Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 42


__ADS_3

Tiga tahun lalu,


"Ibu, Ayah, Aura pamit mau melayat ke rumah pasien," ucap Aura.


"Pasienmu?" ujar Silvi bertanya.


"Iya, Bu. Pasien Aura ini punya kakek, dan semalam tutup usia. Dia meminta Aura untuk hadir datang mendoakan," jawab Aura seraya menyelesaikan sarapannya di akhir pekan.


"Biar ayah antar, yah?" ujar Ali menawarkan.


"Nggak usah, Ayah. Aura bisa pergi sendiri." Aura melirik arlojinya lalu segera menghabiskan roti. "Aura berangkat sekarang, assalamu 'alaikum," lanjut wanita itu seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


Aura kini melajukan mobil menuju ke alamat yang telah diberikan oleh pasiennya melalui maps. Wanita itu mengikuti arahan jalan dengan lancar. Namun, ketika berada di jalan sepi, seekor kucing tiba-tiba berlari ke depan mobilnya hingga membuat wanita itu berhenti mendadak.


"Astaghfirullah!" Aura keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan kucing tersebut. Wanita itu bersyukur karena kucingnya tidak terluka sama sekali.


Ingin sekali rasanya ia membawa kucing itu pulang, tetapi urung ketika mengingat sang ibu alergi bulu kucing. Aura pun hanya memindahkan kucing itu ke tempat yang lebih aman. Namun, ia justru tak sengaja melihat sesuatu yang mencurigakan di sebuah gudang yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


Aura memberanikan diri untuk mendekat agar kecurigaannya bisa terjawab. Kedua bola mata wanita itu membelalak ketika melihat beberapa pria sedang bertransaksi untuk sebuah benda berupa paket yang dibungkus plastik hitam dan dibungkus kembali dengan isolasi beberapa kali.


"Nark0ba," tebak Aura lalu segera mengambil gambar dan video bukti transaksi. Setelah itu ia langsung pergi dengan melajukan mobilnya.


Sayangnya, kepergian mobilnya justru tertangkap basah oleh orang-orang itu.


"Cari tahu pemilik mobil itu!" titah seorang pria bertubuh tinggi dan besar dengan tatapan tajam.


Keesokan harinya, Aura dengan begitu berani mendatangi kantor polisi untuk melaporkan apa yang ia temui kemarin. Wanita itu berharap polisi akan melakukan penyelidikan mendalam mengenai hal yang ia curigai sebagai transaksi nark0ba.


Sementara di ruang kepala polisi, seorang pria berseragam masuk dan menunduk dengan hormat di hadapan pria yang kemarin berada di lokasi gudang.


"Jadi pemilik mobil itu datang untuk melaporkan kegiatan kita kemarin sebagai bentuk transaksi nark0ba?" tanya pria bermata tajam itu setelah mendapat laporan dari bawahannya yang bernama Trim.


"Iya, Bos."


Pria itu tersenyum licik, lalu berkata, "Sepertinya dia ingin bermain-main dengan kita. Trim, ikuti permainannya. Kau paham, 'kan maksudku?"


"Paham, Bos."


Pria bertubuh besar itu kini menghubungi orang kepercayaannya. "Halo, Marcel, aku ingin kau memantau wanita bernama Aura. Lalu selesaikan dengan cara kita seperti biasa."


...


"Robert, dia adalah pria pendendam, siapa pun yang mencari masalah dengannya, maka tak akan dia biarkan selamat, termasuk wanita itu," ujar Alex usai mendengar cerita tentang Aura hingga menjadi target Robert. Pria dengan pakaian serba hitam itu memperhatikan foto pria bermata tajam di hadapannya.


"Kau benar, aku pernah melihat beritanya ketika dia menjadi saksi atas kasus transaksi nark0ba. Sangat disayangkan karena pers tidak merahasiakan identitasnya," kata Riki membenarkan.


"Dirahasiakan pun sama saja, wanita itu telah masuk dalam perangkap Robert. Dia mengira masalahnya telah selesai dengan ditangkapnya beberapa anak muda yang ternyata merupakan suruhan Robert. Faktanya sebuah ancaman besar sedang mendekatinya perlahan. Nark0ba hanya cara Robert mengalihkan isu atas bisnis yang sesungguhnya." Alex mengetukkan jarinya di wajah foto itu.


