
Braaaak
Suara hantaman keras terdengar bagai dentuman berulang yang menggema dalam pikiran Bulan. Keadaan seketika terasa hening. Gambaran kedua orang tuanya yang duduk di jok depan dengan kepala berlumuran darah menjadi pemandangan yang mengerikan.
"Mama ...., Papa ...," ucapnya berbisik dengan air mata yang mengalir membasahi pipi.
Tubuh Bulan mulai begetar ketakutan dengan mata yang mendelik kala melihat Marcel muncul di depan mobil.
"Dia masih hidup!" seru pria itu kepada seseorang yang sedang berbicara padanya melalui sambungan telepon.
"Baik, akan kuselesaikan," ucapnya lagi lalu mematikan ponselnya.
Sebuah hantaman di kepala ibu dan ayahnya yang ia saksikan di depan matanya, membuat dada wanita itu semakin terasa sesak. Air matanya semakin mengalir deras dengan suara isakan yang sebisa mungkin ia tahan agar tak terdengar oleh pria jahat itu.
Tubuh Bulan semakin terasa lemas tak berdaya dan ketakutan, pandangannya pun mulai memburam. Namun, dari bayangan di depan matanya, wajah Nizam yang berlumuran darah seketika muncul. Semakin lama wajahnya semakin terlihat jelas, hingga membuat wanita itu tersadar dari bayangan mengerikan yang baru saja menguasai pikirannya.
Tidak, Bulan tidak ingin kalah oleh ketakutannya, ia tidak ingin kehilangan kesadaran dan membiarkan sang suami terluka begitu saja. Ia harus sadar dan kuat agar bisa menemani dan memastikan sang suami selamat dan baik-baik saja.
"Astaghfirullah, Mas Nizam!" teriak Bulan begitu panik, hingga tanpa sadar tangan wanita itu meraih wajah sang suami dan menepuknya perlahan agar pria itu bangun. Namun, semua usahanya tak membuahkan hasil.
Dengan tangan yang bergetar dan dipenuhi oleh darah Nizam, Bulan akhirnya menghubungi ambulans. Beberapa menit berlalu dengan hanya di isi oleh usaha Bulan menyadarkan sang suami. Ia tak menangis, tapi matanya berembun dan tubuhnya bergetar karena begitu khawatir. Hingga akhirnya ambulans pun tiba di tempat mereka yang terkesan sepi.
...
Di bawah siang yang terik dan berangin, diikuti dengan suara roda brankar yang berputar kencang terdengar memasuki lorong rumah sakit menuju UGD. Suara panggilan Bulan menyebut nama Nizam berkali-kali turut mengiringi brankar yang menjadi tempat suaminya berbaring tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Pintu UGD di mana Nizam diberikan pertolongan kini ditutup, hingga membuat wanita itu berhenti melangkah. Tangannya saling mengepal kuat dan kakinya begitu gelisah melangkah ke sana-ke mari.
Bulan hanya bisa menunggu seorang diri di luar ruang UGD dengan tubuh yang semakin bergetar dan wajah yang memucat. Bibirnya tak berhenti mengucapkan nama Allah dan doa agar sang suami selamat. Sungguh, ia benar-benar takut kehilangan orang yang ia cintai untuk yang kesekian kalinya.
Di tengah kegelisahan dan ketakutannya, suara langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat. Bulan menatap ke arah pintu, di antara silaunya cahaya yang terik dari luar, tampak beberapa orang yang masuk dengan wajah yang terlihat sedikit gelap. Bulan tahu siapa yang menghampirinya saat ini, ya mereka adalah Khaira, Boy, Nizwa, dan Arfan.
"Bulan," panggil Khaira dan langsung memeluk tubuhnya dengan begitu erat. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya wanita itu.
"Bulan baik, Bunda, tapi Mas Nizam, dia ...." Bulan tidak sanggup meneruskan perkataannya. Tak hanya tubuhnya yang begetar, dadanya pun sejak tadi terasa sesak, tapi ia berusaha keras menahannya.
Ya, keadaan Bulan tidak separah keadaan Nizam karena mobil yang menabrak mereka itu datang dari arah kanan dan menabrak tepat di bagian Nizam duduk. Sementara Bulan hanya mengalami sedikit pusing dan sakit pada leher dan kepala saja karena terbentur kaca jendela mobil.
