
...Entah kenapa, kini aku menjelma menjadi pria bodoh yang tak begitu paham dalam mendefenisikan perasaan sendiri. Sejak dulu, aku hanya tahu bahwa perasaanku pada Aura adalah cinta. Namun, semenjak kematiannya, aku bahkan tak mampu membedakan mana cinta dan mana simpati....
...Kecewa dan menyesal kini menghantamku di waktu yang sama. Ya, kecewa karena baru tahu jika dia adalah istri orang, dan menyesal karena aku pernah menolak permintaan untuk menikahinya di saat pertama kali kami bertemu....
...(Nizam Mutawalli)...
..._________________________________________...
Malam semakin larut, Langit melajukan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan hotel. Pria itu menggigit bibir dan merasakan sesak di dadanya, seolah ada gejolak yang ingin kembali menerobos pertahanan di saat keadaan hatinya mulai membaik beberapa hari terakhir.
Kenyataan mengenai Bulan berhasil menampar dan membuat hatinya merasa tidak nyaman. Sakit, sedih, kecewa, bahkan menyesal bisa ia rasakan dalam satu waktu.
"Jika memang hanya simpati, kenapa di sini rasanya sakit?" monolog pria itu sambil memegangi dadanya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang kemudi.
Tak hanya hatinya yang tidak nyaman saat ini, pikiran pria itu pun tidak tenang lantaran apa yang baru saja ia lakukan kepada Revan. Ia kini meninggalkan temannya itu di sebuah kamar hotel tempat Revan menginap dalam keadaan tidak sadar karena tiba-tiba mendapat panggilan dari sang ayah.
..
Satu jam lalu,
Revan buru-buru keluar dari lift setelah berhasil menjatuhkan Langit, ia berjalan cepat menyusul ke mana Bulan pergi tanpa berbalik melihat keadaan Langit. Seingatnya, lift yang Bulan naiki tadi berhenti di lantai lima, dan kini ia telah tiba di lantai lima.
Pria berambut ikal itu keluar dari lift sambil mengeluarkan bius yang sudah ia oleskan di sapu tangan. Ia tersenyum lega karena masih bisa mendapati Bulan beberapa meter di depannya. Berjalan cepat dan senyap pun ia lakukan agar tak membuat wanita itu sadar akan keberadaannya yang semakin mendekat.
Bugh
__ADS_1
Sebuah hantaman di dekat tengkuk Revan berhasil membuat pria itu tumbang tak sadarkan diri tepat saat ia berada di belakang Bulan. Sejurus dengan itu, Bulan yang mendengar suara pukulan dari arah belakangnya langsung berbalik.
Bulan sangat terkejut saat mendapati dua pria asing di belakangnya. Terlihat dari wajah wanita itu yang tiba-tiba berubah pucat pasi dan mundur beberapa langkah dengan tubuh yang bergetar.
"Tenang, Nona. Dia tidak akan mengganggumu," ucap Langit berusaha menenangkan, raut wajah Bulan yang memperlihatkan ketakutan cukup jelas di mata Langit saat ini.
Langit membopong tubuh Revan lalu menatap ke arah pintu apartemennya yang kini telah tertutup kembali. Bagaimana pun juga, ia harus memastikan Bulan dalam keadaan aman sebelum ia pergi membawa Revan.
..
"Halo, Fan. Tolong kau berjaga di lantai lima dekat dengan unit apartemenku dulu, jangan pernah membiarkan siapa pun mendekati unit apartemenku kecuali aku atau Nizwa. Aku akan menyusul ke sana setelah bertemu ayahku."
Usai menghubungi Arfan, Langit kembali fokus mengemudikan mobil, hingga tak terasa ia tiba di gerbang rumahnya. Sebelum keluar, Langit terlebih dahulu mengubah penampilannya menjadi Nizam seperti semula.
Nizam kemudian keluar dari mobil dan berjalan cepat memasuki rumah. Namun, baru juga masuk, sebuah pukulan berhasil mendarat di pipinya hingga membuat pria itu terjatuh di lantai.
