
Di sebuah gedung dengan lantai bertingkat, seorang wanita berhijab berjalan menuju meja resepsionis sambil menenteng sebuah tas berisi kotak makan. Raut wajah wanita itu sedikit gugup dan tegang, tetapi berhasil ditutupi dengan senyuman ketika berhenti di hadapan petugas resepsionis.
"Assalamu 'alaikum, Bu. Maaf, ruangan Pak Nizam di mana, yah?" tanya Bulan dengan sopan.
"Maaf, ada keperluan apa kalau boleh tahu? Apa sudah buat janji sebelumnya?"
"Saya mau membawakan makan siang untuk Pak Nizam."
"Makan siang?" Wanita di hadapan Bulan itu tampak mengerutkan dahi dan memandangi Bulan dengan tatapan heran.
"Iya, apa salah jika saya membawakan suami saya sendiri makan siang?" Pertanyaan Bulan kali ini berhasil membuat petugas wanita itu terkejut bukan main.
"Astaghfirullah, maaf, Bu. Saya tidak tahu. Mari saya antarkan langsung ke ruangan Pak Nizam," ucap wanita itu lalu segera mengajak Bulan untuk mengikutinya.
Bulan tak mempermasalahkan hal itu. Ia memaklumi karena ini adalah pertama kali baginya menginjakkan kaki di kantor sang suami. Apalagi setelah bercerita ringan, ia tahu jika petugas wanita itu adalah pegawai baru, sudah pasti tidak hadir dalam acara pernikahannya.
"Itu ruangan Pak Nizam, Bu," ucap wanita itu seraya menunjuk sebuah ruangan yang di depanya terdapat sekat tempat meja kerja sekretaris Nizam.
"Baik, terima kasih."
Petugas resepsionis itu kemudian pergi meninggalkan Bulan seorang diri. Sekretaris Nizam pun tidak berada di tempatnya saat ini sehingga bagian depan ruangan itu terkesan cukup sepi.
Bulan berjalan perlahan mendekati pintu yang tidak tertutup sempurna itu. Barulah terdengar suara wanita samar-samar dari dalam ruangan milik sang suami.
"Zam, aku tahu kamu memiliki rasa simpati dan kasihan kepada Bulan. Tapi memutuskan menikah dengannya karena hal itu justru tidak baik untuknya. Apa yang kamu lakukan itu bisa menjadi bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak dan semakin melukainya."
Degh
Jantung Bulan seketika berdebar kuat usai mendengar perkataan wanita di dalam sana. Tangannya refleks menutupi mulutnya agar tak mengeluarkan suara apa pun akibat air mata yang mulai memenuhi pandangannya.
Tangan yang tadinya sudah memegang gagang pintu kini bergetar dan terlepas. Wanita itu melangkah mundur dan tak ingin meneruskan langkahnya masuk menemui Nizam. Baru saja ia hendak mengenyahkan dirinya dari depan ruangan itu, suara sang suami terdengar berbicara dari dalam.
"Aku tidak menikahinya karena rasa simpati apalagi kasihan. Aku menikahinya murni karena aku mencintainya dengan tulus," kata Nizam dengan nada tegas.
"Zam! Bisa-bisanya kamu begitu gamblang mengakui perasaanmu pada wanita lain di hadapanku? Ingat, Zam! Aku ini pernah menjadi calon istrimu, setidaknya kamu menjaga perasaanku," sanggah Aura dengan suara yang mulai terdengar bergetar.
"Maaf, Aura. Bukannya aku ingin menyakitimu, tapi aku harus menjelaskannya agar kamu tidak salah paham tentang alasan aku menikahi Bulan."
"Tapi apa kamu sanggup menjalani pernikahan dengannya? Bukankah sampai detik ini kamu belum pernah menyentuhnya?"
"Aura!" Suara Nizam terdengar mendinggi di dalam ruangan itu.
"Kenapa? Kamu tersiksa, 'kan, Zam? Kamu itu pria normal yang memiliki kebutuhan biologis. Apa artinya sebuah pernikahan jika kamu harus menahan hasratmu sendiri?" Aura menghentikan perkataannya sejenak.
