
"Aku berangkat dulu, yah, Sayang. Nanti siang aku akan datang jemput kamu untuk berobat," ucap Nizam, lalu mengulurkan tangannya ke arah Bulan saat berada di teras depan rumah. Namun, karena Bulan hanya melihat tangannya tanpa berani menyambut, membuat pria itu kembali menarik tangannya.
"Maaf, Sayang. Aku lupa lagi," ucap Nizam mengulum senyum maklum. "Kalau begitu aku pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa langsung telepon aku. Assalamu 'alaikum," lanjut pria itu pamit.
"Wa'alaikum salam, hati-hati, Mas!" Bulan hanya bisa melambaikan tangannya pada Nizam yang kini telah memasuki mobil.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah menuju kantor. Pagi ini Arfan mengatakan bahwa akan ada meeting dengan rekan bisnisnya, sehingga ia harus datang lebih cepat ke kantor. Setelah itu barulah ia menjemput Bulan untuk berobat.
Dua jam berlalu di dalam ruangan Nizam. Meeting akhirnya selesai dengan kesepakatan baru yang tentunya akan saling menguntungkan. Pria itu kini membereskan meja kerjanya dan bersiap-bersiap kembali pergi usai kepergian rekannya tadi.
"Mau, kemana, Bos? Kenapa kau terlihat buru-buru?" tanya Arfan yang saat ini masih duduk di sofa sambil membereskan beberapa berkas meeting.
"Aku harus segera pulang, hari ini jadwal berobat Bulan. Tolong ambil alih sementara pekerjaanku, jika ada yang ingin bertemu, minta padanya untuk datang kembali esok hari." Nizam mengambil tasnya lalu segera berjalan menuju pintu.
"Bos, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Nanti saja, aku buru-buru."
"Ini tentang Aura."
Langkah kaki Nizam tiba-tiba terhenti, begitu pun tangan yang tadinya hendak menarik gagang pintu, seketika tak bergerak. Pria itu membalikkan tubuhnya menatap Arfan dengan alis yang berkerut penuh tanda tanya.
"Aku memiliki teman yang bekerja di rumah sakit tempat Aura dulu bekerja. Kemarin rumah sakitnya gempar karena kedatangan wanita yang sangat mirip dengan Aura, tidak, kedatangan Aura lebih tepatnya karena dia mengaku seperti itu," jelas Arfan.
"Apa maksudmu? Bukankah waktu itu dokter jelas mengatakan bahwa Aura telah meninggal?"
"Makanya aku meminta temanku untuk memeriksa kembali hasil visum Aura saat itu untuk memastikan siapa yang meninggal, jika wanita yang mirip Aura itu memang benar Aura."
"Lalu, bagaimana hasilnya?"
"Dia belum memberikan kabar apa pun padaku hingga saat ini."
Nizam terdiam sejenak. Perasaannya seketika gelisah dan tidak tenang. Jika memang Aura masih hidup, tentu ia akan sangat bersyukur. Lalu bagaimana dengan hatinya? Entahlah, ia sendiri tak bisa menyimpulkan apa yang ia rasakan saat ini.
"Zam, apa kau baik-baik saja?" tanya Arfan memecah lamunan Nizam.
"Aku ..., aku harus pergi membawa Bulan berobat," ujar Nizam tanpa menjawab pertanyaan sang asisten. Kakinya kembali melangkah meninggalkan ruanganmya dengan begitu cepat.
☘☘☘
Sementara di rumah, Bulan memilih duduk di ayunan sambil menunggu kedatangan Nizam. Kakinya bergerak ke depan dan ke belakang, hingga membuat ayunan itu ikut begerak maju dan mundur. Namun, berbeda dengan kedua kakinya yang bergerak lincah, pandangan Bulan justru diam menatap lurus ke depan.
Sudah dua hari berlalu usai kedatangan Nizwa waktu itu, tapi pembicaraannya seputar jadwal puasa sang suami masih saja mengganggu pikirannya. Kini ia mulai menyadari alasan yang menjadi kemungkinan besar sang suami memutuskan untuk menjalankan semua puasa sunah itu¹.