"Menangislah, Nak jika memang kamu ingin menangis, jangan memendam perasaanmu karena itu dapat menyakiti dirimu lagi, insya Allah Nizam akan baik-baik saja." Khaira mengusap dan menepuk punggung Bulan dengan lembut.
Beberapa saat kemudian, wanita itu benar-benar menumpahkan air matanya di dalam pelukan sang mertua. Suara isakan wanita itu terdengar begitu ketakutan. Nizwa yang melihat sang kakak ipar begitu terguncang pun turut mendekat dan memeluk tubuh wanita itu agar bisa lebih tenang.
Bulan mengamati Nizam yang kini terbaring di atas tempat tidur. Perlahan ia melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di sampingnya.
"Tenang saja, Nak. Kata dokter, Nizam hanya mengalami cedera ringan. Insya Allah dia akan sembuh total jika di rawat dan mengikuti fisioterapi dengan baik." Khaira yang lebih dulu berdiri di samping Bulan kembali menenangkannya. Wanita itu paham dengan keadaan psikis sang menantu, sehingga sebisa mungkin ia ingin Bulan tetap terjaga dan tidak terpancing dengan ingatan akan kejadian traumatis tersebut.
"Iya, Bunda," jawab Bulan lirih.
"Jika dulu Nizam yang selalu mendampingimu berobat, mungkin sekarang giliran kamu yang mendampingi Nizam melakukan segalanya. Bunda yakin, kamu pasti bisa," ujar Khaira lagi lalu segera keluar bersama Boy, Nizwa dan Arfan. Mereka ingin memberikan waktu untuk mereka berdua istirahat.
Bulan diam menatap Nizam yang wajahnya sedikit lebam karena benturan. Wanita itu duduk di samping tempat tidur sang suami untuk mengistirahatkan dirinya yang kini baru terasa lelah.
__ADS_1
☘☘☘
Aroma karbol yang begitu khas di indera penciuman Nizam memaksa pria itu membuka mata. Pandangannya sejenak menatap langit-langit, lalu beralih ke tiap sudut ruangan. Warna cat yang dominan berwarna putih itu menyadarkan dirinya bahwa saat ini ia sedang berada di rumah sakit.
Pandangan Nizam kini berpindah ke samping kirinya di mana Bulan tengah tertidur dalam keadaan setengah duduk dengan berbantalkan kedua lengan di tempat tidur.
Tangan kiri pria itu refleks terangkat mengusap kepala sang istri dengan kedua ujung bibir yang tertarik membentuk lengkungan. Ia benar-benar merasa lega karena Bulan baik-baik saja.
Merasakan usapan tangan di kepalanya, Bulan langsung bangun dan tak sengaja kedua manik matanya saling bertemu dengan manik mata milik Nizam yang begitu teduh.
Mendapati sang suami yang sudah sadar, Bulan seketika berdiri dengan begitu bahagia dan tanpa sadar memeluk pria itu. Sontak saja Nizam membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Bulan menyentuhnya, tidak, bahkan memeluknya dengan erat. Wanita itu menangis di dadanya. Cukup lama Bulan berada dalam posisi itu, dan tentu saja Nizam begitu bahagia.
Walaupun dadanya terasa sesak karena himpitan Bulan, tak ia hiraukan. Nizam bahkan rela tak mengeluarkan suara sedikit pun karena takut suaranya akan menyadarkan sang istri dan berakhir tak ingin lagi menyentuhnya. Namun, semakin lama, ia tidak tahan berdiam diri. Tangan kiri pria itu pun terangkat dan ikut memeluk wanitanya.
Benar dugaan Nizam, baru beberapa detik tangannya mendarat di pungung Bulan, wanita itu langsung melepas pelukan dan mengangkat tubuhnya.
"Ma-maaf, Mas," ucap Bulan malu-malu dengan wajah yang merona bak kepiting rebus.
"Tidak apa-apa, Sayang," balas Nizam tersenyum, walau dalam hatinya sedang menggerutu akan kebodohannya yang sudah membuat momen langka itu berakhir.
"Mas, aku panggilkan dokter, yah. Sepertinya keadaanmu benar-benar tidak baik."
"Tidak baik bagaimana?"
__ADS_1
"Aku mendengar jantungmu berdetak sangat cepat."
-Bersambung-