Dua pria berbaju serba hitam dan bersenjata lengkap itu tengah berdiskusi dalam sebuah rumah yang di jaga ketat oleh beberapa orang bersenjata lainnya.


"Bos, wanita itu sudah sadar," ucap seorang pria melapor.


"Beri dia makan. Hey, kau sebaiknya ajak dia bercerita juga. Kasihan dia kesepian di dalam ruangan itu sendiri. Jangan lupa untuk memberi dia pengertian agar tetap tenang dan tidak panik," kata Alex.

__ADS_1


Ponsel pria itu tiba-tiba berdering dengan nama sebuah kode di layar ponselnya.


"Halo, bagaimana?"


"...."


"Apa, ada wanita lain yang mereka culik?"


"...."


"Baiklah, perintahkan Vivi untuk bersiaga!" titah Alex lalu mengakhiri sambungan telepon tersebut.


☘☘☘


Di tempat lain, Nizam tengah kalang-kabut usai mendengar kabar ditangkapnya sang istri. Ia seakan hilang arah, tak tahu harus berbuat apa. Semua keluarga pun langsung datang di rumahnya setelah mendapat kabar penculikan Bulan.


"Tenanglah, Nak. Kita harus laporkan ke polisi," ujar Khaira dan langsung mendapat gelengan kepala oleh pria itu.


"Mereka mengancam hal buruk pada Bulan jika kita melapor polisi, Bunda," ujar Nizam begitu frustrasi.


"Fan, apa kau dan Dion telah mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Aura? Bulan sedang bersamanya," tanya Nizam ketika melihat sang adik ipar baru saja tiba di rumahnya.


"Dion mendapatkan video CCTV dari sebuah tempat yang menjadi titik akhir keberadaan Aura. Restoran Zamrud, terakhir dia terlihat memasukinya dan tidak pernah keluar lagi sampai sekarang," kata Arfan menjelaskan.


Nizam kembali terlihat menarik rambutnya asal dengan wajah panik bercampur bingung. Jika saja Diki ada di kota yang sama dengannya, sudah pasti ia meminta sahabatnya itu untuk membantunya mencari sang istri dan Aura.


Tiba-tiba sebuah pesan dari nomor yang sama kembali masuk di ponsel Nizam. Pria itu membacanya sesaat dengan dahi yang berkerut.


"Apa?" tanya semuanya refleks.


"Siapa sebenarnya orang ini? Bukankah Marcel dan para anak buahnya telah ditangkap? kenapa masalah ini masih berlanjut?" Boy kini juga terlihat bingung.


"Apakah mereka adalah bagian dari kelompok ter*ris yang Diki ceritakan?" Jika memang benar, bukankah ini adalah perkara serius?" ujar Arfan.


"Bagaimana jika Nizam ke sana saja?" Nizam terlihat mondar-mandir lalu hendak pergi buru-buru, tetapi segera ditahan oleh Boy.


"Tenang, Nak. Kau harus bisa berpikir jernih, kita pikirkan jalan keluarnya bersama."


Nizam menarik napas dalam lalu duduk mengikuti arahan sang ayah.


☘️☘️☘️


Malam itu, di sebuah gedung kosong yang tidak jauh dari kota, beberapa orang bersenjata dengan kain yang menutupi sebagian wajah mereka tampak sedang berjaga di sekitarnya. Lima menit kemudian, sebuah mobil datang dan berhenti di depan gedung itu, sontak orang yang ada di sana langsung mengarahkan senjata kepada mobil tersebut.


Pintu mobil terbuka, seorang pria berkacamata turun perlahan seraya mengangkat tangannya, kemudian salah satu pria bersenjata itu datang menghampirinya.


"Katakan kodenya!"


Pria berkacamata itu menyebutkan kode seperti yang baru saja ia terima melalui pesan beberapa jam lalu.


"Masuk!"


Pria bersenjata itu menyuruhnya masuk lebih dulu, kemudian berjalan di belakangnya masih dengan gaya siaga dengan senjata.

__ADS_1


"Halo, Langit, akhirnya kau datang juga," sapa pria bertubuh besar sambil tersenyum dan berjalan mendekatinya.


