Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 07


__ADS_3

Sebelumnya,


"Zam, apa kau yakin dengan semua ini?" tanya Arfan. Baru beberapa menit yang lalu ia tiba di kota A setelah Nizam memintanya, dan kini pria itu dibuat cukup kaget dengan rencana sahabatnya itu.


"Aku yakin," ucap Nizam. "Mas, tolong buat aku terlihat berbeda," titah Nizam kepada sang penata rias sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


"Mas, Mas, panggil aku Meri, oke? MERI," sanggah pria dengan penampilan kemayu di belakang Nizam.


"Iya, maksudnya, Mas Meri," ralat Nizam cepat.


"Meri saja! jangan pake Mas!" Suara yang tadinya mendayu kini terdengar bas dengan nada tegas, membuat Nizam sedikit terperanjat kaget, bahkan Arfan yang berdiri di belakangnya harus menahan tawa saat melihat ekspresi wajah bosnya itu.


"I-iya, Meri, tolong buat saya terlihat berbeda."


Pria dengan pakaian serba pink itu kini tersenyum sumringah setelah Nizam memanggilnya dengan betul kali ini.


"Begitu dong. Oh iya berbeda gimana nih, Bo'? Berbeda kayak akyu?" Meri menunjuk dirinya sambil tersenyum penuh arti.


Nizam bergidik ngeri melihat tatapan Meri kepadanya dari pantulan cermin. "Bukanlah, Mas, eh Meri maksudnya." Pria itu dengan cepat meralat perkataannya saat mendapat tatapan tajam dari Meri.


"Buat aku terlihat seperti bad boy."


"Baiklah, itu gampang, jemari lentikku ini akan mengubah dirimu sesuai dengan keinginanmu."


Meri mulai melakukan tugasnya. Jari-jari cekatan itu mulai bergerak memoles wajah Nizam yang putih bersih hingga terlihat sedikit kecokelatan. Kacamata yang biasa dipakai Nizam pun kini dilepas.


Rambut Nizam yang mulai gondrong tapi rapi karena tak pernah dipotong lagi setelah ia gagal menikah, kini disulap sedemikian rupa hingga terlihat sedikit bergaya pada bagian depan dan diikat pada bagian belakang sehingga terlihat berbeda dari biasanya.


Waktu terus berjalan hingga tak terasa satu jam telah berlalu.


"Oke, untuk finishing, apa kamu ingin memakai tato biar semakin berubah total?" tanya Meri dan langsung mendapat gelengan kepala oleh Nizam.


"Tidak! ... tapi jika kau memiliki stiker abstrak yang bisa di hapus, aku mau," ucap Nizam. Sungguh, ia tidak akan menggunakan cara yang tidak Allah sukai hanya untuk menjalankan misi.


"Stiker?" Meri mengerutkan dahinya sejenak, lalu pergi mengambil sesuatu dari dalam laci.


"Maksudmu seperti ini?" Meri memperlihatkan beberapa koleksi stikernya, mulai dari yang berwarna-warni, hingga hanya berwarna hitam.


"Yang ini saja." Nizam memilih sebuah stiker berwarna hitam yang bentuknya unik. Jika dilihat dari dekat hanya sebuah garis melengkung yang saling berdekatan, tapi jika dilihat dari jauh, terlihat seperti laba-laba.


"Oke, baiklah. Jadi kamu ingin meletakkan stiker ini di mana?"


"Di sini." Nizam menunjuk jidatnya dengan begitu percaya diri.


"Buahahahah." Arfan yang sejak tadi mengamati dalam diam akhirnya tertawa lepas saat mendengar perkataan Nizam.


"Kenapa ketawa?" tanya Nizam dengan wajah serius.


"Zam, Zam. Apa kau bercanda? Memangnya kau mau pamer stiker? Jika kau tempel di sana, orang akan langsung tahu jika itu hanya stiker." Arfan berjalan menghampiri Nizam. "Tempel di sini ... astaga aku tidak percaya pria polos sepertimu ingin bergaya ala bad boy," sambungnya menunjuk leher Nizam bagian samping yang sedikit tertutupi oleh rambut tapi juga bisa terlihat walau tidak terlalu jelas.


☘☘☘


Tak terasa satu minggu berlalu, Nizam pun sudah menjalani harinya sebagai pria bernama Langit, seorang anggota baru geng motor Black Shadow. Berbagai kegiatan ala anak geng motor pun telah ia ikuti, mulai dari touring, memodifikasi motornya, hingga ikut balapan.