"Awalnya aku berniat untuk membesarkan hatiku menerima takdir Allah, tapi ketika mengetahui kondisi Bulan, aku menjadi tidak tega denganmu, Zam," lanjut Aura dengan suara pelan.
"Ibu Bulan? Kenapa berdiri di situ? Pak Nizam ada di dalam, kok?" Bulan terperanjat ketika Dion-sekretaris Nizam datang dan menyapanya.
__ADS_1
"Ah, tidak, Pak. Saya ..., saya hanya ingin menitipkan makan siang untuk Pak Nizam saja. Saya tidak ingin mengganggu pekerjaannya." Bulan memberikan tas berisi kotak makanan itu pada sang sekretaris, lalu segera berjalan meninggalkan tempat itu. Namun, belum jauh ia melangkah, Nizam memanggil namanya.
"Bulan!"
Bulan menghentikan langkah kakinya, tapi tak langsung berbalik sehingga membuat Nizam datang menghampirinya.
"Kenapa pergi? Ayo makan siang bersama," ajak pria itu dengan suara lembut di depan Bulan.
"Aku tidak ingin mengganggu kerjamu, Mas."
"Aku tidak terganggu jika itu kamu, Sayang. Lagipula ini sudah masuk jam makan siang, aku ingin makan siang bersamamu."
"Tapi, Mas. Kamu dan Kak Aura sedang bicara, aku tidak ingin mengganggu."
"Tidak, Sayang. Ikutlah denganku!" Nizam hendak meraih tangan Bulan, tapi langsung tersadar dan mengurungkan niatnya. Sebagai gantinya, pria itu menarik kain lengan baju Bulan agar wanita itu tetap merasa nyaman. Awalnya Bulan sempat terperanjat dengan jantung yang berdebar ketika Nizam menarik kain bajunya, tapi lama-kelamaan hati wanita itu menjadi tenang.
Nizam membawa Bulan masuk ke dalam ruangannya. Aura yang melihat kedatangan Bulan langsung berdiri menyambut wanita itu dengan senyuman ramah.
"Bulan, kamu datang rupanya," ucap Aura basa-basi.
Bulan hanya tersenyum menanggapi sapaan Aura. Ia kemudian duduk di samping Nizam, sementara Aura tidak kembali duduk dan justru mengambil tasnya.
"Sebaiknya aku pergi dulu, aku ada janji temu dengan teman siang ini," ucap Aura pamit.
"Kak Aura, kita makan siang dulu, yah!" ajak Bulan.
Bulan hanya bisa tersenyum dan memandangi kepergian Aura hingga hilang dibalik pintu, meski senyuman itu terkesan dipaksa. Sejujurnya ada rasa takut dalam hatinya terhadap Aura. Terlebih ketika mendengar perkataan wanita itu tentang kebutuhan sang suami yang belum bisa ia penuhi, membuah hati wanita itu menjadi resah.
"Sayang? Kamu baik-baik saja?" tanya Nizam seketika menyadarkan Bulan dari lamunannya.
"Baik, Mas," ucap wanita itu lalu segera menyajikan makanan yang dibawa Dion tadi ke atas meja.
Setelah kepergian Aura tadi, Arfan pun ikut pamit keluar. Kini di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Suasana canggung pun mulai terasa di antara mereka.
"M-Mas ...."
"Bulan ...."
Keduanya saling bertatapan kala perkataan mereka terucap bersamaan.
"Kamu aja dulu, Mas."
"Kamu duluan saja, Sayang."
Lagi-lagi mereka berkata pada waktu yang bersamaan, hingga membuat Nizam tak bisa menahan senyumnya, dan Bulan tertunduk malu.
"A-aku mau minta maaf, Mas," cicit Bulan dengan suara pelan.
__ADS_1
"Minta maaf kenapa? Kamu tidak salah, kok," balas Nizam.
"Tidak, Mas. Aku banyak salah sama kamu. Aku sudah merepotkanmu dengan gangguanku ini, aku juga membuat jarak denganmu sejak beberapa hari terakhir, dan aku ...." Perkataan Bulan terputus. Ia merasa lidahnya seketika kelu untuk mengucapkan kalimat terakhirnya.
