
...Aku mengira masalah akan berakhir setelah ini dan hidupku akan bahagia. Namun, apa yang kuharapkan rupanya berbeda dengan rencana Allah....
...Luka itu kembali datang, luka akan perpisahan. Bahagia yang sudah di depan mata pun mundur perlahan. Semuanya seketika terasa asing. Qadarullah, dia yang kucintai, dia yang kini menjadi satu-satunya orang istimewa dalam hidupku, kini pergi entah ke mana. ...
...Aku tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi sungguh, aku tidak siap untuk ini....
...(Bulan)...
________________________________________________
Suasana di sebuah gedung tua seketika terasa menegangkan. Robert mulai mengancam akan melukai sanderanya dengan mengarahkan pistol pada leher seorang wanita dengan kepala yang tertutupi kain hitam. Hal itu lantas membuat Bulan begitu panik. Ya, sejak awal diculik, ia telah diberitahu bahwa wanita yang duduk di sampingnya adalah Aura, itu sebabnya ketika mendengar ancaman pria bertubuh besar itu, rasa khawatirnya muncul.
"Mas, tolong Kak Aura!" seru Bulan dengan tubuh bergetar, suaranya nyaris tak terdengar karena begitu lelah menahan diri agar trauma masa lalu tak kembali menguasainya.
Nizam hanya diam dengan tangan yang menahan tubuh sang istri agar tidak berpindah dari belakangnya. Meskipun cedera di tangan dan kaki kanan pria itu belum pulih total, ia nekat datang demi melindungi wanita yang ia cintai.
"Kubilang letakkan senjata kalian!" teriak Robert sekali lagi dengan suara yang menggelegar di ruangan itu.
Tiga pria berpakaian serba hitam yang tadinya mengarahkan senjata padanya kini benar-benar meletakkan senjata mereka di lantai. Robert tersenyum licik melihat hal itu, dan langsung bergerak cepat hendak menembak tiga pria tadi.
Akan tetapi, wanita yang sejak tadi berada di hadapan Robert tiba-tiba bergerak cepat mengunci tangan pria itu yang memegang pistol, lalu mengarahkannya ke atas. Terdengarlah suara tembakan yang keras dan menyisakan lubang di atas plafon tersebut. Tak tinggal diam, tiga pria yang tadi meletakkan senjata langsung menahan tubuh Robert dan menguncinya agar tak dapat bergerak.
Sementara Bulan sudah berjongkok dengan tangan yang menutupi telinganya karena ketakutan. Nizam yang melihatnya langsung memeluk sang istri, lalu berkata, "Tenanglah, Sayang. Insya Allah semuanya baik-baik saja."
"Siapa kau?" teriak Robert kepada wanita di hadapannya. Ia menyadari bahwa wanita yang tadi menguncinya adalah orang terlatih, bukan wanita biasa seperti Aura yang telah ia amati kebiasaannya beberapa hari lalu sebelum eksekusi dimulai.
Wanita itu langsung membuka penutup kepala dengan tangan yang ternyata sudah terbuka ikatannya sejak tadi.
__ADS_1
"Aku Vivi, agen khusus yang menyamar sebagai Aura."
...
Sebelumnya,
"Bos, anak buah Robert akan beraksi hari ini!" lapor seseorang kepada Alex melalui ear piece yang diletakkan di telinga mereka sebagai alat komunikasi.
"Oke, jalankan rencana A!" titah Alex lalu menoleh ke arah seorang wanita bertopi hitam dan menganggukkan kepala memberi kode.
Siang itu, setelah tiba di bandara kota B, Aura berencana mengisi perutnya dulu di restoran Zambrud sebelum menemui temannya di rumah sakit. Namun, karena sebuah kesalahan dari seorang waitress membuat baju wanita itu kotor, Aura terpaksa pergi ke toilet untuk membersihkan bajunya.
Ketika hendak keluar dari toilet, seseorang tiba-tiba membekap hidung dan mulut wanita itu dengan sapu tangan yang telah ditetesi cairan anestesi. Hal itu sukses membuat Aura langsung kehilangan kesadaran.
Pria yang memakai seragam pelayan dan masker yang menutupi setengah wajahnya itu langsung mengangkat tubuh Aura menuju pintu keluar bagian belakang di mana mobil temannya sedang menunggu. Akan tetapi, tepat sebelum keluar, tiga orang dengan pakaian serba hitam, dua pria dan satu wanita langsung menariknya dan membuat pria berseragam itu tidak sadarkan diri.
