Menggapai Rembulan

Menggapai Rembulan
Bab 47


__ADS_3

Awan hitam mulai menghiasi nabastala senja. Indahnya warna jingga itu perlahan meredup layaknya sebuah asa yang tak kunjung menemukan jawaban. Bulan duduk termenung di depan rumah sakit. Meski lelah, pandangannya tetap terjaga mengamati tiap rupa yang lewat di hadapannya.


Entah sudah berapa lama ia menekuni aktivitas baru itu. Namun, hatinya tak gentar melakukan hal serupa tiap hari. Semua orang di rumah sakit itu bahkan sudah mengenalnya hingga mereka memberinya julukan 'wanita aneh'.


Bulan tak peduli, rasanya semenjak Nizam pergi, hatinya semakin mati rasa akan celaan dan hinaan orang. Gila, mungkin ia sudah berada di tahap itu. Entahlah, sudah lama sekali wanita itu tak memeriksakan diri ke psikiater terkait gangguan psikologisnya. Bahkan ketika Khaira menawarkan diri untuk menemaninya pun, ia tetap menolak.


"Bulan, ayo pulang! Sebentar lagi hujan," ajak Khaira ketika baru saja menyelesaikan jam kerjanya di rumah sakit.


"Iya, Bunda." Bulan menurut dan langsung berjalan disamping sang ibu mertua. Mereka berjalan bersama memasuki mobil yang memang datang untuk menjemput.


Perjalanan terasa begitu hening dan senyap. Bulan tak banyak bicara, hanya menjawab ketika ditanya. Ia lebih sering memandangi langit di luar jendela mobil yang semakin menggelap, menutupi hari yang rasanya begitu hambar tanpa sosok sang suami.


Tak menunggu lama, mobil berhenti di depan rumah. Bulan melambaikan tangan mengantar kepergian sang mertua yang melanjutkan perjalanan ke kediamannya. Ya, beginilah hidup wanita itu sekarang semenjak sang suami hilang kabar, ia tetap memilih sendiri di rumah, meski Khaira sering meminta wanita itu tinggal bersama mereka.


Baginya, menjaga harta dan rumah suami adalah kewajibannya selagi Nizam tidak ada. Ia juga yakin, suatu saat nanti Nizam akan kembali, dan ia akan setia menunggunya di tempat yang sama hingga kapan pun.


☘️☘️☘️


Adzan subuh mulai berkumandang di seluruh penjuru kota, membangunkan tiap insan untuk menunaikan kewajiban kepada Sang Pencipta. Namun, Nizam belum juga bangun sebagaimana biasa. Pria itu masih menutup mata, tapi dahinya berkerut. Wajahnya tampak gelisah hingga keringat membasahi pelipisnya.


"Bulan!"


Nizam berteriak seraya membuka mata, jantungnya berdegup kencang seolah baru saja mendapati sesuatu yang menakutkan.


"Bulan," ucap pria itu mengulangi nama yang sejak tadi selalu ia sebutkan tanpa sadar.


Siapa dia? Namanya terdengar tidak asing, rasanya dia begitu dekat denganku, tapi di mana dia?


Nizam tampak berpikir sejenak. Entah kenapa ia merasakan rindu akan sosok pemilik nama itu, tetapi ia tidak tahu siapa dia.


"Apa Aura mengetahuinya? Ah, aku akan menanyakannya nanti pagi ketika Aura datang membawa sarapan." Nizam segera beranjak dari tempat tidur guna menunaikan kewajiban lima waktunya.


Pagi harinya, sesuai dugaan, Aura benar-benar datang membawa sarapan kepada Nizam dan juga Beni. Ketiganya duduk bersama di hadapan meja makan untuk sarapan bersama.


"Aura, aku ingin menanyakan sesuatu, tolong jawablah dengan jujur," ujar Nizam memulai permbicaraan.


"Iya, apa itu?" balas Aura seraya menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Bulan, siapa dia?"


Uhuk ... uhuk ...


"Aura, apa kamu tidak apa-apa? Minum ini." Nizam menyodorkan segelas air minum di hadapan wanita itu karena tersedak.

