Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 48


__ADS_3

Malam hari yang gelap, ditemani pantulan cahaya dari bulan dan bintang, dua orang pria berseragam sedang bercakap serius di depan kantor polisi. Mereka baru saja menangkap beberapa anak muda yang ketahuan ugal-ugalan di jalan raya.


"Akhir-akhir ini para anak geng motor benar-benar meresahkan. Balapan liar, ugal-ugalan di jalan, dan masih banyak hal yang mereka lakukan tanpa mematuhi aturan, itu sangat berbahaya."


"Benar sekali, aku sudah menginterogasi mereka yang sempat tertangkap sedang ugal-ugalan di jalan raya. Ternyata 80% dari mereka adalah mantan anak jalanan, sisanya anak broken home yang ingin melampiaskan rasa sakit hati dan kesepian mereka."


"Benarkah? Bagaimana bisa anak jalanan yang tidak memiliki motor bisa masuk ke dalam geng motor?"


"Nah, inilah uniknya. Katanya, bos mereka bukan orang sembarangan. Dia adalah CEO perusahaan yang sengaja memberikan fasilitas kepada anak jalanan untuk bersenang-senang. Balapan liar mereka lakukan murni untuk bersenang-senang, bukan untuk taruhan."


"Ya ampun, apakah bos mereka itu crazy rich sampai bingung mau dipakai untuk apa uangnya? Lalu, apakah orang itu juga yang mengajari para anggotanya untuk ugal-ugalan di jalan? Aku benar-benar tidak habis pikir."


"Tidak-tidak, anak remaja tadi mengatakan kalau bos mereka sedang sakit, makanya mereka bebas. Biasanya bos mereka akan melarang mereka ugalan-ugalan jika banyak pengendara lain. Pokoknya mereka tidak ingin bosnya di salahkan atas semua kenakalannya."


"Ya, tapi tetap saja harus ada yang bertanggung jawab atas kenakalan mereka. Mereka itu masih di bawah umur, loh!"


"Pak Diki, ayo temani aku ke rumah sakit Alfamedika, kita diperintahkan untuk menginterogasi bos dari geng motor tadi," panggil seorang polisi bernama Tono dari dalam ruangan membuat Diki yang sejak tadi bercerita bersama rekannya di luar langsung berdiri.


"Siap!"


Mereka pun berangkat malam itu juga ke rumah sakit Alfamedika, tempat di mana bos dari geng motor yang mereka bicarakan sedang di rawat di sana.


"Ini kamarnya," ucap Tono lalu mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar suara yang mengizinkan mereka untuk masuk.


Tono membuka pintu dan mulai melangkah masuk. Namun, baru setengah tubuhnya masuk pria itu keluar kembali.


"Hey, sepertinya kita salah masuk," ucap Tono sedikit ragu.


"Loh, memangnya kenapa? Nomor kamarnya sudah benar, kok," ujar Diki dengan alis berkerut.


"Kau bilang orangnya sudah tua, pesien di dalam kamar ini masih muda, ya seumuran denganmu, mana ganteng lagi."

__ADS_1


"Ish, apaan, sih, kau ini! Masuk saja untuk bertanya, malu bertanya, kita tidak pulang. Ini sudah malam." Diki menggeser tubuh rekannya lalu masuk lebih dulu ke kamar itu.


"Ya, ada apa, Pak?" tanya pria di kamar itu yang sedang ditemani oleh dua orang remaja laki-laki.


"Apa benar, Anda Pak Ryan Ardiansyah?" tanya Diki.


"Ya, benar, itu saya," jawab pria itu tenang.


Diki dan Tono langsung berjalan ke arah pria itu. Sementara Ryan langsung mengambil setangkai bunga carnation dan memberikannya kepada dua remaja di sampingnya.


"Hei, tolong berikan bunga ini kepada dokter cantikku, katakan padanya kalau itu bunga dari kamar melati 02.


"Baik, Bos." Kedua remaja itu langsung keluar meninggalkan sang bos bersama Diki dan rekannya.


"Apa benar anda bos dari anak geng motor ini?" Diki menunjukkan foto para remaja yang mereka tangkap beberapa jam lalu.


"Iya benar, apa mereka berbuat ulah lagi?" tanya Ryan begitu tenang.


"Apa modus Anda membentuk geng motor itu? Jika mereka berbuat kerusakan, Anda tentu akan menadapat akibatnya," tanya Diki.


"Tak ada alasan lain, aku kesepian selama ini, aku butuh keluarga. Kau lihat sendiri tadi, yang menemaniku di sini bukan ibu, ayah, atau keluarga lain. Hanya anak geng motorku yang akan bergantian mengurusku di sini," jelas Ryan tersenyum.


Diki dan Tono saling pandang. Seketika semua pertanyaan yang hendak mereka lontarkan hilang begitu saja setelah mendengar jawaban pria di hadapan mereka.


