Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 45


__ADS_3

...Duhai Sang Pemilik Rindu, sampaikan salamku padanya yang entah di mana. Bantu aku meredam rasa rindu yang membuncah ini agar tetap sesuai kadarnya. Sungguh, aku tak ingin rindu menguasaiku di kala dia yang menjadi obat rindu tak ada di sini....


...Duhai Sang Pemilik Rindu, jika saja dia yang kurindu masih berada di dunia ini, pertemukan kami dalam keadaan baik. Dia imamku, dia pemimpinku. Kehilangannya membuatku hancur. Namun, jaga hatiku agar tetap bersamaMu, sebab tanpaMu, hidupku hilang arah....


...(Bulan)...


___________________________________________


Tiga bulan telah berlalu, tetapi rasa kehilangan akan sosok suami sekaligus sosok pelindung masih saja membuat Bulan terpuruk. Setelah mengetahui bahwa Nizam hilang, wanita itu lebih banyak diam dan tak banyak bicara.


Bulan memilih mengurung diri di dalam kamar setelah kembali dari rumah sakit. Makan hanya ketika Mak Nira memaksanya makan. Ia juga enggan bertemu siapa pun termasuk keluarga dari suaminya sendiri. Rasanya ia hanya ingin menghabiskan waktunya sendiri tanpa gangguan dari siapa pun.


Hanya baju suami yang selalu ia peluk tiap tidur dan ketika rindu itu melanda. Deretan pesan teks juga selalu ia kirimkan ke nomor Nizam, meski ia sadar sang suami tak akan membacanya, apalagi membalasnya karena bisa saja ponsel pria itu sudah rusak dalam ledakan.


To Suami 🩷:


✔️Kamu di mana?


✔️Bagaimana kabarmu?


✔️Apa kamu masih mengingatku?


✔️Ketahuilah, aku di sini masih selalu menunggumu.


✔️Jika kamu masih hidup, kumohon pulanglah.


Hampir setiap hari ia mengirimkan pesan ke nomor sang suami. Setidaknya dengan begitu ia bisa mengeluarkan semua yang tersimpan dalam hatinya karena tak memiliki tempat untuk berbagi.


Kini Bulan merasa sudah cukup rasanya untuk berdiam diri di kamar. Kali ini ia ingin ikhtiar mencari suaminya. Selama belum ada kabar tentang kematiannya, Bulan akan terus mencari.


Bulan berjalan menyusuri jalan sambil membawa kantong berisi begitu banyak kertas yang memuat foto sang suami lengkap dengan keterangan ciri-ciri. Tiap bertemu orang, ia akan memberikan satu lembar dari kertas itu.

__ADS_1


"Tolong hubungi saya jika melihat orang dalam kertas ini."


Begitulah perkataan yang selalu ia ucapkan tiap memberikan kertas tersebut pada orang. Tak hanya itu, selebaran itu pun ia tempel di beberapa tempat, berharap usahanya itu bisa membuahkan hasil.


Bulan yang lelah berjalan jauh, ditambah hari yang semakin gelap akhirnya memutuskan untuk singgah di depan gerbang rumah sakit. Di sana ia hanya duduk menghabiskan waktunya mengamati wajah tiap orang yang datang. Barangkali saja ia bisa menemukan suaminya di antara mereka.


Apakah Allah benar-benar sedang menegurku karena tanpa sadar sudah berharap dan bergantung pada selain Dia?


Sementara itu di sisi lain, seorang wanita paruh baya dengan jas dokter yang hendak mencari makan malam tak sengaja melihat Bulan dari jauh. Tatapannya seketika berubah sendu. Sudah lama ia tak melihat wanita muda itu, ingin sekali rasanya ia menghampiri sang menantu dan memeluknya, tetapi ia sadar sang menantu hanya ingin sendiri.


Khaira bersyukur, kejadian menakutkan itu ditambah hilangnya Nizam tidak membuat Bulan depresi, mengingat wanita itu memiliki riwayat gangguan psikis. Meskipun begitu, ia selalu meminta Mak Nira untuk memantaunya 24 jam.


Masih diam dalam lamunan, mata wanita paruh baya itu seketika membulatkan matanya ketika melihat ada beberapa pria yang memantau Bulan tidak jauh dari tempat wanita itu duduk.