__ADS_1


"Ya, aku tidak apa-apa." Aura meletakkan gelas usai meminum air tersebut. Jantung Wanita itu berdebar ketakutan akan terungkapnya kebenaran yang sebenarnya.


"Ra, tolong jawab pertanyaanku."


Aura menoleh ke arah Nizam yang memang kini sedang menatapnya dengan sorot mata penuh harap dan penasaran.


Aura mengepalkan tangannya yang memegang sendok, ia bingung harus menjawab apa. Rasanya ia tidak ingin berbohong lagi. Namun, kebohongan-kebohongan yang telah ia ciptakan sebelumnya telah berhasil membuatnya salah jalan dan memaksa untuk membuat kebohongan yang baru.


Kata orang terdahulu, 'Satu kebohongan akan menjadi pintu untuk kebohongan lainnya, satu kebohongan memiliki kekuatan untuk menodai kebenaran sebanyak apa pun itu.'


"Aku tidak tahu," jawab Aura pada akhirnya sambil sesekali memperhatikan raut wajah Nizam yang terlihat sedikit kecewa.


Akan tetapi, ada hal menggelitik yang dirasakan Aura ketika melihat bagaimana sorot mata pria itu menyebut nama Bulan, ada kerinduan yang terlihat jelas di sana. Sangat berbeda dengan sorot mata yang ia tampakkan ketika menyebut namanya, bahkan ketika melihat ke arahnya pun, wanita itu tak menemukan cinta dan rindu di sana.


Usai pembicaraan itu, Nizam tidak banyak bicara hingga mereka menyelesaikan sarapan mereka. Ia bahkan lebih banyak merenung, mencari jawaban dalam kepingan ingatannya. Rasa penasaran yang tak terjawab benar-benar membuat pria itu tidak tenang.


Hati kecil Nizam terasa sakit tiap kali menyebut nama 'Bulan'. Ada tanya yang tak mampu ia jawab, ada rindu yang tak bisa ia ungkapkan, dan ada sakit yang hadir karena keterbatasan itu.


Siapa kamu? Seberapa istimewanya kamu di hatiku hingga mampu mengalihkan seluruh pikiranku padamu? Bahkan Aura yang jelas-jelas calon istriku tak mampu mengalihkan namamu dari pikiranku.


"Aduh." Nizam meringis ketika kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit.


"Beni! Beni, tolong! Kepalaku sakit sekali," kata Nizam sedikit berteriak pada sang perawat yang berada di dalam rumah, sementara dirinya saat ini sedang berada di halaman belakang rumah seperti biasa.


☘️☘️☘️


"Padahal sudah beberapa bulan ini kita selalu bersama, tapi sepertinya memang tidak ada lagi cinta di hatimu untukku. Sangat menyedihkan," lirih wanita itu mengumpat dirinya sendiri.


Awalnya ia tulus melindungi Nizam, tetapi keadaan malah membawanya tersesat semakin jauh hanya untuk memastikan bagaimana hati pria itu sebenarnya. Sayangnya, setelah semua yang ia lakukan, langkahnya yang kian jauh itu justru membuat ia semakin terhempas akan fakta yang menyakitkan.


Memaksakan diri untuk mengikhlaskan memang menyakitkan, tetapi memanfaatkan keadaan Nizam agar pria itu mencintainya lagi, sementara ia tahu di hati pria itu sudah ada Bulan selaku istrinya sungguh benar-benar suatu kegilaan. Lalu, apa bedanya ia dengan seorang pelak0r? Malu, benci, dan merasa tidak mampu menjaga marwah sebagai wanita, itulah yang dirasakan Aura saat ini.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu ruangan Aura tiba-tiba mengagetkan wanita itu dan sontak menoleh ke pintu. Tampak seorang pria dengan pakaian khas pasien sedang menyembulkan kepalanya di sana.


"Iya, ada apa? Mau periksa?" tanya Aura seraya berdiri dari kursinya.


