
...'Rembulan, sebagaimana ia hadir menerangi malam yang kelam, lalu pergi di saat sinar matahari mulai bersinar kembali. Bulan juga demikian, datang disaat hatiku sedang hancur, lalu pergi setelah lukaku mulai sembuh. Bedanya, Rembulan pergi tanpa menyisakan bekas, sementara Bulan pergi menyisakan hati yang pedih berbalut rindu....
...Jika pada akhirnya berpisah, bukankah sebaiknya tak pernah bertemu? Aku pernah berpikir seperti itu di saat dia pamit pergi. Namun, kini aku mengerti, kehadirannya mungkin bukan untuk kumiliki, melainkan untuk mengobati.'...
...(Nizam Mutawalli)...
_______________________________________
Satu tahun kemudian,
Nizam mulai disibukkan dengan pekerjaannya di kantor, meeting dengan kliennya di luar kantor, hingga bertemu Sang Paman, David di kota A dalam urusan pekerjaan atau pun silaturrahmi keluarga.
Semenjak kepergian Bulan, Nizam sengaja menyibukkan dirinya dalam urusan pekerjaan dan keluarga. Sengaja ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari wanita itu. Ia juga tak ingin lagi mencarinya, meski hati kecilnya selalu bertanya-tanya mengenai kabarnya.
"Kak Nizam, anterin Nizwa kerja yah," pinta Nizwa saat mereka sedang sarapan bersama di meja makan.
"Tumben minta di anterin, biasanya juga si paling mandiri semenjak lulus kuliah," sahut Nizam sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ya memangnya kenapa? Aku, 'kan juga ingin pamerin Kak Nizam ke teman-teman, kali aja ada yang nyantol, iya, 'kan?" Nizwa kini melirik ke arah kedua orang tuanya lengkap dengan kerlingan mata.
"Malas, ah. Ada udang di balik batu ternyata," tolak Nizam tanpa nego sedikit pun, hingga membuat wajah Nizwa seketika tampak kusut.
"Nizam, bukankah sudah waktunya kamu menikah? Umur kamu sudah 25 tahun. Kamu juga sudah mapan, menyegerakan kebaikan itu baik, loh," kata Khaira ikut bersuara.
"Benar, Zam. Sudah waktunya kamu menikah, jangan biarkan dirimu terkurung oleh masa lalu," timpal Boy menyetujui perkataan sang istri.
"Iya, Ayah, Bunda. Insya Allah Nizam akan menikah," jawab Nizam santai sambil menghabiskan makanannya.
"Lalu kapan? Kamu harus buat rencana, dong. Ya walau sisanya tetap Allah yang tentukan," ujar Khaira.
"Iya, Bunda. Ini udah Nizam rencanakan."
"Benaran, Kak? Kapan? Kok Kakak nggak pernah ngomong?" cerocos Nizwa penasaran.
__ADS_1
Nizam meminum airnya lalu segera beranjak menyalami kedua orang tuanya dan sang adik. "Kalau bukan sabtu, ya ahad, insya Allah, Dek," jawab Nizam santai. "Nizam pergi dulu, assalamu 'alaikum," sambung pria itu lalu berjalan cepat meninggalkan ruang makan, di mana Khaira, Boy, dan Nizwa kini saling menatap bergantian dengan kebingungan masing-masing.
"Sabtu-ahadnya tanggal berapa? Bunda dan Ayah tahu?" tanya Nizwa dengan raut wajah serius.
Bukannya langsung menjawab, Boy dan Khaira malah saling pandang dan kompak mengelengkan kepalanya menatap sang putri.
☘☘☘
Siang itu, Nizam duduk di kursi kebesarannya sambil menandatangai beberapa berkas kerja sama. Tak lama setelah itu, Arfan datang dengan membawa beberapa berkas lagi.
"Bos, ini surat dari beberapa kampus program studi farmasi yang ingin memasukkan mahasiswanya dalam praktek bulan depan."
"Letakkan saja di situ, aku akan memeriksanya," titah Nizam masih fokus membaca berkas di hadapannya.
Perhatian Nizam mulai teralihkan saat Arfan hanya berdiam diri di depan meja kerjanya dan tak ada niat sedikit pun untuk pergi.
