Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 08


__ADS_3

Aku dibesarkan dalam keluarga yang saling menyayangi. Belajar banyak dari ayahku dalam memuliakan wanita, seberapa pun kuat dan hebatnya beliau dalam ilmu bela diri, tak pernah sekali pun aku melihatnya kasar pada bundaku, walau bunda juga pernah salah.


Itu sebabnya, aku sangat tidak terima jika melihat dan mendengar wanita diperlakukan kasar saat ini. Ketidaktahuanku pada masalah mereka, tak lantas membuatku tak acuh, rasanya ingin sekali kupecahkan kaca jendelanya demi menghentikan tindak kekerasan itu.


(Langit)


_______________________________________


Malam itu,


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Bulan baru saja sampai di rumah besar yang menjadi tempat tinggalnya saat beberapa lampu sudah padam. Wanita itu masuk dengan memelankan derap langkahnya agar tak mengganggu penghuni lain rumah itu.


"Istri tidak tahu diri akhirnya datang juga!" sarkas seorang wanita yang sejak tadi duduk di ruang tamu tepat saat Bulan memasuki rumah itu.


"I-ibu."


"Darimana saja kamu? Jangan mentang-mentang suami kamu tidak di rumah, kamu kelayapan sampai malam. Istri macam apa kamu?" Wanita bernama Stella itu berdiri dan menghampiri Bulan.


"Maaf, Bu. Aku tadi kerja ...."


"Kerja kerja, kurang uang apa kamu? Marcel, 'kan sudah memberimu uang selama ini, kemana uang itu? Hah!"


Bulan bergeming, ia tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibu mertuanya kali ini.


"Oh, aku tahu, kamu pasti menganggap uang suamimu itu uang haram, iya, 'kan?"


Bulan tertunduk menahan gejolak di hati mendengar tiap perkataan kasar dari ibu mertua. Tangan wanita itu saling bertautan dan merem4s jemarinya sendiri. Air mata pun mulai mendesak ingin keluar dari pelupuk mata, tapi sebisa mungkin ia tahan. Tak hanya tubuhnya yang lelah, hatinya pun sangat lelah menghadapi kehidupannya yang begitu keras.


Sejujurnya ia membenarkan perkataan sang mertua. Bulan jelas tahu pekerjaan utama sang suami selain sebagai bos geng motor, dan karena itu, semenjak menikah ia tetap bekerja dan memilih menggunakan uangnya sendiri untuk biaya hidupnya, sementara uang yang diberikan Marcel ia memilih menyimpannya.


Bukannya sombong, toh sebagai istri, Bulan berhak tidak menggunakan nafkah yang diberikan suaminya jika itu berasal dari sesuatu yang Allah larang.


"Bulan! Jawab!" Bulan terlonjak mendengar gertakan sang ibu mertua yang kini menatapnya tajam tanpa belas kasih.


"Ada apa ribut-ribut, Bu?" Bulan dan Stella kompak berbalik ke arah pintu saat pria berjambang dengan aroma alkohol yang menyeruak dari tubuhnya tengah berdiri di sana.


"Lihatlah istrimu! Dia benar-benar keterlaluan, masa kamu sudah memberinya uang setiap bulan, terus di tambah dia juga bekerja, tapi saat ibu minta sedikit uangnya untuk keperluan ibu, dia tidak mau," adu wanita usia kepala enam itu, tentu saja dengan menambah sedikit bumbu kebohongan hingga membuat Bulan semakin tersudut.

__ADS_1


"Apa?" Marcel menatap sang istri dengan tatapan tajam.


Bulan menggeleng pelan, "Tidak, Mas. Aku tidak pernah berkata seperti itu ...."


"Apa kamu ingin mengatakan jika Ibuku berbohong?"


Bulan lagi-lagi menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca dan raut wajah ketakutan. "Bukan begitu, tapi ...." Perkataan wanita itu terhenti manakala Marcel langsung menariknya tangannya dengan kasar masuk ke dalam kamar.


"Ampun, Mas ... Kamu salah paham ...."


"Mas, kumohon jangan ...."


Bugh


"Akh ...." Bulan meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya saat tubuhnya di dorong dengan kuat hingga kepalanya terbentur di dinding kamar.


"Ampun, Mas." Air mata Bulan mengalir deras sejalan dengan darah yang mengalir di pelipisnya. Tangan wanita itu begetar dan saling menangkup di depan wajahnya, memohon agar tak di pukuli lagi kali ini.


Marcel yang sedang setengah sadar itu berjalan menghampiri Bulan lalu membuka paksa kerudung wanita itu dan menarik rambutnya. Tangannya terangkat hendak menampar Bulan, tapi terhenti saat tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela kamarnya dengan keras.


Buru-buru Marcel menghampiri dan membuka jendela itu dengan kesal. Namun, tak ada seorang pun yang ia temui di luar sana.


Marcel kembali menutup jendela kamarnya saat tak ada seorang pun yang ia lihat diluar. Pria itu berjalan menghampiri Bulan dan mencengkeram kedua pipinya dengan kuat.


"Besok, berikan semua uang yang pernah kuberikan padamu kepada ibu, aku tahu kau tak pernah ingin memakainya karena menganggap uangku adalah uang haram. Iya, 'kan? Sayangnya aku tidak peduli, jika kau tidak ingin memakainya, itu lebih bagus, aku bisa menghemat pengeluaranku." Marcel berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang memburu karena luapan emosi.


"Ingat! Jangan pernah sekali pun kau menyakiti ibuku dengan sikapmu, jika suatu saat nanti aku melihat ibuku menangis karenamu, aku tidak akan segan-segan membu**hmu!"


