
...Aku pernah merasakan jantungku berdegup begitu cepat saat berhadapan dengan wanita, dan itu hanya kurasakan pada dua wanita saja, dia yang telah pergi selamanya, dan dia yang kini hadir di depan mataku....
...Kupikir dulu aku begitu mudah dalam jatuh hati kembali, nyatanya apa yang kurasakan berbeda. Bukan aku yang mudah jatuh hati, tapi dia yang begitu unik hingga berhasil menarik hatiku keluar dari jurang kesedihan....
...Setelah sekian lama berpisah, kini kamu hadir kembali, apakah itu adalah tanda dari Allah jika kita memang ditakdirkan bersama, atau itu hanya kebetulan yang tak memiliki makna indah untukku? Ah, sepertinya aku terlalu banyak berharap....
...(Nizam Mutawalli)...
..._________________________________________...
"Assalamu 'alaikum, Bulan," ucap Nizam dari belakang membuat sang empunya nama langsung berbalik.
"Wa'alaikum salam, eh Mas Nizam!"
Sebuah senyuman indah langsung tersungging di wajahnya yang begitu teduh. Senyuman ceria dan ramah itu sepertinya menjadi penanda bahwa wanita itu telah sembuh dari penyakitnya, begitu pikir Nizam.
"Apa kabar? lama tidak bertemu," tanya Nizam berbasa-basi.
"Alhamdulillah baik, Mas. Mas Nizam ...." Perkataan Bulan terpotong saat tiba-tiba seorang wanita datang membawa Quinzy.
"Bulan, nih! Dari tadi dia nangis sambil manggil Umminya terus," ujar wanita itu, lalu memberikan Quinzy kepada Bulan.
"Oh iya, dia pasti ngantuk, memang jam begini jam tidurnya. Makasih, yah, Mbak udah bantu jagain Quinzy," ucap Bulan seraya menimang bayi kecil itu dengan penuh kasih sayang. Ia bahkan lupa jika saat ini ada pria yang tampak pucat memperhatikan bagaimana interaksi keduanya.
"Ah iya, Mas Nizam. Maaf, tadi perkataan saya terpotong karena kedatangan Quinzy," ucap Bulan tersenyum.
"Tidak, apa-apa, jadi namanya Quinzy, yah. Umurnya berapa?"
"Tujuh bulan, Mas."
"Cantik seperti Ibunya," balas Nizam ikut tersenyum walau sedikit dipaksakan. "Oh, iya, saya pamit dulu kalau begitu, masih ada urusan soalnya. Assalamu 'alaikum," sambung pria itu lalu segera pergi.
__ADS_1
Nizam kini duduk di kursi samping kemudi. Ada yang salah dari sikap pria itu semenjak keluar dari Klinik Syifa. Ia lebih banyak diam, tatapannya sendu, dan tak bersemangat sama sekali, sangat berbeda dengan sikapnya saat pertama kali datang.
"Zam, ada apa? Kenapa mukamu kusut begitu?" tanya Arfan yang baru saja memasuki mobil dan duduk di balik kemudi. Namun, hingga beberapa detik berlalu Nizam tak juga memberikan respon.
"Zam!" ulang Arfan memanggil.
"Aku melihat Bulan di dalam, Fan," sahut Nizam kemudian.
"Oh yah? Baguslah, akhirnya kalian bertemu lagi setelah sekian lama terpisah." Arfan terlihat senang mendengar perkataan Nizam. "Tapi kenapa wajahmu tidak terlihat senang?" lanjutnya bertanya.
"Sepertinya dia sudah menikah lagi, aku melihatnya menggendong bayi kecil tadi."
Arfan mengerutkan dahinya. "Apa kau yakin dia sudah menikah lagi? Apa kau melihat suaminya? Bisa saja bayi itu anak dari Marcel."
"Tidak mungkin, kau tahu sendiri sebelum bercerai, Bulan sudah lama berpisah dari Marcel."
"Bisa saja, 'kan, saat Bulan kabur, dia sudah hamil lebih dulu."
"Baiklah-baiklah Jadi, selama hampir dua tahun Bulan pergi, ternyata dia menikah dengan pria lain, begitu, 'kan maksudmu?" Arfan mencoba memperjelas arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Iya," jawab Nizam lesu.
"Kalau begitu, itu artinya dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya, dan sudah saatnya kau juga bahagia dengan kehidupanmu. Bagaimana kalau aku memperkenalkanmu pada temanku? Dia cantik dan mungkin saja kau tertarik padanya."