"Ada apa?" Kini Nizam menatap sang asisten dengan raut wajah serius.
"Em, begini Bos, hari ini bolehkah aku pulang lebih awal?" tanya Arfan pada akhirnya setelah sejak tadi ia menimbang-nimbang keputusan.
"Anu, hmm, sebenarnya aku akan melamar seseorang sore ini," jawab Arfan malu-malu.
Nizam melotot menatap sang sahabat, pria itu langsung berdiri dan memeluk Arfan sambil menepuk bahunya pelan. "Selamat, Bro. Aku tidak menyangka kaulah yang pada akhirnya lebih dulu menikah. Dan seperti biasa, pergerakanmu selalu tiba-tiba," ucap Nizam.
Nizam tahu betul, di antara dirinya, Arfan dan Diki, Arfan lah yang peling tertutup, terutama masalah hati. Pria itu tidak akan mengatakan apa pun sampai semuanya jelas, seperti saat ini. Jika dia sudah berani mengatakan perihal lamarannya, itu artinya dia sudah mendapatkan jawaban dan hanya perlu formalitas saja kali ini.
"Kau mengenalku dengan baik, Bos. Kuharap kau tak marah padaku setelah ini."
Nizam mengerutkan dahinya mendengar perkataan Arfan. "Apa maksud ...."
"Aku pergi dulu, Bos." Arfan segera keluar dari ruangan itu bahkan sebelum Nizam menyelesaikan perkataannya.
"Dih, dasar tidak sopan, jika saja kau bukan sahabatku, sudah ku tendang kau!" gerutu Nizam kesal, pria itu bahkan menendang angin beberapa kali untuk meluapkan kekesalan akibat perkataannya dipotong, sesuatu yang sangat ia tidak suka.
__ADS_1
Nizam kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Namun, baru saja ia hendak mengambil pulpen, suara notifikasi di ponselnya seketika mengalihkan atensi pria itu.
Dahi Nizam sedikit mengerut saat melihat nama sang ibu berada di deretan pengirim pesan saat itu.
Assalamu 'alaikum, Nak. Sebentar lagi akan datang anak teman bunda di kantormu untuk membicarakan kerja sama. Bunda harap kamu bisa memperhatikannya, siapa tahu kamu tertarik padanya.
Nizam mengusap wajahnya sambil menghela napas. Lagi-lagi usaha perjodohan secara halus oleh sang ibu. Entah sudah berapa wanita yang diperkenalkan padanya sejak 6 bulan terakhir, tapi tak ada satu pun yang bisa menggerakkan hati pria itu.
Masih dalam lamunannya, suata telepon di ruangan itu pun berdering memecah keheningan. Rupanya itu adalah panggilan dari sang sekretaris yang menginformasikan bahwa ada seorang wanita yang hendak bertemu dengannya.
"Persilahkan dia masuk."
Tak lama setelah itu, suara ketukan pintu terdengar, diikuti dengan masuknya seorang wanita berhijab yang cukup sejuk dipandang mata.
☘☘☘
Di tempat lain, Khaira saat ini sedang berdiri di balkon kamarnya. Kedua tangannga saling bersedekap di depan dada, dan pandangannya lurus ke depan. Sesekali embusan napas kasar terdengar keluar dari hidungnya.
"Ada apa, Sayang? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Boy yang kini ikut berdiri di samping sang istri.
"Nizam, dia sudah empat kali menolak wanita yang aku perkenalkan padanya. Jika nanti dia menolak lagi, maka sudah lima wanita yang dia tolak," ujar Khaira lesu.
"Anak itu harus bisa move on dari Aura, memang akan terasa sulit tertarik pada wanita lain jika di hatinya masih ada nama Aura."
Mendengar perkataan sang suami, Khaira seketika teringat akan pembicaraan Nizam dengannya saat hendak menjenguk Bulan untuk terakhir kalinya, sebelum wanita itu pergi entah ke mana.
"Sebenarnya, Nizam sudah berhasil move on dan jatuh hati dengan seorang wanita," ujar Khaira pelan.
"Benarkah? Lalu siapa wanita itu? Kenapa dia tidak melamarnya?" tanya Boy.
"Dia sudah pergi, dia Bulan."
"Sudah kuduga, apa kita harus mencarinya?"
__ADS_1
-Bersambung-