Marcel menghempaskan wajah Bulan dengan kasar lalu berjalan ke tempat tidur. "Kupikir dengan menikahimu, penyakitku ini akan sembuh, tapi ternyata sama saja. Dasar tidak berguna!" gerutu Marcel yang terdengar seperti racauan tanpa sadar. Pada detik berikutnya, tubuh pria itu langsung ambruk tidak sadarkan diri.


Dengan berderai air mata, Bulan menyeret tubuhnya yang bergetar hebat masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya yang pucat pasi, serta luka yang baru saja terbentuk oleh sikap kasar suaminya. Tangannya perlahan membuka blazer yang menutupi sebagian tubuh dengan hati-hati, hingga hanya tersisa kaos lengan pendek saja.


Tampaklah beberapa luka lebam di sepanjang lengannya. Tak hanya itu, terdapat juga bekas kemerahan di lehernya yang belum pudar. Tangis wanita itu pecah menyaksikan betapa pilu keadaan tubuhnya saat ini. Sudah lebih dua bulan ia menikah, dan selama itu juga tubuhnya selalu saja mendapat pukulan walau ia tidak tahu salahnya apa.


"Apa artinya dia menikahiku jika pada akhirnya aku hanya menjadi tempat pelampiasan emosi dan kekuatan fisiknya," lirih Bulan di sela isakan.


Tanganya perlahan bergerak mengambil tissue lalu membersihkan darah yang sudah mengering di pelipisnya, sangat berbeda dengan air mata yang masih saja terus mengalir membasahi pipi.

__ADS_1


Hidupnya benar-benar penuh luka saat ini, tak hanya luka fisik, tapi juga luka di hatinya. Belum lagi semenjak menikah, ia selalu saja bermimpi buruk saat tidur. Mimpi yang bagaikan kejadian nyata dan selalu berulang tiap malam seolah ingin mengingatkannya pada kejadian yang telah ia lupakan.


Entah sampai kapan ia bisa bertahan menghadapi sikap kasar suami dan ibu mertuanya, yang jelas permintaannya untuk berpisah tak pernah dikabulkan oleh Marcel dan malah berakhir pada kekerasan lagi.


Bulan begitu tersiksa setelah kepergian kedua orang tuanya tujuh tahun yang lalu. Ditambah sang kakak yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar sama sekali. Tak ada lagi tempat mengadu dan berlindung kecuali kepada Allah semata, ya hanya Allah.


☘☘☘


Keesokan harinya, pasca menyelesaikan pekerjaan rumah, Bulan kembali bersiap untuk berangkat ke tempat kerja, kali ini ia berencana pergi dengan membawa sebuah ransel besar yang sudah ia siapkan sejak semalam.


Tak ada lagi alasan baginya untuk bertahan jika masih ingin hidup. Hanya itu yang bisa Bulan lakukan saat ini, walau ia tahu apa yang ia lakukan nantinya akan sangat beresiko.


Urusannya dengan sang mertua pun sudah ia bereskan. Stella sudah mengambil semua uang yang pernah Marcel berikan padanya. Bulan tak ingin banyak berdebat, ia menuruti semua yang dikatakan sang mertua dan suaminya.


Baru saja Bulan hendak menaiki motor, tiba-tiba tangan kekar Marcel menahannya. "Kau ikut denganku." Pria itu menarik tangan Bulan dengan sangat kasar dan memasukkannya ke dalam mobil tanpa peduli dengan penolakan wanita itu.


"Ma-mau kemana, Mas?" tanya Bulan mulai kembali ketakutan.


Marcel tak menjawab. Ia justru melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke suatu tempat tanpa memedulikan wanita berstatus istrinya itu. Bahkan Bulan sampai teriak histeris sambil memejamkan mata dan memeluk lututnya ketakutan. Seolah kejadian buruk yang selalu menghantuinya dalam mimpi akan menjadi nyata.


Hingga saat mereka telah berada di jalan yang sepi tepatnya di pinggir hutan, mobil pun berhenti. Marcel segera merampas ransel yang berada di punggung Bulan. Pria itu tersenyum kecut saat melihat isi tas yang dipenuhi pakaian sang istri.


"Lancang sekali kau!" Dengan kejamnya Marcel mendorong kepala Bulan hingga membentur kaca mobil.


"Kau mau kabur, 'kan?" Selidik Marcel, tapi tak mendapat jawaban dari Bulan. "Jawab!" sambungnya dengan suara menggelegar hingga membuat Bulan terperanjat.


"Oke, kalau itu maumu, kita lihat saja, apa kau sanggup jauh dariku setelah ini." Marcel mengambil tas ransel sekaligus tas kecil berisi dompet Bulan dengan paksa.


Bulan tak bicara, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang mulai membanjiri pipi. Lidah wanita itu terasa kelu, ingin mengeluarkan suara pun ia tak mampu. Tubuhnya terasa lemas saat ini, jantungnya bahkan berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Sekarang kau keluar," titah Marcel dengan jari telunjuk yang mengarah keluar jendela.


"KELUAR!" sentak pria itu lagi lalu membuka pintu di samping Bulan dan menendang Bulan keluar, hingga wanita itu terjatuh di jalanan.


"Di sini sangat jarang kendaraan yang lewat, aku akan memberimu kemudahan, ini ponselku, di dalamnya ada nomorku. Jika kau menyerah, hubungi aku. Maka aku akan langsung menjemputmu. Anggap saja ini hukumanmu karena sudah berusaha kabur."


Marcel melemparkan sebuah ponsel jadul ke depan Bulan, lalu segera melaju meninggalkan Bulan di pinggir hutan yang sangat sepi. Wanita itu menangis dalam diam, ia duduk meringkuk seorang diri, tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2