Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 37


__ADS_3

"Mas Nizam sudah pergi ke kantor, Kak," kata Bulan ketika melihat Aura berada di hadapannya saat ini.


"Aku tidak mencari Nizam, aku ke sini ingin bertemu denganmu," balas Aura seraya melayangkan senyumannya yang begitu ramah.


Bulan akhirnya mengajak Aura untuk berbicara di dalam rumah. Kedua wanita itu kini duduk di ruang tamu, tapi di sofa yang berbeda dan saling berhadapan.


"Bagaimana kabarmu Bulan? Sudah beberapa bulan ini kita tidak saling bertemu."


"Alhamdulillah baik, Kak. Kabar Kak Aura bagaimana?"


"Ya, alhamdulillah baik juga. Oh iya, bagaimana keadaanmu, apa sudah membaik?" tanya Aura. Kali ini dari pertanyaan dan raut wajahnya, tampak Aura sedang menuntut jawaban jujur dari Bulan.


"Keadaan apa maksud Kak Aura?" Bulan mencoba memastikan arah pembicaraan wanita di hadapannya itu.


"Gangguan PTSDmu. Aku pernah tidak sengaja menemukan riwayat kesehatanmu di rumah sakit tempatku bekerja, makanya aku ingin mengetahui perkembanganmu sekarang."


Bulan mengerutkan dahinya seraya menghela napas dalam. "Alhamdulillah kalau itu sudah semakin baik juga."


"Apa kamu sudah bisa disentuh oleh Nizam? Atau sampai saat ini kalian belum bersentuhan sama sekali?"


Bulan tak langsung menjawab, ia hanya tertunduk seraya mer3mas rok di bagian lututnya. Mendengar pertanyaan Aura, wanita itu seketika merasa tidak nyaman. Untuk alasan apa pun, Aura sama sekali tidak berhak menanyakan sesuatu yang sangat pribadi seperti itu.


"Maaf, Kak Aura. Sepertinya pertanyaanmu tidak perlu kujawab. Itu urusan pribadiku, dan kamu tidak perlu tahu," tegas Bulan kemudian.


"Baiklah, aku menganggap perkataanmu itu sebagai jawaban jika kalian belum pernah bersentuhan." Aura menghentikan sejenak perkataannya lalu mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya.


"Kemarin aku sempat ke rumah sakit di kota ini untuk menemui temanku yang dokter obgyn, dan ternyata Nizwa baru saja melakukan pemeriksaan di sana. Kamu pasti tahu alasannya, 'kan? Dalam kertas ini, dia dinyatakan hamil."


Jantung Bulan mulai berdebar memandangi selembar kertas di hadapannya. Ingin sekali ia mengambil kertas itu, tapi tangannya terasa begitu kaku. Tentu saja ia bahagia mengetahui kabar kehamilan adik iparnya. Namun, tujuan Aura memperlihatkan hasil tes Nizwa tidaklah sesederhana itu. Ada tujuan lain yang sudah bisa ia tebak.


"Bulan, Nizam itu pria dewasa yang normal. Dia memiliki kebutuhan biologis dan tentu juga memiliki keinginan akan sebuah keturunan. Mau sampai kapan kamu membuatnya terus menahan diri seperti itu? Mungkin di hadapanmu dia terlihat sabar dan baik-baik saja, tapi dibelakangmu dia pasti tersiksa."


Bulan semakin menguatkan cengkraman di kain roknya. Benar dugaannya, inilah tujuan Aura yang sebenarnya dan ia membenci fakta bahwa dirinya terpengaruh dengan perkataan Aura. Sebelum ini, ia merasa baik-baik saja melihat Nizam yang selalu tersenyum. Namun, mendengar penuturan wanita itu, hatinya bergetar dan rasa bersalah mulai menjalar ke sekujur tubuhnya.


"Apa tujuan kamu sebenarnya mengatakan ini padaku?" tanya Bulan berusaha mengendalikan dirinya agar tetap terlihat tenang.


"Aku tidak bermaksud apa pun, tapi saranku, jika kamu mencintai Nizam, lebih baik kamu merelakannya kepada wanita yang lebih sehat mentalnya sepertiku. Aku yakin Nizam akan bahagia, bagaimana pun kami dulu saling mencintai," ujar Aura begitu menohok hati Bulan, hingga membuat wanita itu tersenyum kecut.


"Kamu mau menjadi istri kedua, Mas Nizam? Apa kamu yakin bisa bahagia berada di antara kami yang sudah saling mencintai saat ini? Bukan cinta masa lalu yang sudah pasti tidak sama, atau bahkan sudah hilang," tanya Bulan tanpa melepaskan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


"Tidak, bukan itu maksudku," elak Aura cepat.


"Jadi maksud kamu, kamu ingin aku dan Mas Nizam berpisah, lalu kamu ingin mengganti posisiku?"


Aura kini hanya diam membisu, entah dia menerima pernyataan Bulan atau tidak, yang jelas ia tak bisa mengelak.


Bulan tertawa miris melihat Aura yang tak merespon, lalu kembali berkata, "Kak Aura ..., kamu tahu, bagaimana selama ini aku menilaimu dari cerita almarhumah kak Bintang?" Bulan menatap Aura yang masih saja diam menatap ke arahnya.


"Kamu itu wanita sholehah, tidak hanya itu, dia juga mengatakan bahwa kamu itu lembut dan tulus. Aku tidak pernah melihatmu waktu itu, tapi sebagai wanita aku cukup salut kepadamu. Tapi, setelah melihat sikapmu hari ini, sepertinya penilaianku salah," tutur Bulan yang juga berhasil menohok hati Aura.