"A-apa maksud, Ayah?"
"Jangan berlagak bodoh, Nizam. Kau itu pria cerdas, ayah sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu sekarang. Apakah kematian Aura telah membuatmu menjadi gila?"
Nizam perlahan bangkit dengan kepala yang senantiasa menunduk. Ia tak berani menatap mata sang ayah yang dipenuhi kilatan amarah. "Maaf, Ayah. Nizam terpaksa melakukannya ...."
"Terpaksa karena apa? Pantas saja akhir-akhir ini kau sangat jarang pulang ke rumah. Alasanmu lembur, tapi ternyata kau justru bersenang-senang di kota A bersama teman geng motormu. Kau bahkan membohongi ayah tentang liburanmu ke Korea." Boy menghentikan perkataannya sejenak guna menstabilkan deru napasnya yang memburu.
"Ayah kecewa padamu, Nizam. Sudah berapa kali ayah ingatkan, kau jangan pernah mengulangi kesalahan yang pernah ayah lakukan. Cukup ayah yang pernah menjadi anak geng motor, jangan anakku."
__ADS_1
"Ayah, Nizam mohon maaf sudah membuat Ayah kecewa, tapi tolong dengar penjelasan Nizam dulu." Nizam berjalan menghampiri sang ayah, berusaha menyalami tangan pria itu. Namun, Boy menepis tangannya dengan kasar.
Nizam kini tak memiliki pilihan selain jujur. Ia tidak tahu bagaimana ceritanya hingga rahasianya bisa terbongkar. Walau bagaimana pun, ia memang mengakui apa yang ia lakukan secara diam-diam ini adalah salah.
"Nizam melakukannya untuk membongkar dalang di balik kecelakaan Aura, Ayah. Nizam tidak tenang jika pelakunya masih bebas. Jika ayah ingin mengatakan Nizam gila, Nizam akan terima, tapi tolong, Ayah. Kali ini saja, izinkan Nizam menuntaskan misi ini dan memenjarakan pelaku yang sebenarnya."
Nizam menangkupkan kedua tangannya di depan sang ayah guna memohon izin. Berharap sang ayah mau memberinya izin karena hingga saat ini misinya belum tuntas.
"Tidak! Itu sangat berbahaya, ayah tahu betul bagaimana anak geng motor itu, walau memang tidak semuanya begitu. Jika petunjuk dari kecelakaan Aura yang kau dapatkan merujuk pada kelompok geng motor, maka ayah bisa pastikan, kelompok itu adalah kelompok kejam yang menganggap perbuatan jahat adalah kesenangan belaka."
"Tapi, Ayah_."
"Tidak ada tapi-tapi. Hentikan misimu itu, biarkan polisi yang mengurusnya. TITIK!" Boy segera pergi meninggalkan ruang tamu tanpa berkata apa pun lagi.
Nizam kini beralih menatap sang ibu dengan tatapan sendu, tapi wanita itu juga memperlihatkan kekecewaan di wajahnya. Khaira bahkan pergi menyusul Boy tanpa mengeluarkan sepatah-kata pun kepadanya.
"Bunda ...." Nizam menatap kepergian sang ibu tanpa semangat, ia bisa memahami kekecewaan Khaira. Sebelumnya ia sudah jujur mengenai liburan ke Korea yang batal, tapi ia tidak jujur mengenai misinya.
"Kak Nizam, maafkan aku. Aku tidak bisa berbohong ketika ayah menginterogasiku setelah kembali dari rumah Paman Ali di kota A," ucap Nizwa dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Dek. Dari awal memang aku yang salah ...." Seketika Nizam terdiam saat mengingat sesuatu. "Bulan ... Dek, ayo temani aku ke apartemen, Bulan dalam bahaya."
"Apa, ta-tapi, Kak, ini-"
Nizwa tak dapat melanjutkan kata-katanya saat Nizam langsung menarik tangannya keluar rumah.
__ADS_1
"Aku akan meminta izin kepada ayah dan bunda kalau malam ini kita akan mengunjungi Bulan."
-Bersambung-