
Jodoh itu seperti kupu-kupu, semakin dikejar semakin menjauh, tapi jika kita pasrahkan kepada sang Pencipta, maka atas izinNya, kupu-kupu itu akan mendekat dengan sendirinya.
Sebagaimana kisah Zulaikha yang begitu mengagumi Nabi Yusuf 'alaihissalam, di saat dia begitu berusaha mengejar cinta Nabi Yusuf, Allah semakin menjauhkan Nabi Yusuf darinya. Namun, di saat Zulaikha bertaubat, berpasrah kepada Allah, dan mengejar cinta Allah, maka Allah datangkan Nabi Yusuf kepadanya.
Prinsip itu pula yang kini dipegang oleh Nizam. Ia ingin fokus memperbaiki diri, memantaskan diri, hingga di saat kelak waktunya sudah tiba, maka siapa pun jodohnya, ia akan berusaha menjadi imam yang baik.
"Zam, gimana? Kamu setuju, 'kan pernikahan Nizwa dan Arfan diadakan dua bulan ke depan?" tanya Boy memecah lamunan Nizam.
"Kenapa jarak waktunya lama sekali, Yah?"
"Biar persiapannya bisa lebih baik lagi, Nak," jawab Boy.
"Barangkali selama dua bulan itu Kakak nemuin jodoh, nikahnya bisa barengan," celetuk Nizwa dan langsung mendapat tatapan yang sulit diartikan dari Nizam.
"Huss, jaga omonganmu, Nak, kamu bisa saja menyinggung Kakakmu," tegur Khaira melalui bisikan.
"Memang jika sekadar berbicara saja, banyak yang mengira pilihan menikah bagi pria itu lebih mudah dari wanita. Alasannya karena prialah yang mencari sementara wanita menanti, walau pun sebenarnya wanita juga bisa mencari dan memilih sebagaimana yang dilakukan ibunda Siti Khadijah." Nizam menghentikan sejenak perkataannya.
"Namun, mencari calon istri dan calon ibu yang baik untuk anak kita kelak tidak semudah memilih baju di pasar. Tidak hanya sebatas suka atau cinta saja sebab sebagai pria, kita di anjurkan mendidik anak kita dua puluh tahun sebelum anak kita lahir, salah satunya dengan memilih siapa ibunya. Jika sampai saat ini aku belum memiliki calon istri, bukan berarti aku menolak menjalankan sunnah atau aku terpuruk dalam masa lalu, aku hanya belum menemukan yang sesuai saja," lanjut Nizam sambil tersenyum.
"Maaf, Kak. Nizwa bicara tanpa berpikir dulu." Nizwa kini tertunduk dengan rasa bersalah kepada sang kakak.
"Tidak apa-apa, Dek. Kakak harap kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anakmu kelak. Dan untuk kamu, Fan." Nizam kini menoleh ke arah Arfan, "jaga adikku baik-baik, walau dia terdengar cerewet, dia sebenarnya sangat manja," sambungnya sambil menepuk pundak Arfan pelan.
Matanya sedikit berkabut, tapi hatinya begitu bahagia. Walau ia harus menerima fakta jika sang adik mendahuluinya menikah, tapi itu sama sekali bukan masalah, toh mendahului kakak menikah bukanlah sebuah dosa.
Kesepakatan pun akhirnya tercapai, di mana pernikahan sang adik kini dimajukan menjadi satu bulan ke depan atas saran dari Nizam, selaku kakak tertua yang memiliki alasan sendiri.
☘☘☘
Di tempat lain,
Dua orang wanita sedang berjalan memasuki rumah yang cukup mewah. Salah satu di antaranya menggendong anak bayi yang sejak tadi memanggilnya dengan suara khas bayi yang begitu menggemaskan.
"Bulan, besok aku akan melihat perkembangan klinikku, aku juga akan langsung pergi ke salah satu PBF di kota ini untuk melihat kelanjutan rencana kerja sama terkait penyediaan obat-obatan di apotek klinikku nantinya. Ya mungkin hampir seharian penuh aku akan berada di luar. Jadi, seperti biasa, aku titip Quinzy yah," ucap seorang wanita dewasa berhijab sambil duduk di sofa.
__ADS_1
"Baik, Mbak Syifa. Siap," sahut Bulan sambil menimang bayi yang bernama Quinzy.
Syifa tersenyum lega sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, tatapannya kini beralih menatap langit-langit ruangan yang dihiasi oleh lampu kristal indah.
