
...Malam kian larut dalam sunyi,...
...rembulan pun tampak malu menampakkan diri, seolah tak ingin membantu menerangi diri yang sedang dilema antara akal dan hati....
...Sebuah keputusan yang terpaksa dipilih, walau pada akhirnya akan menyakiti. Biarlah itu terjadi, daripada kelak harus menanggung derita hati yang tiada henti....
...(Nizam Mutawalli)...
...___________________________________________...
Suhu udara malam itu semakin dingin, lampu-lampu pun telah dipadamkan sebagian. Satu persatu penghuni rumah mulai terlelap, kecuali Nizam yang masih berdiam di kamarnya dengan hati yang gelisah.
Sudah dua hari berlalu, tapi sang ibu masih saja acuh padanya. Ia sadar bahwa keputusan untuk menolak perjodohan waktu itu telah mengecewakan sang ibu. Namun, ia tak memiliki pilihan lain saat ini. Janji untuk tidak jujur rupanya membawa pria itu justru semakin jauh dari kehangatan sebuah keluarga.
Nizam berdehem merasakan kerongkongannya yang kering. Teracuhkan oleh orang lain, ternyata tidak lebih menyakitkan dibandingkan oleh orang tua sendiri. Ia bahkan sampai lupa minum setelah makan malam bersama tadi karena suasana di meja makan yang begitu dingin.
Pria dengan rambut yang tak lagi gondrong itu kini berjalan menuruni tangga hendak menuju dapur untuk mengambil minum. Derap langkahnya sengaja ia pelankan agar tak mengganggu siapa pun yang sedang tertidur. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan musholla yang lampunya masih menyala.
Sayup-sayup suara tangisan dari seorang wanita yang sedang berdoa mengusik indera pendengaran Nizam. Dengan begitu hati-hati, ia mengintip ke dalam musholla dan tatapan pria itu seketika berubah sendu kala melihat sosok wanita yang telah melahirkannya sedang duduk bersimpuh di atas sajadah dengan tangan yang menengadah ke atas.
Walau hanya suara lirih yang terdengar, tapi Nizam masih bisa memahami apa yang terucap dari lisan sang ibu yang tengah berbicara dengan Sang Pencipta.
"Yaa Allah, Yaa Rabbi, Yaa Ghaffar, ampuni dosa kami, dosa yang dapat menghalangi kami dari kebaikanMu, baik di dunia maupun di akhirat. Duhai Dzat yang membolak-balikkan hati, jika saat ini Nizam belum ingin membuka hatinya, maka pertemukanlah dia dengan wanita yang mencintainya dengan tulus dan bisa membuka hatinya kembali, wanita yang merangkulnya di tengah badai hidup, wanita yang senantiasa menerbitkan senyum di wajahnya, dan wanita yang bisa membuatnya lupa akan kenangan buruk di masa lalu."
"Ampuni keegoisan hamba yang telah membuatnya merasa tidak nyaman, dan ampuni hamba karena telah mengacuhkannya sejak kemarin. Dia tidak salah, bundanya yang serba kekurangan inilah yang salah."
Suara wanita itu terhenti oleh isakan yang sejak tadi berusaha ia pelankan agar tak ada yang mendengar. Namun, ia sama sekali tidak sadar bahwa di balik pintu ruangan itu, ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan dalam diam dengan air mata yang ikut membasahi pipinya.
Bulir-bulir bening itu kini bercucuran dari mata Nizam usai mendengar doa sang ibu. Tanpa sadar, langkah kakinya membawa pria itu masuk ke dalam musholla, lalu bersimpuh dengan kepala yang ia sandarkan di pangkuan sang ibu.
"Maafkan Nizam, Bunda. Nizam telah mengecewakan Bunda dan Ayah, Nizam telah mempermalukan keluarga kita, Nizam ...."
"Ssst, sudah, Nak. Kamu tidak salah, bunda yang salah karena telah menjodohkanmu dengan wanita yang ternyata tengah menanti pria lain."
Nizam yang mendengar perkataan sang ibu langsung mengangkat wajahnya menatap manik mata yang berembun itu. "Bunda sudah tahu?"
Khaira mengangguk pelan seraya menghapus air mata putranya dengan kedua ibu jari. Wanita itu kemudian memberikan kecupan hangat kepada sang putra, lalu berkata, "Ibunya Hana tadi menghubungi bunda dan mengatakan jika Hana rupanya diam-diam menjalani ta'arruf dengan seorang pria, dan Hana sudah terlanjur menyukai pria itu."
__ADS_1
"Iya, Bunda. Makanya Nizam tidak ingin melanjutkan perjodohan itu. Nizam tidak sanggup menikahi wanita yang telah menyimpan nama pria lain di hatinya, juga Nizam tidak ingin merenggut mimpi dan kebahagiaannya."
"Lalu kenapa kamu tidak bilang sejak awal, Nak?"
Nizam tak langsung menjawab, ia membaringkan kepalanya kembali di pangkuan sang ibu. "Maaf, Bunda. Nizam sudah terlanjur berjanji kepada Hana agar tidak mengatakan alasannya saat itu."
