Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 19


__ADS_3

Di sebuah gudang yang menajdi markas para anak geng motor, seorang pria berjambang tengah mondar-mandir di depan para anak buahnya. Sudah tiga hari ia melakukan pencarian Bulan dan Nizam, tapi hingga saat ini belum juga menemukan kabar keberadaan mereka, termasuk di kota B.


"Revan, lanjutkan pencarian, kau harus segera menemukan mereka. Geng motor kita ini akan bubar jika Bulan membeberkan semua yang ia tahu tentangku," titah Marcel.


"Baik, Bos, aku akan terus mencari mereka," sahut Revan.


"Kenapa kau tidak langsung memerintahkan kita untuk mengejarnya malam itu, Bos? Padahal kita memiliki kesempatan untuk mengetahui lokasi mereka," tanya Simon.


Marcel terdiam sambil memainkan jenggotnya. "Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti itu, mungkin karena aku cukup terkejut dengan kedatangan Boy yang ternyata ayah dari Langit, eh Nizam maksudnya."


"Boy?"


Marcel mengangguk pelan. "Tapi lupakan saja, aku harus segera mencari mereka." Marcel segera mengalihkan pembicaraannya, seolah ia tak ingin ada yang tahu jika dulu dia juga hanyalah seorang anak buah Boy.


Ponsel Simon tiba-tiba berdering dan menampilnya nomor seseorang yang ia kenalii di sana. Pria itu kemudian masuk ke dalam ruang pribadi Marcel untuk mengangkat telepon.


"Halo? Bos"


"Halo, Simon, di mana Marcel? Apa yang kalian lakukan selama ini? Kenapa orang yang kalian bilang sudah mati malah muncul di sini?" gertak seseorang di seberang telepon.


"Maksud, Bos apa?"


"Kalian mengatakan jika Bintang telah mati, 'kan? dan yang kalian cari saat ini adalah temannya. Tapi kenapa malah Bintang yang datang di kantorku? Apa kalian sedang mempermainkanku?"


Marcel yang melihat Simon gelagapan langsung mengambil alih teleponnya.


"Halo, Bos. Ada apa?"


"Ada apa-apa? Sekarang aku tidak mau tahu, tangkap Bintang sekarang, kalau tidak, akan kuledakkan kalian berdua!" ancam pria itu dengan suara tinggi.


"Ba-baik, Bos. Kami akan menangkap Bintang sekarang."


Panggilan pun berakhir. Marcel menatap Simon dengan tatapan kesal. Pasalnya, Simonlah yang memastikan langsung di rumah sakit bahwa Bintang yang meninggal. Namun, ia sengaja mengubah identitas wanita itu menjadi Aura agar tak ada orang lain yang mencari Aura selain mereka.


"Maaf, Bos. Aku akan memastikan bisa menangkap Bintang kali ini." Simon segera keluar dari ruang pribadi Marcel lalu membawa beberapa anggotanya untuk ikut mencari Bintang.

__ADS_1


..


"Kau terlambat, tadi dia datang ke sini ingin melaporkan tentang kecelakaan itu dan mencari adiknya, tapi urung karena dia hanya ingin bertemu dengan kepala polisi. Aku mengatakan jika kepala polisi tidak ada, makanya dia langsung pergi. Tapi tenang saja, aku sudah memerintahkan seseorang untuk mengikutinya dan ini adalah alamat rumah yang ia tempati saat ini," jelas Trim, teman Simon yang bekerja di kantor polisi.


Trim memberikan secarik kertas kepada Simon, membuat pria itu tersenyum lega, lalu segera pamit bersama dua teman geng motornya.


Malam ini, Simon dan temannya itu tidak langsung kembali ke markas. Mereka sedang mengatur siasat untuk kembali menculik Bintang. Mereka yakin, dengan menangkap Bintang tentu sangat mudah baginya untuk mendatangkan Bulan kembali.


Pukul 12 tengah malam, Simon dan dua temannya yang memakai pakaian dan topi serba hitam itu mulai beraksi dengan cara berpencar. Hampir tak ada suara apa pun yang mereka keluarkan saat memasuki rumah yang mereka ketahui hanya terdiri dari sepasang suami istri paruh baya dan Bintang.


Di saat wanita itu sedang tidur tanpa melepas kerudungnya, Simon langsung membekap mulutnya dengan lakban dan menutupi kepalanya dengan kain hitam. Tak lupa ia mengikat tangan dan kaki wanita itu, lalu menggendongnya secara paksa keluar dari rumah. Rupanya, kedua temannya telah lebih dulu menunggu di dalam mobil. Mobil pun langsung melaju menuju markas mereka dengan kecepatan tinggi.