Wanita itu menatap sejenak sang suami yang masih bersabar menunggu kelanjutan perkataannya. "Maafkan aku karena belum bisa mememuhi kewajibanku sebagai istri," lanjut wanita itu.
Nizam tersenyum seraya menatap manik mata Bulan lekat-lekat. Jika saja bisa, ingin sekali pria itu menggenggam tangan sang istri, tapi untuk saat ini semuanya bagai memeluk rembulan, sulit.
"Pertama, aku tidak pernah merasa direpotkan oleh kamu. Semua yang kulakukan sudah menjadi tugasku sebagai suami, dan aku menikmati semua proses itu. Kedua, aku memaklumi alasanmu membuat jarak, itu semua karenaku, makanya akulah yang seharusnya meminta maaf padamu. Dan yang ketiga, mengabdikan diri kepada suami dengan patuh dan mengurus keperluan suami demi mendapat ridho, semua sudah kamu lakukan dengan baik, Sayang," ucap Nizam.
"Bukan, Mas, ini tentang ...." Bulan tak melanjutkan perkataannya, ia sendiri merasa tidak enak untuk mengatakannya.
"Tentang kebutuhan biologisku?" Nizam memperjelas maksud Bulan hingga membuat wanita itu tertunduk sendu.
"Kamu tidak usah pikirkan itu, aku baik-baik saja. Aku ini pria yang kuat menahan diri. Fokuslah pada kesembuhanmu dulu, aku akan bersabar menunggumu," sambungnya.
Bulan mengangkat wajahnya menatap wajah tampan suaminya. Walaupun ia percaya apa yang dikatakan suaminya tidaklah bohong, wanita itu tetap merasa gelisah dan takut.
"Lalu, apa kamu masih akan tetap menjaga jarak denganku? Menungguku tidur dulu baru masuk ke kamar? Makan denganku dengan jarak yang agak jauh?" cecar Nizam dengan senyuman tipisnya.
"Insya Allah, aku akan berusaha melawan rasa takutku, Mas," jawab Bulan.
"Alhamdulillah, terima kasih, Sayang. Oh iya, mulai saat ini, apa pun yang kamu tidak suka atau pun kamu suka, tolong katakan padaku agar kejadian kemarin tidak terulang lagi."
"Iya, Mas."
Keduanya saling melempar senyuman, lalu mulai menikmati makan siang mereka dengan hati yang lega karena telah berhasil mengatakan apa yang menjadi tujuan mereka hari ini.
☘☘☘
Hari demi hari berlalu, tahap demi tahap terapi pun dijalani Bulan secara teratur dengan selalu di dampingi Nizam. Kemajuan pun mulai terlihat dalam perkembangannya.
Ya, kini kualitas tidur Bulan di malam hari semakin membaik. Mimpi buruk yang sering mengganggunya dulu mulai memudar perlahan. Kalau pun mimpi itu muncul, hanya lewat sekilas dan tidak sampai membuat Bulan mengigau lagi. Tentu itu adalah hal yang disyukuri oleh Bulan, apalagi Nizam. Kini harapan pria itu akan kesembuhan sang istri semakin besar.
Hari ini, Bulan sedang membersihkan kamar tidurnya usai mengantar kepergian Nizam ke kantor. Saat membereskan meja kerja sang suami, ia tak sengaja menemukan beberapa buku yang membahas terkait gangguan psikologis seperti dirinya.
Hati wanita itu semakin tersentuh melihat usaha sang suami. Pria itu semakin memperhatikan segalanya dengan teliti termasuk apa yang baik dan tidak baik untuk kesehatan psikologisnya.
Tok tok tok
Bulan seketika tersadar dari pikirannya ketika suara Mak Nira memanggilnya. Wanita itu segera merapikan buku-buku Nizam lalu berjalan menuju pintu kamar dan membukanya.
"Maaf, Bu. Ada tamu di depan," ucap Mak Nira.
"Siapa, Bu? Bunda atau Nizwa?"
"Bukan, Bu. Dia barusan datang ke rumah ini, jadi saya tidak mengenalnya."
__ADS_1
-Bersambung-