"Tidak, Dok," jawab pria itu sambil membuka lebar pintu dan melangkah perlahan memasuki ruangan tersebut dengan salah satu tangan yang memegang kruk dan satu tangannya lagi berada di belakang tubuh.


Aura mengerutkan dahinya merasa aneh dengan pria itu. "Lalu? Ada apa, Pak?" Wanita itu mulai waspada dengan sikapnya yang terus saja mendekat ke arah meja.


"Anda mau apa? Apa yang Anda sembunyikan di belakang tubuh Anda, Pak?" tanya Aura lagi mulai takut.

__ADS_1


"Tenang, Dok. Saya tidak memiliki niat jahat." Pria itu berusaha menenangkan Aura, lalu mengeluarkan sesuatu dari belakang tubuhnya. "Ini bunga untuk Bu Dokter," ucapnya seraya memberikan seikat bunga berwarna pink yang sangat indah.



"Apa maksudnya ini?" tanya Aura dengan dahi berkerut.


"Ini bunga carnation, saya tadi melihat Bu Dokter tampak sedih, makanya saya mau kasi bunga ini, biar hidup dokter selalu beruntung dan bahagia," jelas pria itu dengan raut wajah seolah sedang menghafal.


Aura refleks tertawa mendengar perkataan pria itu. "Yang menentukan takdir seseorang itu Allah, bukan bunga ini, Pak," ucap Aura tersenyum. "Tapi terima kasih, bunganya cantik." Aura menerima bunga itu dengan senang hati.


"Oh, maaf, Bu Dokter, saya hanya mengikuti kata internet saja," jawab pria itu jujur dan langsung menutupi mulutnya karena sadar telah salah bicara.


"Apa?"


"Ah, tidak, Dok. Saya pamit dulu, dan jangan lupa tersenyum. Bu Dokter cantik kalau lagi senyum seperti itu," ucap pria itu lalu segera pergi dengan cara sedikit terseok-seok meninggalkan Aura yang kini wajahnya merah merona.


"Ada-ada saja orang itu." Aura segera menyimpan bunganya ke dalam vas bunga berisi air dan meletakkannya di atas meja.


"Tahu aja orang itu dengan suasana hatiku saat ini."


☘️☘️☘️


Aura berjalan sambil menenteng sebuah kantong plastik berisi tiga kotak makanan menuju rumah kontrakan tempat Nizam berada. Hari ini ia sudah memutuskan untuk berkata jujur sebelum pria itu mengingat semuanya dan murka.


Ia tak ingin lagi meneruskan kebohongannya, ia sadar apa yang ia lakukan selama ini adalah kesalahan besar, tidak hanya kepada sang sahabat, melainkan kepada keluarga besarnya. Lagi pula, tak ada gunanya juga ia terus menahan Nizam, yang ada ia malah menimbulkan masalah baru jika terlalu memaksakan egonya.


"Assalamu 'alaikum, Ni ... zam." Aura yang tadinya hendak masuk ke dalam rumah seketika mematung di ambang pintu kala mendapati tatapan tajam dan dingin dari Nizam yang duduk di ruang tamu, seolah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.


"Aku benar-benar kecewa sama kamu, Ra. Kamu tahu? Aku membenci keadaan saat ini. Keadaan yang membuatku tidak bisa membencimu setelah apa yang kau lakukan padaku."


Degh


"Zam, apa yang kamu bicarakan?" tanya Aura dengan suara bergetar, baru kali ini ia melihat Nizam semarah itu padanya.


"Puas kamu membohongiku dan memisahkanku dengan keluargaku selama ini? Aku kini merasa sangat bodoh karena ulahmu."


Aura yang mulai memahami keadaan saat ini langsung mendekat, tapi Nizam memberikan kode agar ia tak melangkah lebih dekat lagi kepada pria itu.


"Nizam, maafkan aku. Aku mengaku salah, aku pantas menerima kemarahanmu, tapi tolong maafkan aku." Tubuh Aura seketika lemas, kantong yang tadi ia pegang jatuh ke lantai.


"Aku tidak marah karena kamu telah membohongiku, tapi aku marah karena mulai sekarang aku tidak bisa lagi mempercayaimu!"


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2