"Jika kalian ingin bertanya, kemana keluargaku? Jawabannya adalah kedua orang tuaku sudah tiada dan aku tak memiliki keluarga lagi."


"Lagi-lagi Diki dan Tono saling pandang tanpa berbicara lagi. Ingin menegur karena ulah anak geng motornya, tetapi juga merasa kasihan. Namun, tugas tetaplah tugas, sudah seharusnya mereka bersikap profesional.


☘️☘️☘️


Beberapa hari kemudian, Bulan duduk termenung dibangku taman sendirian seraya menikmati udara pagi yang segar. Pandangannya lurus ke depan, tetapi pikirannya melalang buana entah kemana. Yang jelas, apa pun yang ia pikirkan, semua akan berakhir ke satu nama, yaitu Nizam.

__ADS_1


Masih diam termenung, pandangan wanita itu kini menangkap sepasang suami-istri yang tiba-tiba lewat di hadapannya sambil berlari. Sesekali mereka saling memegang tangan, dan sesekali saling bercanda. Bulan tersenyum tipis ikut merasakan kebahagian yang mereka pancarkan. Namun, ada rasa iri yang menusuk di hati, seakan ingin juga merasakan keharmonisan itu, tetapi takdir tak lagi merestui.


Tak ingin larut dalam pikirannya, Bulan segera meraih ponsel yang ia simpan di dalam saku gamis. Niatnya kali ini ingin menanyakan keberadaan Nizwa karena wanita hamil itu yang membuat janji temu di taman pagi ini untuk menemaninya berjalan kaki. Namun, sudah cukup lama ia menunggu, sang adik ipar masih tak kunjung datang.


Akan tetapi, Bulan urung mengirimkan pesan kepada Nizwa ketika melihat tanda centang dari pesan yang selalu ia kirimkan ke nomor sang suami kini telah berubah biru, artinya pesan itu telah dibaca. Seketika sebuah asa yang mulai meredup kembali memancarkan semangat. Mungkinkah Nizam masih hidup dan membaca pesannya?


Bulan tak tinggal diam, ia mencoba menghubungi nomor sang suami dengan jantung yang berdegup kencang, dan wajah yang bersemangat. Namun, setelah beberapa kali mencoba, semangat di wajah wanita itu kembali meredup karena panggilannya tidak tersambung.


"Apa mungkin tanda centangnya error?" kata Bulan menerka dengan suara lirih dan kecewa.


Wanita itu mendongak menatap langit, menahan silaunya matahari demi menahan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya agar tak tumpah. Ia kemudian memejamkan mata sejenak dan mengatur hatinya agar tak menangis lagi kali ini.


Akan tetapi, tiba-tiba Bulan merasakan sesuatu yang aneh. Matahari yang tadinya menyilaukan dibalik kelopak mata, kini terasa teduh seolah ada yang menaunginya. Perlahan wanita itu membuka mata karena penasaran dan ia cukup terkejut ketika seseorang dengan maskot boneka panda sudah berdiri di hadapannya sambil melambaikan tangan tanpa suara.


Bulan hanya tersenyum tipis sambil membalas lambaian tangan panda itu. Belum hilang rasa terkejutnya, boneka panda itu sedikit membungkuk dan memberikan setangkai bunga mawar kepadanya.


Bulan yang bingung tak langsung menerima bunga itu. Ia justru menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan jika bunga itu tidak salah alamat dan boneka panda itu menganggukkan kepala. Mau tak mau, ia pun menerima bunga itu sambil berkata, "Terima kasih."


Bukannya kembali berdiri, boneka panda itu kini mengulurkan tangan ke arah Bulan. Wanita itu sempat ingin menghindar, tetapi tubuhnya diam membeku ketika menyadari jari telunjuk boneka itu diarahkan ke bagian tengah dahinya, lalu turun perlahan melewati hidung, bibir, hingga dagu.


Seketika ingatan Bulan berputar kembali pada momen terakhir kebersamaannya dengan Nizam sebelum ia di culik. Ia jelas mengingat kebiasaan baru sang suami yang sering melakukan hal yang sama dengan panda itu.


Degh


Jantung Bulan mulai berdegup kencang sambil menatap lekat boneka yang masih membungkuk di hadapannya. Ia kini menarik tangan panda itu hingga berlutut dan tubuh mereka sejajar.


Entah, dari mana ia mendapat keberanian, Bulan memegang kepala boneka itu dengan dua tangan, di angkatnya perlahan dengan jantung yang semakin berdegup kencang. Ada harapan dan firasat kuat yang mengiringi tindakannya hingga kepala panda itu benar-benar terlepas.


Pandangan mata Bulan seketika memburam oleh air mata, kedua ujung bibirnya pun kini tertarik membentuk lengkungan tipis. Perlahan bulir-bulir bening mulai mengalir membasahi kedua pipinya ketika melihat siapa yang ada di balik maskot boneka panda itu.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2