
Pagi menjelang siang yang cukup cerah di hari libur. Seorang pria tengah bermanja dengan sang istri yang semakin terlihat berisi di kehamilannya yang ke tujuh bulan.
Dengan berbantalkan paha Nizwa yang diselonjorkan di atas kasur sambil bersandar di kepala tempat tidur, Arfan berbaring sambil merasakan gerakan-gerakan kecil yang ditimbulkan oleh calon bayi mereka.
"Kak, apa kamu udah siapin nama untuk calon anak kita?" tanya Nizwa sambil mengusap lembut kepala sang suami.
"Sudah, Sayang. Aku bahkan udah siapin lima nama. Apa kamu mau dengar? Biar kamu bisa memilih salah satunya," jawab Arfan yang diikuti pertanyaan.
"Banyak banget, Kak. Kamu aja yang pilih, aku manut aja."
"Baiklah, Sayang."
Keduanya terdiam sejenak.
"Kak, menurut kamu, apa surprise dari Kak Nizam berhasil?" tanya Nizwa menunduk menatap sang suami.
"Aku rasa berhasil. Jika tidak, pasti dia sudah mengamuk pada kamu karena ide itu," jawab Arfan sambil mengusap pipi tembem Nizwa.
"Semoga saja, dan semoga mereka segera dikaruniai anak."
Baru saja Nizwa mengatakan hal itu, ponselnya tiba-tiba berdering. Wanita hamil itu mulai khawatir ketika melihat nama yang tertera pada layar benda pipih tersebut.
"Kak, Kak Nizam menelepon. Jangan-jangan dia mau ngamuk karena rencananya gagal," ujar Nizwa seraya memperlihatkan ponselnya kepada Arfan.
"Coba angkat, harusnya, sih, tidak. Ini sudah beberapa menit berlalu," balas Arfan.
Nizwa kemudian mengangkat telepon itu tak lupa ia menghidupkan mode loud speaker-nya. Ia berharap bukan amukan atau pun gerutuan yang akan ia dengar kali ini melainkan suara bahagia sang kakak.
"Assalamu 'alaikum, Kak."
"Dek, pembalut itu yang kayak gimana?"
"Hah?" Untuk sesaat Nizwa tak mengerti apa yang dimaksud oleh Nizam.
"Pembalut, Dek. Kata Bulan, pembalut bersayap paling cocok untuknya kalau lagi M, memang ada barang seperti itu? Bisa terbang, dong?" tanya Nizam terdengar kebingungan.
Nizwa seketika menahan tawanya mendengar pertanyaan sang kakak. Sudah bisa ia pastikan, keinginannya untuk memiliki keponakan harus diundur terlebih dahulu
"Kakak tanya aja sama penjualnya, pasti mereka tahu. Aku nggak bisa jelaskan lewat kata-kata," ujar Nizwa sambil tertawa pelan.
"Ya ampun, malulah, Dek. Ya sudah, matikan aja teleponnya, malah tambah pusing aku."
__ADS_1
Panggilan pun terputus. Nizwa dan Arfan yang yang mendengar semuanya langsung tertawa terbahak-bahak.
☘️☘️☘️
Sementara itu, entah sudah berapa lama Nizam mondar-mandir di dalam sebuah minimarket. Ia kebingungan mencari benda yang disebut pembalut, maklum saja, sejak kecil ia tidak menyukai menonton TV sehingga beberapa iklan mengenai pembalut pun tak pernah ia lihat.
Nizam bahkan membaca satu per satu barang di minimarket itu, barangkali saja ia menemukan kata 'pembalut'. Usaha pria tidak sia-sia, setelah membaca puluhan nama produk, ia benar-benar berjumpa dengan produk yang bertuliskan 'pembalut'.
"Alhamdulillah, akhirnya kumenemukanmu!" soraknya bahagia seraya mengangkat sebungkus pembalut seolah telah menemukan harta karun. Ia bahkan tidak sadar jika saat ini semua mata telah memandang ke arahnya.
"Allahu akbar, ini malah semakin memalukan dibanding bertanya pada penjual," ucapnya pelan sambil memukul pelan kepalanya.
"Tunggu dulu, apakah ini bersayap?" Nizam seketika tersadar akan sesuatu.
Ia melihat seluruh merk pembalut yang ada di hadapannya. Namun, karena tak ingin semakin bingung, pria itu pun memilih merk pembalut dengan harga paling mahal. Ia yakin, selain kualitasnya bagus, tentu sudah dilengkapi dengan fasilitas sayap terbaik yang pernah ada, walau hal itu tak sampai pada akalnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit dengan menaiki motor gedenya, Nizam pun tiba di rumah. Ia segera berlari menuju kamar di mana Bulan tengah berbaring sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri.
