
Weekend telah berakhir dengan tidak begitu baik. Mungkin itulah yang dirasakan Bulan saat ini. Sejak kejadian maskot panda itu, hingga hampir memasuki akhir pekan lagi, secara tidak sadar dirinya menaruh rasa waspada kepada Nizam meski sebenarnya ia tidak menginginkan hal itu.
Bulan sudah memaafkan Nizam maupun Nizawa. Namun, masih saja ada rasa takut yang menyelimuti hatinya tiap kali bertemu dengan sang suami, hingga membuat wanita itu refleks putar arah dan menjauh. Bahkan, ia baru akan memasuki kamar tidur ketika Nizam telah terlelap.
Bulan tahu Nizam tentu merasa sedih mendapati sikapnya yang semakin membuat jarak di antara mereka. Namun, ia bisa apa? Ada reaksi dari tubuhnya yang begitu sulit dielakkan.
Bukan perkara mudah untuk melawan kendali alam bawah sadarnya, sebab ia sendiri telah berusaha keras melawan dan melakukan apa yang ia inginkan. Namun, memaksakan diri hanya kembali menyakitinya.
Seperti saat ini, Bulan hanya bisa menatap Nizam yang pergi bekerja dari balik jendela. Mengantarnya dengan senyuman nanar dan mata yang berembun. Perasaannya serba salah, ingin mendekat, tapi tak nyaman, dan menjauh pun rasanya malah menyiksa.
"Maafkan aku, Mas. Bukannya semakin membaik, aku justru semakin menyusahkanmu. Aku tahu niatmu baik, kalau pun kamu memang ingin agar aku terbiasa dengan sentuhanmu, itu sangat normal, bahkan itu adalah hakmu sebagai suami. Akulah yang tidak normal di sini dan semua masalah ini bersumber dariku, aku benar-benar payah," lirih Bulan lalu berjalan gontai menuju kamarnya dengan raut wajah yang begitu sendu.
Ketika tiba di kamar, Bulan memperhatikan seluruh isi ruangan guna mencari pakaian yang sekiranya tercecer untuk di cuci. Namun, perhatian wanita itu kini teralihkan pada sebuah kertas yang berada di atas nakas. Diraihnya kertas itu dan mulai membacanya.
'Sayang, jangan lupa minum obatmu, yah! Semoga lekas membaik. Aku akan selalu menjadi support systemmu, insya Allah.'
Bulan duduk di sisi tempat tidur, lalu kembali menatap nakas yang memang sudah tersedia segelas air minum dan sebuah wadah berisi obat di sana. Wanita itu tersenyum lalu mulai meminum obatnya.
"Terima kasih, Mas."
Pandangannya kini tertuju pada boneka panda pemberian sang suami yang berada di sudut ruangan. Tanpa ia sadari, tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipinya. Ingatannya mengenai wajah sang suami yang awalnya tersenyum seketika memucat saat menyadari kehadirannya di taman waktu itu cukup membuat hatinya bagai teriris.
Apalagi jika mengingat bagaimana kesabaran Nizam sebagai suami yang tak pernah menuntut apa pun, dan selalu siap siaga untuk menenangkan jika ingatan traumanya tiba-tiba kembali.
Kali ini Bulan benar-benar mengeluarkan rasa yang selama ini ditahan semenjak menikah dengan Nizam. Awalnya ia mengira dengan memendam rasa yang tak bisa dijelaskan itu, jiwanya akan terbiasa dan pada akhirnya menjadi kuat. Namun, fakta yang ia alami justru berbeda. Semakin berusaha ia pendam, maka semakin sakit dan tersiksa batinnya.
"Kenapa penyakitku ini tak kunjung membaik? Apa ini teguran dari Allah karena niatku untuk menikah yang salah?" pikir wanita itu.
Ya, awal mula Bulan setuju menikah karena saran dari Syifa agar memiliki support system, sehingga bisa mempercepat pemulihannya. Jangankan alasan menikah, ia bahkan tak sempat memikirkan bagaimana hubungannya kelak dengan sang suami.
"Astaghfirullah." Lagi-lagi wanita itu hanya bisa beristighfar menyadari kesalahannya. Jika memang demikian, maka sungguh, ia telah mendzolimi Nizam sebagai suaminya.
Wanita itu semakin larut dalam tangisan, ia tak peduli jika wanita paruh baya yang menjadi asisten rumah tangga di rumah itu mendengarnya. Yang jelas kini ia menyesali dan merutuki semua kesalahannya.
__ADS_1
Puas menangis, Bulan menyeka air matanya yang sudah membasahi pipi, berusaha memperbaiki duduk dan mengatur napasnya. Kali ini ia mulai bertekad mengubah tujuan pernikahannya di awal menjadi ibadah kepada Allah. Kalaupun nanti penyakitnya benar-benar sembuh, maka itu adalah bonus dariNya.
Yang perlu Bulan lakukan saat ini adalah membangun tekad yang kuat untuk kesembuhannya. Sebab untuk bisa menjalankan seluruh ibadah dengan baik, maka ia harus sehat secara fisik ataupun psikis.