Nizam memutar bola mata malas mendengar tawaran Arfan yang lagi-lagi ingin mencarikannya jodoh. Namun, jika dipikir-pikir, mungkin memang sudah saatnya dia memilih salah satu wanita yang pernah ditawarkan untuknya, baik dari sang ibu, maupun dari Arfan. Setidaknya dengan begitu, hidupnya tak lagi dipusingkan masalah jodoh, dan yang pasti, ia memiliki target kepada siapa hatinya harus labuhkan.
"Sudahlah, aku akan memilih salah satu dari gadis yang ditawarkan bunda, aku yakin pilihannya lebih sesuai."
Entah, keputusan Nizam kali ini didasarkan pada kesadaran sendiri atau karena patah hati. Yang jelas, pasrah adalah keadaan dirinya saat ini. Ia yakin, cinta dalam ikatan yang halal pasti akan tumbuh suatu saat nanti jika memang ada kemauan untuk membuka hati dan mencintai.
☘☘☘
__ADS_1
"Kamu yakin mau menerima perjodohan dengan gadis pilihan bunda?" tanya Khaira menyelidik akan perubahan keputusan sang putra. Keduanya sedang duduk di ruang keluarga sore itu.
"Insya Allah, Bunda. Bagaimana pun menikah adalah ibadah, menunda ibadah pernikahan di saat biaya, fisik, dan psikis sudah mampu hukumnya makruh. Nizam tidak ingin membuang waktu Nizam untuk hal yang sia-sia dan merugikan Nizam di kemudian hari," jawab Nizam dengan keyakinan yang tinggi.
Khaira tersenyum dan memeluk sang putra, lalu berkata, "Terima kasih, Nak. Semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu. Oh iya, kamu tunggu di sini, yah." Khaira beranjak menuju kamarnya. Tak menunggu lama, wanita itu datang dengan membawa sebuah map plastik berisi beberapa foto.
"Karena bunda belum menyampaikan jawaban kamu kepada orang tuanya, kamu masih bisa memilih mana yang menurutmu cocok. Mereka itu berasal dari keluarga yang baik, insya Allah pemahaman agama mereka juga baik." Khaira mengeluarkan beberapa foto putri dari beberapa teman dekatnya kepada Nizam, lengkap dengan profil mereka.
Nizam mengamati beberapa foto gadis yang Khaira letakkan di atas meja. Semuanya terlihat cantik dan memiliki latar belakang pendidikan yang baik.
"Bismillah, Nizam memilih dia," ucapnya seraya menunjuk salah satu foto itu.
"Alhamdulillah, namanya Wardah. Jika kamu yakin, bunda akan menemanimu ke rumahnya malam ini, berhubung ayahmu sedang ke luar kota."
"Iya, Bunda."
Malam harinya, Nizam dan Khaira benar-benar pergi ke rumah Wardah dengan membawa niat baik. Sepanjang perjalanan, Nizam tampak begitu gelisah. Begitu banyak gerakan yang ia lakukan diluar kesadarannya, dan itu tertangkap jelas oleh sang ibu.
"Apa yang kamu pikirkan, Nak? Kenapa kamu gelisah sekali?" tanya Khaira.
"Tidak apa-apa, Bunda. Nizam hanya sedikit gugup," balas pria itu jujur.
Khaira tersenyum seraya mengusap rambut Nizam. "Tenanglah, Nak. Bunda ada bersamamu, baca istighfar hatimu lebih tenang."
Nizam hanya bisa ikut tersenyum menanggapi perkataan sang ibu, menutupi rasa gugup dengan beberapa dzikir yang cukup membantu menenangkan hati yang di landa gelisah.
Di sinilah mereka sekarang, di rumah yang cukup mewah dan sedikit ramai oleh suara anak kecil yang asik bermain di ruangan lain. Setelah melalui serangkaian intro yang berisi basa-basi, kini Nizam mulai mengutarakan niat baiknya dengan begitu sopan kepada dua orang paruh baya di depannya.
"Wardah, putri bungsu kami. Dia sudah bekerja sebagai dokter di rumah sakit kota ini. Beberapa bulan lalu memang dia sempat meminta saya untuk mencarikan jodoh, usianya sudah 25 tahun, usia yang sudah cukup matang bagi wanita untuk menikah. Makanya waktu itu saya berbicara dengan ibumu karena jujur saya menyukai karakter kamu, dan menurut saya kamu sangat cocok untuk Wardah."
-Bersambung-
__ADS_1