"Tapi, Bulan. Ini semua demi kebaikan Nizam ...."


"Mau apa pun itu, kamu tetap saja menginginkan perpisahan antara aku dan Mas Nizam. Bukankah itu termasuk merusak rumah tangga orang?" desis Bulan, diikuti dengan tatapan tegas kepada Aura.


"Ingat, Kak! Merusak rumah tangga orang lain itu merupakan perbuatan yang sangat dibanggakan oleh iblis dan dibenci oleh Allah. Kamu pasti tahu itu!" Bulan berbicara pelan tapi penuh penekanan, giginya bahkan saling mengerat ketika berbicara.


Aura lagi-lagi hanya bisa diam. Seolah ia tak memiliki alasan kali ini untuk membela dan membenarkan apa yang ia lakukan.


"Maaf, Kak Aura. Lebih baik kamu pulang saja, jangan merusak haga dirimu dengan datang ke rumah orang untuk merusak rumah tangganya. Masalah ini biarkan aku dan Mas Nizam yang mengurusnya, kamu tidak usah repot-repot."


Aura menatap tajam Bulan kala mendapat pengusiran. Ia berjalan cepat menuju pintu lalu berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya.


Sementara Bulan kini menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Matanya mulai berkaca-kaca jika mengingat perkataan Aura, terutama sebelum wanita itu pergi. Sungguh, ia merasakan ketakutan akan kehilangan sosok suami sepeti Nizam apalagi saat ini ia dengan begitu sadar telah mencintainya.


☘☘☘


Sore harinya, Nizam baru saja tiba di rumah dengan begitu ceria. Ia menemui sang istri yang rupanya tengah menanti kehadirannya di teras depan rumah.


"Assalamu 'alaikum, Sayang," ucap pria itu tersenyum lebar.


"Wa'alaikum salam, Mas. Ada apa? Kayaknya bahagia banget?" selidik Bulan seraya mengambil alih tas kantor milik sang suami.


"Iya, Sayang. Maaf, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku ini." Nizam berjalan beriringan dengan Bulan menuju kamar.


"Memangnya ada apa, Mas?" tanya Bulan penasaran dan ikut tersenyum.


"Kamu tidak tahu? Tadi Nizwa mengabarkan di grup chat keluarga kita kalau dia sedang hamil. Alhamdulillah, aku tidak menyangka anak kecil itu akan segera menjadi Ibu," jawab Nizam sambil duduk di tepi kasur.


Senyuman di wajah Bulan perlahan memudar, bukan karea ia tidak suka, melainkan karena teringat dengan perkataan Aura pagi tadi. Senyuman Nizam pun semakin membuatnya yakin jika pria itu juga menginginkan hal yang sama.

__ADS_1


Tak ingin terlihat bersedih Bulan segera keluar dari kamar dan membantu Mak Nira menyiapkan makan malam. Untuk saat ini, biarlah semua rasa gundahnya ia simpan sendiri. Wanita itu yakin suatu saat ia akan sembuh. Jika saat itu tiba, ia bisa segera menunaikan kewajibannya dan tak perlu lagi khawatir adanya gangguan dari Aura.


☘☘☘


Beberapa hari kemudian, kabar Aura tak pernah lagi terdengar. Nizam juga tak pernah mengatakan apa pun tentangnya. Hal itu membuat Bulan sedikit merasa lega, semoga saja dia tak mengganggu rumah tangganya lagi.


Hari ini, Nizam mengajak Bulan untuk mengunjungi rumah orang tuanya sambil menikmati hari libur. Keduanya kini sedang berada dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali pasangan suami istri itu saling bercerita ringan.


Pembicaraan mereka terhenti ketika suara ponsel Nizam berbunyi. Nizam yang fokus menyetir meminta tolong kepada Bulan untuk membantunya mengangkat telepon. Namun, saat melihat nama Aura, ia meminta sang suami untuk menepikan sejenak mobil agar pria itu yang langsung berbicara.


Bulan hanya diam memperhatikan bagaimana Nizam berbicara dengan wanita yang beberapa hari lalu memintanya untuk melepaskan sang suami. Meskipun ia tak mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh Aura, tapi ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu.


"Ada apa, Mas?" tanya Bulan setelah Nizam menyimpan kembali ponselnya.


"Aura sakit, sudah beberapa hari ini dia tidak bisa makan dengan baik. Apa yang dia makan pasti akan kembali dimuntahkan."


"Innalillah," ucap Bulan.


"Aura memang memiliki penyakit maag sejak remaja dan akan kambuh ketika dia stres atau banyak pikiran." Nizam menghentikan sejenak perkataannya, lalu menoleh ke arah Bulan.


"Dia memintaku menjenguknya dan membawakan kue beras kesukaannya yang hanya dijual di kota ini, tapi menolak."


"Kenapa?"


"Ya, karena aku sudah menikah, Sayang."


"Tapi Aura, 'kan sahabat kamu, Mas?"


Nizam tertawa mendengar perkataan Bulan, lalu berkata, "Tidak ada lagi yang namanya sahabat wanita untuk pria yang sudah beristri, Sayang. Begitu pun sebaliknya."


Bulan tersenyum memandangi wajah sang suami. Sungguh, ia begitu bahagia mendengar jawaban Nizam yang cukup membuat hatinya tenang.


"Ayo kita melanjutkan perjalanan kita." Nizam berbicara dengan begitu semangat, lalu mulai menginjak pedal gas. Namun, dari arah berlawanan, tiba-tiba sebuah mobil menabrak mobil mereka hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Braaak


"Mas Nizam!" teriak Bulan ketika mendapati Nizam tidak sadarkan diri di sampingnya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2