__ADS_1
Ya, meminimalisasi syahwat dan menjalankan sunah. Bulan jelas tahu bahwa berpuasa adalah jalan yang Allah anjurkan untuk mengurangi rasa yang bisa menguasai hati dan akal sehat. Semua itu tentu karena dirinya yang tak mampu menjalankan kewajiban sebagai istri seutuhnya.
"Astaghfirullah," lirih Bulan seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Memikirkan hal itu saja membuat dada Bulan terasa sesak dan memaksa air mata mengalir membasahi pipinya. Hati istri mana yang tidak merasa terbebani ketika semua aktivitas dalam mengabdikan dirinya kepada suami bisa ia lakukan, kecuali bersentuhan fisik. Sementara hal itu adalah kebutuhan utama dan menjadi sebab dianjurkannya menikah jika sudah mampu.
Bulan masih saja larut dalam kesedihan ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Wanita itu segera menghapus air matanya karena nama Syifa kini memenuhi layar benda pipih itu.
"Assalamu 'alaikum, Mbak Syifa."
"Bulan, aku sudah menemukan kakakmu," ujar Syifa di seberang telepon.
Bulan langsung berdiri dari ayunan saat mendengar perkataan Syifa. "Benarkah?" tanya wanita itu sangat antusias.
"Iya, tapi ...."
"Tapi kenapa, Mbak?"
"Maaf, Bulan, kakakmu telah meninggal."
Tubuh Bulan langsung luruh ke tanah tak bersemangat, air matanya kembali menetes, bahkan lebih deras dari sebelumnya.
"Salah satu ahli forensik yang pernah melakukan visum kepada korban kebakaran mobil waktu itu adalah temanku. Aku memberikan ciri-ciri kakakmu termasuk apa saja yang melekat ditubuhnya waktu itu, dan dia mengatakan jika 90% ciri-cirinya cocok berdasarkan pemeriksaan post mortem, identifikasi gigi, hingga identifikasi DNA," lanjut Syifa menjelaskan.
"Tapi, kenapa saat aku ke sana, mereka mengatakan jika itu adalah Aura dan bukan Bintang?"
"Seseorang? Siapa? Kenapa dia melakukan itu?"
"Aku tidak tahu pasti kalau itu."
"Mungkin itu ulah orang suruhan Marcel agar ia tak kena masalah karena misinya gagal," lirih Bulan.
"Kamu bilang apa, Bulan?"
Bulan baru akan menjelaskan, tapi saat melihat mobil Nizam telah tiba, niatnya pun ia urungkan.
"Tidak ..., tidak apa-apa, Mbak. Terima kasih atas semuanya. Maaf sudah merepotkan, Mbak Syifa. Oh iya, sudah dulu yah, Mbak. Mas Nizam udah datang, assalamu 'alaikum."
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Bulan segera menghampiri mobil Nizam yang telah berhenti di depan gerbang rumahnya.
"Ayo, Mas."
"Eh, kamu udah siap?" Nizam yang baru saja hendak turun untuk memanggil Bulan dibuat sedikit kaget dengan kedatangan sang istri yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Iya, ayo."
Nizam sejenak terdiam mengamati wajah sang istri yag sembab, ingin sekali rasanya ia bertanya, tapi tak ia lanjutkan. Pria itu kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Bulan melakukan pengobatan.
☘☘☘
"Sejauh ini, proses pemulihan Ibu Bulan semakin baik, apalagi dengan kehadiran suami yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang, insya Allah Ibu Bulan bisa melewati semuanya dengan baik."
"Oh, iya, karena masalah Ibu Bulan masih di seputar alam bawah sadar, saya akan mengajak Ibu Bulan untuk melakukan tahapan terapi EMDR²," ujar dokter itu seraya menggerakkan kedua jarinya ke kanan dan ke kiri.
"Apa istri saya akan dihipnotis, Dok?" tanya Nizam penasaran.
Dokter itu menggeleng pelan sambil tersenyum. "Tidak, Pak. Saya tidak akan menghipnotis atau melakukan hal lain yang dapat membuat Ibu Bulan masuk ke alam bawah sadarnya. Selama sesi ini, Ibu Bulan tetap sadar dan terhubung dengan saya." Sang dokter kemudian mengangkat kedua jarinya lagibdan memperlihatkan kepada Nizam dan Bulan.
