Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 26


__ADS_3

'Tapi maaf sebelumnya, Nak Nizam. Wardah tidak cukup sabar untuk menunggu lebih lama lagi sesuatu yang tidak pasti. Beberapa minggu dia menunggu dan akhirnya datang pria lain yang melamarnya. Kebetulan yang melamar ini seniornya di rumah sakit, makanya Wardah langsung menerima. Insya Allah bulan depan mereka akan menikah.'


Nizam membuang napas lesu mengingat perkataan ayah dari Wardah malam itu. Ia tak bisa menyalahkan siapa pun saat ini, jika ada yang harus disalahkan, sudah pasti itu adalah dirinya sendiri.


Bagaimana tidak? Sejak awal Khaira memperkenalkan Wardah pada Nizam, ia tak pernah serius menanggapi, tak juga berkata tidak, apalagi berkata iya. Kini ia menyadari dampak akibat sikapnya itu. Tak hanya kecewa, tapi juga malu.


"Kak Nizam kenapa? Ada masalah? Perasaan dari tadi bengong terus," tanya Nizwa membuyarkan lamunan sang kakak.


"Nggak apa-apa, jangan kepo, mending habisin makanan kamu, nanti telat, loh!" balas Nizam pelan membuat Nizwa mendengkus.


"Apaan, sih! Nizwa, 'kan cuma mau perhatian sama Kakak, gitu aja, kok."


"Udah-udah, Nizwa, sepertinya mood Kakakmu lagi kurang bagus. Habiskan makananmu, Nak, nanti kamu telat ke kantornya," ujar Khaira mencairkan suasana.


"Iya, Bunda," sahut Nizwa.


Usai sarapan, gadis itu segera pamit dan pergi ke kantornya seperti biasa. Kini hanya tersisa Nizam dan sang ibu yang masih sarapan dalam diam.


"Ekhem, Zam, kamu jangan pikirkan yang semalam, yah. Jika memang Wardah menerima lamaran pria lain, itu artinya kalian tidak berjodoh," kata Khaira mencoba menghibur.


"Iya, Bunda," balas Nizam sambil menarik salah satu ujung bibirnya membentuk lengkungan tipis.


"Gimana kalau sama Hana saja? Dia cantik, mandiri, dan sukses, siapa tahu kalian cocok." Kali ini Khaira kembali memberikan pilihan kepada Nizam.


"Terserah Bunda saja, coba di telepon dulu, jangan sampai dia juga sudah dilamar," ujar Nizam. Kali ini ia tak ingin malu kembali seperti malam itu di rumah Wardah.


"Baiklah, Nak." Khaira menyetujui perkataan Nizam dan langsung menghubungi ibu dari Hana usai menyelesaikan sarapan.


Sambil menunggu sang ibu menyelesaikan panggilannya, Nizam merapikan kembali pakaian dan sepatunya sebelum berangkat kerja. Sesekali ia mengamati raut wajah sang ibu yang tampak bahagia. Senyuman di wajahnya tak pudar sedikit pun dari awal menelepon hingga sambungan telepon itu berakhir.


"Zam, kamu cepat pulang sore ini, yah. Alhamdulillah, Hana belum ada yang lamar. Teman bunda setuju bertemu dengan kita di restorannya sore nanti," kata Khaira bersemangat.


"Baik, Bunda. Insya Allah."


Nizam akhirnya berangkat ke kantor pagi itu dengan perasaan yang lebih lega. Ia berharap semoga kali ini tidak ada lagi sesuatu yang membuatnya malu ataupun kecewa.


☘☘☘


Pagi itu, Arfan menanti kedatangan sang bos di depan ruangannya dengan tidak sabar. Beberapa kali ia mondar-mandir sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tumben dia terlambat datang," monolog Arfan.

__ADS_1


"Nungguin siapa?" tanya Nizam yang entah sejak kapan berdiri di belakang Arfan hingga membuat pria yang sejak tadi menunggunya itu terperanjat.


"Astaghfirullah, ngagetin aja, Bos."


"Kau yang tidak fokus sejak tadi. Aku datang malah sibuk lihat arloji." Nizam berjalan memasuki ruangannya segera kemudian diikuti Arfan berjalan di belakang.


"Begini, Bos. Tadi Ibu Syifa datang ke sini ingin menemuimu, tapi kau tidak kunjung datang, akhirnya dia pergi lebih dulu karena punya urusan mendadak."


"Oh, ya? tidak apa-apa, kalau dia ada perlu sesuatu, pasti dia akan datang kembali nanti," ujar Nizam santai seraya melepas jasnya.


"Anu, Bos. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak tadi dan aku harus menyampaikannya kepadamu."


Nizam yang tadinya hendak duduk di kursi kebesarannya langsung mengurungkan niatnya. Ia berbalik menatap Arfan dengan dahi yang berkerut. "Apa itu?"


"Begini, Bos. Ini tentang Bu Syifa, sejak kau kembali dari acara peresmian kliniknya, dia selalu menghubungiku untuk menanyakanmu. Dia bahkan menanyakan apa kau sudah memiliki calon istri atau belum," ujar Arfan.


Dahi Nizam semakin berkerut hingga kedua alisnya hampir saling bertautan. "Kenapa dia menanyakan itu?"