"Sayang, aku sudah membawakan apa yang kamu butuhkan," ucap Nizam lalu duduk di samping sang istri dan menyerahkan barang belanjaannya.
"Terima kasih, Mas," ucap Bulan pelan lalu segera berlari-kari kecil sambil membawa plastik yang berukuran sedikit besar itu ke dalam kamar mandi.
Akan tetapi, baru beberapa detik berlalu, Bulan kembali keluar dari dalam kamar mandi seraya memanggil sang suami.
"Loh, memangnya kenapa? Itu pembalut terbaik yang dilengkapi dengan sayap, 'kan?" tanya balik Nizam.
"Iya, Mas. Ini memang pembalut, tapi pembalut nifas model celana. Mubasir untuk yang hanya datang bulan."
"Nggak akan mubasir, Sayang. Kamu, 'kan, bisa pake lebih lama."
"Nggak boleh, Mas. Pembalut itu sebaiknya digunakan 4-6 jam saja, biar terjaga kebersihan dan kelembabannya."
"Oh, gitu, yah. Apa aku harus kembali membelinya?" tanya Nizam.
"Tidak usah, Mas. Biar aku pake satu dulu, nanti kita belanja bareng saja. Sisanya nanti aku pake kalau aku nifas," ucap Bulan dan seketika terkejut karena mendengar suara Nizam yang menggelegar.
"Aamiin yaa Allah," ucap Nizam.
Keduanya saling menatap sejenak, lalu di detik berikutnya, mereka tertunduk dan tersenyum malu-malu layaknya sepasang kekasih yang baru saja jatuh cinta.
"Masuklah, sore nanti kita akan ke rumah ayah untuk mengadakan syukuran bersama anak yatim atas kepulanganku. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu."
__ADS_1
☘️☘️☘️
Di kota A, Aura baru saja selesai memeriksa pasien terakhir di ruangannya. Tubuh wanita itu terasa sangat lelah dan mengantuk. Semenjak Nizam pergi dalam keadaan marah, ia benar-benar dihantui rasa bersalah hingga tidur pun terasa sulit.
"Apa aku harus ke kota B untuk meminta maaf atas semuanya sebagaimana saran ayah dan ibu? Tapi aku benar-benar malu hanya untuk menampakkan wajahku di hadapan mereka, terutama Bulan." Aura mengusap wajahnya kasar, lalu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Aku benar-benar telah merusak iffah dan izzah-ku sebagai wanita. Dasar bod0h!" ucapnya memaki diri sendiri penuh akan penyesalan.
Tok tok tok
Aura segera membenarkan posisinya dan raut wajahnya ketika mendengar suara ketukan pintu. "Iya, masuk!"
"Permisi, Bu Dokter. Seperti biasa, aku ingin mengantar bunga ini," ucap seorang remaja seraya memberikan setangkai bunga carnation.
Aura menatap bunga itu sejenak lalu menoleh ke arah vas bunga di mejanya yang berisi beberapa bunga yang sama. Entah, sudah berapa kali ia mendapatkan setangkai bunga carnation dari remaja laki-laki yang berbeda setelah seorang pria asing memberikan sebuket bunga yang sama lebih dulu. Ia membuang napas kasar lalu menerima bunga itu.
"Ini dari siapa sebenarnya?" tanya Aura dengan alis yang hampir saling bertautan.
"Dari bos saya, Bu Dokter," jawab remaja itu.
"Siapa bos kamu? Tolong antar aku menemuinya!" pinta Aura. Remaja laki-laki itu pun mau tidak mau memenuhi permintaan Aura.
Dilihat dari gaya berpakaiannya, remaja itu tampak bergaya ala preman, dengan celana jeans sobek, dan menggunakan anting, serta tato yang ada di lengannya, walau sedikit.
Mereka terus berjalan hingga berada di depan kamar VIP yang menjadi tempat bos remaja itu di rawat. Ketika masuk, suara yang yang tak asing di telinganya terdengar sedang menasehati beberapa orang.
"Kalian itu, aku fasilitasi untuk menikmati hidup yang nyaman dan penuh warna, bukan malah membuat bahaya dan kerusakan. Jika kalian tidak bisa diatur, dengan terpaksa aku akan mengeluarkan kalian dari geng motorku."
Degh
Jantung Aura mulai berdegup kencang mendengar kata geng motor. Sudah cukup masa lalunya hancur karena ulah para geng motor sebelumnya, kali ini ia tak ingin hal yang sama terjadi lagi padanya.
.
-Bersambung-
.
.
NOTE : Dalam syariat, izzah adalah kesucian atau kemuliaan, sebuah harga diri dan kehormatan perempuan sebagai seorang muslimah. Sedangkan iffah adalah menahan atau cara menjaga kesucian dan kemuliaan tersebut. Secara istilah, menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan.
__ADS_1
(Kalam.sindonews.com)