Akan tetapi, bukan Nizam namanya jika ia membuat balapan motor itu berlangsung hingga finish. Ada saja yang ia lakukan hingga balapan itu berhenti secara tiba-tiba di tengah jalan. Salah satunya, ia meminta Arfan datang dengan membunyikan sirine polisi, sehingga mau tidak mau, para kumpulan geng motor itu langsung bubar dan taruhan dari balapan itu pun batal.

__ADS_1


Nizam telah mampu berbaur dengan mereka semua, termasuk sang bos, Marcel dan tangan kanannya, Simon. Kedua pria menakutkan itu menyukai keberanian Langit, terutama keahliannya dalam ilmu bela diri. Tidak jarang, ia diminta Marcel untuk ikut bersamanya saat sedang melakukan perjalanan jauh demi alasan keamanan.


Kesempatan itu digunakan Nizam untuk mencari petunjuk mengenai hubungannya dengan kecelakaan Aura. Satu per satu petunjuk ia kumpulkan. Dalam hal ini, ia telah mengantongi bukti bahwa Marcel dan anggotanya memang adalah sindikat pengedar narkoba.


Kadang ia bertanya-tanya, bagaimana bisa kegiatan mereka yang konon sudah berlangsung beberapa tahun tak juga terendus oleh pihak berwajib? Namun, Nizam memilih diam terlebih dulu. Bukan karena tak ingin mengungkap kebenaran, melainkan ingin mengumpulkan lebih banyak bukti lainnya. Ia bahkan telah berhasil mengantongi satu paket barang yang ia duga berisi narkoba untuk dijadikan bukti. Barang itu kemudian ia berikan kepada Diki sekaligus video transaksi untuk diperiksa terlebih dahulu.


Meski begitu, hingga saat ini bukti yang ia kumpulkan belum cukup kuat atas kasus kecelakaan Aura. Baik antara Marcel atau pun para anggota geng motor lain, semuanya terlihat biasa saja, dan tak ada yang mencurigakan, ia bahkan tidak pernah melihat geng motor Black Shadow itu melakukan kekerasan pada orang lain seperti begal sebagaimana yang ada dalam bayangannya.


Aktifitas pria itu kini berubah total pada malam hari, tapi saat pagi hingga sore ia akan kembali menjadi dirinya sendiri. Seperti saat ini, Nizam sedang bersama Nizwa setelah ia puas menemani sang adik jalan-jalan sejak tadi pagi.


"Kak, udah lebih seminggu kita di kota A, apa Kakak tidak ada niat mengunjungi rumah tante Silfi dan Paman Ali?" tanya Nizwa seraya menoleh ke arah sang kakak yang mengemudikan mobil.


"Apa kamu memberitahukan tante dan paman tentang keberadaan kita?" Nizam balik bertanya dan Nizwa dengan cepat menggelengkan kepala.


"Ya nggaklah, aku cuma nanya aja. Lagi pula mana berani aku bertindak tanpa petsetujuan dari Kakak."


Nizam menoleh ke arah sang adik lalu mengusap kepalanya yang tertutup kerudung. "Bagus, Adik pintar," ucapnya. "Aku sedang menjalankan misi, jadi keberadaanku di sini tidak boleh ada yang tahu selain kamu, Diki, dan Arfan," sambung pria itu.


Mobil yang dikemudikan Nizam kini tiba di sebuah restoran. Keduanya berniat untuk makan siang karena perut mereka yang sudah meminta di isi sejak tadi.


"Kak, kalau mau pesan makanan untuk aku, samain aja sama punya kakak, yah, aku kebelet, nih!"


"Iya iya."


Selepas kepergian Nizwa, seorang waitress datang menghampiri Nizam.


"Mau pesan apa, Pak?"


"Saya mau pesan ...."


Pria itu mendongak menatap waitress tersebut dan menyadari jika wanita yang ada di sampingnya saat ini lagi-lagi adalah Bulan. Entah kebetulan seperti apa yang sedang menghampirinya, yang jelas ini adalah pertemuannya yang ketiga tanpa di sengaja.


"Eh iya ketemu lagi," ucap Nizam sekilas melihat senyuman ramah dari wanita itu, dan untuk pertama kalinya itu adalah senyuman yang sesungguhnya tanpa mata sembab.


"Kamu kerja di sini?"


"Iya, Pak."


"Jangan panggil saya bapak!" sanggah Nizam. Sejujurnya ia tidak terlalu suka dipanggil bapak oleh orang yang ia rasa seumuran dengan adiknya.


"Oh, jadi Bapak mau dipanggil apa?"


"Terserah, asal jangan bapak atau om, saya belum setua itu," balas Nizam datar.


"Oh, maaf maaf, saya panggil Mas aja yah. Oh iya mau pesan apa?" tanya Bulan sambil mengeluarkan buku catatan kecil dan sebuah pulpen.