"Bismillah," ucap wanita itu lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. Kali ini ia berencana membuatkan makan siang untuk sang suami. Menyenangkan suami tentu adalah ibadah, makanya ia ingin memulainya dengan membuang ego dan rasa takutnya sendiri.
Dengan dibantu oleh Mak Nira-sang asisten rumah tangga, Bulan mulai memasakkan menu makan siang untuk Nizam. Sebuah senyuman terbit di wajah cantik dan teduh wanita itu, ia cukup bersemangat kali ini. Semoga saja usahanya bisa berdampak positif bagi hubungan mereka dan tentu bagi kesehatan psikisnya.
☘☘☘
Arfan berdiri di depan meja kerja Nizam dengan alis yang berkerut. Bukan tanpa alasan, sejak tiba di kantor hingga menjelang waktu makan siang, pria itu tampak gelisah dan enggan keluar dari ruangannya. Ia bahkan tak ingin bertemu siapa pun terlebih dahulu, kecuali sang asisten.
Bukannya ingin mencampur masalah pribadi dengan pekerjaan. Pikirannya saat ini sedang kacau. Ia tak ingin nantinya membuat keputusan dengan pikiran yang tidak jernih. Sebagaimana seseorang dilarang membuat keputusan ketika sedang marah karena dikhawatirkan keputusan itu bisa melahirkan penyesalan di kemudian hari.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bos?" tanya Arfan yang mulai tak tahan menyaksikan drama sang sahabat.
"Bulan, sepertinya dia semakin membenciku," jawab Nizam mengusap wajahnya kasar.
Nizam hanya mengedikkan bahu merespon pertanyaan Arfan.
"Karena keduanya sama-sama mencoba menghindari konflik. Berusaha terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya pikirannya sedang tertekan," lanjut Arfan.
"Apa maksudmu?" Kini giliran Nizam yang mengertukan dahinya menatap Arfan.
"Perlu keterbukaan, Bos. Apalagi untuk Bulan dengan kondisi yang sedikit rumit. Apa yang ingin kau lakukan untuknya harus dikomunikasikan terlebih dahulu agar dia tahu niatmu dan tidak salah paham. Mungkin kau bisa tanyakan apa saja yang bisa kau lakukan agar dia merasa nyaman, dan apa saja yang perlu kau hindari agar tidak memicu respon traumanya," jelas Arfan.
Nizam terdiam. Kini ia menyadari satu hal, selama ini ia selalu mengandalkan naluri saja dalam mengambil keputusan. Jika menurutnya itu baik untuk Bulan, maka ia akan wujudkan tanpa meminta pendapat wanita itu. Dan hasilnya sudah ia rasakan saat ini, sang istri justru takut dan berusaha menghindarinya.
"Anggap saja ini adalah ujian di awal pernikahanmu. Sabar, aku yakin, suatu saat Bulan akan sembuh," sambung Arfan lagi membuat Nizam sedikit tenang.
"Aku tidak menyangka, ternyata kau pintar juga, Fan," puji Nizam atas nasehat dan saran yang cukup membantunya saat ini.
"Ekhem, terima kasih, Bos. Kau memang sangat beruntung memiliki adik ipar sepertiku," ucap Arfan lalu mulai tertawa, tapi terhenti paksa karena Nizam tiba-tiba melemparinya dengan pulpen.
__ADS_1
"Baru dipuji dikit sudah melunjak."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu ruangan Nizam seketika mengalihkan perhatian dua pria itu. Arfan dengan sigap bergerak membuka pintu untuk menyampaikanjika sang bos tak ingin di ganggu. Namun, ia cukup terkejut saat mengetahui siapa yang datang saat ini.
"Assalamu 'alaikum, Nizam ada, 'kan?" tanya Aura.
"Iya ada," jawab Arfan tak mampu mencegah wanita itu masuk ke dalam ruangan.
"Aura? Ada apa kemari?" tanya Nizam yang juga tak kalah terkejut melihat kedatangan Aura.
"Apa aku harus memiliki alasan untuk bertemu denganmu?"
"Iya, karena aku sudah beristri. Aku harus tahu alasanmu agar nantinya aku memiliki jawaban jika Bulan bertanya."
Aura tersenyum kecut di balik maskernya mendengar jawaban Nizam. Namun, ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Ayolah, Zam. Kamu jangan terlalu kaku seperti ini."
Nizam hanya tersenyum tipis lalu mengarahkan Aura untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Ada apa?"
Aura membuang napas kasar mendapati Nizam yang kini cenderung dingin kepadanya. Mau tidak mau ia tak lagi melanjutkan basa-basinya.
"Aku sudah tahu kondisi Bulan."
Nizam yang duduk di hadapan Aura langsung menatap wanita itu dengan dahi berkerut, bahkan kedua alisnya hampir saling bertemu.
"Zam, aku tahu kamu memiliki rasa simpati dan kasihan kepada Bulan. Tapi memutuskan menikah dengannya karena hal itu justru tidak baik untuknya. Apa yang kamu lakukan itu bisa menjadi bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak dan semakin melukainya."
-Bersambung-
__ADS_1