Khaira segera berjalan cepat menghampiri menantunya ketika melihat para pria itu berjalan mendekat. Dengan gerakan cepat, ia menarik Bulan masuk ke halaman rumah sakit.


"Bunda?" ucap Bulan pelan.


"Bulan baik, Bunda. Bulan baru pulang mencari Mas Nizam," jawab wanita itu dengan suara lemah.


Khaira langsung melepas pelukannya dan menatap Bulan sendu. "Kamu tidak perlu melalukan itu, Sayang. Ayah sudah mengerahkan semua orang kepercayaannya untuk mencari Nizam. Kamu lebih baik istirahat, jaga psikismu agar ketika Nizam datang, ada kamu yang menyambutnya dengan penuh cinta."


Bulan tertunduk dengan mata yang berkabut memandangi kertas di dalam kantong yang masih banyak. Napasnya mulai tidak beraturan, bahunya naik turun menahan gejolak di dadanya yang lagi-lagi ingin menerobos keluar.


Khaira kembali memeluk menantunya itu dengan sayang. "Jangan ditahan, jika kamu ingin menangis, menangis saja agar hatimu lega."


Khaira mengatakan itu dengan suara bergetar. Ia bisa merasakan tubuh Bulan semakin bergetar, hingga sebuah isakan berhasil keluar dari mulut sang menantu.


"Bunda, Mas Nizam baik-baik saja, 'kan? Dia pasti pulang, 'kan? Tolong bilang ke Mas Nizam kalau aku sudah sembuh, dia tidak perlu repot-repot lagi mengurus istrinya jika dia kembali," kata Bulan disela isak tangisnya dengan suara yang terputus-putus.


Air mata Khaira ikut mengalir mendengar perkataan Bulan. Ia hanya bisa mengangguk pelan menanggapi tanpa bersuara. Keduanya larut dalam tangisan malam itu, melepaskan segala rasa sesak yang berusaha mereka pendam selama beberapa bulan terakhir.

__ADS_1


🦋🦋🦋


Di tempat lain, Aura sedang sibuk menangani pasien kecelakaan di UGD. Satu per satu korban kecelakaan itu ia tangani bersama para perawat hingga semuanya selesai diberi tindakan darurat.


Usai menyelesaikan semuanya, Aura pamit hendak pergi ke ruangannya. Namun, ketika keluar dari ruang UGD, ia tak sengaja menabrak pria yang sedang berjalan dengan bantuan kruk di lengan krinya.


"Astaghfirullah, maaf, Mas. Saya tidak sengaja," ucap Aura lalu segera membantu pria itu berdiri.


"Apa Masnya baik-baik saja?" tanya Aura. Namun, bukannya menjawab, pria itu justru diam sambil menatapnya penuh takjub.


"Mas?" Aura mengulangi panggilannya.


"Astaghfirullah, maaf Bu Dokter, saya jadi tidak fokus tadi," balas pria itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Aura hanya tersenyum tipis lalu segera pergi meninggalkan pria itu usai pamit.


"Ya Allah, maafkan hamba yang khilaf ini, jika Engkau berkenan, bolehkah hamba meminta agar dia meniadi jodoh hamba?" ucap pria itu sambil tersenyum menatap punggung Aura yang semakin menjauh.


...


Aura berjalan memasuki ruangannya. Tak lupa ia mengunci pintu lalu duduk di kursi. Dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah laptop dan membukanya. Kini terlihat rekaman CCTV dari sebuah ruangan, di mana ada seseorang yang terbaring tidak sadarkan diri di sana.


Sambil memandangi video itu, tangannya bergerak mengambil ponselnya dan menekan sebuah nama di sana.


"Halo, Ben. Bagaimana perkembangannya hari ini? tanya Aura tanpa mengalihkan tatapannya dari laptop.


"Halo, Dok. Keadaannya masih sama seperti ..., tunggu dulu ...." Suara pria di balik telepon itu diam sejenak, "Dokter, baru saja ada aktivitas elektrik dari otaknya yang tergambar dari EEG ini."


"Benarkah? Baik, aku akan segera ke situ," ucap Aura bersemangat.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2