"Terima kasih, yah, Bulan. Kehadiranmu benar-benar berhasil membuatku kembali bangkit setelah terpuruk karena ditinggal mati suamiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku jika saja kamu tidak datang mencegahku saat aku hendak bunuh diri. Mungkin Quinzy sudah menjadi yatim piatu." Syifa menatap bayi kecil yang berada dalam gendongan Bulan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan bicara gitu, Mbak. Semua yang terjadi di dunia ini tak pernah luput dari kendali Sang Pembuat Seknario, Allah, Mbak. Allah mencintai Mbak Syifa, makanya Allah memberi kesempatan kepada Mbak Syifa untuk berbenah diri dan mendampingi Quinzy," ujar Bulan ikut tersenyum.
Syifa kini memberikan isyarat kepada Bulan untuk membawa Quinzy kepadanya. Wanita itu kemudian memeluk sang bayi dengan erat, kemudian ia menarik Bulan lalu memeluknya juga.
"Bulan, jika ada yang kamu inginkan, katakan saja, yah. Jangan sungkan, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Aku juga akan berusaha membantu mencari kakakmu, Bintang."
"Benarkah, Mbak?" tanya Bulan begitu bersemangat.
Syifa mengangguk pelan lalu berkata, "Tentu saja, asal itu bisa membuatmu bahagia."
☘☘☘
Keesokan harinya, di sebuah PBF bernama Malaga, Nizam sedang duduk di ruangannya bersama Arfan dan juga seorang wanita berhijab yang masih tampak cantik meski usianya lebih dewasa dari pada Nizam.
Bukannya menyahut, wanita itu justru terdiam menatap wajah Nizam yang begitu tampan di matanya.
"Bu Syifa? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Nizam membuyarkan lamunan wanita itu.
"Astaghfirullah, maaf, Pak Nizam." Syifa tersenyum canggung. "Terima kasih, Pak," ucap wanita itu seraya mengulurkan tangannya, tapi seperti biasa, Nizam hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ah, maaf." Syifa menarik kembali tangannya lalu ikut menangkupkan kedua tangannya. "Oh iya, Pak. Insya Allah minggu depan saya akan meresmikan pembukaan klinik saya, kiranya Bapak bisa turut hadir bersama istri Bapak," sambung Syifa mengundang sekaligus melakulan verifikasi tentang status pria itu secara tidak langsung.
"Maaf, saya belum menikah, Bu Syifa," balas Nizam.
Senyuman tipis pun terbit di kedua bibirnya diiringi dengan anggukan kecil dari wanita itu. "Oh begitu, maaf. Kalau begitu saya pamit dulu, Pak Nizam. Assalamu 'alaikum," ucap Syifa lalu segera undur diri.
☘☘☘
Waktu berlalu begitu cepat, satu minggu kini telah berlalu. Tiba saatnya Nizam akan menghadiri acara peresmian Klinik Syifa bersama Arfan. Pria itu berdiri di depan cermin sambil memperbaiki dasinya.
__ADS_1
Tok tok tok
"Kak Nizam, Bang Arfan udah nungguin di bawah, tuh," ujar Nizwa dari luar kamar.
"Iya bentar lagi, kamu temenin aja dulu calon misuamu itu biar lebih sabar nungguin kakak," sahut Nizam santai.
"Ih, apaan, sih! Kalau belum halal ya jangan berduaan dulu," balas Nizwa sedikit pelan agar tak terdengar oleh Arfan yang berada di ruang tamu.
Ceklek
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok pria tampan dengan setelan jas rapi di depannya. "Gadis pintar." Nizam mengusap kepala sang adik yang tertutupi kerudung sambil tersenyum.
"Wih, ganteng bener, semoga di sana ketemu calon istri, yah, Kak, kabur," ucap Nizwa, lalu dengan cepat berlari meninggalkan Nizam.
"Ckckck aku tidak menyangka bocil itu akan segera menikah." Nizam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan menatap sang adik yang kini telah hilang di balik pintu kamarnya.
Nizam dan Arfan kini pergi bersama ke Klinik Syifa, di sana sudah begitu ramai tamu yang datang. Rangkaian acara satu per satu pun di lewati, hingga tiba di rangkain acara terakhir di mana artis yang diundang mulai memberikan persembahan lagu religi.
Pandangan Nizam yang awalnya tertuju pada sang penyanyi kini beralih pada sesosok wanita berhijab yang berada di bagian meja paling depan.
"Bulan."
Tanpa sadar, langkah kaki pria itu membawanya melangkah mendekat hingga berada tepat di belakang wanita itu.
-Bersambung-
Note:
PBF atau Perdagang Besar Farmasi adalah perusahaan yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, atau pendistribusian obat dalam jumlah besar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Nizam menjalankan anak perusahaan dari sang kakek yang bergerak dalam bidang pendistribusian obat, namanya Malaga (bahasa Toraja, Enrekang, dan sebagian Luwu di Sulawesi Selatan) yang artinya sehat.
Sambil menunggu episode selanjutnya, yuk mampir di novel temanku dulu.
__ADS_1