"Entahlah, mungkin dia tertarik padamu."


"Bukannya dia sudah menikah?"


"Lalu?"


"Ya itu, sepertinya dia ingin menawarkan diri agar kau menikahinya, itu yang aku tangkap dari tiap pertanyaan yang dia lontarkan padaku."


Nizam tertawa pelan seraya mendaratkan tubuhnya di kursi. "Kau jangan membuat kesimpulan dulu. Bu Syifa itu lebih tua dariku, seleranya pasti pria yang lebih dewasa darinya." Nizam menghentikan sejenak perkataannya.


"Oh iya, sore ini jadwalku kosong, 'kan?" tanyanya pada Arfan.


"Iya, Bos."


"Baiklah, aku akan pulang lebih awal nanti."


☘☘☘


Pertemuan dua keluarga yang dihadiri oleh Nizam, Boy, dan Khaira, serta Hana dan keluarganya tengah berlangsung di sebuah restoran sore itu. Tampak raut wajah bahagia terlihat dari mereka, kecuali Nizam maupun Hana yang lebih memilih diam sambil menikmati makanan di hadapannya.


"Hana ini sudah cukup dewasa, kami sudah sering memintanya untuk menikah, tapi dia malah selalu fokus dengan pekerjaannya," ujar ibu dari Hana sambil tertawa.


"Benar, Bu. Nizam juga seperti itu, diminta nikah, eh malah kerja. Apa dia tidak tahu, kita sebagai orang tua sudah sangat memimpikan cucu," timpal Khaira ikut tertawa.

__ADS_1


"Cocok sekali, bagaimana jika kita nikahkan segera anak kita?" tanya ayah dari Hana begitu antusias.


Sementara mereka saling bercerita, Nizam pamit untuk ke toilet sejenak. Biarlah itu menjadi pembicaraan para orang tua, ia kini sudah pasrah. Satu hal yang ia yakini, jodoh tak akan pernah salah alamat.


Beberapa menit di toilet akhirnya pria itu keluar dengan wajah yang lebih fresh karena baru saja di basahi oleh air.


"Pak Nizam." Langkah kaki Nizam terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. Pria itu langsung menoleh ke arah sumber suara di mana Hana sudah berdiri di sana.


"Eh, iya, ada apa, Bu Hana?"


"Bisa kita bicara sebentar?"


..


Nizam kini kembali ke kursinya, kemudian disusul Hana beberapa menit kemudian.


"Bagaimana, Nak. Kamu setuju, 'kan jika tanggal pernikahanmu dilakukan bersamaan dengan Nizwa?" tanya Khaira.


Nizam terdiam sejenak dengan tangan yang mengepal di bawah meja. Pria itu memandang wajah kedua orang tuanya yang tampak begitu bahagia, kemudian ia alihkan pandangannya ke orang tua Hana yang tak kalah bahagia.


"Maaf, Ayah, Bunda, Om, dan Tante. Saya ... saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini," ucap Nizam lalu tertunduk.


"Apa? Kenapa? Bukankah kalian sudah setuju? Bu Khaira, apa maksud semua ini? Bukankah kalian yang menghubungi saya untuk melakukan pertemuan ini? Apa kalian sengaja ingin menjatuhkan harga diri keluarga kami?" cecar ibu Hana dengan mata yang memerah penuh amarah.


Khaira terdiam, tentu saja ia begitu terkejut mendengar perkataan Nizam yang berubah pikiran. Wanita itu menatap sang putra dengan mata yang sudah berkabut, meminta penjelasan melalui sirat mata. Namun, hingga beberapa detik ia menunggu, Nizam sama sekali tidak memberi penjelasan, dia bahkan menunduk tak ingin menatap mata sendunya.


Begitu pun dengan Boy yang menatap Khaira dengan tatapan terkejut sekaligus sendu yang bercampur menjadi satu. Sungguh, apa yang ia dengar dari putranya saat ini sangat berbeda dengan apa yang diceritakan sang istri beberapa jam lalu dengan begitu ceria.


"Maaf," ucap Boy mewakili Khaira yang kini hanya tertunduk dengan rasa bersalah.


"Kalian memang keterlaluan! Saya benar-benar menyesal telah memberi harapan kepada kalian!" Tanpa pamit, ibu Hana langsung beranjak pergi, diikuti oleh ayah Hana yang ikut pergi sambil menarik tangan sang putri.


Tepat setelah kepergian mereka, Khaira pun ikut beranjak dan berjalan meninggalkan dua pria beda generasi yang kini menatapnya dengan sendu. Boy memberikan tatapan tajam kepada Nizam, lalu segera menyusul sang istri keluar dari restoran, meninggalkan Nizam seorang diri.


Nizam pun memutuskan untuk ikut pulang menyusul kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, suasana mobil terasa begitu hening. Baik Khaira maupun Boy enggan berbicara dengannya.


Bahkan hingga mereka tiba di rumah, mereka masih saja mengacuhkan Nizam. Jika tak sengaja menatap Nizam, maka tatapan tajamlah yang mereka layangkan. Hal itu berhasil membuat hati pria itu sangat terluka.


"Maaf, Ayah ... Bunda."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2