"Jadi, nanti Ibu Bulan harus mengikuti gerakan jari saya ini bergerak ke kiri dan kanan secara cepat karena saya ingin memancing kefokusan Ibu Bulan terhadap memori, perasaan, visualisasi dan gerakan tubuh yang muncul berkaitan dengan peristiwa traumatik Ibu Bulan di masa lalu," lanjut dokter itu menjelaskan.
"Baiklah, Bu Dokter. Saya mengerti, silahkan dilanjutkan, saya akan duduk diam dengar di sini," ujar Nizam.
Dokter pun mulai melakukan terapi kepada Bulan. Suasana ruangan kini semakin hening tak ada suara lagi selain suara dari sang dokter dan Bulan. Nizam sengaja meminta ikut masuk menemani Bulan agar Bulan tidak merasa sendiri. Itu adalah salah satu cara yang ia putuskan sebagai support system sang istri.
Dari terapi yang dilakukan Bulan, kini Nizam semakin paham seberapa berat beban yang di tanggung mental sang istri. Sungguh, apa yang ia alami wanita itu di masa lalu benar-benar menakutkan.
Selama menunggu Bulan, Nizam sesekali mengecek ponselnya untuk memantau pekerjaannya melalui Arfan. Namun, sebuah pesan masuk dari Nizwa sedikit memancing perhatian pria itu.
'Kak, tolong datang ke rumah, ada yang mencari Kakak di sini.'
Nizam mengerutkan dahinya membaca pesan singkat itu. Tidak biasanya Nizwa mengirimkan pesan seperti itu kepadanya. Berbagai praduga pun mulai muncul dalam benaknya.
...
Setelah sesi terapi selesai, Nizam mengajak Bulan untuk mampir ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Pesan dari Nizwa beberapa lalu benar-benar membuatnya cukup penasaran.
Pasangan suami-istri itu berjalan beriringan memasuki rumah seraya mengucapkan salam. Namun, langkah kaki Nizam seketika terhenti saat melihat seorang wanita yang sangat ia kenali kini sedang menatapnya dengan senyuman manis di ruang tamu.
-Bersambung-
NOTE:
¹Puasa Sunnah Daud sebagaimana yang disebutkan di bab selanjutnya adalah puasa yang dilakukan selang-seling (satu hari puasa, satu hari tidak), begitu seterusnya. Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa yang biasanya dilakukan di hari-hari putih atau hari di mana saat malam bulan bersinar sangat terang atau purnama sempurna. Puasa ini jika sesuai dengan penanggalan Hijriah bisa dilakukan di tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya. Puasa senin-kamis adalah puasa yang di lakukan setiap hari senin dan kamis.
"Dari Abi Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda: "Seluruh amal disetor pada hari Senin dan Kamis, maka aku lebih menyukai saat setor amal tersebut dalam keadaan berpuasa." (HR. Tirmidzi).
Ibadah puasa tersebut selain dapat menghapus dosa dan mendekatkan diri kepada Allah, juga dapat mencegah dari perbuatan maksiat, insya Allah.
__ADS_1
²Terapi EMDR atau Eye Moving Desensitization and Reprocessing merupakan teknik terapi yang membutuhkan kesadaran dan kefokusan pasien terhadap memori, perasaan, visualisasi dan gerakan tubuh yang muncul berkaitan dengan peristiwa traumatik.
Metode EMDR melibatkan pemanggilan kembali (recalling) kejadian-kejadian yang penuh stres dan memprogram ulang (reprogramming) ingatan menjadi positif, pemilihan belief yang disadari, dengan menggunakan gerakan mata cepat untuk memfasilitasi proses. Selama treatmen, pasien diminta untuk memanggil kembali ingatan-ingatan yang menjadi pemicu kejadian dan emosi yang kurang menyenangkan kemudian memprogram ulang kejadian tersebut menjadi keyakinan yang positif sehingga diharapkan terjadi proses kognitif dan mengurangi gangguan traumatik (Susanty, Koesno, Yudhistira, Lusianti, dan Suprijanto, 2015).