Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 39


__ADS_3

Seorang pria bertubuh besar dan tinggi lengkap dengan baju seragam, berjalan menyusuri lorong kantor polisi. Langkah pria itu terhenti di depan sebuah ruangan khusus bagi tahanan yang ingin bertemu dengan kerabat yang menjenguk agar privasinya terjaga.


Di ruangan itu rupanya sudah menunggu seorang pria berjambang dengan baju khas tahanan.


"Bos, lama tidak berjumpa," ucap pria berjambang itu seraya menunduk sopan memberi hormat.


"Duduk, Marcel! Sudah cukup aku mendiamkan diriku selama lebih satu tahun agar tak ada yang curiga. Sekarang aku ingin memberi pelajaran kepada mereka bertiga," ujar pria berseragam itu.


"Mereka bertiga?" ulang Marcel bertanya.


"Aura, Bintang, dan Nizam, si pengkhianat itu. Gara-gara mereka bisnisku ditutup."


Dia adalah Robert, bos dari bisnis bahan peledak yang selama ini mereka selundupkan ke luar kota. Jika dilihat sekilas, apa yang mereka simpan itu seperti narkoba. Namun, fakta yang tersimpan itu ternyata jauh lebih besar dari yang dikira.


"Maaf, Bos. Tapi Bintang sudah mati, yang ada itu Bulan, adik kembar Bintang.


"Aku tidak peduli, yang jelas mereka semua harus menerima akibatnya."


☘☘☘


Di rumah sakit, Bulan sedang berusaha keras menjadi istri yang baik meskipun sangat sulit. Efek sentuhan yang ia rasakan ketika sedang sadar rupanya sangat berbeda ketika ia tidak sadar dalam artian gerakan refleks.


Seperti saat ini, Bulan sedang menyuapi Nizam sarapan pagi karena tangan kanan pria itu cedera. Namun, bukan itu yang membuatnya merasa kesulitan, melainkan tingkah Nizam yang tak pernah melepaskan pandangan darinya sehingga membuat wanita itu panas-dingin tak menentu.


Ditambah Nizam yang sesekali mencuri sentuhan di wajah atau tangan Bulan membuat jantungnya ketar-ketir serasa ingin melompat keluar. Belum lagi rasa cemas dan tegang yang berusaha ia pendam tiap sentuhan itu terjadi, pada akhirnya membuat wanita itu berusaha melepaskan diri.


Ya, semenjak Nizam merasakan sentuhan dan pelukan Bulan untuk pertama kalinya dua hari lalu, rasa penasarannya benar-benar terpancing hingga selalu ingin menyentuh sang istri lagi dan lagi, meski hanya sebatas tangan dan wajah.


"Maaf, Mas. Bisa nggak, tangannya anteng dikit kalau lagi makan?" ujar Bulan seraya menarik tangannya pelan dari genggaman sang suami.


"Kenapa? Bukannya kemarin kamu memelukku? Itu lebih luas, loh, cakupannya dibanding tangan ini!" protes Nizam.


"Iya, maaf, Mas. Aku belum terbiasa. Kemarin itu gerakan refleks aja makanya pas sadar, ya langsung lepas," balas Bulan tak enak hati.


"Padahal aku bahagia sekali mendapat pelukan darimu kemarin. Mungkin sebaiknya kamu harus berusaha membuat tubuhmu terbiasa agar respon negatifnya bisa berkurang," kata Nizam mengusulkan.


"Nggak semudah itu, Mas. Aku sudah berusaha megulanginya lagi dari kemarin, tapi susah."


"Ck, apa aku harus terluka dan pingsan dulu agar kamu bisa memelukku lagi?" Nizam kini memanyunkan bibirnya lalu membuang muka dari Bulan, berharap sang istri luluh.

__ADS_1


"Jangan, Mas. Aku khawatir jika kamu seperti kemarin." Kali ini Bulan berbicara sambil menatap manik mata sang suami. Sorot matanya memperlihatkan kejujuran dan kekhawatiran yang memang nyata. Hal itu membuat Nizam tak jadi meamnyunkan bibir dan sebaliknya, ia justru menarik ujung bibirnya membentuk lengkungan.


Keduanya saling menatap dalam, merasakan desiran hati dan degupan jantung yang semakin cepat, tapi begitu indah. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, aku sangat bahagia, Bulan."


"A-aku juga, Mas. Tolong bersabarlah sebentar lagi."


Nizam mengangguk dengan senyuman tanpa berbicara lagi. Ia berusaha menunjukkan bahwa betapa sayang dan peduli dirinya kepada wanita itu meski tak melalui kata-kata.


"Insya Allah. Oh, iya, bagaimana jika kita ketemu dengan dokter Nita, kamu bisa konsultasikan perkembangan psikismu saat ini."


"Aku maunya ditemenin sama kamu."


"Ya, udah. Ayo!"


"Emang boleh?" Bulan memandangi salah satu kaki Nizam dan lengannya yang dipasangkan gips.