Nizam mulai menyebutkan makanan yang ia pesan beserta minuman untuk dirinya dan Nizwa. Pria itu melihat aktivitas Bulan yang sedang mencatat pesanannya dengan begitu lincah.


Wajahnya yang ternyata sangat cantik, dan itu baru ia sadari setelah bertemu beberapa kali.


"Astaghfirullah," lirih Nizam seraya mengalihkan pandangannya cepat.


Entah kenapa, timbul rasa penasaran dalam hatinya. Ingin sekali ia menanyakan kabar wanita itu sepeninggalnya kemarin, mengingat dia tak lagi memiliki keluarga. Namun, ia urungkan karena merasa tidak pantas menanyakannya saat ini.


"Baik, terima kasih. Mohon ditunggu yah." Bulan kemudian pamit dengan membawa pesanannya. Pandangan Nizam masih saja mengarah ke arah Bulan hingga ia melihat Bulan dan adiknya tak sengaja bertemu di ujung jalan sana.

__ADS_1


Nizam mengerutkan dahinya saat melihat sang adik memeluk Bulan seolah saling mengenal satu sama lain, tapi tak butuh waktu lama, mereka kini berpisah karena kesibukan Bulan.


"Kamu kenal dia?" tanya Nizam tepat setelah Nizwa mendaratkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan sang kakak.


"Yapp, dia teman baruku, kami bertemu pertama kali saat di toilet bandara Incheon. Orangnya ramah dan baik, tapi ...." Nizwa menggantung perkataannya dengan dahi yang berkerut.


"Tapi apa?"


"Senyumannya palsu, sepertinya dia menyimpan kesedihan. Aku mendengar dia menangis pilu saat di toilet waktu itu."


"Benarkah? Apa dia bersama seseorang?" selidik Nizam.


"Entahlah, dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengatakan sedang berlibur." Nizwa menghentikan sejenak perkataannya. "Tunggu-tunggu, kenapa Kakak bertanya? Apa Kakak penasaran? Dia cantik, loh! Cocok buat Kakak, baik lagi," sambung gadis itu sambil menaik-turunkan alisnya.


"Ck, apaan, sih! aku belum memiliki niat membuka hati saat ini, jadi jangan coba-coba menjodohkanku dengan siapa pun," tegas Nizam tak ingin dibantah.


Nizwa hanya menganggukkan kepala merespon perkataan Nizam. Keduanya mulai menikmati makan siang mereka sambil sesekali bercerita.


"Besok aku akan mengantarmu pulang, sudah seminggu kita di sini, sepertinya itu sudah cukup."


"Kakak juga ikut pulang?"


"Iya, bagaimana pun, kita pergi bersama dan pulang bersama. Kasihan juga Arfan jika dia yang mengururus kantor sendirian."


"Lalu, misi Kakak?"


"Aku akan mengurusnya, kamu cukup bantu Kakak merahasiakannya saja."


Nizwa mengangguk yakin lalu mengambil segelas jus jeruk di depannya. "Ngomong-ngomong misi Kakak apa sih? Maksudnya gimana cara Kakak menjalankan misi Kakak?" tanya gadis itu lalu meminum jusnya.


"Bergabung sama geng motor."


Byuuuur


Nizam memejamkan mata dengan pasrah saat sebuah jus jeruk segar menyembur ke wajahnya.


"Apa?"


☘☘☘


Malam harinya, usai berkumpul di markas, Langit diminta oleh Marcel untuk mengantarnya pulang. Pria berjambang itu tidak mampu membawa motornya karena mabuk, entah apa yang ia lakukan di dalam ruangan pribadinya di markas seorang diri sejak tadi, keluar dari sana pria itu sudah berjalan sempoyongan.


Motor yang dibawa Langit kini melaju sambil membawa Marcel yang duduk di belakang sambil bersandar di punggungnya. Sepanjang perjalanan, ia menjadi samsak tinju sekaligus pendengar setia atas tiap racauan dari sang bos. Pria itu baru berhenti memukul saat ia mulai lelah.


"Berhenti di jalan Mawar nomor 5," ucap Marcel pelan di antara kesadarannya yang masih ada walau sedikit.


Tak lama kemudian, Langit menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah berlantai satu yang cukup besar. Di sana sudah ada terparkir satu mobil dan sebuah motor matic yang sudah lusuh.


"Kau boleh pergi," titah Marcel lalu berjalan sempoyongan menuju pintu depan rumahnya.


Langit tak langsung pergi, ia hanya diam memandangi rumah itu beberapa saat. Namun, saat ia hendak pergi, suara perdebatan antara pria dan wanita dari rumah itu mengusik pendengarannya.


"Ampun, Mas. hiks...."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2