"Aku bukan Langit, aku Nizam!" tegasnya dengan tatapan tajam.


"Ah, benar, kau pengkhianat itu rupanya. Kenalkan aku Robert, silakan duduk!" Ucapan pria itu terdengar ramah, tapi perkataannya tidak sesuai dengan tindakannya. Ia mendorong tubuh Nizam ke kursi dengan kasar hingga membuat pria itu hampir terjatuh ke lantai.


"Katakan apa maumu!" tanya Nizam setelah memperbaiki posisinya. Giginya saling mengerat dan memperjelas rahangnya yang tegas.


"Mauku sangat sederhana, bebaskan Marcel!" jawabnya santai, lalu ikut duduk di hadapan Nizam. Tangannya saling bersedakap dan kaki kanannya bertumpu pada kaki kiri memperlihatkan keangkuhan.


"Baik, asal kau melepaskan Bulan dan Aura!" balas Nizam tak kalah santai.


"Sekarang buktikan kata-katamu dulu." Robert melemparkan ponselnya ke hadapan Nizam.


"Tidak, lepaskan mereka dulu!"


"Ayolah, aku tidak suka menambah negosiasi. Lepaskan Marcel sekarang atau mereka mati!" ancam Robert dengan nada tegas.


Dengan menahan kesal dan amarah, Nizam akhirnya menghubungi Diki agar membantunya membebaskan Marcel yang ditahan di kota A. Beberapa saat kemudian, ponsel Robert berdering. Pria bertubuh besar itu mengangkatnya lalu tersenyum miring.


"Bagus, kau menepati janjimu. Sekarang giliranku menepati janjiku. Ikuti aku!"


Robert berjalan lebih dulu, lalu diikuti Nizam menuju sebuah ruangan yang sedikit gelap. Selama perjalanan ke sana, Nizam mengamati keadaan sekitar. Kurang lebih ada 10 orang yang berjaga di luar tadi, dan 10 orang di dalam, termasuk yang berjaga di depan ruangan yang ia curigai menjadi tempat Bulan disekap. Semuanya memakai kain penutup wajah dan memegang senjata.


Perasaan Nizam tidak enak ketika menyadari seseorang berjalan di belakangnya sambil menenteng beberapa tas kecil yang entah apa isinya.


Suara pintu terbuka membuat Nizam mulai bersiaga. Robert menunjuk dua wanita yang saat ini wajahnya tertutupi kain hitam.


"Itu mereka, silahkan bebaskan mereka sendiri!" titah Robert.


Nizam berjalan perlahan lalu mengamati seluruh sudut ruangan. Namun, lagi-lagi perasaannya semakin risih karena pria dengan tas itu masih saja berjalan di belakangnya.


"Bulan?" ucap pria itu ingin memastikan jika memang wanita itu adalah istrinya.


"Mas Nizam?"


Dahi Nizam yang tadinya sempat berkerut karena waspada seketika memudar dan berganti dengan tatapan sendu. Melihat sang istri dalam keadaan seperti itu sungguh membuat hatinya sakit, terlebih tadi ia sempat mengacuhkan wanita itu.


Rasa bersalah dalam hati membuatnya ingin segera melepaskan Bulan. Namun, sebuah tangan langsung mencegat dari belakang membuat Nizam menghentikan gerakannya. Ketika ia menyadari tangannya hendak diborgol, ia segera menarik tangan dan memberikan pukulan pada pria di belakangnya dengan tangan kiri.


"Dasar penipu!" umpat Nizam begitu kesal lalu segera melepaskan Bulan dan membawa wanita itu ke belakang tubuhnya.


"Aku tidak akan membuka penutup kepalamu dulu, aku tidak ingin psikismu terguncang lagi," ucapnya lirih.


Robert yang melihat hal itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk menembak mereka, tapi gagal karena anak buahnya lebih dulu di tembak oleh beberapa pria berbaju hitam.


"Slal! Robert yang menyadari dirinya dalam bahaya karena beberapa orang yang ia duga anak buahnya ternyata adalah para tim khusus yang menyamar.


Dengan langkah cepat, Robert langsung menarik wanita yang masih terikat dengan kepala yang tertutupi kain hitam. " Jatuhkan senjata kalian! atau wanita ini akan mati!"


"Mas, Kak Aura!"


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2