"Bolehlah, 'kan udah ada kursi roda." Nizam menunjuk ke arah sudut ruangannya di mana sebuah kursi rosa telah standby di sana sejak kemarin.


Bulan akhirnya setuju, mereka ingin kembali berkonsultasi kepada dokter psikiater yang kebetulan berada di rumah sakit sama. Wanita itu membantu sang suami berpindah tempat dengan susah payah karena harus menekan reaksi yang lagi-lagi muncul walau tidak separah reaksi yang dulu ia rasakan kala pertama kali pria itu menyentuhnya.


Ketika Bulan membuka pintu kamar dan hendak mendorong sang suami keluar, seorang wanita berhijab tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Aura?" ujar Nizam ketika melihat Aura yang tampak semakin kurus di depannya.


"Tidak apa-apa. Jangan memaksakan dirimu menjenguk orang sakit jika kamu juga sakit, istirahatlah dulu," balas Nizam.


"Aku sudah baikan, Zam." Aura melirik sekilas ke arah Bulan, lalu kembali menatap Nizam. "Kamu mau kemana, Zam?" lanjutnya bertanya. Wanita itu sama sekali tidak menyapa atau memedulikan keberadaan Bulan di sana.


"Mau ke ruangan dokter Nita. Bulan mau bertemu dengannya," jawab Nizam.


"Oh, yang dokter PSIKIATER itu?" tanya Aura menekan perkataannya dengan sengaja untuk menyindir Bulan, tapi tak mendapat respon dari Nizam kali ini.


"Sini! Biar aku yang dorong kamu." Aura dengan cepat menggeser tubuh Bulan yang berada di belakang, lalu mengambil alih kursi roda Nizam


"Biar aku aja, Kak," protes Bulan tak terima.


"Nggak papa, aku, 'kan sahabatnya," ujar Aura tetap keras kepala tak ingin bergeser.


"Tapi aku ISTRINYA." Bulan kali ini menekan perkataannya karena mulai kesal dengan sikap Aura. Dan tentu saja hal itu cukup berhasil sebab wanita yang tadinya hendak melangkah lebih dulu seketika diam tak berkutik.

__ADS_1


"Aura, sebaiknya kamu tunggu di sini saja, biar kami berdua yang pergi," tegas Nizam lalu meminta Bulan untuk mendorong kembali kursi rodanya meninggalkan Aura yang kini semakin dibakar api cemburu.


...


"Alhamdulillah, jika ceritanya demikian, Ibu Bulan bisa belajar membuat diri Ibu merasa terbiasa dengan sentuhan suami, hal itu bisa menjadi langkah positif dalam pemulihan. Namun, perasaan tegang atau cemas yang kadang masih ada jika melakukannya dalam keadaan sadar itu juga adalah hal yang wajar, jadi tetap berpikiran positif bahwa Ibu pasti akan sembuh," jelas dokter Nita membuat Bulan dan Nizam tersenyum pernuh haru.


"Oh iya, walaupun perkembangan Ibu Bulan sudah semakin membaik, penting diingat bahwa pemulihan dari PTSD adalah proses yang berkelanjutan, dan perasaan tersebut dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, dukungan, pemahaman dari Pak Nizam sebagai suami sangat dibutuhkan. Jangan mentang-mentang Ibu Bulan udah bisa disentuh sedikit-sedikit Pak Nizam udah merencanakan ini-itu. Jadi, Pak Nizam mohon bersebar, insya Allah sebentar lagi, kok," sambung dokter itu seraya menahan tawa ketika menyadari wajah pria itu berubah merah merona menahan malu.


"Iya, Dok. Insya Allah kami akan terus rutin melanjutkan pengobatan ini sampai istri saya benar-benar dinyatakan sembuh," ucap Nizam kemudian.


☘☘☘


Sementara itu, di kamar rawat Nizam, Aura mulai gelisah menunggu. Wanita itu terus saja mondar-mandir di dalam ruangan tersebut sambil menggerutu, "Kenapa mereka lama sekali?"


Beberapa kali ia melirik arlojinya sambil berdecak kesal, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang lebih dulu. Aura berjalan dengan langkah cepat meninggalkan rumah sakit menuju pinggir jalan untuk mencari taksi.


"Bro, bukankah dia wanita yang ada di dalam foto ini?" tanya seorang pria dengan jaket ojek online yang kebetulan sedang mangkal di dekat rumah sakit.


"Benar, itu dia," jawab temannya.


"Kalai begitu cepat hubungi, Bos. Katakan bahwa kita sudah menemukannya di kota B."


-Bersambung-


Untuk yang bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba ada tokoh baru. Sebelumnya Author mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. kemarin Author merevisi cerita dari bab 1-20. Tidak banyak, dan tidak merubah keseluruhan isi cerita. Hanya saja konfliknya sedikit ditambah atas permintaan editor.


Agar tidak pusing, Author beri cuplikan bab yang berhubungan dengan bab ini dan sudah mengalami revisi.


Bab 7




Bab 9



Bab 10

__ADS_1




__ADS_2