☘☘☘


Marcel berjalan cepat memasuki ruangan pribadi di mana Simon dan kedua temannya, serta Bintang sedang menunggu kedatangannya.


"Kerja bagus," puji Marcel kepada Simon dan kedua temannya.


Pria itu tersenyum saat melihat seorang wanita yang sedang duduk meringkuk di lantai dengan tangan dan kaki yang diikat, serta wajah yang masih di tutup dengan kain hitam. Ia berjalan perlahan mendekat, lalu berjongkok dan membuka penutup kepala wanita itu.


"Halo, Bintang, lama tidak bertemu, kemana saja kamu beberapa bulan terakhir ini?" tanya Marcel dengan senyuman yang masih bertahan di wajahnya.


Untuk sesaat tak ada jawaban, wanita itu hanya diam menatap Marcel dengan tatapan benci.


"Hey, kenapa kau menatapku seperti itu?" gertak Marcel, tapi lagi, wanita di depannya sama sekali tak menunjukkan rasa getir.


"Kamu, 'kan, yang mencelakai mobil itu?" Kamu juga yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal?" cecar wanita itu tanpa mengalihkan tatapannya dari pria berjambang di hadapannya.


Marcel yang tadinya berjongkok kini berdiri sambil tertawa, semakin lama tawa pria itu semakin menggelegar. "Memangnya kenapa jika aku yang melakukannya? Kau bisa apa?" tanyanya lalu lalu kembali tertawa.


"Kenapa kau melakukannya?" tanya wanita itu lagi dengan penuh penekanan.


Marcel menghentikan tawanya, lalu kembali berjongkok. "Karena kalian mengetahui bahwa aku adalah bagian dari kelompok *******. Kalian selalu saja mengganggu ketenanganku dengan melapor polisi, dan juga temanmu itu, siapa namanya, Aura? Harusnya dia tidak ikut melihatku bertransaksi waktu itu, merepotkan sekali."


"Apa?"

__ADS_1


"Kenapa? Kaget? Siapa pun yang melihat kejahatanku, mereka harus pergi, kecuali adikmu, Bulan."


Wanita itu semakin mengerutkan dahinya, bahkan kedua alisnya hampir saling bertautan.


"Aku berusaha baik dengan adikmu, jadi aku tidak mencelakainya, tapi malah menikahinya, kenapa? Karena aku mencintainya, sayangnya dia malah berselingkuh dengan pengkhianat itu. Lihat saja, aku akan pastikan adikmu akan datang ke sini. Dengan begitu tidak akan sulit bagiku untuk melenyapkan kalian berdua."


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya yang terikat sambil menahan gejolak amarah di hatinya.


"Ah, dan satu lagi, mengenai alasan lain kenapa aku melenyapkan kedua orang tuamu, kau bisa tanyakan langsung pada, Pamanmu, dia jugalah yang ikut andil dalam merusak rem mobil ayahmu." Marcel menunjuk Simon sambil tersenyum santai.


"Pa-paman?" Wanita itu kini menatap Simon dengan tatapan tidak percaya.


"Kau lucu sekali, harusnya kau mencurigai pamanmu dari awal, kau tahu sendiri aku yang melakukannya, Pamanmu juga tahu, tapi dia masih saja setia bersamaku, itu artinya dia memang ikut andil dari itu semua."


Marcel kini tertawa bersama Simon tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mereka justru terlihat bangga dengan apa yang mereka lakukan.


"Iblis kalian!"


"Apa?"


"Tidak, kalian bahkan lebih buruk dari iblis! Kalian bukan manusia, kalian bahkan tidak tahu cara memanusiakan manusia!"


"Hey, diam kau!" sentak Marcel memberikan peringatan.


"Aku tahu kenapa kamu menikahi adikku, karena tak ada wanita lain yang menginginkanmu, iya, 'kan? Kamu bahkan tidak percaya diri mendekati wanita lain, karena kamu ...."


Plak


Perkataan wanita itu terhenti ketika sebuah tamparan yang begitu keras kini tepat mengenai wajahnya. Wajah Marcel tampak merah karena amarahnya yang memuncak.


Kedua bola matanya bahkan melotot menatap wanita itu dengan rahang yang mengeras. Ia benar-benar benci jika ada yang mengungkapkan penyakitnya, bahkan Simon pun tidak tahu akan hal itu.


Pandangan Marcel kini beralih pada sesuatu yang menempel di tangannya. Ia yang mulai menyadari sesuatu yang salah langsung menoleh ke arah wanita itu. "Bulan, kau ...."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2