perkataannya sejenak lalu menatap ke arah Nizam.
"Zam, aku ingin kamu menikahiku secepatnya, kalau perlu besok saja. Aku takut jika menundanya, masalah baru akan muncul seperti waktu itu."
-Bersambung-
__ADS_1