Khaira menghela napas dalam seraya menyugar rambut sang putra, lalu mulai berbicara kembali, "Maafkan Bunda dan Ayah karena sudah mengacuhkanmu sejak kemarin, Nak."
"Tidak, Bunda. Bunda dan ayah tidak salah, kok." Nizam tersenyum lega kali ini. Rasa gelisah yang sejak kemarin mengganggunya kini telah pergi.
Nizam memejamkan mata, merasakan kenyamanan tidur di pangkuan sang ibu, di tambah belaian tangan di kepalanya membuat pria itu kembali memejamkan mata, bahkan ia kini telah melupakan tujuan awal saat keluar dari kamar.
"Semoga kamu segera dipertemukan dengan jodohmu, Nak."
☘☘☘
Waktu terus berjalan, hingga tak terasa kini tibalah waktu di mana Nizwa dan Arfan akan meresmikan hubungan pernikahan mereka di hadapan Allah.
"Sah!"
Suara saksi pernikahan diikuti para tamu yang menyaksikan acara sakral itu terdengar menggelegar di ruang tamu yang cukup luas dan indah pagi itu. Ucapan puji dan syukur pun turut mengiringi air mata kebahagiaan yang keluar membasahi pipi Khaira, selaku ibunda mempelai wanita.
"Iya alhamdulillah, lalu kamu gimana kabarnya, Nak?"
"Insya Allah, tidak lama lagi, Bunda. Mohon doanya, yah. Sebagaimana sumpah seorang ibu yang begitu keramat, maka doanya pun mampu menembus langit ketujuh."
"Doa Bunda selalu menyertai kalian, Nak."
Acara resepsi yang kini digelar di halaman depan rumah pun berjalan cukup meriah. Nizwa sengaja memilih rumahnya sendiri untuk mengadakan resepsi outdoor. Selain karena luas, ia ingin membuat kenangan indah sekali seumur hidup di rumahnya.
Sebagai wanita, Nizwa sadar akan kedudukannya saat ini yang harus mengabdi dan berbakti kepada Arfan, suaminya. Termasuk jika harus mengikuti ke mana suaminya memilih tinggal setelah ini.
Sementara itu, Nizam yang kini merasa lelah dan sakit kepala akibat terlalu sibuk dan kurang tidur akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di teras lantai dua rumahnya.
Dari kejauhan ia bisa melihat seluruh tamu yang hadir, termasuk Syifa yang kini terlihat sedang berbicara dengan Boy dan Khaira. Entah apa yang mereka bicarakan, Nizam tak ingin membuat kesimpulan sendiri.
..
__ADS_1
Malam harinya, seluruh keluarga besar termasuk pengantin baru yang baru saja resmi menikah hari ini pun ikut berkumpul di ruang keluarga.
"Nizam, bagaimana keadaan perusahaanmu, Nak?" tanya David.
"Alhamdulillah, semua lancar terkendali, Paman," jawab Nizam.
"Nizam, apa kamu belum memiliki calon istri, Nak?" tanya Silfi penasaran.
Nizam menggeleng pelan. "Belum, Bibi."
"Kenapa? Carilah istri segera, Nak. Agar ada yang menghiburmu di kala sedih, jangan terpaku pada kesedihan yang sama berlarut-larut, Nak. Aura pasti bahagia jika kamu bahagia," ujar Silfi tersenyum tulus.
"Iya, Bibi. Insya Allah Nizam akan mencarinya."
Suasana di ruang keluarga itu hening sesaat.
"Nizam, tadi sore ada wanita yang menyatakan niat baik, dia tertarik padamu dan jika kamu mau, dia ingin kamu melamar ke rumahnya besok." Kini Boy mulai angkat bicara.
"Siapa, Ayah?"
"Kalau nggak salah, yang datang tadi itu namanya Syifa."
Nizam terdiam sambil tertunduk merenung. Apa kali ini ia harus menerima atau menolak? Lagi-lagi ia harus dihadapkan oleh perjodohan yang sejujurnya tidak ia inginkan, tapi di sisi lain, ia juga takut kembali mengecewakan kedua orang tuanya.
"Apa boleh Nizam menjalani ta'arruf dulu?" tanya pria itu kemudian.
"Bisa, kalau begitu kita ke sana besok untuk silaturrahmi dulu, bagaimana?" tanya Boy kepada keluarga yang lain.
"Kalau dari kami setuju, semoga ta'arrufnya berjalan lancar," ucap Ali, lalu diaminkan oleh semua orang di ruangan itu.
☘☘☘
Keesokan harinya, Nizam, Boy, Khaira, dan Arfan pergi ke kediaman Syifa. Tak menunggu lama, mereka kini telah tiba di rumah ysng tampak brgitu mewah. Wanita itu mempersilahkan semuanya untuk masuk lalu ikut duduk bersama menemani Nizam dan keluarganya.
Beberapa saat kemudian, Bulan ikut duduk menyambut kedatangan keluarga yang sudah sangat berjasa dalam kehidupannya. Mereka kini tampak saling menanyakan kabar dan bercerita ringan satu sama lain.
"Hey, Zam. Kau sangat beruntung bisa mendapatkan wanita yang cantik dan tangguh seperti dia."
__ADS_1
-Bersambung-