Usai persiapan selesai, Aura diambil alih oleh pria yang bernama Riki lalu membawanya keluar dari restoran melalui jalan lain yang tak tertangkap CCTV. Vivi menutupi kepalanya dengan kain hitam lalu mulai berakting bersama Morgan sebagaimana Aura dan pria berseragam tadi.
Morgan mengangkat Vivi yang berpura-pura pingsan dan masuk ke dalam mobil tanpa menimbulkan kecurigaan apa pun. Sama halnya dengan mereka yang diam-diam menyusup ke dalam kelompok itu, para agen khusus lain pun menyusup perlahan hingga berbaur bagaikan anak buah Robert yang sesungguhnya.
...
"Hey, lepaskan aku!" teriak Robert, tetapi kemudian ia tertawa. "Kalian pikir aku hanya sendiri? Lihatlah sebentar lagi para anak buahku akan datang! Ah, iya, Nizam, sebelum kau keluar dari sini, ada baiknya kau mengecek tubuh istrimu dulu," lanjut pria itu tersenyum penuh arti.
Usai mengatakan itu, terdengar suara saling tembak di luar gedung. Namun, Nizam tak mengindahkan itu semua. Ia kini fokus memeriksa tubuh Bulan yang diam tak berdaya mendengar suara mengerikan tersebut.
Mata Nizam terbelalak ketika menemukan sebuah b0m di kaki kanan sang istri. Segera ia meminta bantuan para tim khusus tersebut yang sudah ia ketahui merupakan bagian dari operasi pemberantasan ter0ris. Semua itu ia ketahui dari Diki usai Nizam menghubunginya waktu itu.
__ADS_1
Awalnya baik Diki maupun Alex menolak memberitahukan rencana mereka. Namun, setelah Nizam mengatakan jika dirinya diminta datang oleh Robert, mereka pun menyusun rencana untuk dilakukan Nizam.
Nizam maupun Bulan kini diarahkan keluar dari gedung melalui pintu lain yang aman dari tembakan dan dari ancaman b0m. Di sana, para ahli b0m berusaha melepaskan b0m tersebut. Setelah berhasil terlepas, mereka berusaha menjinakkan agar tak jadi meledak.
"Kalian tolong segera pergi! Sangat berbahaya jika kalian bertahan di sini. Mengenai masalah ini, biar kami yang mengurusnya," ucap Alex yang sudah berada di lokasi seraya menunjuk mobilnya yang sudah ia siapkan untuk Nizam dan Bulan pergi lebih dulu.
Usai kepergian Nizam dan Bulan. Alex segera memanggil salah satu anggotanya untuk menjaga pasangan suami istri itu dari belakang mobilnya.
Nizam dan Bulan kini berada dalam sebuah mobil. Selama perjalanan, pria itu memperhatikan sang istri yang lebih banyak diam dan wajahnya terlihat pucat. Ia mencoba meraih tangan sang istri untuk membuatnya tenang, tapi wanita itu refleks menariknya kembali.
"Maaf, Mas," ucap wanita itu dengan tatapan sendu. Tentu ia tak bermaksud seperti itu, hanya saja perasaannya begitu cemas saat ini sehingga satu sentuhan saja sudah membuat jantungnya seolah akan melompat.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu pasti sangat shock dengan kejadian tadi," balas Nizam maklum.
Hening sesaat, sebelum akhirnya Bulan mulai berbicara, "Jadi di mana Kak Aura sebenarnya?"
"Aura aman, Sayang. Dia berada dalam pengawasan tim khusus," jawab Nizam dan hal itu membuat Bulan terlihat membuang napas lega.
Mobil mereka terus melaju hingga berhenti di pertigaan ketika lampu merah menyala. Suasana jalan tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mobil di sekitarnya dan semuanya kembali melaju ketika lampu hijau telah menyala.
Nizam mengerutkan dahinya karena mobil yang berada di depannya tak kunjung jalan. Tak lama setelah itu, seorang pria keluar dari mobil itu dan berlari ke mobil lain yang kemudian melaju pergi.
Mata Nizam membola ketika menyadari akan sesuatu. "Bulan, menunduk!" teriaknya lalu menarik tubuh sang istri dan memastikannya aman.
Boooom
"Segera blokade semua jalan di kota ini. Periksa mobil berwarna merah, dengan plat nomor ...."
__ADS_1
-Bersambung-